
"Bu, di ruang tamu ada tukang kridit panci, gitu katanya tadi. Itu bawaannya banyak banget, katanya mau ada arisan disini, gitu. Kurang paham juga, orangnya langsung masuk aja pas dibukain pintu." Ujar Bi Surti pada Sarah, yang baru saja habis menerima panggilan dari ayah anak-anak nya.
"Oh, ya bi Itu ibu Lusi namanya. Tolong bibi buatkan minum ya, makanannya udah beliau pesan sendiri. Minumnya porsi 23 orang ya bi bikinin jus sama sirup, ada dikulkas."
"Ya bu, ini mau saya panggil kan Puput dulu buat jagain Kakak sama adek." Ujar wanita paruh baya itu ramah pada majikannya.
Sarah dan Reegan memang tidak ingin, anak mereka dipanggil dengan sebutan nona dan aden, terlalu berlebihan menurut mereka.
"Sebelah sini yang itu, trus yang itu tarok di meja makan, nanti sekalian bantu ditata. 1 2 3, oke. Semua beres." Wanita terlihat sangat sibuk, seolah dirinya sedang berada dirumah nya sendiri.
"Wah, ibu Lusi sibuk sekali rupanya, jadi gak enak nih aku." Seloroh Sarah datang dari dari arah belakang Lusi, dengan kursi roda nya.
"Eh, ibu Sarah. Maaf, khilaf. Berasa dirumah sendiri kalo udah sibuk gini." Kemudian kedua wanita itu tertawa.
Siapa sangka, dulu kedua wanita itu adalah rival, dua orang wanita yang mencintai satu pria yang sama. Kini bisa begitu akur dan akrab.
"Itu banyak Banget, bukannya bulan ini khusus arisan Tupperware sama Baju batik couple ya." Ini adalah arisan pertama bagi Sarah, dia ikut bukan karena dirinya hobby mengoleksi peralatan dapur atau sejenisnya. Hanya agar dia tidak merasa kesepian saja, dulu Ketika menikah dengan Angga pun dirinya tidak terlalu akrab Dengan tetangga. Bukan karena sombong, dia hanya tidak terlalu pintar bergaul, sikapnya yang introvert membuat nya susah mendapatkan banyak teman.
__ADS_1
Dia tidak suka menjadi pusat perhatian, lebih suka menghabiskan waktu sendiri dan selalu hati-hati dalam bertindak dan berucap.
"Dua dus besar itu isinya Tupperware semua, nah kalau tas yang tak kalah besar itu, isinya baju batik semua. Ada dress batik kombi brokat sama blouse batik nya juga, kalo yang cowok nya, ya paling kaya gitu-gitu aja. Kemeja lengan pendek sama panjang, ada model baru juga, batik kombi sama polos." Jelas wanita itu panjang lebar. Dia selalu bersemangat jika membahas soal dagangannya.
"Yang lain udah pada tau kan, arisan bulan ini disini. Aku agak gak enak aja, udah nyerobot masuk, trus ambil langsung diputaran yang harusnya diambil sama orang lain." Seperti biasa jiwa tidak enakan Sarah selalu mendominasi.
"Udah, kamu tenang aja. Semua udah aku calling one by one. Jangan salah, mereka justru senang, ada yang suka rela mengambil putaran yang harusnya mereka dapat. Dengan begitu pengeluaran untuk makan minum dan kawan-kawan, tidak jadi terpakai." Balas wanita itu sambil membuka dus dus, yang masih tersegel lakban tersebut.
"Itu kamu catering habis berapa, nanti aku ganti. Kasian Reegan, pasti kepikiran lagi kalo yang ini kamu gratisin juga. Biaya buat rumah sakit kemaren aja, dia mikirin banget buat gantinya. Aku juga gak enak, udah kebanyakan ngerepotin kamu sama mas Angga." Ucap wanita itu dengan wajah sendu, dia ingat saat dia tidak sengaja, melihat buku catatan kecil milik Reegan, di laci nakas kamar mereka. Semua berisi catatan hutang atau pinjaman, baik untuk kebutuhan pribadi mereka, biaya rumah sakitnya maupun perusahaan.
Itulah alasan nya dia memilih memberikan pria itu kesempatan, bukan Tanpa alasan. Reegan hanya pernah tersesat, tugasnya adalah membawa pria itu kembali pada jalan yang benar. Reegan pria yang bertanggung jawab, hanya karena luka masalalu nya, dan tekanan mental dari sang kakek, membuat pria itu mengambil jalan yang salah.
"Gitu ya, padahal aku gak mau kamu ganti ini. Tapi kalo gitu, kamu ganti nya pake lukisan aja gimana. Aku pengen punya lukisan Cia sama Al, buat tarok di ruang keluarga. Nanti aku tambah biayanya. Gak usah buru-buru, kapan kamu bisa aja, kalo pas gak sibuk sama kakak sama adek." Balas wanita itu, memberikan Sarah solusi lain. Dia sebenarnya tidak ingin Sarah mengganti sepeserpun, hanya saja dia juga menghargai keputusan Sarah tersebut.
"Boleh, nanti aku suruh ayah antar alat melukis aku kesini. Sekalian bawakan sayur, ayah bilang minggu-minggu ini kebunnya panen." Ucap Wanita itu bersemangat.
"Spadaaa... Masuk ya, maaf ibu Lusi saya telat dikit belum mulai kan. Tuh yang lain pada diluar, masih ngintai bunga nya ibu Sarah." Seru wanita bertubuh subur tersebut dengan suara cempreng nya.
__ADS_1
"Ck, kebiasaan. Itu bunga kamu jangan tanam didepan, Sar. Yang dipot tarok belakang aja kalo ada acara ngumpul gini. Tar kelar kumpulan, halaman depan kamu udah kosong semua. Syukur-syukur itu rumputnya kalo masih nyisa." Omel wanita itu kemudian berjalan menuju pintu keluar.
"Woi, itu pada ngapain, arisannya didalam, bukan disitu. Yang paling belakangan masuk, arisan berikutnya dirumah yang bersangkutan." Wanita itu berseru sambil berkacak pinggang, sudah seperti ibu-ibu yang sedang menangkap basah maling dihalaman rumahnya.
Kata-kata ajaib Lusi, berhasil membuat para wanita menor itu, lari tunggang langgang menuju teras rumah. Kalau urusan giliran arisan dirumah masing-masing, biasanya akan terasa berat. Ada saja alasannya, lalu saling mengoper, kalau sudah begitu peran seorang KPP pun dibutuhkan. Sekali omongannya yang sepedas cabe level 30 itu keluar, semua langsung pada kicep.
"Aduh jadi keringatan gini ya." Ujar wanita yang bernama bu Wiwin itu, pada teman disampingnya.
"Eh, ya bu. Gerah ya, apa karena cuaca diluar panas ya." Timpal sang teman, sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan menggunakan tangannya.
"Heh, itu dirumah ibu Wiwin kemaren juga dandanan saya ini sampe meleleh-leleh. Itu juga dirumah ibu Nurma, aku pulang sampe rumah punggung kepala pada tempelan koyo cabe semua, masuk angin, itu kipas angin kok bikin penyakit orang aja." Seperti biasa mulut pedas istri Angga tersebut memang tidak ada tandingannya.
"Eh, Gak gitu bu Lusi, maksud saya itu tadi habis lari-larian dari halaman, gitu. Halaman nya ibu Sarah luas benget ya, itu tanaman bunganya juga banyak, cantik-cantik juga, itu ngambilnya dimana bu, saya mau juga." Balas wanita itu gugup, sekaligus memuji halaman beserta isinya nya, tak lain tak bukan, agar pulang nanti bisa meminta anakan bunga milik tuan rumah tersebut.
"Beli, bu Wiwin, beli. Ngambil, enak aja. Udah,jangan bahas bunga-bungaan dulu. Ini arisannya gita goncang dulu, tapi sebelum itu. Setoran jangan lupa atau pura-pura lupa, ya kan bu Indah?" Pertanyaan Lusi itu membuat wanita itu tersedak minumannya.
"Eh, ya bu Lusi. Ini punya saya, sudah saya hitung, tapi kalau mau hitung lagi juga silahkan." Ujarnya seraya menyerahkan amplop coklat, diatas meja kaca persis dihadapan Lusi.
__ADS_1
Lusi lebih suka arisan dengan metode manual. Bisa dihitung langsung tepat didepan orangnya. Setiap kali arisan, Lusi rela menghabiskan waktunya hanya untuk menghitung, jumlah isi masing-masing amplop yang disetorkan padanya. Dia tidak ingin kecolongan lagi, jika menghitungnya nanti-nanti, karena ada yang tidak mencantumkan namanya diamplop tersebut.
Pernah ada sekali, salah satu amplop itu isinya kurang, dan tidak ada satupun yang mau mengakui. Mau tidak mau Lusi yang harus menomboknya. Membuat wanita itu harus tegas dan tega, dalam urusan tagih menagih setoran arisan.