
Paginya Al memang selalu rusuh, suasana yang sudah adem ayem di rubah sendiri jadi riwuh. Hanya perkara kaos kaos kaki dan dasi saja, bisa membuat pria itu kelimpungan sendiri.
"Yaaangg... Ini kaos kaki aku yang biru mana, kemaren aku udah make yang warna coklat, masa hari warna coklat lagi sih. Tar aku di kirain gak ganti kaos kaki lagi." Setiap pagi selalu saja seperti itu, Al paling tidak suka pakai sesuatu, yang warnanya sama dengan yang dia pakai kemarin.
Keyra berjalan menuju laci nakas, mengeluarkan kaos kaki warna navy lalu menyerahkan nya pada sang suami.
"Nih, apalagi. Aku masih mau lanjutkan sarapan nya Bintang." Ujar Keyra menatap manik suaminya.
"Udah, makasih ya sayang." Keyra berbalik lalu melangkah, baru dua langkah, suaminya sudah memanggil nya lagi. "Ini dasinya? Gak sekalian? Perasaan kemaren aku make yang warna gini juga deh. Ganti gak?" Tanya Al hati-hati, terlihat dari raut wajah sang istri, dia tau, wanita itu pasti tengah dongkol padanya.
"Boleh kalo mau ganti, aku gak ingat juga kemaren makenya warna apa. Ini, mau?" Keyra mengangkat dasi ditangannya.
"Boleh, pasangin sekalian ya, telat nih aku kalo masang sendiri." Pinta pria itu seenak udelnya.
Keyra menghela nafas nya dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan. Suaminya ini benar-benar menguji kesabaran nya.
"Boleh, sini jongkok dikit." Keyra dengan telaten memasang dasi tersebut. "Besok aku ada operasi pagi nya, jadi bisa gak kalo besok kita gak usah dramaan kaya hari ini dan hari-hari sebelumnya. Besok aja, kalo bisa lusanya juga aku gak keberatan." Ujar wanita itu lagi dengan mata yang tetap fokus, pada dasi yang sedang dia pasang.
"Boleh, besok aja tapi. Lusa aku gak janji. Besok aku mau disiapkan dasi warna maroon, sama kaos kaki warna hitam. Cocok gak sih, yang?" Sungguh pernyataan yang ambigu. Di tambah lagi pertanyaan nya yang tidak nyambung. Apa hubungannya kaos kaki sama dasi coba.
"Cocok, lagian siapa yang mau menelisik penampilan kamu sampe ke kaki segala. Kalo kamu nanya jas sama dasi, cocok apa gak. Itu baru nyambung sayang. Oke, sudah beres. Ayok sarapan sekalian."
"Siap istri ku yang cantik dan sigap selalu. Makasih ya, Malaikat rumah tangga." Al mencium pipi istri nya seraya mereka menuruni tangga.
__ADS_1
"Lama banget sih ma, papa nyari kaos kaki beda warna lagi, atau dasi yang beda dari kemaren." Sungut si sulung, Bisma.
Al melirik sini pada sang anak. "Iri bilang bos." Ujar Al dengan senyum mengejek pada anaknya.
"Gak ya, aku itu udah besar. Udah bukan waktu nya lagi ngerepotin mama, sama hal receh kaya yang papa selalu ribetin tiap pagi." Balas sang anak tak kalah sengit. "Padahal udah jelas-jelas loh, mama itu bangunnya subuh cuma buat siapin keperluan papa doang. Kalah sama adek Bintang, masih bayi gak rewel kaya papa." Ucapan nyelekit sang anak membuat Al sedikit tersentil.
"Udah, bisa gak sih kalo di meja makan itu gak usah debat. Gak sehat buat badan dan pikiran. Nih, sayang segini cukup?" Tanya sang ibu.
"Cukup mah, aku lagi diet. Aku ini turunan montok dari Uti, jadi kalo makan kudu hati-hati. Ini aja udah naik sekilo gara-gara papa." Sontak pernyataan anak perempuan nya itu, langsung membuat Al mendelik sebal.
"Ck, tiap kali timbangan kamu naik selalu saja salah papa. Heran papa nih, kan kamu juga yang mesen martabak manis sama cake vanilla di toko roti umi. Kok jadi papa lagi yang disalahin." Balas Al sewot pada anak gadisnya, yang memang sedikit montok tersebut.
"Harusnya papa itu nasehatin, bukannya malah main beli aja. Gak peka banget sama anaknya." Ujar Bella tak mau kalah. Nasi goreng yang katanya cukup tadi, sudah bersih tak bersisa dari dalam piringnya.
"Udah belum, papa udah telat nih. Sayang kamu hari ini agak siangan kan, ke rumah sakit nya?"
"Ehmmm.." Jawaban Keyra membuat Al bedecak kesal.
"Ehmmmm itu apa? Ya apa gak." Tanyanya menuntut jawaban pasti.
"Siangan, liat gak sih aku lagi ngunyah loh ini." Balas sang istri kesal, namun tak juga bisa marah, pada pria matang yang sifatnya masih seperti ABG labil.
"Oh, ya sudah. Hati-hati ya, nanti sebelum berangkat kabarin aku sama pas udah nyampe nya. Aku berangkat dulu." Pamit Al lalu mencium kening istrinya yang masih sarapan seorang diri.
__ADS_1
Keyra memang selalu paling belakang urusan perutnya sendiri, ketiga anaknya juga sang suami yang akan di layani terlebih dahulu. Dirinya gampang, karena kalau tidak ada jadwal operasi pagi, dia akan sedikit lebih santai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf yah, Daniel telat banget. Tadi pake acara mogok dulu dijalan." Pria muda itu menyalami pria paruh baya di depannya dengan takzim.
Daniel menduduki kursi di seberang orang yang dia panggil ayah tersebut. Ditatapnya manik pria paruh baya itu dengan perasaan campur aduk, ada kerinduan yang mendalam di hatinya.
"Ayah apa kabar? Masih sering ketemuan sama didi Revan tidak?" Tanya Daniel dengan mata berkaca-kaca, ingin sekali dia menangis di pelukan ayah, dari orang yang sangat dia cintai itu.
"Ayah baik, didin Revan juga baik. Kemarin kami ketemuan, masih sering nginap seperti biasa. Di apartemen Dady Babas. Sebulan sekali buat lepas kangen." Ujar Reegan terkekeh pelan.
"Mami kamu gimana, sehat? Udah gak terapi psikiater lagi?" Balas Reegan balik bertanya.
"Mami sehat, sekarang tinggal sama kak Dean di Swiss. Udah setahun, kaya nya lebih nyaman di sana. Tiap hari selalu ada cerita baru, yang kalo gak di sampein ke Daniel, gak seru." Kekeh Daniel mengingat tingkah sang ibu, selama tinggal bersama kakak pertama nya juga anak istrinya di Swiss.
"Itu bagus, udah bisa berdamai dengan keadaan itu baik untuk mami mu. Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku baik, gini-gini aja kaya dulu. Masih suka kangen sama princess, seminggu yang lalu baru dari sana. Cerita soal kuliah aku di Sydney, teman yang nyebelin dan juga soal mami. Mami kangen, cuma belum cukup kuat buat balik kesini lagi." Ujar Daniel terkekeh pelan, dengan setetes air mata yang keluar tanpa permisi. Buru-buru Daniel mengusap air matanya.
"Ayah juga baru dari sana, sekalian ke makam papi kamu, daddy Babas sama papa Satria. Setiap bulan buat kegiatan rutin sama didi Revan, sebelum nanti gantian jadi yang di kunjungi." Kelakar Reegan hambar.
Kemudian Reegan menatap kosong, pada meja tak jauh dari tempat mereka duduk. Dia ingat dengan jelas, itu adalah meja favorit mereka jika berkumpul. Sehari sebelum hari naas itu terjadi, mereka sedang berkumpul di sana. Membahas rencana liburan bersama, setelah Kira selesai merayakan hari kelulusan nya disekolah. Namun siapa sangka, itu adalah pertemuan terakhir mereka saat dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Nyatanya, besok sorenya, tepat nya, dua hari setelahnya, dirinya dan Revan benar-benar mengantar kepergian ketiga sahabat mereka serta putrinya, bukan untuk pergi berlibur. Namun untuk pergi selama-lamanya. Walau mereka tidak secara langsung menyaksikan, bagaimana para sahabat nya dimakamkan. Takdir Tuhan siapa yang tau. Perbanyak waktu bersama orang-orang terkasih mu, sebelum Tuhan berkata : Kamu harus pulang, sekarang!" Perintah mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar, kamu hanya perlu memperbaiki diri sebelum waktu itu tiba.