
Sementara ditempat lain, Sarah, Reegan, Nabila dan Revan. Sedang berada di sebuah cafe yang biasa, menjadi tempat berkumpul para personil Ayam Sambel.
"Lo kapan nyusul gue, jangan nyicil mulu kerjaan lo." Ujar Revan seraya melempar gulungan tisu ke arah Reegan.
"Akhir bulan ini, gue bakal ke rumah Sarah buat lamaran, mama juga udah nggak sabar, apalagi saat tau kecambah gue udah berkembang biak diperut calon mantunya."Balas pria itu tersenyum dengan bangga.
"Ck, nggak nyangka gue. Seorang Reegan yang sangat anti sama cewek, bisa seganas itu sekarang." Revan berdecak kagum pada perubahan sahabat nya itu.
"Sekarang gue udah nemu, perempuan yang bikin adrenalin gue tertantang. Bahkan saat Sasa yang agresif itu meremas adik kecil gue, cuma menggeliat doang, trus tidur lagi." Ucap Reegan, membuat kedua pria itu terbahak, karna pembicaraan unfaedah mereka.
"Yakin lo cuma menggeliat? Kali aja pas pulang lo baru start, secara kan apartemen lo bedua satu lantai. Gak yakin gue." Secara pengalaman, dirinya sudah sering bertemu dengan banyak perempuan seperti Sasa. Agresif dan pantang menyerah.
"Sembarangan lo! Gue lebih milih bermain solo, dari pada ikut nyelup di bekas lo." Ucap pria itu tak terima. Meski dirinya harus bersolo karir gara-gara ulah Sasa tersebut, itu lebih baik. Dia masih takut penyakit, lagi pula dia tidak bisa bermain tanpa melibatkan perasaan. Anggaplah dia cemen, namun faktanya, Sarah adalah cinta pertama nya, ciuman pertamanya dan juga **** pertamanya.
"Anjiiiirrr, ini kalau Nabila denger, bisa kelar masa depan gue tar malam. Darimana lo tau? Perasaan gue mainnya rapi, lagian tu cewek yang datengin apartemen gue malem-malem. Ya gue sikat bersih, lo kalo dikasih daging pas lagi laper-lapernya pasti langsung hap. Gue cuma gak mau me mubasir kan rejeki, malam-malam gue ditawarin ************, ya gue hajar sampe pagi." Pria itu tertawa keras, dia ingat Sasa tiba-tiba datang ke apartemen nya. Tanpa aba-aba, wanita itu menciumnya sambil melepas dress ketat yang dia pakai, lalu menunduk memainkan adik kecil yang sudah mulai on sejak tadi.
Tanpa pikir panjang, pria yang sering di juluki oleh para sahabat nya, penjelajah ************ itu, mengeksekusi wanita binal itu, dimulai sofa ruang tamu nya, meja makan dan berakhir di kamarnya hingga pagi menjelang. Beruntung saja wanita itu tidak hamil, pergulatan tanpa persiapan itu, membuatnya harus menabur benih di rahim wanita hiperseks tersebut.
"Gue liat waktu lo bedua keluar dari apartemen, jijik gue, lo ciuman depan pintu apartemen sambil remas itu bokong silikon." Ujar Reegan bergidik ngeri.
Sementara Revan terkekeh mendengar ocehan sahabat nya itu. "Tapi bokong silikon itu, udah buat gue kejang-kejang sampe subuh, Gan. Gila tu cewek, nafsu nya liar bin binal. Gue berasa diperkosa ketimbang merkosa. Dibuat keluar berkali-kali gue, sampe lemes pare berotot gue, Gan. Sekali-kali lo harus nyoba, sensasi nya beda bro, di jamin lo bakal puas di goyang sampe pagi." Ujar pria itu kembali terbahak.
__ADS_1
"Apanya yang dicoba? Apanya yang beda? siapa yang kamu minta goyang sampai pagi, hah?".. Baru nikah udah mau nyoba-nyoba yang lain, ya sudah nyari tuh yang pintar goyang tadi. Awas minta aku goyangin kamu lagi, goyang aja sama guling." Revan seketika dilanda kepanikan luar biasa, ini alamat tidur di kamar tamu kalo sudah mode ngambek gini.
"Nggak yang, nggak. Mana ada gitu, kamu salah mencerna cerita aku. Aku bilang, Reegan bisa coba metode bercinta yang aman buat wanita hamil. Dijamin sensasi nya bakal beda, bisa sampe pagi juga. Aman lah buat baby, gitu yang. Udah, geser sini kursinya. Ngapain jauh-jauh gitu, kaya lagi berantem aja. Aku sama kamu aja udah puas banget, ngapain nyari yang lain. " Sungguh, akal bulus seorang Revan memang tidak tertandingi, lendir di lidah nya sudah terlalu banyak. Jadi apapun alasan yang dia ucapkan, akan selalu licin.
"Awas ya kamu macam-macam, aku potong kebanggaan kamu itu, aku sate kasih moci dirumah." Ujar wanita itu kesal, seraya menusuk steak salmon milik Revan dengan kasar. Membuat bagian bawah kedua pria itu terasa ngilu.
Reegan hanya bisa mencibir, kenapa dirinya jadi ikut dibawa-bawa. Dia tidak perlu berguru apapun pada Revan, soal ranjang, dirinya sudah cukup puas dengan pencapaiannya.
"Sayang, kamu beli apa tadi? Baby triplets nya rewel gak tadi?".. Ucap pria itu mengelus perut Sarah, tanpa mempedulikan tatapan Revan yang sedang meminta pertolongan penuh permohonan padanya.
"Beli ini, pengen aja, ngidam kali ya. Belakangan aku suka makan yang manis-manis." Ujar Sara menunjuk cake Vanilla di box kecil di dalam paper bag.
"jangan banyak-banyak, Ree. Nanti aku malah mual. Ada jus mangga nggak sih? Jadi pengen itu aku sekarang." Ujar Sarah seketika saliva nya sudah memenuhi mulut nya.
"Mbak Aku juice mangga ya mbak. Makan nya kaya yang mas ini aja, tambah satu lagi. Udah itu aja, makasih ya." Ujar Sarah tersenyum ramah.
"Mbak yang satunya mau pesan apa, mbak?" Tanya pelayan itu ramah.
"Aku nasi bakar daging, iga bakar bakar, sop iga, sambal goreng ati ampela pake pete, trus minum nya juice jambu. Itu aja mbak. Makasih." Ujar Nabila tak seramah Sarah.
Ketiga orang yang duduk di meja itu melongo, mendengar pesanan serba daging tersebut. Nabila Tidak terlalu suka daging, kini memesan makanan untuk dirinya, yang semuanya daging. kecuali Sambal nya. Membuat Sarah malah merasa mual hanya dengan mendengarnya, namun melihat semangat makan sahabat nya. Sarah berusaha untuk menahannya.
__ADS_1
Reegan yang selalu peka itu, tampak cemas. "Kamu mau kita pindah meja nggak sayang? Itu sebelah sana." Tunjuk Pria itu pada Sarah.
"Eh, nggak. Disini aja, triplets pengen makan sama aunty nya disini." Ucap Sarah tak enak, dia tak ingin Nabila dan Revan merasa tersinggung, jika mereka tiba-tiba pindah meja. Biarlah dia yang menahan gejolak diperutnya sebentar saja.
"Kenapa lo, mau pindah segala? Risih lo liat istri gue pesan banyak makanan?".. Tanya Revan dengan nada sedikit sewot.
"Eh, nggak gitu Van. Reegan cuma takut tar mejanya penuh mungkin, nanti nggak cukup buat narok pesanan Nabila. Ya kan sayang?" Sarah menjadi semakin tidak enak, Nabila pun merengut, suasana mulai canggung.
"Ck, sensi amat lo. Gue yang mau jadi bapak, lo yang sensian. Sarah itu mual sama aroma daging, denger aja dia bisa sampai muntah. Apalagi kalo liat berhamburan didepannya." Ujar pria itu lugas, tanpa bisa diajak kerja sama oleh Sarah. Sarah melotot sebal.
"Eh, benaran Sar. Aduh kok nggak bilang sih, ini nih yang aku gak suka dari kamu. Apa-apa mendem, gak enakkan. Mas, pergi bilangin pesanan aku yang tadi buat take away aja. Yang sekarang nasi suci, capcay goreng seafood, ikan mas goreng trus sambel sama minum tetap." Ujar Nabila pada sang suami. Yang langsung beranjak dari tempat duduknya, menuju kasir untuk mengganti pesanan.
"Maaf ya Bil, baru-baru ini aja, sejak hamil. Kemaren-kemaren daging nya yang malah kabur, takut aku makan." Ujar Sarah terkekeh tak enak, melihat sahabatnya sampai harus mengganti menu makanan nya.
"Santai aja, Sar. Sama aku ini, tapi mungkin bener deh anak kamu cewe, ipar aku kemaren pas hamil, makannya suka yang manis-manis. Trus kalo liat daging suka mual. Makanya bodynya sampe kaya sumo sampe lahiran." Ucap Nabila tak sadar, jika wanita hamil itu, sensitif jika menyangkut masalah berat badan.
Reegan yang dapat membaca raut wajah panik sang kekasih langsung pasang badan. "Kamu mau sedege apapun aku tetap sayang kok, kalian berempat itu hidupnya dady, jangan cemas hanya karna masalah berat badan. Kadar cinta aku nggak akan berkurang mau segimanapun kamu nanti." Ujar pria itu menenangkan sang kekasih.
Nabila langsung mingkem, alamat sudah bikin sensi bumil nih batinnya. Kemudia Nabila cengengesan karena merasa bersalah. "Maaf Sar, gak maksud gitu, itu cuma contohnya aja, kalo suka makan manis pasti anak cewe, ya kan mas?" Nabila metotot pada sang suami meminta dukungan.
"Eh, ya benar Sar. Pasti cewe, nanti jodohin sama anak aku aja ya. Gak apa-apa nanti anakku jadi brondong, ya gak sayang. Asal kita bisa besanan." Si mulut berlendir itu pun tak mau kalah, diapun pasang badan buat sang istri.
__ADS_1