Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLXIV


__ADS_3

Tak terasa hari ini adalah hari pertama Sarah menjalani kemoterapi, setelah Serangkaian tes kesehatan yang di lakukan kemarin siang. Tubuhnya sudah di nyatakan siap untuk melakukan kemo.


"Bunda yang kuat ya, kami semua ada di sini. Anak-anak dan cucu-cucu kita. Proses nya mungkin akan gak enak, tapi bunda itu hebat. Istri ku ini luar biasa, aku bangga bisa jadi Suaminya" ujar Reegan menyemangati sang istri yang nampak sedikit murung pagi ini.


Sarah tersenyum kecil, entah bagaimana menanggapi ucapan sang suami. Namun dia sangat bersyukur, di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi nya dengan tulus.


"Sudah siap bu? Mau saya bantu papah ke kursi roda?" Perawat itu bertanya dengan ramah.


"Tidak perlu sus, saya yang akan mengangkatnya sendiri." Dengan cepat Reegan mengangkat sang istri dari brankar ke atas kursi roda.


"Padahal aku bisa sendiri loh, yah" ujar Sarah merasa malu pada perawat yang melihat apa yang suaminya lakukan.


"Gak apa-apa. Aku masih kuat kalo cuma gendong bunda. Ini biar saya aja yang dorong sus." Reegan mengambil alih tugas perawat tersebut. Dia ingin menjadi berguna untuk istri nya itu.


"Baik pak, silahkan" ujar sang perawat tersenyum maklum.


Saat mulai berjalan di lorong menuju ruang kemoterapi, para sahabat berbondong-bondong menghampiri Sarah dan keluarga nya.


"Maaf kami telat, ini udah mau kemo?" Nabila yang masih ngos-ngosan mengangkat suara terlebih dulu. Seakan ada yang mau berebut dengannya.


"Ck, benerin dulu napas kamu itu. Tar malah kamu yang di besuk di kamar mayat akibat asma dadakan" cetus Satria berdecak sebal. Dia bahkan baru saja akan berbicara sudah di serobot oleh wanita itu.


Nabila mendelik tak suka, kemudian kembali fokus mengikuti langkah Reegan dan yang lainnya.


Setelah sampai, perawat itu menginstruksikan agar yang lain menunggu di luar saja, sontak membuat mereka sedikit kecewa. Namun demi kebaikan bersama, maka mereka pun mengalah. Reegan pun sudah di wanti-wanti, agar melakukan panggilan video selama Sarah di dalam sana. Entah untuk berapa lama pun, mereka akan menunggu di luar.


"Jangan lupa VC ya, ini ke ponsel aku aja. Udah aku cas semalam penuh." Nabila mengangkat ponselnya, dia sengaja memakai ponsel tablet agar lebih besar.


"Pamer" ketus Satria tak bosannya memercikkan api peperangan, pada istri sahabatnya itu. Entah ada dendam kesumat apa diantara keduanya. Hanya mereka saja yang tau.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Sar, semangat ya. Tuhan senantiasa menyertai setiap tetes obat yang masuk ke tubuhmu. Amin" Sinta menengahi perdebatan kedua insan itu. Diiringi ucapan doa yang tulus untuk wanita hebat di hadapan nya itu.


"Amin" ucap mereka bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pusing? Mual? Mau aku kaya gimana, hmmm?" suara lembut Reegan, membuat sang istri membuka matanya yang sejak tadi sengaja dia pejamkan.


"Gak pengen kamu gimana-gimana. Aku berasa ngantuk aja tapi mau tidur gak bisa" jelas Sarah memenangkan sang suami, yang nampak begitu mencemaskan dirinya.


"Kalo ngerasa sakit atau apa, cepat kasih tau aku. Tuh, coba kamu lihat itu. Yang nunggu kamu di luar pada mabar(makan bareng)" tunjuk Reegan ke arah kamera ponselnya, yang sejak beberapa menit yang lalu telah terhubung pada ponsel Nabila.


Sarah terkekeh melihat aksi para sahabat keluarga nya itu, mereka tengah asyik menyantap aneka macam makanan di luar sana. Dari yang ringan sampai yang berat, tepatnya di lorong rumah sakit tanpa merasa jijik atau apa. Walau hanya beralaskan karpet bulu yang di bawa Keyra dari rumahnya.


"Ya ampun, itu kok pada makan di situ. Kenapa gak di ruangan aja sih, itu orang pada lewat ngeliat nya kaya kasian gitu" kekeh Sarah merasa konyol juga terhibur. Sebegitu erat persahabatan keluarga mereka, membuat nya semakin bersemangat untuk melanjutkan pengobatan nya lagi.


Dia dapat mendengar dengan jelas, suara para sahabatnya di luar sana, melalui earphone yang dia pakai di salah satu telinganya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak terasa 3 jam kurang lebih telah berlalu, waktu yang Sarah butuhkan untuk sesi kemoterapi pertamanya. Saat mereka keluar dari ruangan, para sahabat sudah menunggu dengan wajah berbinar. Padahal mereka pun sejak beberapa jam yang lalu, sudah melihat bagaimana kondisi Sarah di ruang kemoterapi. Namun melihat nya langsung, rasanya jauh lebih menggembirakan.


"Aku udah suruh Daniel ke kantin pesankan jus alpukat, itu bagus buat orang yang habis kemo kaya kamu" ujar Sinta bersemangat.


"Aku juga udah rebuskan kamu telur, bisa ngurangin rasa lelah kamu abis kemo" Marissa pun tak kalah memamerkan bawaannya. Satu toples Tupperware size 1 liter penuh sesak, dengan para telur rebus. Yang dipaksa berdesakan di dalamnya, tanpa rasa prikehewanan oleh wanita tersebut.


"Di ruangan ada sup, nanti bisa dipanaskan kalo kamu mau makan" sambung Dara. Dan bla bla....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Setiba di ruangan, Sarah langsung di angkat oleh Reegan ke atas ranjang. Wanita itu nampak kelelahan, dia berharap efek kemo tidak terlalu berat bagi istri nya. Dia tidak akan sanggup melihat nya lebih lemah lagi dari ini.


"Kamu mau makan atau apa dulu?" Reegan bertanya sambil mengusap lembut, punggung tangan sang istri yang terlihat sedikit membengkak.


"Aku gak laper sih, tapi kaya pengen aja makan. Cuma gak tau mau makan apa, liur aku terasa pahit" aku Sarah seraya menatap makanan yang nampak bertumpuk, di atas meja sofa juga di atas nakas di samping nya.


"Mau yang mana dulu? Roti? Jus? Itu ada jus alpukat, mau?" kembali Reegan menawarkan pada sang istri, yang terlihat tak bersemangat melihat makanan tersebut.


"Jus dulu deh, nanti baru makan. Aku khawatir muntah, takut nya keterusan." Akhirnya nya sarah memilih jus, dari sekian banyak makanan menggugah selera di hadapannya.


Sinta yang mendengar Sarah menginginkan jus, langsung secepat kilat meraih gelas jus tersebut, dan mengantar nya pada Sarah.


"Nih" Sinta menyerahkan gelas jus pada Sarah. "Abisin ya, pelan-pelan aja. Kalo udah enakan, bisa lanjut makan. Dara ada bawa sup, bisa di angetin kalo udah mau makan. Marissa juga ada bawa telur hiu" ujar wanita itu seraya melirik Marissa yang mencibir ucapannya.


"Kenapa gak telur buaya aja ato dinosaurus, gitu. Biar kerenan dikit" cetus Marissa, membuat Sinta bukannya marah malah tertawa renyah.


"Aku mau bilang gitu tadi, tapi takutnya, bapak buaya nya ada yang tersinggung" balas Sinta terkekeh laknat.


Membuat Revan dan Satria sontak tersedak cemilan, yang mereka makan sejak masuk tadi. Kedua pria itu langsung bersitatap aneh, kemudian melengos ke sembarang arah. Rupanya, image playboy cap buaya rawa lembab, masih melekat pada kedua mantan casanova tersebut.


Tatapan Nabila dan Dara pun menajam, pada kedua pria yang nampak kikuk itu. Dengan segera Revan, si hali silat lidah, mengeluarkan ilmu nya.


"Aku gak gitu, mi. Suami kamu ini setia tiada akhir, tenang saja. Jangan risau, jangan galau apalagi cemburu buta, dan berujung pada suramnya masa depan didi nanti malam" ujar pria itu panjang lebar, kemudian mengerling kan matanya pada sang istri.


Membuat Nabila mendengus sebal. Suaminya itu kalau soal masa depannya saja, secepat roket bersilat kata.


"A..aku juga ma, jangan mencemaskan apapun. Papa Satria ini sudah paling setia deh pokoknya. Duduk sini, kenapa malah berdiri di situ. Tar kaki mamah pegel loh, yuk sini, papa suapin kacang mede gurih" rayu Satria dengan kaku. Pria yang terkenal sangar itu, mencoba peruntungannya dengan mengeluarkan sedikit jurus gombal, hasil berguru pada sang ahli, Revan.


"Aku gak makan kacang, nanti jerawatan" ketus Dara. Membuat Satria ketar ketir tak karuan. Dan pemandangan itu, berhasil membuat tawa para sahabat laknat itu pecah sempurna. Terbahak di atas derita Satria, nampaknya lebih membahagiakan.

__ADS_1


__ADS_2