Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Titik paling rendah


__ADS_3

Daniel mengendarai mobil nya seperti orang kesurupan, nomor sang istri tidak bisa dia hubungi. Lumina pun tidak ada di butik nya, kemana kedua wanita itu pergi. Bayangan buruk akan di tinggal kan membuat Daniel menggila.


"Ayolah sayang, aktif kan ponsel mu, aku mohon" berkali kali Daniel mencoba menghubungi istri nya. Namun hanya di jawab oleh mesin penjawab.


Daniel benar-benar frustasi, "brengsek brengsek kau Daniel, harus nya kau jujur sejak awal." Daniel terus mengumpat dirinya sendiri dengan kesal.


Jika saja dia berkata jujur tentang Misha, istri nya pasti akan mengerti. Bukan kah ini alasan nya ingin segera menikah, agar saat putri nya lahir punya status yang jelas. Walau itu terdengar kejam bagi istri nya, namun alasan lain adalah karena dia sangat mencintai sang istri.


flashback


"Aku mohon, Dan. Aku percaya padamu, bantu aku kali ini saja, please." Bryan tak henti hentinya memohon pada Daniel sejak sebulan yang lalu. Hampir setiap hari pria itu menyambangi Daniel ke apartemen nya, membuat Daniel frustasi.


"Aku tidak bisa, Bryan!" tolak Daniel tegas seperti sebelum sebelumnya. "Bagaimana bisa aku merelakan anakku di besarkan oleh orang lain, aku tidak setega itu. Maaf kan aku," ujar Daniel menjelaskan isi hati nya.


"Aku bukan orang lain, Dan. Apa bagimu aku ini orang lain, begitu?" Bryan sudah putus asa, pernikahan nya sudah berjalan 4 tahun. Dan hingga kini belum di karuniai anak. Masalah nya terletak pada dirinya, dia tidak bisa memberi anak karena di diagnosa mandul oleh dokter.


Sudah berbagai macam upaya mereka lakukan agar bisa memiliki anak, namun tidak ada yang membuahkan hasil. Menikah muda adalah pilihan nya, kini terancam berpisah karena orang tuanya mengira, istri nya lah yang bermasalah.


Bryan meraup wajahnya frustasi, " baiklah Dan, maaf jika selalu merengek, meminta hal yang tidak masuk akal padamu. Aku berjanji ini terakhir kalinya aku mendatangi mu, namun sebelum itu." Bryan menatap netra sahabat nya dengan tatapan tak terbaca.


"Bolehkah aku menitipkan istri ku, jika sesuatu terjadi padaku nanti. Aku sangat mencintainya, dengan seluruh hidup ku. Istri ku itu yatim piatu, aku mohon belas kasihmu. Jagalah dia untuk ku," setelah menyampaikan pesan menyayat hati, Bryan keluar dari apartemen Daniel.


Daniel melongo mendengar pesan janggal sahabat nya, segera beranjak menyusul Bryan yang ternyata sudah lebih dulu masuk dan turun menggunakan elevator. Bergegas Daniel menuruni tangga darurat, pikiran nya kalut. Bisa jadi Bryan akan bunuh diri, sama seperti saat dirinya ditentang menikahi istri nya. Yang dianggap tidak sepadan oleh keluarga nya.


Saat sampai di basement, nafas Daniel terengah-engah. Matanya memindai setiap sudut parkiran, tak lama dia menangkap siluet pria yang berjalan gontai menuju mobilnya.


Daniel berteriak memanggil sahabat nya yang lumayan jauh dari arahnya berada.


"Bryyaaan!"


Daniel berlari kecil lalu menghadiahi bogeman mentah, pada wajah tampan Bryan yang sudah seperti mayat hidup.


"Dasar brengsek! aku benci punya sahabat banci seperti mu." Maki Daniel jengkel.


"Aku akan melakukan nya, apa kau puas sekarang?!" seru Daniel masih diliputi kekesalan.


Wajah Bryan yang kuyu kini berubah cerah, "Sungguh! kau serius dengan perkataan mu? astaga! aku menyayangimu brother.." Bryan memeluk tubuh sahabatnya, dengan penuh rasa syukur dan terimakasih yang tak terhingga.


"Lepaskan aku!" ketus Daniel kesal. Namun Bryan malah semakin mengeratkan pelukannya, membuat Daniel jengah.

__ADS_1


"Jika kau tidak melepaskan pelukan mu, aku akan berubah pikiran sekarang juga." Tegas Daniel dongkol. Segera Bryan melepaskan pelukannya.


"Ck! dasar plin plan," omel Bryan namun tak menutupi kebahagiaan nya.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga," lanjut Bryan tak sabar.


"Hei! kau pikir melakukan itu gampang. Bagaimana bisa aku ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini, dasar gila." Ketus Daniel tak habis pikir.


Bryan memindai penampilan sahabat nya, yang hnay memakai boxer dan kaos putih. Kemudian pria itu menggaruk tengkuknya cengengesan.


"Maaf, aku terlalu bersemangat. Ya sudah, ayo kembali ke atas, ganti bajumu sekarang." Perintah Bryan seenak jidat. Daniel mendelik kesal.


"Apa kau ingin ku bantu memakai kan pakaian?" tawar Bryan tak tau-tau dengan wajah garang Daniel yang menatap nya jengkel.


"Aku bisa sendiri, terimakasih!" ketus Daniel lalu meninggalkan Bryan yang terus tersenyum sejuta watt.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Drrrttt drrrttt drrrttt


Daniel meraih ponselnya di dasbor yang dilemparkan asal, dia berharap istri nya menelpon. Namun ternyata harapan nya salah, Tiara lah yang menelpon nya.


"Misha menangis sejak kau pergi, bisakah kau kembali sekarang? aku sedikit kewalahan menghadapi nya," ujar Tiara memohon.


Daniel hanya bisa menghela nafas berat, Asha saja masih belum tau bagaimana kabarnya. Kini putrinya rewel, "baiklah, aku akan kembali sekarang" putus Daniel akhirnya.


Daniel memutar arah kemudi nya menuju rumah sakit, walau dengan hati yang dilema.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Maafkan aku, Dan. Aku tidak tau jika kau berniat mencari istri mu. Andai aku tau, aku tidak akan menghubungi mu tadi." Tiara berujar dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa, Misha putri ku. Sudah seharusnya aku berada di dekat nya, apa lagi di saat dia sedang sakit seperti ini." Balas Daniel sambil menimang putrinya.


'dia juga putriku jika kau lupa, aku yang mengandung juga melahirkan kan nya ke dunia ini. Bukan istri mu, Daniel!" Seru Tiara dalam hati.


"Apa dia sudah tau tentang, Misha?" tanya Tiara hati-hati.


Daniel hanya mengangguk pelan, terlihat sekali wajah frustasi Daniel di balik senyum cerahnya pada sang anak.

__ADS_1


"Aku yang akan berbicara padanya, bagaimana?" tawar Tiara memberikan solusi.


"Tidak, Tiara. Itu hanya akan memperkeruh keadaan, Asha akan menganggap ku sebagai pria pengecut. Biar aku saja, kau fokus saja pada Tiara." Potong Daniel cepat.


Membiarkan Tiara menyampaikan segalanya pada Asha, sama saja menggorok lehernya sendiri.


"Maaf jika kehadiran ku dalam hidup mu, membuat segalanya kacau." Tiada terisak sambil meremat kain lampin milik Misha.


Daniel lagi-lagi menghela nafas, Tiara selalu saja menangis untuk banyak hal. Membuat sisi kemanusiaan nya selalu tak tega.


"Sudahlah, bukan salahmu. Andai aku tidak melakukan nya dulu, Misha tidak akan ada. Maka masalah inipun tidak ada. Namun bukan saatnya menyesali, itu sama saja aku menyesali kehadiran Misha ke dunia ini." Jika Daniel akan segera memeluk wanita itu, kini Daniel akan membiarkan nya.


Tiara harus belajar mengatasi perasaan nya yang gampang emosional terhadap segala hal. Dia harus mulai menjaga perasaan istri nya mulai sekarang. Walau sedikit terlambat namun dia akan berusaha memperbaiki nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dasar pria gi*la, tidak punya perasaan, tidak punya hati nurani, penjahat kel*a*min! Brengsek! kudoakan kau tidak akan bahagia bersama ja*la*ngmu itu, Daniel Wardhani! kau dengar aku, bajing*an!" Lumina terus berteriak sejak mereka baru sampai di puncak.


Sementara Asha memilih diam, dan hanya mendengar kan umpatan demi umpatan Lumina pada suaminya. Tanpa menyela, tanpa bersuara, wanita itu terkesan lebih tenang.


"Haah hhahh hhahhh.. minum, air minum. Aku haus..," Lumina ngos-ngosan menghampiri Asha yang tengah duduk santai di kursi ayun, menikmati jus jeruk nipisnya seolah tak pernah terjadi apa-apa.


"Itu," tunjuk Asha pada gelas air putih yang kosong.


Lumina ingin sekali mencincang sahabat nya itu hingga seperti daging giling.


Dengan emosi Lumina meraih gelas jus milik Asha, "letakkan kembali ke tempat nya, Mina. Aku sedang sangat ingin menguliti seseorang hidup-hidup sekarang. Jadi jangan memancingku!" Ujar Asha dingin.


Dengan sedikit kasar, Lumina menaruh kembali gelas jus milik calon psikopat di depannya itu.


"Aku akan ke dapur, aku haus juga lapar. Suamimu itu menguras banyak energi positif dalam diriku. Lihatlah, aku sudah beberapa kali mengeluarkan kata-kata buruk hari ini. Semoga saja Tuhan masih mau mengampuni dosa ku," ujar Lumina penuh drama. Daniel adalah akar masalahnya, karena pria itu, mulut lemesnya begitu rajin mengeluarkan umpatan-umpatan keji.


"Hmm, masaklah yang enak, aku ingin makan berat malam ini. Daging panggang, nasi, kentang goreng,..." Asha nampak berpikir sejenak, "Ah ya, ada ayam di kulkas, tolong sekalian di panggang juga, jangan lupa sambal cincang kecapnya sekalian." Setelah selesai memberi titah tak berakhlak, Asha menyandarkan kepalanya di bantal yang sengaja disusun di belakang nya. Lalu mulai mengayunkan kursinya rotan itu, matanya terpejam sempurna.


Sejatinya Asha tidak lah tidur, namun dia butuh menenangkan pikiran dan hatinya yang sedang kacau balau.


Lumina yang ingin protes namun tak jadi melakukan nya. Asha yang dia lihat sekarang, begitu rapuh. Namun berusaha menyimpan seorang diri, Lumina selalu salut bagaiamana sahabat nya itu selalu bisa menyikapi masalah, dengan cara yang elegan. Tidak gegabah seperti dirinya juga kebanyakan orang, saat tau bahwa mereka sedang di khianati atau disakiti.


Tidak ada rengekan manja, juga tangis penuh ironi. Tenang nya selalu mampu mengendalikan segala hal. Baik sikap serta tutur katanya, senantiasa tertata dengan rapi. Sehingga tak seorang pun yang akan menyadari, jika wanita cantik layaknya bidadari itu, sedang rapuh dan berada di titik paling rendah dalam hidupnya.

__ADS_1


Lumina meninggal kan Asha yang masih setia memejamkan kedua matanya, hati nya sakit melihat kondisi wanita tegar itu. Andai membunuh seseorang di legalkan, Daniel adalah orang pertama yang akan dia lenyapkan dengan suka rela.


__ADS_2