Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXVII


__ADS_3

Reegan tersentak dari tidurnya, sudah tiga malam berturut-turut, pria itu memimpikan mimpi yang sama. Entah apa yang terjadi padanya, akankah ini pertanda jika ajal akan segera menjemput nya.


Reegan mengusap kasar wajahnya, mimpi itu membuat nya frustasi. Setiap malam dihantui mimpi yang sama, dan berulang ulang, membuat pria itu resah. Dia bahkan belum sempat meminta pengampunan dari sang istri, bagaimana jika waktu nya tiba, namun kata maaf itu, masih belum bisa dia dapatkan.


Pria itu kembali menatap kosong sisi ranjang, hanya tertinggal kenangan disana, tanpa ada pemiliknya.


Klek... Klik...


Arumi membuka pintu kamar sang mertua sekaligus menyala lampunya. "Ayah mimpi buruk lagi." Wanita itu berjalan dengan sebuah gelas berisi seduhan air madu dan susu hangat. "Minum dulu yah." Arumi menyerah kan gelas itu pada sang mertua.


"Masih mimpi yang sama? Apa ayah sudah mencoba berbicara pada didi Revan? Mungkin karena ayah baru saja mengunjungi rumah peristirahatan papa, daddy dan papi. Mereka hanya kangen, tapi menyampaikan nya dengan cara mereka sendiri." Ujar Arumi mencoba menenangkan kegelisahan hati mertuanya.


"Besok ayah akan menemui didi Revan, maaf selalu membangun kan mu ditengah malam begini, Arumi." Balas Reegan tak enak, menantu memang sering terbangun tengah malam hanya untuk memeriksa dirinya, memastikan air minum dalam gelas dinakas kamarnya selalu terisi.


"Gak Apa-apa yah, ayah mau Rumi bikinkan apa, ayah mau makan sesuatu?" Tanya Arumi penuh perhatian.


"Gak Rumi, udah hampir subuh. Lebih baik kamu istrahat, temani anak-anak mu. Keenan kapan kembali dari luar kota?"


"Besok paling lambat, sorenya nyampe yah, kemarin sore Keenan udah ngabarin." Jelasnya pada sang mertua.


"Ya sudah, kamu istrahat. Makasih sudah melihat keadaan ayah." Ucap Reegan tulus.


"Ya, yah sama-sama. Panggil Rumi kalo ayah butuh sesuatu, jangan sungkan." Arumi membetulkan letak selimut ayah mertua nya dengan telaten, lalu berbalik menuju pintu keluar, sebelum keluar, arumi mematikan kembali lampu kamar tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Pagi bidadari nya abi, nyenyak bener tidurnya. Sampe gak nyadar suaminya pulang trus peluk manja dan rindu kaya gini." Keenan menghujami seluruh wajah istri nya dengan ciuman. Dia ingin melakukan nya sejak baru datang tadi, hanya saja tidak ingin mengganggu tidur lelap sang sang istri.


Arumi yang belum tersadar sempurna, tersentak kaget dengan perlakuan suaminya. "Loh bi, bukanya bilang nanti sore baru nyampe? Kok tau-tau udah dikasur aja. Jam berapa sih ini, anak-anak mana, ya ampuun kayanya aku kesiangan deh ini." Arumi bukannya membalas perlakuan mersa sang suami, malah mencecar pria itu dengan berbagai pertanyaan.


Arumi memang tidak pernah terlambat bangun, jika sampai seperti wanita itu telat bangun, artinya tidurnya tidak nyenyak di malam hari. Kasihan sekali istri nya itu, batin Keenan.


"Umi pasti cape banget yah, ngurusin si kembar sendirian selama abi diluar kota. Sini abi kasih hadiah lagi." Keenan Kembali menghadiahi sang istri dengan ciuman. Cinta nya pada wanita itu semakin hari semakin bertambah besar. Sampai dia tidak rela, jika anak-anaknya membuat sang istri kelelahan.


"Udah bi, aku mau mandi dulu. Astagaa, lihat itu. Hampir pukul 8 pagi, aku baru bangun. Anak-anak gimana, ayah juga pasti belum sarapan. Ya ampun, faktur usia ini kayanya." Arumi terus berdumel pada dirinya sendiri, seraya menyiapkan pakaiannya serta suaminya.


Keenan hanya menatap apa yang wanita itu kerjakan, tanpa berniat mengomentari nya. Dia tidak ingin menambah rasa bersalah sang istri. Dia tersenyum lucu melihat apa yang istri nya lakukan. Ah, istri nya itu sungguh menggemaskan, pikir nya.


"Sudah sayang, biar lebih cepat. Bagaimana kalau kita menghemat waktu, dengan mandi bersama, hmmm?" Ujar pria itu mengehentikan kegiatan istri nya. Diselipkan anak rambut wanita itu yang menjuntai didahinya.


Tanpa aba-aba, Keenan mengangkat tubuh mungil istri nya menuju kamar mandi, dan bisa dipastikan, mandi hemat waktu itu. Akan berakhir satu jam kemudian.


Keenan selalu tau cara membungkam istri nya, agar tak berkutik padanya. Pria bucin telat itu, benar-benar mengagumi keindahan yang tuhan ciptakan untuknya. Wanita itu adalah candunya satu-satunya. Tidak akan ada wanita lain lagi. Jika itu terjadi, Keenan siap di gantung oleh wanita itu di shower kamar mandi Mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kedatangan Keenan dan Arumi ditatap sebal, oleh anak perempuan mereka yang kini sudah berusia 14 tahun lebih itu.


"Kamu kenapa natapin abi sampe kaya gitu. Kangen bilang. Sini abi peluk." Tanpa menunggu persetujuan sang anak, Keenan meraih tubuh putrinya. Didekapnya erat, untuk menyalurkan kerinduan nya pada sang anak.


"Abi kangen sama kalian semua, nanti ambil oleh-oleh kalian di kamar abi sama umi ya." Ujar Keenan setelah melerai pelukannya, lalu mengacak rambut anak keduanya, yang hanya berbeda 7 menit dari sang kakak.

__ADS_1


"Abi ih, rambut aku udah rapi. Diberantakin lagi sih." Gerutu anak itu kesal. Lalu merapikan kembali rambut ala pomed milik nya.


"Ck, kaya gitu aja. Gak kangen apa sama abi. Apa kangen nya sama dokter gatel itu aja, trus abinya di abaikan mulu. Tega bener, berasa ayah tiri aku tuh." Dan mulailah drama ala Keenan dimulai, mata pria itu berkaca-kaca. Lalu mangarahkan piringnya pada sang istri.


Si kembar sulung yang langsung peka, segera mengambil alih pekerjaan sang ibu. "Segini cukup gak yah?" Tanya putri sulung Keenan tersebut tulus, dia merasa bersalah pada sang ayah.Karna lebih sering menghabiskan waktu bersama pria yang mereka panggil daddy, dari pada bersama sang ayah.


"Lauknya, ini kan yah? Biasanya ayah suka ayam sambel, tumis buncis sama tempe kan?" Si adik pun tak ingin ketinggalan, Eiden menawarkan lauk pauk pada sang ayah.


"Tempe-terong goreng juga, kan?" Sambung Elsye lagi, seraya menaruhnya di piring ayahnya.


Keenan hanya bisa melongo melihat porsi makanan di dalam piring nya.


"Ini abi mau di suruh bunuh diri?" Keenan menatap miris lauk pauk yang dijejali dia atas nasinya.


"Biar abi sehat, makan gih. Gepa mau di tarokin juga gak?" Tawar Elsye sambil mengangkat wadah lauk.


"Eh, gak gak. Gepa bisa ambil sendiri." Reegan secepat kilat mengisi piring nya sendiri, sebelum si kembar itu membuat nya meninggoi karena kekenyangan.


"Oh, ya udah." Balas Elsye lalu mengisi piring nya sendiri.


Arumi menatap kasian pada sang suami. "Kalo gak bisa abisin, biar umi aja bi." Arumi tak tega melihat suaminya dengan susah payah, menyantap makanan itu agar tidak membuat kedua anaknya kecewa.


"Gak mi, gak. Bisa kok, abi laper banget juga ini. Udah, umi ambil sendiri aja. Ini abi abisan kok." Jawab pria itu mantap. Seolah-olah memang dirinya sangat kelaparan. Dilahapnya makanan itu hingga lebih dari setengah.


Dalam hati, Keenan merutuki pembuat piring tersebut. Kenapa juga harus membuatnya sampai selebar itu. Melihat ukuran nya saja, sudah membuat Keenan kenyang dan mual di saat bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2