
Sepulang dari cafe, Reegan dan Sarah menuju apartemen. Seperti biasa, pasangan kekasih itu akan memadu kasih, sebelum Sarah pulang. Karna dirinya masih belum bebas bertemu Sarah, meski sudah resmi bercerai, kini ada sang kakek yang manjadi penghalang nya. Kakeknya itu sudah seperti CCTV Reegan 24jam, untuk itulah ketika jalan dengan Sarah. Dirinya dan Sarah selalu menggunakan topi dan masker, serta mobil Reegan akan diganti di rumah Revan.
"Bulan depan kedokter bareng aku lagi ya, pengen liat perkembangan si triplets kita. Gak sabar aku tuh, liat mereka lahir. Pasti lucu-lucu, gemes banget aku." Ujar Reegan mencium punggung tangan kekasihnya.
"Iya aku juga, kemaren detak jantungnya bagus, pertumbuhan badan nya juga udah mulai terbentuk walau belum sempurna."Timpal Sarah tak kalah antusias.
setelah perjalanan dari cafe lalu menukar mobil dirumah sahabatnya, kini mereka sampai di apartemen Reegan.
"Belanjaan nya biar aku aja yang bawa sayang, kamu jangan bawa yang berat-berat gini, kasian baby kita ikut capek." Ujar Reegan penuh perhatian.
"Tapi mommy nya dikasih olahraga mulu, nggak kasihan tuh Daddy nya nak." Cebik Sarah sambil mengusap perutnya, yang sudah mulai terlihat membuncit, wajar karna isinya tiga sekaligus.
Reegan terkekeh mendengarnya, olahraga itu wajib, kebutuhan namanya. Namun dia tetap melakukan nya dengan berhati-hati, takut menyakiti sang jabang bayi.
"Itu kebutuhan sayang, lagi pula bagus buat kamu, supaya jalan lahirnya gampang. Ini aku kerja keras loh, udah tanam benih, lahannya aku siram setiap hari, trus membantu melancarkan benih-benih itu hingga siap panen. Dapat dimana lagi coba kamu, pria idaman yang rajin kaya aku." Kekeh pria itu, sambil merangkul pinggang kekasih nya menuju elevator.
"Ya, rajin konon. Rajin gempur aku dengan dalih nengok si triplets. Triplets nya kangen sayang, pengen di shampoin sama daddy nya." Sarah meniru kata-kata yang sering diucapkan Reegan jika menginginkan dirinya.
Reegan tak bisa menahan tawanya lagi, benar memang, dia selalu beralasan ketiga janinnya itu merindukannya. Makanya dia selalu on jika berada didekat Sarah. Walau sebelum wanita itu hamil, dirinya selalu menggempur nya, setiap ada kesempatan.
__ADS_1
Pernah suatu ketika dia sudah sangat merindukan Sarah, setelah satu Minggu berpisah, dirinya harus ke Singapura untuk urusan pekerjaan. Pria itu nekat mendatangi rumah Sarah tengah malam, dan terjadilah pergulatan panas di dalam mobil yang terparkir didepan rumah wanita itu.
Reegan tersenyum sendiri mengingat tingkah konyol dan gilanya itu, memikirkan Sarah membuat otaknya tidak bisa memikirkan hal lain. Apalagi sejak wanita itu hamil, hampir setiap hari Sarah menemani nya dikantor, dan Nabila lah yang akan menjemput nya kerumah. Dengan alasan jika Sarah bekerja dibutik milik Nabila.
Setelah sampai di unit apartemen Reegan, mereka tidak sengaja berpapasan dengan si micin, Sasa. Wanita itu menatap Sarah dengan tatapan marah, dia mengepal kuat kedua tangannya. Ingin sekali dia menampar dan menjambak wanita yang manjadi saingannya itu, namun dia menahan nya. Dia akan bermain cantik mulai sekarang, apalagi kakek dari pria yang dia cintai itu mendukung dirinya sepenuhnya.
"Baru pulang, Gan. Abis belanja ya, mbak?" Tanya wanita itu dengan nada seramah mungkin, walau hatinya sudah panas membara sejak tadi.
"Eh, ya mbak abis belanja." Jawab Sarah ramah, lalu masuk karna ditarik oleh sang kekasih.
"Ihh gak sopan, orang nyapa kamu diam aja." Ujar wanita hamil itu sensi.
"Ree.." Ucap wanita itu, saat Reegan sudah berhasil meloloskan dress yang dia gunakan. Pria itu membaringkan kekasih nya diatas meja makan, lalu membuka semua sisa pakaian yang menempel di tubuh mereka.
Reegan menaikkan kedua kaki kekasih nya ke atas bahunya, lalu mulai mengarahkan adik kecilnya pada inti sang kekasih, yang sudah lembab itu.
"Aku masuk sayang." Ujarnya dengan suara serak.
Suara derit meja bersahutan dengan suara erangan kedua insan dimabuk cinta tersebut.
__ADS_1
Hampir satu jam, pergulatan penuh gairah itu diakhiri dengan erangan panjang dari keduanya.
Dengan napas tersengal-sengal, Reegan menghadiahi sang kekasih, dengan banyak ciuman penuh cinta. Tanpa mereka sadari, beberapa orang sedang menuju ke apartemen mereka dengan niat jahat.
" Makasih sayang, kamu selalu yang terbaik. Makasih juga sudah mau mengandung anak kita. Aku sayang kalian." Reegan mengangkat tubuh polos kekasih nya, menuju kamar mandi dilantai atas, hal yang sudah biasa mereka lakukan setiap kali habis memadu kasih dilantai bawah.
setelah selesai membersihkan diri, Sarah bergegas memakai pakaiannya yang memang sudah ada banyak, dilemari pakaian kekasih nya itu.
Perasaan Sarah menjadi tidak tenang, dia selalu memikirkan ayahnya. Setelah selesai dengan kegiatannya, Sarah mengambil ponselnya untuk menelpon sang ayah. Namun betapa kagetnya dia, dengan banyaknya panggilan telpon dan pesan singkat diponselnya.
Lalu dia mendial kembali nomor tersebut. "("Halo neng Sarah, ya ampun kang Ujang kira terjadi sesuatu sama neng Sarah. Lebih baik neng Sarah cepat pulang, situasi sekarang sedang kacau, orang-orang Prayoga sedang mencari neng Sarah sekarang..."
"Halo Sarah, ini aku Angga. Lebih baik kamu cepat pulang, Salah satu orang suruhanku bilang, ada beberapa orang sedang menuju apartemen Reegan. Jika kamu disana segeralah pergi, ada mobil Pajero warna hitam dibawah sedang menunggu sejak tadi, gunakan tangga darurat. Nanti aku jelaskan, berhati-hati lah." Panggilan itu terputus, Sarah mematung lalu tersadar dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Sarah menghampiri Reegan lalu memeluknya erat, seolah tidak akan bertemu lagi dengan pria itu.
"Kenapa hmm? Nggak mau pulang? Masih kangen, mau lagi?" Ujar pria itu terkekeh, tanpa tau jika Sarah sedang menangis dipeluknya.
"Ree, apapun yang akan terjadi kedepannya, tolong percayalah sama perasaan cinta yang kamu miliki buat aku. Percaya pada naluri dan akal sehat mu, jangan menelan mentah-mentah apa yang kamu dengar, cerna semua dengan baik lalu telusuri kebenaran nya. Aku sayang kamu, Ree. Maaf jika baru mengatakan nya sekarang, kamu percaya kan sama aku Ree?" Sarah menatap manik kekasih nya dalam.
__ADS_1
"Kamu ini ngomong ala sih, aku juga cinta sama kamu, aku percaya sama kamu. Jadi jangan ragukan itu, aku akan berjuang untuk cinta kita, hingga nyawa ku sudah hampir terlepas dari ragaku. Aku bersumpah, sayang. Jangan mengkhawatirkan apapun, aku akan selalu ada untukmu untuk kalian." Tanpa Reegan sadari, sumpah setianya itu akan menjadi bumerang baginya, di masa yang akan datang. Nyatanya, sumpah itu dia ingkari dengan kenyataan yang sangat kejam bagi Sarah.