
"Malam yah, bun. Kiranya udah siap belum?" Sapa seorang gadis remaja 18± tahun itu, dia sudah terbiasa keluar masuk rumah keluarga Reegan.
"Coba kamu cek aja di kamar nya, nak. Kamu diantar sama papa atau bawa mobil sendiri?" Reegan bertanya sambil melihat majalah yang sedang dia baca, sebelum gadis itu datang.
"Bawa mobil sendiri yah, kan udah dapet sim. Amanlah, udah lancar juga, diajarin papa dari kelas satu SMA biar mandiri katanya." Ujar gadis itu membanggakan diri, lalu melirik Sarah yang sejak tadi hanya diam saja. Dia tau, bahwasanya, Sarah tidak menyukainya sejak dirinya, diadopsi oleh orang tua nya sekarang.
Terlebih saat wanita itu tanpa sengaja pernah melihatnya, memasukkan sesuatu kedalam minuman Kira saat gadis itu berulang tahun yang ke-17, tahun lalu. Namun akal otak liciknya tidak pernah kehabisan ide, dia beralasan, jika minuman itu untuk dirinya, dan obat yang dia masukkan hanya vitamin saja. Tanpa ragu gadis itu meneguk habis minuman itu di depan semua orang, hingga akhirnya semua orang percaya padanya. Sarah pun mendapatkan tatapan penuh kekecewaan, dari para sahabat dan juga suami nya.
Sangat sulit membuktikan perbuatan buruk gadis itu di hadapan semua orang, terutama suaminya. Pria yang dulu menolak menerima gadis itu dan bahkan mengembalikannya pada ibu kandungnya. Kini berbalik menyayangi nya, dengan dalih, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan, untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Suaminya itu selalu menolak fakta, jika Sarah sudah berkeluh kesah tentang Killa padanya.
'Jangan terlalu mudah berprasangka buruk, Killa mungkin dulu bersikap nakal, karena usianya masih kecil. Sekarang lihatlah, Killa selalu menjaga Kira kita di sekolah dan saat mereka pergi jalan-jalan. Jangan berlebihan padanya, anak itu sudah menjadi yatim piatu. Kitalah orang tua nya sekarang, sayangi dia seperti saat dulu dia masih menjadi bagian dari keluarga kita. Jangan Terlalu sering curiga dan menuduhnya yang bukan-bukan, jatuhnya malah fitnah, itu tidak baik sayang dan bla bla bla.....,.....' Serentetan nasihat sang suami, malah membuat Sarah semakin kehilangan respek pada gadis itu.
"Harus banget ya, Kira ikut. Kan yang ulang tahun teman sekelas kamu, Killa, takutnya nanti dia gak bisa menikmati acaranya karena yang bukan teman-teman satu kelas nya yang ada di acara itu. Takut malah bosan sendiri, Kira kan suka gitu kalo dia ajak ke pesta, yang orang nya gak dia kenal." Sarah berusaha memberikan alasan yang logis.
__ADS_1
"Gak apa-apa bun, Kira kalo gak di ajak kaya gini gak pernah kemana-mana juga kan bun, yah. Sekalian nambah teman, Kira itu introvert, teman sekelas aja gak terlalu deket." Jelas gadis itu membela argumen nya.
"Ya bun, Kira aja mau ikut. Sudahlah, biarkan Kira bergaul, kasian juga kalo apa-apa serba dilarang, takutnya malah susah dapet teman kalo udah kuliah. Udah kamu ke kamar Kira aja di atas." Lagi-lagi suaminya selalu mematahkan setiap argumen Sarah.
Setelah gadis itu menghilang di ujung tangga. Reegan Menatap istri nya dengan tatapan sulit dibaca.
"Harusnya gak gitu ngomongnya bun, untung Killa udah kebal sama sikap bunda sama dia selama ini. Biarkanlah anak-anak berkembang dengan banyak pengetahuan dan pengalaman. Jangan selalu di kekang, kasian. usianya sebentar lagi 18tahun, sebentar juga lulus dan mulai masuk perguruan tinggi. Akan banyak orang baru yang akan dia temui, kalau tidak melatih mental nya dari sekarang, kapan lagi." Dan sekali lagi, Sarah harus menahan panas telinganya, karena nasehat yang tak pernah habis dari mulut sang suami.
"Terserah ayah, nanti kalau sampai ada apa-apanya, ayah orang pertama yang aku salahin." Sarah beranjak dari sofa menuju kamar, dia tidak pernah suka ketika melihat anaknya keluar bersama Killa. Gadis itu sangat berbisa juga berbahaya, sayang sikap manisnya selama bertahun tahun, mampu menutup mata suaminya dan juga orang lain.
"Masuk kamar, ngantuk kata nya. Udah pergi sana, Killa, kamu hati-hati bawa mobilnya ya nak. Jangan pulang terlalu malam." Pesan Reegan pada keduanya.
Setelah pamit, Killa dan Kira pun pergi. Reegan beranjak Menuju kamar menyusul sang istri, dia tau istri nya belum tidur. Istri nya itu pasti sedang memikirkan putri mereka, Kira.
__ADS_1
"Sayang, aku tau kamu belum tidur." Reegan menghela napasnya dalam-dalam lalu menghembus nya perlahan. "Kira sudah besar sayang, saatnya dia mengenal dunia luar. Kita tidak bisa memilih orang yang bisa menjadi temannya. Dia punya pilihan sendiri, dan itu haknya, kita tidak bisa menekan nya hanya karena dia anak kita yang paling kecil." Reegan kembali menjeda Ucapan nya.
"Bunda liat bagaimana hubungan Daniel dan Kira belakangan ini, keduanya seperti nya sedang ada masalah. Bukan salah bunda juga, jika melarang Kira sering keluar bersama Daniel. Hanya saja mereka punya hubungan, dan kita sangat mengenal Daniel dengan baik sejak anak itu kecil. Anak itu sangat serius pada Kira kita, bahkan rela menunda S2 nya, demi bisa mengawasi Kira kuliah tahun ini." Lagi-lagi Sarah tak bergeming
"Bunda terlalu sering menuduh Killa melakukan hal buruk pada Kira, lihatlah, kedua anak itu bahkan berteman baik. Ayah gak enak sama Satria, bagaimana pun, dia adalah orang tuanya sekarang, hargailah perasaan nya juga Dara. Nyatanya setiap tuduhan bunda gak pernah terbukti, bukan? Itu malah membuat kita kehilangan respek dari para sahabat dan keluarga. Ayah hanya........"
"Jadi maksud ayah, teman-teman ayah termasuk juga ayah dan semua keluarga kita, sudah kehilangan respek sama bunda, begitu?" Sarah memotong ucapan suami nya dengan sengit. Wanita itu sejak beberapa tahun terakhir, benar-benar banyak berubah. Emosinya jadi gampang tersulut, jika membahas anak angkatnya Satria tersebut.
"Gak gitu maksud ayah bun, gak. Hanya saja respek itu penting. Keakraban layaknya saudara itu sangat sulit di masa dewasa ini. Bahkan yang jelas-jelas punya hubungan kekeluargaan saja, bisa seperti orang asing. Satria sudah banyak bantu kita, bahkan mencarikan teteh donor mata hingga bisa melihat dan sekarang menjadi seorang dokter bedah yang hebat. Jadi mengertilah sedikit saj......." Lagi-lagi Sarah memotong ucapan sang suami.
"Itu sudah menjadi kewajiban kak Tria, anakku buta itu karena ulahnya juga. Jadi jangan mencari pembenaran, dengan mengatasnamakan balas budi. Itu tidak sebanding dengan penderitaan putriku selama 18 tahun, dia hidup dalam kegelapan nya seorang diri. Aku juga tidak peduli pada respek orang lain, jika sesuatu menyangkut anak-anak ku. Maka aku tidak akan memberikan toleransi pada siapapun, baik kak Tria apalagi anak itu. Aku muak melihat topengnya, selalu bersikap manis dan Seolah-olah dia adalah tameng anakku, untuk menghadapi dunia luar." Napas Sarah memburu karena emosi nya yang meledak-ledak.
"Ayah jangan lupa, anakku itu sudah menghadapi dunia luar sejak dia belum mengerti apapun. Jadi berhentilah mengatakan seolah putri ku terlalu kaku, dan tidak pandai berinteraksi dengan Siapa pun. Dia hanya terlalu menjaga dirinya, membatasi circle pertemanan, bukan berarti Kira tidak bisa membawa diri dalam pergaulan. Jadi berhentilah terus membela anak itu didepan ku, jika suatu saat terjadi sesuatu pada putriku. Ayah lah yang harus bertanggung jawab atas segalanya." Sarah membalikkan badannya, memunggungi sang suami. Energi nya sudah habis, untuk mencecar pria itu dengan semua unek-unek nya.
__ADS_1
Sementara Reegan hanya terdiam, sangat susah memberikan pengertian pada sang istri. Setiap kali selalu berujung pertengkaran dirinya dan Sarah. Dia hanya ingin dimasa tuanya, hidup rukun bersama keluarga dan juga para sahabat rasa keluarga bagi nya, tetap terjalin dengan baik. Itulah harapan nya, namun sayang, istri nya tidak pernah mau memahami itu dengan baik.