
"Jadi fix minggu depan ya?" tanya Amelia memastikan. Kini mereka tengah duduk di ruang keluarga, membahas rencana pernikahan Jovan dan Joi. Pria bucin itu meminta agar besok mereka bisa menikah, tentu saja langsung ditentang oleh Amelia. Dia ingin membuat pesta pernikahan yang berkesan bagi menantu belianya. Walau tidak mengundang banyak orang karena mengingat status Joi yang masih sekolah. Namun Amelia ingin agar pernikahan putranya memiliki kesan yang bisa mereka kenang seumur hidup. Bukan serba dadakan seperti keinginan calon mempelai pria yang kebelet kawin.
"Ya minggu depan mom, aku sih mau nya besok kalau bisa" balas Jovan merendahkan suaranya diakhiri kalimat.
Amelia melempari kepala anak laknat nya menggunakan sepotong pisang keju. "Kalau bicara itu enak dan terasa mudah, kau pikir orang tidak akan kelimpungan mengurus pernikahan mu. Otakmu ini cobalah kau pakai dengan benar" omel Amelia kesal. Hampir setiap hari putranya itu merengek ingin segera di nikahkan. Sudah seperti anak gadis yang takut ditinggal kekasih nya berpaling.
"Kan, aku bilang kalau bisa mom. Galak bener sama anak sendiri juga" Jovan merengut sambil membersihkan sisa susu dan gula palem yang menempel di rambut nya.
"Kau tidak ingin kembali ke perusahaan? biaya yang kau butuhkan bukan hanya untukmu dan Joi saja, melainkan untuk anak kalian juga nanti. Belum cicilan rumah mu" Edwin sangat berharap Jovan mau kembali ke perusahaan, yang beberapa bulan ini dia percaya kan pada asisten kepercayaan keluarga mereka.
"Aku masih mampu dad, lagi pula untuk rumah aku sudah punya budget khusus. Untuk biaya Joi dan anak kami pun aku sudah punya tabungan khusus. Gajiku memang tidak seberapa, tapi masih sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami. Aku akan kembali ke perusahaan setelah Joi lulus. Aku tidak bisa sehari saja tanpa Joi, bisa-bisa aku langsung kejang-kejang." Celoteh Jovan panjang lebar dengan wajah serius. Semua orang diruang itu hanya bisa menghela nafas panjang. Bucin akut plus gila, begitu lah menurut penilaian mereka.
"Terserah kau saja, asal semua kebutuhan Joi dan cucu mom terpenuhi." Tukas Amelia tak ingin memperpanjang perdebatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jovan nampak begitu rapi dengan setelan jas mahal miliknya, ditemani oleh para sahabat seperjuangan nya dibidang dunia kerlap kerlip.
"Ck! tidak ku sangka, kau selera nya sama bocah" cetus Steven menatap sahabatnya yang begitu antusias pada pernikahan nya.
"Apalagi kalau bukan perkara lubang sempit, yang biasa kan udah pada pernah kalian berdua coblosin." Seloroh Seno yang sibuk merapikan rambutnya.
"Sembarangan, Joi itu lubang pertama dan terakhir aku ya, anak aja. Gini-gini aku tuh masih perjaka tau" ketus Jovan menyanggah.
Ketiga sahabat nya saling beradu pandang, beberapa detik kemudian tawa Ketiga sahabat laknat itu pun pecah.
"Asli, lucu banget. Aku sampe pengen guling-guling saking lucunya" celoteh Andi disela tawanya, mata pria itu bahkan sampai berair.
__ADS_1
"Keluar masuk hotel sudah tidak terhitung, masih ngaku perjaka. Situ sehat, bro?" Sambung Steven merasa konyol mendengar pernyataan Jovan.
"Eh, aku tuh tidak pernah make ****** ya, mereka aku bayar cuma buat memenuhi kebutuhan si king kobra doang. Making out, puas!" cetus Jovan sedikit ngegas, meski harus menahan malu dihadapan para sahabat terlucknutnya.
"Serius?" Steven duduk mendekat hingga wajah nya hampir mencium hidung mancung Jovan.
"Jauh-jauh," dorong Jovan kesal, dia jadi risih dengan jarak mereka sedekat itu.
Steven kembali mengatur posisi duduknya dengan benar. "Kau bayar mahal-mahal cuma buat di se*pong doang, apa sekaligus buat biaya tutup mulut, apa gimana?" Tanya Steven masih dalam mode kepo maksimal.
"Dua-duanya! udah ah, aku mau jadi manten plus mau jadi calon Didi terkeren dan ter HOT seantero negeri ini. Jangan bahas yang aneh-aneh, nanti Joi denger. Alamat aku jadi duda sebelum sah, bisa kelar masa depan." Sungut Jovan was-was.
"Astagaa! tidak ku sangka, pantas saja tu perempuan di dalam kamar tidak pernah lebih dari setengah jam. Tadi nya, ku pikir, kau ada masalah dengan si...." tunjuk Steven menggunakan dagu nya ke arah king kobra kebanggaan Jovan.
Jovan mendelik tak suka "enak saja! aku bisa main sampe sejaman tergantung tempat dan situasi." Sanggah Jovan tak terima "lihat saja calon istri ku, sekali tembak dalam, langsung jadi bayi" pamer Jovan bangga.
"Tapi kau keterlaluan tau tidak" sergah Seno "calon istri mu masih sangat muda sudah kau perawani tanpa perasaan. Apa kau tidak memikirkan masa depannya, baru naik kelas 3 SMA, ya Tuhaan! kau itu pedofil apa kau sadar, James Bond!" Seno gemas sendiri pada sahabatnya.
Urusan cinta ternyata seberat ini pikir mereka geleng-geleng kepala.
"Tapi kau itu sama saja mematahkan semua impian nya Joi, coba kau pikir. Sebelum bertemu dengan pedofil seperti mu, mungkin saja ada banyak impian juga cita-cita yang tertanam dalam hatinya. Dan kini tiba-tiba harus menikah di usia semuda ini, juga langsung menjadi ibu disaat teman-temannya masih sibuk main, ngemall, hangout dan lainnya. Apa kau tidak memikirkan mental juga psikisnya?" Jovan terdiam, dia tidak memikirkan sampai ke sana, baginya Joi akan bahagia cukup hanya dengan adanya dia dan anak mereka.
"Sorry, bukan maksud ku membuat mu merasa tidak nyaman dengan argumen ku. Sudah lupakan saja, kau akan menjadi pengantin hari ini. Kami mendukung apapun yang menjadi keputusan mu, selama itu baik untuk pernikahan mu." Terang Seno meralat segala argumen nya tanpa diminta. Dia jadi tidak enak hati melihat Jovan yang tiba-tiba diam, dan terlihat memikirkan perkataan nya tadi.
"Thanks, Sen. Akan aku pikirkan lagi nanti, mana yang terbaik untuk kami. Aku juga masih belajar menjadi pria bertanggung jawab, menjadi suami juga menjadi seorang ayah. Perkataan mu tidak ada yang salah, aku sangat berterima kasih, kau sudah menyadarkanku." Jovan menepuk bahu Seno yang terlihat tak enak hati padanya, padahal dia tidak apa-apa.
"Ya sudah, kita keluar yuk. Antar calon mempelai pria yang menderita sindrom bucin akut stadium lanjut ini ke altar." Seloroh Andi mencairkan suasana tak nyaman diantara mereka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daniel diam-diam menyeka sudut matanya, doa nya terkabul. Tuhan telah memberikan umur yang panjang padanya juga sang istri. Untuk menyaksikan hari bahagia putri bungsu mereka.
Kira tak henti hentinya mengucapkan banyak rasa syukur kepada Tuhan, hari ini dia boleh menyaksikan putri nya menikah. Pundaknya mula terasa ringan, kini dia hanya berdoa, agar kebahagiaan senantiasa menyertai sang putri.
Daniel meraih jari istri meski matanya menatap lurus ke depan, Kira menoleh sekilas. Dapat dia lihat iris mata suaminya memerah. Keduanya sama-sama menahan tangis, agar kebahagiaan putri nya berjalan sempurna.
"Kita ke sana yuk, gabung sama yang lain." Ajak Daniel ke arah pada sepupu mereka yang masih tersisa.
Dion yang kini duduk dikursi roda akibat mengalami stroke tiga tahun lalu. Aldo dan Narsih istri nya, lalu sila dan selo anak-anak Satria dan Dara. Tidak lupa Bram, di usianya yang sudah 73 tahun masih betah dalam kesendirian. Rupanya, kisah kasih tak sampai di masa lalu, membuat pria itu hidup dalam trauma berkepanjangan. Hingga akhirnya memutuskan untuk hidup membiara, menjadi seorang bruder. Lumina dan sang suami telah berpulang, begitu juga Varel, Danu dan Levita. Kini hanya anak cucu mereka lah yang menduduki kursi-kursi kosong tersebut. Hubungan itu tetap terjalin dengan baik, Daniel berharap, seperginya mereka nanti. Anak cucu mereka tetap menjaga hubungan persahabatan itu agar tetap utuh dan tak terpisahkan.
Sedangkan Kalla dan Kavin pun, telah lebih dulu di panggil pulang 3 tahun yang lalu. Keduanya pergi hanya berselisih 1 bulan saja.
Kebahagiaan Joi dan Jovan, rupanya adalah puncak dari segala kebahagiaan bagi Daniel dan Kira. Doa Daniel dan Kira agar bisa melihat cucu mereka lahir, nyatanya tidak tersampaikan. Keduanya dipanggil pulang 6 bulan setelah perayaan kebahagiaan tersebut. Daniel yang lebih dulu dipanggil lalu beberapa menit kemudian, Kira pun menyusul. Sungguh definisi cinta sehidup semati yang luar biasa.
Daniel berpulang di usianya yang ke 64 tahun, sedangkan Kira, 58 tahun.
Kebahagiaan Joi di ganti kan oleh air mata duka, kehilangan dua orang yang paling dia sayangi membuat Joi rapuh dan terpuruk. Jovan hanya bisa menguatkan dengan sabar, istri nya masih terlalu muda untuk mencerna keadaan dengan mudah. Kehilangan itu membuat Joi hampir kehilangan bayi triplets nya. Beruntung Jovan selalu berada disisi Joi siang dan malam. Pria itu bahkan tidak bekerja selama dua bulan, demi menemani istri tercinta nya.
Kehilangan memang selalu menjadi momok mengerikan bagi setiap insan. Tidak pernah ada kata siap untuk momen tersebut. Namun sayang, tak ada cara untuk menghindari nya.
"Didi?" suara Joi tertahan, keringat mengucur dari kening nya.
"Ya yang, mimi Kenapa?" Jovan mengerjab mata nya berkali-kali untuk membawanya pada kesadaran penuh.
"Perut mimi mules, mau bab apa segini banget sakitnya, biasanya juga tidak" Suaranya seperti tercekat di tenggorokan, Jovan langsung peka, istri nya mau melahirkan. Namun kenapa secepat ini, bukankah jadwal operasi baru minggu depan, harusnya dokter lebih tau.
__ADS_1
"Sebentar yang, aku siapkan perlengkapan kalian dulu, ayo didi ganti daster Mimi dulu. Basah nih, banyak darah nya." Jovan dengan telaten mengganti pakaian Joi, bahkan membersihkan area inti sang istri kemudian memakaikan ibu bersalin pembalut. Mengingat darah yang keluar cukup banyak, Jovan khawatir akan merembes keluar.
"Udah yang, ayo aku tuntun ke depan nanti di mobil didi telpon daddy sama mommy." Jovan menuntun sang istri perlahan, satu tangannya menyeret koper besar satu lagi merangkul istri nya. Hatinya dilanda kecemasan tak terkira, namun sudut lain hati tetap teguh dalam doa. Agar proses persalinan sang istri berjalan lancar dan keempat nya sehat dan selamat.