Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLXIX


__ADS_3

Tangis Keyra pecah begitu juga keenan, walau dirinya sudah curiga ada suatu yang salah dan berharap adiknya memang baik-baik saja. Namun mengetahui dan melihat langsung, tetap berbeda rasanya.


"Kakak senang kamu udah sehat, maaf baru bisa datang. Kerjaan di rumah sakit gak bisa di tinggal, mana Bintang suka rewel kalo di ajak jalan jauh." Keyra dan Keenan lebih dulu di pertemukan dengan yang lain, lalu di beri briefing kilat soal apa yang harus mereka katakan jika bertemu dengan Asha.


"Maaf ya, dek kakak juga baru datang, kakak senang kamu udah baik-baik aja sekarang. Sini peluk kakak lagi. Masih kangen tau." Keenan meraih tubuh mungil Asha dari pelukan Keyra, membawa adiknya ke dalam pelukannya. Berkali-kali keenan mencium pucuk kepala sang adik.


"Kak Kalla lagi perjalanan ke sini, mungkin besok baru nyampe. Dia pasti senang bisa ketemu lagi sama adiknya yang cantik ini." Keenan mengurai pelukannya, lalu mendarat kan ciuman sayang ke kening Asha. Sungguh Tuhan sangat baik pada keluarga nya. Mengembalikan sesuatu yang harus nya dia panggil pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Brakk


"Auww, lihat-lihat dong. Mata itu di pake melihat biar gak nabrak sembarangan. Dasar orang kaya." Gendis mengomel tanpa melihat siapa yang menabraknya, dia sibuk mengusap bokong semok nya yang baru saja di sapa hangat oleh ubin dingin bandara Soekarno-Hatta.


"Mau dibantuin tidak, aku buru-buru ini. Koper kamu ini aku taruh disini. Ini kartu namaku, hubungi aku jika ada barang mu yang rusak di dalamnya. Dan...." Kalla menggantung ucapannya. "Jika kamu ingin memeriksa bokong mu itu ke dokter."


Kedua mata Gendis membulat sempurna mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Kalla, dasar tidak sopan batinnya.


"Tidak perlu, tidak ada yang rusak. bokong ku juga baik-baik saja. Terimakasih, anda baik sekali tuan, sampai seperhatian itu pada bokong ku." Setelah berkata seperti itu pada Kalla, Gendis menyeret koper dengan perasaan dongkol bukan main. Gadis itu berkali-kali menghentak kan kaki nya ke lantai karena kesal.


"Dasar mesum, giliran bokong saja dia perhatikan, aku yang jatuh saja tidak dia tanyakan bagaimana. Semoga tidak bertemu lagi, menyebalkan." Gendis masih menggerutu hingga sampai ke mobil jemputan nya. Lalu duduk setelah menyerahkan kopernya pada sopir orang tua angkatnya.

__ADS_1


"Non Gendis kenapa? mang Bonar telat jemput apa bagaimana?" Tanya pria paruh baya itu hati-hati, pasalnya dia memang baru saja sampai kurang dari dua menit tadi.


"Heh? Gak, gak gitu. Itu tadi, ada orang gila main nabrak aja kaya gerobak, aku sampe jatoh. Sakitnya gak seberapa, tapi malunya itu. huhh, kesal aku tuh. Yuk mang, aku udah kangen mama sama papa nih. Sama Bapak ibu juga, kangen makan di pondok kebun belakang rumah." Gendis mengalih kan arah pembicaraan mereka, dia jadi tidak enak pada pak Bonar. Dia bukan siapa siapa namun di perlakukan layaknya seorang nona muda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Coba udah tau ada villa segede ini, gak nyesek-nyesekan tidur meleseh kaya korban tsunami." Ujar Revan sedikit mengomel.


"Aku sih gak masalah mau tidur dimana aja, yang masalah nya, ya sama nyamuknya itu loh. Mana bisa tidur kalo saban detik nguing nguing di kuping." Reegan menimpali.


"Nah, itu juga maksud aku. Udah tenang dikit dari nyamuk, eh tepak tepok lagi yang ganggu telinga. Siapa itu, Yang nepok nyamuk kaya pake urat gitu. Kaya ada dendam pribadi aja sih." Sambung Revan lagi bersungut.


Semalam mereka semua menginap di villa tersebut, berbagi tempat, sebagian di villa utama sebagian di villa Varel dan sisanya di villa Levita dan Danu. Hanya pengantin baru saja yang tinggal di villa pak Burhan, Mereka butuh privasi untuk sekalian bulan madu, begitu lah pikir mereka.


"Enak aja." Daun pisang bungkus pais yang tak berdosa itu pun melayang ke atas kepala Bastian. Persis seperti masa lalu, saling melempar canda dan tawa.


"Anjiiir, rambut aku udah keramas ya. Nah kan, lengket nih, marah nih Marisa pasti." Omel Bastian, pasalnya rambut klimis nya yang sudah dikeramas dan ditata serapi mungkin oleh sang istri, kini terkena sisa pais.


"Alah, kamu tumben juga pake rajin keramas pagi-pagi. Biasanya kalo bukan Asha yang Ingetin keramas mana kamu mau urus itu rambut." Sela Bintang mencebik.


"Biasa, baru buka puasa dia. Makanya mandi wajib." Kelakar Revan pada sahabat nya.

__ADS_1


"Wajarlah, kan udah lama gak ketemu lawannya ini. Jadi khilaf kan aku." Bastian tertawa lucu melihat wajah Revan yang berdecih pada nya.


"Masih bisa tegak gak itu, khawatir aku, Marissa kerja keras sendirian semalam." Ucap pria itu meremehkan.


"Hohohooo... Anda jangan salah, pak Revan. Pusaka saya semakin lama di simpan semakin menjulang." Mereka kembali tertawa mendengar ucapan absurd tersebut.


"Itu kaki kamu, udah gak berasa sakit lagi kalo jalan apa gimana?" Reegan menyela setelah tawa konyol mereka mereda.


"Udah gak sih, cuma kalo di bawa berdiri lama, ya lumayan. Gak sakit, lebih ke kebas gitu. Kram-kram." Jelas Bastian seraya menepuk-nepuk kaki sambung nya.


"Kakinya si tejo, inget kan?" Sela Satria.


"Inget, jadi dia?" Reegan menggantung kalimat nya.


"Ya, dia yang pimpin anggota ku, sisa yang belum di kasih apam basah sama anak laknat itu. Sisa yang masih bertahan, jadi mata dan telinga di kota, aku udah tau soal Dara dan anak-anak, seminggu setelah bangun. Thanks, kalian berdua udah jagain istri dan anak-anak ku selama ini. Anak itu benar benar meresahkan, kelakuan nya sama persis seperti ibunya." Ucap Satria dengan gigi gemeletuk menahan emosi.


"Sama-sama iblis berwujud manusia." Sambung Bintang geram. Dia ingat bagaimana Varel yang khusus merawat Asha, menceritakan apa yang dialami putrinya itu. Bintang hanya berharap, Daniel konsisten pada janjinya. Jika saja Asha tidak'dapat memberikan keturunan, dalam pernikahan mereka. Baginya tidak masalah tidak mendapatkan cucu kandung dari Daniel, asal pernikahan mereka bahagia. Itu sudah cukup untuknya.


"Dan anak iblis itu masih berkeliaran di luar sama dengan identitas baru. Itu yang memberatkan aku untuk kembali ke kota, nyawaku tidak aku pikirkan, tapi Asha, dia penting untuk ku." Satria Kembali berkaca-kaca hanya dengan memikirkan bagaimana nasib Asha kedepan nya nanti.


"Kita semua sudah berkumpul, anak-anak juga. Kita keluarga, maka tugas kita adalah saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Kita akan buat pemberitaan untuk memancing mereka keluar dari persembunyian nya. Jika kita tetap menahan Asha di sini, maka selama itu pula kejahatan mereka akan tetap tersimpan rapi." Reegan berusaha menjelaskan pendapat nya, dia juga menyayangi anaknya, sangat. Namun trus-trusan bersembunyi, tidak akan memperbaiki keadaan. Malah membiarkan para penjahat itu bebas menikmati hidup mereka dengan tenang.

__ADS_1


"Aku sih setuju, baiknya memang kalian memang kembali ke kota. Dengan begitu, kita bisa menjebak manusia laknat itu. Mungkin terdengar jahat jika kita seolah mengumpan Asha, tapi hanya dengan begitu, kita semua bisa mendapatkan keadilan. Terutama putri kita, Asha." Revan menimpali apa yang baru saja Reegan sampaikan. Dia mendukung apapun yang terbaik bagi mereka semua. Bukannya tidak menghargai perasaan ketiga sahabat nya, dia mengerti bagaimana Ketiganya sangat menyayangi Asha. Hanya saja, mau sampai kapan Asha terkurung di daerah terpencil tersebut. Gadis itu berhak menjalani hidupnya dengan bahagia, sesuai dengan apa yang dia inginkan.


__ADS_2