Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LVII


__ADS_3

"Ree, aku titip dipos aja ya. Gak enak mau masuk, malu juga."


("Eh, nggak ya. Kamu antar sendiri, atau aku jemput kebawah. Kamu pilih mana, bentar aku hubungi resepsionis nya, biar kamu bisa langsung naik ke atas.") Reegan memutuskan panggilan Sarah sepihak.


"Ck, kebiasaan." Gerutu Sarah kesal


"Ini bukannya kantor Reegan, sahabatnya Mas Revan ya." Gumam Nabila, dia menatap sahabatnya yang sedang berdiri dipos satpam itu dengan perasaan kesal. Dia ingin tau siapa teman baru sahabatnya itu, yang sudah berencana akan dia singkirkan seperti yang lain.


"Ibu Sarah ya?".., satpam itu menghampiri Sarah yang bersandar di dekat pintu pos itu.


"Iya pak, kok tau?" Tanya Sarah bingung.


"Ini saya ditelpon dari dalam, ibu di suruh langsung naik aja ke atas, lantai 30, pake lift khusus. Nanti di arahkan sama resepsionis nya. Silahkan masuk saja bu." Ujar satpam itu ramah.


Dengan langkah ragu, Sarah memasuki kantor besar itu. Dia menuju ke meja resepsionis dengan perasaan malu setengah mati.


"Permisi mbak, saya Sarah." Ucap Sarah pada resepsionis itu.


"Owh, mari bu." Wanita itu mengarahkan Sarah ke elevator. "Ibu pake lift ini ya, ini langsung mengarah ke ruangan tuan Reegan." Ucap wanita itu tersenyum ramah.


"Makasih mbak." Sarah memasuki elevator tersebut sambil mengetik pesan pada Nabila, dia tidak ingin sahabatnya itu kesal karna menunggu nya lama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Permisi, mbak. Saya Sa...."


"Ibu Sarah, kan? Mari bu silahkan, lewat sini." Sebelum Sarah masuk, sekretaris Reegan itu kembali berkata. " Selamat berjuang, ibu Sarah, nasib kami semua ada ditangan ibu. Mood tuan Reegan sedang tidak dalam kondisi baik, jadi mohon kiranya kerja sama ibu dalam hal ini." Ujar wanita itu panjang lebar, tersenyum secerah mentari pagi diluar gedung. Membuat Sarah bingung, namun diam saja, dia masuk setelah mengetuk pintu ruangan kekasih nya itu.


"Sayang? Lama banget sih, kamu dipersulit ya diluar." Reegan menghampiri sang kekasih, lalu memeluk nya erat. "Kangen banget aku tuh." Dicium nya setiap inchi wajah kekasihnya dengan penuh kerinduan.


"Baru juga kemarin ketemu, kaya udah seminggu aja kamu tuh." Sarah mengurai pelukan kekasihnya kemudian menyerahkan plastik nasi kuning itu pada Reegan.

__ADS_1


"Suapin ya, kamu udah sarapan?".. Ucap Reegan memelas.


"Makan sendiri, ih. Nabila bisa nyusul aku kalo kelamaan, bisa marah besar tu anak." Ucap Sarah gusar.


"Biar aja, kenapa sih. Takut banget Nabila tau, biarin aja. Udah, duduk sini. Aku udah laper banget." Reegan menarik pelan tangan kekasihnya itu menuju sofa.


Drrrt drrrtt ddrrrrtt


"Ya, bil. Bentar ya ak....."


("Aku lagi didepan, buka pintunya atau aku dobrak!" Sarah melongo, bagaimana sahabatnya bisa tau kalau dia berada di ruangan Reegan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara diluar ruangan Reegan terjadi sedikit keributan, antara sekretaris yang sedang gabut dan Nabila yang sedang emosi tegangan tinggi. "Nggak ada mbak, mbak jangan buat keributan, didalam pak Reegan sedang ada tamu penting, tapi bukan Sarah namanya. Ups!".. Nindy spontan menutup mulutnya, dia keceplosan kan akhirnya.


"Masih mau bohong lo sama gue, buka nggak, gue dobrak nih." Ujar Nabila dengan emosi tingkat tinggi.


Flashback


Nabila mengahampiri pos, dengan niat bertanya kemana arah ruangan Rere, teman baru sahabatnya itu.


"Pak, permisi. Itu tadi mbak yang masuk ke dalam, menuju keruangan mana ya pak, saya ini adiknya dari tadi nunggu di depan situ." Ujar Nabila seraya menunjuk arah mobilnya.


"Owh, bu Sarah maksud mbaknya ya. Masuk aja mbak, kunci mobilnya sini biar saya parkir kan di dalam saja. Mbaknya masuk aja, trus naik ke lantai 30, bu Sarah sedang berada di ruangan tuan Reegan. Silahkan masuk saja, bilang sama resepsionis, mbaknya adik dari ibu Sarah." Jelas satpam itu panjang lebar sambil tersenyum ramah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nabila di depan, Ree. Gimana ini?".. Ucap Sarah panik, namun tidak dengan Reegan. Pria itu melangkah menuju arah pintu, lalu membukanya dengan santai.


"Silahkan masuk, Nyonya Revan." Ucap Reegan ramah, seraya mempersilahkan tamunya untuk masuk.

__ADS_1


"Ini yang kamu bilang, Rere teman baru kamu itu." Ujar wanita itu marah. "Ck, nggak nyangka aku tuh, kamu punya nyali buat selingkuhin si tangga." Ucapnya lagi lalu menghempaskan bokongnya di sofa empuk milik Reegan.


"Kalo ngomong lo filter dulu, kenapa?" Ucap Reegan kesal, enak aja kekasihnya disebut selingkuh.


"Loh, benarkan. Jangan bilang lo nggak tau kalau Sarah udah nikah, ih jahat banget sih Sar. Mending kamu pisah aja dulu, kan udah aku bilang si tangga kikir itu nggak cocok sama kamu. Kalo gini kan repot, kamu mesti bohong juga kan akhirnya sama aku. Kesal tau nggak aku tuh." Cecar wanita itu menggebu-gebu.


"Iya ampun, Bil. Kalo ngomong jeda dulu napa? Napas kamu ngos-ngosan gitu, nih. Minum dulu." Sarah menyerah kan gelas air minum itu pada sahabat nya, saat Nabila sedang sibuk ceramah Sarah menyempatkan diri, mengambil air minum itu di dispenser disudut ruangan Reegan.


Nabila meneguk air minum itu hingga tak bersisa. "Jelasin! Jangan sampai ada yang terlewati satupun." Ujar wanita itu, pada kedua insan yang sedang beradu pandang didepannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarah menarik napas panjang, dia merasa lega setelah ceritakan kisahnya dengan Angga, lalu hubungannya dengan Reegan sekarang. Reegan pun turut menimpali, apa yang disampaikan oleh kekasih nya itu, sesekali mengusap pelan bahu sang kekasih.


"Kok kamu nggak cerita gitu sama aku, apa udah lebih penting Rere ini dari pada aku sekarang, gitu?" Nabila menatap Reegan dengan tatapan penuh intimidasi.


"Nggak gitu, Bil. Kamu lagi sibuk juga kan, kemarin. Aku nggak enak, lagian ayah juga lagi sakit. Waktu dan pikiran aku kebagi-bagi, sampe nggak kepikiran buat hubungi kamu." Jelas Sarah lembut, menghadapi sifat keras kepala sahabat nya itu, harus ekstra sabar dan hati-hati dalam menyampaikan maksud.


"Ck, lo tu cuma teman, gue ini calon pendamping hidup nya Sarah. Wajarlah gue lebih penting dari pada lo." Ujar pria itu tak mau kalah.


Astaga, kenapa Reegan malah memperkeruh keadaan. Sarah menatap malas, pada kedua manusia yang siap untuk adu mulut itu.


"Udah, udah. Ree, udah dong. Bil, maafin aku ya. Udah jangan ribut lagi, bukannya kita mau ke butik. Yuk." Sarah sudah tidak tau lagi bagaimana cara menengahi kedua manusia keras kepala itu, selain memisahkan keduanya.


"Nggak bisa gitu dong, sayang. Aku belum makan loh, Nabila biar sama Revan aja, kenapa?" Ujar Reegan tak mau mengalah.


"Eh, Sarah tu sahabat gue. Lo cuma pacar, yang sewaktu-waktu bisa end, kalo Sarah udah bosan." Nabila pun semakin nyolot.


Reegan tak terima, mendengar kalimat yang di ucapkan oleh sahabat kekasih nya tersebut pun tak mau tinggal diam. "Nggak ya, Sarah sayang sama gue, lagipula gue ini calon ayah dari anak yang Sarah kandung, lo mau apa?" Ucap Reegan pun tak kalah nyolot.


Kedua mata Sarah membola sempurna, mendengar ucapan frontal kekasihnya tersebut. Meskipun dia sedang subur saat mereka melakukan nya kemarin, belum tentu juga dia langsung hamil.

__ADS_1


"Lo? Apa lo bilang? Kurang ajar lo ya, udah berani *****-***** sahabat gue. Lo pasti memanfaatkan kelemahan Sarah kan? Ngaku lo?".. Sungguh Nabila tidak terima jika sahabat nya diperlakukan seperti itu, dia tau sifat tidak enakkan Sarah. Karena diapun sering memanfaatkan nya, namun mendengar orang lain juga ikut memanfaatkan kelemahan sahabat nya itu, dia tidak terima.


Klek...


__ADS_2