Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
part VII


__ADS_3

Sarah merapikan selimut ayah nya yang kini sudah tertidur lelap, di lirik nya jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Pukul 8 lewat 32 menit.


Dia pun segera merapikan makanan yang tadi sengaja dia beli dalam jumlah yang banyak, mengingat tidak ada yang menemani ayah nya di rumah sakit. Saat dia akan keluar dari ruang rawat ayah nya, ponsel nya bergetar. Di lihat nya ID si penelpon, Ternyata suami nya yang menelpon.


Sarah mengabaikan panggilan itu, hati nya masih jengkel kepada suami nya.


Di sepanjang lorong rumah sakit, pikiran Sarah melayang entah kemana. Hingga benturan keras mengenai bahunya, dan membuat nya terjatuh menyentuh ubin. Buggh.. "aauww.." Sarah terjatuh akibat tidak sengaja di tabrak oleh seseorang. Dia berusaha bangkit dari jatuh nya, sambil mengusap usap bokongnya yang terasa ngilu akibat mencium ubin


"Pelan pelan dong kalau jalan, mata di pakai biar nggak nubruk sembarangan. Nggak liat apa aku segede ini, main tabrak aja, kaya lorong ini dia yang buat." Omel Sarah masih belum tau siapa yang sedang dia omeli.


"lorong ini memang bukan saya yang buat, tapi rumah sakit ini saya yang punya." Terdengar suara bariton yang membuat Sarah seketika terdiam.


"Anda?" Ucap Sarah dengan kedua mata membola, melihat siapa yang telah dia omeli sejak tadi.

__ADS_1


"Iya, saya. Kenapa? Merasa bersalah, karena sudah mengomeli orang tanpa melihat lihat dulu siapa yang sedang di omeli." Ucap Pria itu tanpa jeda, dengan tampang datar dan tidak merasa bersalah sedikit pun, sudah menabrak Sarah hingga terjatuh.


"Kenapa saya yang harus merasa bersalah, di sini saya yang jadi korban nya." Bela Sarah tak mau kalah.


"Memang kamu saya apakan, sampai bisa menjadi seorang korban. Lagi pula hanya jatuh begini saja, tidak usah banyak drama."


"Atau kamu mau nuntut ganti rugi, karena bokong rata mu itu sudah mencium ubin. Kamu kan orang yang tidak mau rugi." Sindir Reegan sambil melirik ke arah bokong Sarah dengan tatapan mengejek. Seperti nya pria itu masih menyimpan dendam kepada Sarah, akibat isi surat perjanjian yang lebih banyak merugikan diri nya.


"Apa anda bilang?" Seru Sarah tidak terima, bokong seksi nya di katai rata oleh pria itu, dasar mesum batin nya.


"Owh, memang nya seseksi apa bokong kamu. Coba sini, saya mau lihat." Ucap Reegan menatap Sarah sambil mencondong kan wajah nya dengan wajah menggoda.


"Dasar mesum!" Seru Sarah semakin kesal, wajah nya sudah memerah seperti tomat akibat mendengar kata kata pria itu.

__ADS_1


Sarah sudah tidak ingin berdebat lagi, dia berjalan meninggal kan pria mesum itu. Namun sebelum dia benar benar melewati nya, Sarah memberi sedikit salam pada tulang kering si pria omes itu lalu bergegas kabur.


Meninggalkan pria mesum itu dalam kesakitan.


Dengan napas ngos ngosan, Sarah akhir nya berhenti tepat di parkiran rumah sakit. "Rasakan itu, dasar otak mesum. Tampang nya saja yang datar dan sok cool, tapi otak nya sangat kotor."


"Siapa yang otak nya kotor, sini saya bantu membersih kan nya."


Hampir saja Sarah terjungkang karena kaget.


"Dokter, ngapain malam malam di luar sini." Tanya Sarah kesal, karena bertemu dengan satu lagi orang yang berusaha untuk dia hindari.


"Memang nya nggak boleh gitu, kalau saya di sini. Saya liat kamu sendirian, jadi saya berinisiatif untuk menemani. Ini sudah malam, bahaya kalau perempuan berjalan sendirian. Kalau perlu saya juga bisa sekalian mengantar pulang. Pak Ramdhan pasti lebih tenang kalau putri cantik nya ini ada yang menemani pulang." Sungguh alasan yang sangat di buat buat dan berujung pada modus yang terlihat jelas. Sungguh membuat Sarah menjadi semakin ilfil pada dokter itu.

__ADS_1


"Nggak perlu khawatir sama saya dok, saya sudah biasa kemana mana sendiri. Makasih sebelum nya, tapi dokter bisa menyimpan inisiatif dokter itu untuk orang yang lebih membutuhkan. Supaya tidak mubasir." Seru Sarah pada dokter Reza.


Dia tidak peduli jika dokter itu tersinggung karena kata katanya. Biar lah pikir nya, dengan begitu dokter itu pasti akan menjauhi nya. Dan hubungan mereka akan berjalan hanya sebatas dokter dan keluarga pasien, tidak lebih. Dia sudah lelah, ingin segera pulang, walau dia yakin. Rumahnya sekarang, bukan lagi tempat yang layak untuk menjadi tempat pulang.


__ADS_2