
Setelah mendapat perawatan selama 1 minggu, kondisi Kira semakin membaik. Fisik anak itu cukup kuat, hanya sedikit meringis jika nyeri lambung Nya terasa. Wajar saja, anak itu sering menahan lapar hingga berhari-hari jika sedang dihukum oleh Sasa. Dia hanya memanfaatkan rembesan air hujan, yang menetes dari atap gudang yang sekaligus adalah kamar tidurnya. Dia sengaja menampung air dan menumpuk plastik bekas, untuk sekedar tempat buang air. Air itu juga dia pakai untuk minum, demi menghalau rasa lapar diperut kecilnya.
Secerdas itu pemikiran anak sekecil Kira, yang bahkan belum genap enam tahun tersebut. Otak kecilnya mampu mencerna situasi dengan cepat. Memikirkan banyak cara, agar bisa bertahan hidup dan menghidupi wanita, yang di anggap sebagai ibunya.
"Kira cantik tidak yah?" Tanya anak itu malu-malu.
Reegan meminta tolong Sinta, Marissa juga Nabila, untuk membeli semua kebutuhan putrinya. Hari ini dia mengenakan putrinya, dengan baju princess berwarna biru muda. Beserta bando dan aksesoris lainnya. Anaknya tampak begitu senang, namun tetap dalam pengendalian diri yang baik.
Terbukti setiap kali Reegan membawakan sesuatu untuk anaknya itu, Kira anak dengan malu-malu menerimanya. Walau terlihat sekali, binar kebahagiaan dikedua mata bulatnya yang indah.
"Cantik, cantik banget malah. Ini kalo bunda sama oma liat, pasti langsung mewek bombay saking bahagianya." Ujar Reegan terkekeh pelan. Diusapnya pipi anaknya yang sudah mulai sedikit berisi.
Itulah alasannya, kenapa Reegan tidak ingin segera mempertemukan Sarah dengan anak mereka. Wanita itu pasti akan sangat sedih, jika melihat keadaan mereka yang begitu mengiris hati.
"Kalo kakak-kakak, suka tidak mau ketemu sama Kira yah?" Wajah anak itu mendadak berubah cemas.
Jika itu Killa, maka dia tidak akan peduli orang menyukainya atau tidak. Baginya, jika semua keinginannya tercapai, maka persetan dengan respek orang lain.
"Suka ,suka banget malah. Oya, ayah mau kasih tau sesuatu nih, duduk sini dulu ya." Reegan menurunkan Kira dari pangkuannya, dan mendudukan putrinya disisi ranjang.
__ADS_1
"Kakak Kira itu ada empat orang, dua pasang kembar. Kak Keenan sama Kak Keyra itu kembar, trus ada Kak Kalla sama Kak Kavin itu juga kembar." Reegan menjeda ucapannya, lalu menghela nafas pelan.
"Kak Keyra itu gak seberuntung kakak-kakak yang lain. Kak Keyra gak bisa melihat dari sejak bayi, tapi orang baik dan sangat sayang pada saudara dan keluarga. Kira mau sayang kak Keyra juga? Malu tidak punya kakak buta?" Reegan bertanya dengan hati was-was.
"Kasian, pasti Kira sayang. Kira gak malu, kenapa malu. Kakak kan tidak mencuri, nanti Kira boleh bagi mata Kira gak yah. Satu aja tapi, Kira juga mau lihat soalnya." Kira berbicara dengan bersemangat, namun memelankan suara nya diujung kalimat dengan ekspresi malu-malu.
Reegan begitu lega, mendengar kalimat antusias dan kepedulian Kira terhadap saudarinya. Bahkan belum bertemu saja, Kira sudah ingin membuat pengorbanan untuk sang kakak. Sungguh anak yang berhati mulia.
"Makasih ya nak, ayah sayang Kira, ayah sayang kalian semua." Reegan tak habis mengucapkan kalimat-kalimat syukur kepada Tuhan, atas anugerah yang tak pernah sudah yang dia boleh terima.
Kemurahan Tuhan di dalam hidupnya yang penuh dosa, membuat nya semakin ingin memperbaiki diri dan mendekatkan hidupnya kepada Tuhan. Dia berharap bisa memiliki umur yang panjang, agar bisa membahagiakan orang-orang terkasih nya.
"Maaf pak, semua sudah beres. Kira sudah bisa keluar sekarang. Kalau Killa, mungkin besok." Abdi bertugas mengurus administrasi Kira, juga kepulangan mereka.
"Baik, Makasih Abdi. Kang Ujang sudah siap kan? Kamu udah antar ibu duluan kerumah?" Reegan sengaja menyuruh Abdi membawa Sarah pulang lebih dulu, dengan alasan dia sudah sangat merindukan masakan wanita itu.
Selama 20 hari wanita itu tidak pernah pulang kerumah, dan 5 hari yang lalu Killa sudah sadar dan sekarang kondisi nya sudah sangat baik. Seharusnya sudah bisa pulang hari ini, namun anak itu kembali mengamuk seperti biasanya. Hanya karena sang ibu tidak menuruti keinginan nya, dia ingin gips dikakinya dilepaskan.
Namun itu suatu keberuntungan bagi Reegan, dia punya alasan tambahan agar istrinya mau pulang kerumah. Sementara Killa diberi obat tidur. Bukannya mau kejam, namun anak itu juga butuh istirahat dan mereka juga butuh menenangkan hati dan pikiran. Terlebih Reegan tidak ingin hari ini dikacaukan oleh Killa, ini adalah hari putrinya. Biarlah anak itu merenung, jika saat dia terbangun nanti tidak ada siapapun disampingnya. Selain perawat yang sudah mereka bayar khusus untuk menjaga putrinya itu. Saatnya dia harus mandiri.
__ADS_1
"Semua sudah sesuai permintaan, pak. Kang Ujang oke, ibu juga sudah dirumah, dekorasi sudah terpasang sempurna, makanan, cake, anak-anak dari rumah kardus, personil Ayam Sambel beserta keluarga, dan terakhir rahasia masih aman. Walau dapat hadiah pelototan dari Nyonya." Jelas Abdi panjang lebar, namun menurunkan intonasinya diujung kalimat.
"Mama masih kesal? Padahal cuma disuruh dandan cantik sama duduk santai aja loh itu." Tanya Reegan seraya tersenyum geli. Sang ibu masih kesal padanya, karena tidak dijelaskan maksud dan tujuan Reegan menyuruh mereka semua berkumpul.
"Ya sudah, makasih banyak Abdi."
"Yuk sayang, kita let's go." Reegan menggendong putri nya, dengan perasaan bahagia yang tak tergambarkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini ada acara apaan sih, kok ya gak dirembuk dulu. Heran mama sama anak itu, apa kelamaan di rumah sakit, bikin otaknya juga ikut sakit. Ditanya kok jawaban nya ganjel, kesal mama tuh." Sudah sejak pagi wanita paruh baya itu mengomel, Namun tetap menuruti apa yang diperintahkan oleh sang anak, meski dengan hati dongkol tidak karuan.
"Sarah juga gak tau ma, tadi malah dikasih gaun ini sama Nindy, Keyra juga sama. Katanya biar couple bertiga make dress biru-biru..." Tiba-tiba Sarah menjeda ucapannya, dia menatap sang ibu mertua. Kedua wanita beda generasi itu saling bertukar pandang, dengan pemikiran masing-masing.
"Apa jangan-jangan Killa hari ini sudah boleh pulang, kok sampe segininya sih penyambutan nya. Pake ngumpulin orang-orang segala, itu Anak-anak yang ditaman belakang siapa lagi, yang Reegan kumpulin. Gak mungkin kan teman-teman nya Killa, anak itu mana mau berteman yang gak selevel dia." Entahlah, jika membicarakan cucu nya yang satu itu. Oma Maya seperti habis makan daging sekilo, tensinya bisa tiba-tiba naik drastis.
"Gak paham juga ma, tadi tanya kak Tria, katanya anak-anak dari rumah kardus atau apa gitu. Gak jelas juga, karena orang-orang dibelakang pada sibuk urus dekorasi sama prasmanan. Ada cake gede juga, 5 tingkat gitu kalo Sarah gak salah liat. Warna biru, apa ayahnya salah pesan warna ya. Killa kan gak suka selain warna pink sama ungu." Ujar wanita itu menatap kearah mertuanya.
"Paling ngamuk aja lagi dia, kalo gak sesuai maunya. Udah paham kan kamu harus apa? Diamin aja sampe cape, jauh-jauh aja dari jangkauan nya. Takut tiba-tiba mukul atau apa, mama masih ngeri kalo ingat luka dibahu Sinta. Untuk Sekarang masih aman, udah gak bisa ngerjar lagi, kakinya masih dipasangin gips gitu." Jelas oma Maya panjang lebar, dia rasa perlu mendiklat menantu sabar level dewi nya itu soal cucu grangasnya.
__ADS_1
Sarah hanya mengangguk paham, seraya tersenyum lembut seperti biasa. Dia juga harus mulai keras pada anak itu sekarang, semua demi kebaikan nya juga.