Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part IX


__ADS_3

Seperti biasa, Sarah tengah berkutat di dapur bersama bi Siti ART setia nya.


"Ibu nggak apa apa." Bi siti bertanya pada Sarah dengan hati-hati, karena sejak tadi dia melihat Sarah lebih banyak diam dan sesekali melamun.


"Nggak bi, aku baik baik saja, ini sup ikan nya sudah matang belum?" Tanya Sarah mengalihkan pembirantan sambil mengaduk palan sup ikan itu. Selain dia ingin cepat cepat pergi, mengunjungi ayah nya di rumah sakit. Dia juga tidak ingin berlama lama melihat suami nya, hati nya masih sakit mengingat kata kata sadis yang Angga ucap kan semalam.


"Ini sup sama sayur nya mau di taruh di kotak bekal ini semua, bu?" Tanya bi Siti pada Sarah yang tengah sibuk memasukkan bubur untuk sang ayah dan juga nasi untuk diri nya sendiri. Dia berencana akan menemani sang ayah di rumah sakit seharian ini.


"Kamu mau bawa kemana kotak makan itu?" Angga tiba tiba datang ke area dapur sambil merapikan dasi nya. Biasa nya Sarah lah yang menyiap kan semua kebutuhan nya, membangun kan nya, bahkan memasang kan dasi dan juga sesekali memasang kaus kaki nya.


Namun pagi ini, dia harus menyiap kan semua itu sendiri. Alhasil dia hari ini dia terlambat bangun pagi, dan lebih sial nya lagi dia harus susah payah menyiap kan semua kebutuhan nya sendiri. Ingin sekali dia memarahi istri nya, namun mengingat apa yang sudah dia lakukan semalam, Angga mengurung kan niat nya.


"Buat ayah, bukan nya mas sudah tau ya, kalau ayah masuk rumah sakit?" Pertanyaan telak Sarah membuat Angga terdiam. Dia baru sadar sekarang, barang kali Sarah pulang kemalaman semalam, karna menjaga ayah nya di rumah sakit.

__ADS_1


"Itu.. Aku lupa bilang. Kemarin pagi aku buru buru ke kantor, jadi nggak sempat kasi tau kamu kalau ayah masuk rumah sakit." Bela Angga, dia tidak ingin diri nya di salah kan. Meskipun sebenar nya dia sengaja tidak memberitahu Sarah. Dia tidak suka, jika istrinya lebih sibuk mengurusi mertua nya yang penyakitan itu.


"Nggak apa apa, ayah sudah lebih baik sekarang. Ayah punya banyak tetangga yang baik hati, sehingga tidak harus merepotkan anak menantu nya." Ucap Sarah dengan wajah tenang, sambil memasukkan satu persatu barang bawaan nya ke dalam sebuah paper bag ukuran sedang di bantu oleh bi Sarah.


Angga merasa tersindir oleh perkataan istri nya, dia tau jika Sarah sengaja menyindir dirinya.


Sarah beranjak ke kamar mengambil tas nya, kemudian kembali lagi ke dapur untuk mengambil barang yang akan dia bawa ke rumah sakit.


"Nggak usah mas, aku sudah pesan taksi. Lagi pula mas pasti sibuk, aku bisa berangkat sendiri." Ucap Sarah tanpa melihat pada pada suami nya. Dia terlalu malas meski hanya sekedar menoleh pada sang suami.


Namun Angga tidak menghiraukan ucapan istri nya, dia mengambil paper bag dari tangan Sarah dengan sedikit paksaan. Kemudian berjalan menuju pintu keluar, mendahului Sarah.


Tidak ingin berdebat, Sarah mengikuti langkah lebar suami nya keluar rumah, menuju ke mobil yang sudah terparkir di sana bersama pak Mamat, sopir pribadi suami nya.

__ADS_1


Sarah masuk ke dalam mobil lalu duduk tanpa berbicara apa pun. Dia membuang padangannya ke luar jendela. Ekor mata nya menangkap tatapan suami nya yang sedang menatap ke arah nya, namun dia pura pura tidak melihat.


"Kamu masih marah karena kejadian semalam? Bukan kah aku sudah minta maaf, lagi pula itu salah mu juga, kenapa tidak mau mengangkat panggilan ku. Seharus nya kamu bilang kalau kamu sedang di rumah sakit menemani ayah, aku hanya mencemaskan mu. Tidak biasa nya kamu keluar rumah seharian dan pulang malam." Ucap Angga masih membela diri. Tidak ada rasa bersalah di setiap kalimat nya, meski telah mengucap kan kata maaf berkali kali. Sungguh pria yang egois, Sarah sudah muak mendengar nya.


"Bagaimana bisa mas tega sekali pada ayah ku, apa ayah selama ini pernah menyusah kan kita." Ucap Sarah dengan suara serak. Dia menghapus air mata nya dengan kasar, bukan saat nya terlihat lemah di depan suami nya.


Angga hanya terdiam, tidak ada lagi kalimat pembelaan yang keluar dari mulut nya. Di tatap nya Sarah dari samping, wanita itu bahkan tidak ingin melihat ke arah nya. Terbersit sedikit rasa bersalah di hati nya, namun di berusaha mengalihkan nya.


Dia sungguh merindukan Sarah yang penurut, tidak pernah membantah apa yang dia katakan. Bahkan saat Sarah meminta ijin ke rumah ayah nya, jika dia melarang maka Sarah pun hanya akan diam menuruti nya.


Bagi nya, Sarah adalah milik nya. Ketika mereka menikah, maka peran dan tanggung jawab ayah mertua nya, sudah berpindah pada nya. Dia tidak ingin pria paruh baya itu terlalu sering bertemu dengan istri nya, itu hanya akan menimbul kan rasa iba Sarah kepada ayah nya yang tinggal sendirian.


Dia juga tidak ingin jika mertuanya tinggal bersama mereka, dengan alasan itu akan menggangu privasi dia dan istri nya. Kehadiran mertua nya hanya akan merusak suasana tenang rumah tangga nya. Otomatis Sarah akan menghabiskan banyak waktu nya untuk merawat sang mertua, ketimbang dirinya, dan dia tidak suka akan fakta itu.

__ADS_1


__ADS_2