Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XLV


__ADS_3

Suasana meja makan itu terasa sangat hening, sejak tadi pak Ramdhan hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat untuk memakannya.


"Ayah lagi ada masalah? Apa jantung ayah baik-baik saja?". Sudah sedari tadi Sarah ingin bertanya namun dia tahan, melihat sang ayah yang nampak begitu lesu. Barangkali ada yang sakit dirasakan ayahnya, namun tidak ingin memberitahu kan padanya.


"Nggak nak, ayah cuma lagi mikir, itu bedeng yang dibuat kang Sadin mau ayah tanami apa. Tadi ayah ke pasar pergi ke toko buat beli benih sayuran, tapi baru beberapa, barangnya banyak yang kosong." Elak pak Ramdhan, tidak mungkin dia mengatakan pada anaknya, bahwa keselamatan mereka berdua sedang terancam bahaya sekarang.


"Iya sudah, ayah makan yang banyak, tuh makanannya sampe kusut begitu, ayah aduk-aduk dari tadi." Seloroh Sarah tersenyum lembut, walaupun hatinya masih meragukan jawaban sang ayah yang tedengar mengada-ada.


Ayahnya bukan baru sebulan dua bulan menjadi seorang petani sayur, sudah bertahun-tahun. Perkara benih sayuran, bukan sesuatu yang sampai membuat ayahnya seperti orang yang sedang memikirkan sebuah masalah besar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu sudah gila apa gimana, Ngga! Perempuan model begini kamu mau jadikan istri, Kamu ini memang nggak pernah becus kalau nyari istri." Cercaan itu membuat telinga Lusi memanas, dia perempuan yang paling tidak suka di tindas. Namun harus bertahan demi calon anaknya, toh nanti mereka tidak akan tinggal di atap yang sama, biarlah dia mengalah diam untuk sekarang.

__ADS_1


"Ma, Lusi sedang hamil anakku. Harusnya mama senang, bukannya ini yang mama mau selama ini. Memiliki cucu dariku, sekarang sudah kuberikan, kenapa sikap mama masih keras kepala seperti ini." Ujar Angga kesal, apa maunya sang ibu. Sudah diberikan cucu pun masih saja protes.


"Maksud mama nggak yang model gini juga, Ngga. Kamu nggak malu sama keluarga besar kita punya istri perempuan bayaran gini, dan juga kenapa sampai harus punya anak sama dia sih. Miranda juga bisa kasih kamu anak, dia wanita sehat, dari keluarga baik-baik dengan latar belakang yang jelas bebet bobotnya." Oceh Wanita itu tak mau kalah, argumennya harus menang, dia tidak rela punya menantu yang bebet bobotnya tidak jelas. Apalagi sejak dia tau, jika wanita itu sudah menjadi selingkuhan putranya selama satu tahun ini. Dia tidak ingin putranya memelihara pengerat didalam rumahnya, yang hanya akan menghabiskan harta anaknya saja.


"Terserah mama, aku kesini bukan menanyakan kesediaan mama untuk menerima Lusi dan anak kami. Aku hanya menghargai mama sebagai orangtuaku, yang masih aku punya." Kalimat yang yang Angga ucapkan membuat hati Lusi menghangat. Pria itu meski belum mencintainya, tapi mau memperjuangkan dirinya dan anak dalam kandungannya.


"Lihat, gara-gara kamu Angga berani menentang saya, ibu kandungnya." Tunjuk wanita paruh baya itu ke wajah Lusi, dengan emosi yang menggebu. "Dulu waktu dengan Sarah, kamu tidak pernah menentang mama, Angga. Lihat lah pengaruh buruk yang sudah dia tanam ke kamu. Ciihh, sampai kapanpun mama nggak akan sudi punya menantu seperti dia." Telunjuknya kembali mengarah pada Lusi, dengan tatapan mata penuh kemarahan.


Bukannya Angga tidak tau, Sarah sampai diam-diam membuat lukisan lalu menjualnya secara online, demi menutupi kekurangan uang yang dia berikan. Namun saat itu, dia masih terlalu buta oleh doktrin sang ibu.


"Sekarang tidak lagi ma, cukup aku kehilangan Sarah, aku tidak bisa kehilangan anakku juga karna keegoisan mama. Apapun yang menjadi masalalu Lusi itu akan menjadi urusanku, begitupun dengan sikapnya itu tanggung jawabku untuk membuatnya menjadi istri dan ibu yang baik." Angga beranjak dari duduknya mengajak Lusi pergi, dia tidak ingin wanita itu stress yang akan berpengaruh pada kehamilannya. Bisa jadi, Ini adalah kesempatan terakhir baginya untuk bisa punya anak, dia tidak ingin mengambil resiko kehilangan karna perbuatan sang ibu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Maaf atas semua yang mama ucapkan tadi, jangan disimpan didalam hati. Nanti kamu bisa sakit, kasian bayi kita." Ucap Angga lembut sambil mengusap oelan perut Lusi.


Lusi merasakan desiran hangat di hatinya, akibat sentuhan Tangan Angga, lalu menoleh dan tersenyum lembut. Benar, dia tidak boleh stress, Angga sudah mperjuangkannya, sekarang gilirannya yang membuat perjuangan pria itu tidak sia-sia karna sudah memilihnya.


"Aku nggak apa apa mas, aku cuma kepikiran makan es buah, seger kali ya panas-panas gini." Ucap Lusi mengalihkan topik mereka.


"Kenapa nggak bilang dari tadi, nanti didepan kita mutar lagi ya. Tadi penjual es buah nya udah kelewatan lumayan jauh."


"Eh, nggak usah mas. Biar aja, nanti aku bikin dirumah aja, ada buah dikulkas tadi pagi aku liat. Bikin pake buah yang ada aja, nanti aku minta tolong sama bi Siti buat bantu aku bikin." Semenjak mereka memutus untuk tinggal bersama dirumah yang dulu ditinggali oleh Sarah, sikap Lusi banyak berubah. Naluri keibuan nya perlahan-lahan terlihat, dia lebih suka makan masakan rumah, bahkan dia sudah menjual beberapa koleksi tas dan sepatu branded yang dulu dibelikan Angga untuknya.


Alasannya, dia tidak ingin memakai barang-barang, yang dulu dia hasilkan dengan cara yang tidak benar.


"Iya sudah, coba kamu telpon bi Siti, apa aja yang masih kurang, nanti kita beli nanti di minimarket dekat rumah. Sekalian susu hamil kamu juga, aku liat tinggal satu kotak dilemari dapur tadi pagi." Diusapnya pelan kepala Lusi, Angga ingin tetap menjaga mood wanita hamil itu, agar pikirannya teralihkan dari pertengkaran nya dan sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2