
"Wah waah, beda juga ya yang pengantin baru. Jam segini baru turun sarapan, uaranya keluar banget sampe rambut nya pada lepek dan lembab gitu." Kelakar Alfan yang tengah duduk diruang keluarga, memangku salah satu anak kembar Keenan.
"Ck, iri bilang bro. Makanya buruan nyusul, si Tuti halalin segera. Tar di tilap orang, baru kalang kabut baru tau rasa." Balas Daniel tak kalah menohok.
"Segera, tak lama lagi. Minggu depan aku jemput, setelah surat-surat pindah mereka berdua selesai di buat. Aku sudah minta tolong sama Bram untuk mengurus nya di sana, supaya Tuti sama anakku tidak ribet." Jelas Alfan bersemangat.
Seluruh keluarga menyambut Tuti juga anak perempuan nya tanpa melihat status wanita itu. Bahkan Alfan sudah meminta Bram, untuk mencantumkan namanya sebagai ayah biologis bagi anak perempuan Tuti tersebut. Dan seluruh keluarga menyetujui nya dengan suka cita.
"Baguslah, biar mantan suaminya nyesel udah nyia-nyiain keduanya." Ungkap Daniel bangga, pada sepupunya itu.
"Yang lain udah pada Sarapan, ya? Aku mau nyusul istri ku dulu. Laper, maklum, tenaga abang banyak terkuras semalam." Ujar Daniel jumawa, membuat nya mendapat lemparan bantal sofa oleh para jomblowers tersebut.
"Aku otw pacaran bentar lagi juga nyusul, jadi Bambang Daniel jangan sombong dulu." Ucap Kalla tak kalah jumawa.
"Baru otw pacaran. Belum pasti juga bakal di terima," balas Daniel sombong.
"Wah, anda sangat sombong rupanya. Ckckck" Seru Kavin berdecak kagum dengan kesombongan sahabat nya, yang kini merangkap adik ipar nya itu.
"Sana pergi, merusak suasana aja." Sungut Alfan tak kalah sewot. Walau di sudah otw sah, tetap saja dia dongkol pada pria tersebut.
"Idih, pada sewot kaya kucing pengen kawin. Kabur ah!" ledek Daniel bergegas menuju ruang makan menyusul sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terasa, tiga bukan sudah usia pernikahan Daniel dan Asha. Semua berjalan dengan baik dan normal.
"Sayaaangg!" Seru Daniel dari arah kamar di lantai atas, Asha terburu-buru meninggalkan pekerjaan pada bi Surti, yang selama 3 bulan ini tinggal bersama nya sebelum mendapatkan ART.
__ADS_1
Wanita itu tergopoh-gopoh menaiki tangga menuju kamar. Dengan napas tersengal Asha menatap suami durjana nya itu, yang tampak tengah berdiri dihadapan cermin sedang mematut dasi yang akan dia kenakan.
Daniel menatap sang istri lewat pantulan kaca, "ini yang mana yang cocok sama jas aku?" ujarnya mengangkat dua dasi di tanganya.
Asha menghela napas panjang, sabar batinnya. "Dua-duanya cocok, nyatu aja sih buat jasnya. Jadi mau yang mana? sini aku pakein." Asha tau suami nya itu sengaja memberikan pilihan, agar daniel tak kentara sedang merepotkan dirinya.
Daniel terkekeh paham arti helaan nafas sang istri, "aku mau yang ini aja, kayanya lebih oke deh." Ujarnya tanpa dosa.
Daniel selalu semanja itu pada sang istri, semenjak menikah. Pria itu mendadak tak tau apa-apa, setiap pagi dan malam, dia akan bergantung pada pilihan sang istri.
"Udah kelar, ayo turun. Kita sarapan sama bi Surti," ajak Asha. Mereka memang selalu memperlakukan art nya sebaik itu, jika di rumah besar bi Surti akan memilih makan di dapur bersama teman yang lain. Maka di rumah Asha, dia tidak punya pilihan lain kecuali bergabung dengan keduanya. Meski awalnya terasa canggung, namun seiring berjalannya waktu, bi Surti mulai terbiasa. Namun dia tetap memilih kursi yang berada paling ujung di meja tersebut, dan Asha serta Daniel pun menghargai nya tanpa memaksa.
Bi Surti tengah menata makanan di meja makan, saat melihat kedua majikannya datang deng segera menggeser kursi untuk keduanya.
"Silahkan, dek-bang. Bibik bikin nasi goreng spesial komplit hari ini," ujarnya sumringah.
"Eh? tetap spesial bang, soal nya adek yang masak. Pake bumbu apa itu namanya ya," bi Surti seolah tengah berpikir. "Pake bumbu cinta, ya itu namanya." Ujar wanita paruh baya itu bersemangat.
Daniel dan Asha hanya tersenyum geli melihat ekspresi bi Surti. Lalu ketiganya mulai menyantap sarapan masing-masing.
Setelah selesai sarapan, Asha mengantar Daniel ke depan rumahnya.
"Nanti hati-hati ya, jangan nekat datang sendiri kaya kemarin. Kalo mang Ujang belum datang, hubungan Lumina saja, atau Avanty. Buat keduanya berguna," peringat Daniel diakhiri kekehan diujung kalimat nya. Dia selalu tak punya alasan jika Asha bertanya, kenapa dirinya tidak boleh keluar rumah jika tidak ditemani oleh seseorang. Untuk itu dia selalu mengakhiri kalimatnya dengan sedikit selorohan, agar istri nya itu tak selalu menanyakan pertanyaan keramat nya.
"Siap pak suami, akan hamba laksanakan titah anda." Balas Asha berkelakar.
"Ya udah, aku pamit kerja dulu ya. Supaya bisa nyetok minyak, yang sekarang lebih mahal dari harga skin care istriku yang cantik dan mengkilap ini." Ujar Daniel membuat keduanya tertawa.
__ADS_1
Daniel mencium kening sang istri dengan sayang sebelum benar-benar berangkat. "Aku berangkat dulu ya, ingat..."
"Jangan berangkat sendiri kalo gak ada yang nemenin" potong Asha cepat. Daniel mengangguk mantap, membenarkan pernyataan istri nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah ruangan, seorang gadis tengah bernegosiasi dengan seorang dokter spesialis kandungan. Segala macam alasan dan cara dia lakukan, agar dokter tersebut bersedia menuruti keinginan nya. Namun belum bisa meluluhkan sang dokter.
"Aku mohon dok, jika orang tuaku mengetahui ini, maka nasibku akan sama seperti kakakku. Di buang dan tidak di anggap anak lagi oleh kedua orang tua ku" ujarnya dengan wajah memelas tidak lupa air matanya yang sudah mengalir deras.
Dokter itu menghela napas berat, bagaimana pun dia kasihan terhadap gadis itu tetap saja dia tidak bisa melakukan nya. Dia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai dan sumpah nya sebagai seorang dokter. Yaitu menyelamatkan manusia bukan malah melenyapkan nya tanpa perasaan. Terkecuali memang kondisi kesehatan pasien yang terpaksa mengharuskan.
"Maaf, aku tetap tidak bisa melakukan nya. Itu adalah alasan klasik, bagi setiap pasien yang mendatangi ku dengan status seperti mu. Hamil di luar nikah, lalu dengan tanpa perasaan membunuh bayi yang tak berdosa. Silahkan mencari dokter lain, yang hati nurani nya sama dangkalnya sepertimu." Ujar dokter itu panjang lebar dan terdengar menusuk hati si pasien.
Mendengar apa yang di katakan oleh sang dokter membuat nya kesal bukan main. Sok suci sekali pikir nya, padahal dia siap membayar mahal untuk itu. Apa dokter itu meminta bayaran dalam bentuk lain, seketika otak liciknya mulai bekerja.
Dengan usaha terakhir nya, dia mencoba merayu dokter tersebut dengan tubuhnya. Gadis itu beranjak dari kursinya, membuat sang dokter tersenyum lega, akhirnya gadis itu menyerah pikir nya. Namun senyuman itu di salah artikan oleh si gadis, dia pikir dokter itu mengerti akan pergerakan gesture tubuhnya.
Dia berjalan ke arah pintu kemudian menguncinya, tentu saja itu membuat dokter itu terkejut bukan main.
"Apa yang kau lakukan nona? Jangan melakukan hal yang kan mempermalukan dirimu sendiri, aku tidak tertarik untuk bercinta dengan bekas orang lain." Ucap dokter itu kejam dan menatap tajam oada gadis tak tau malu itu.
"Jangan jual mahal padaku, kau belum merasa nya saja. Aku jamin, servis ku akan lebih memuaskan dari pada wanita mu. Aku tau kau pun menginginkan ku, bukan? lihat reaksi tubuhmu pak dokter yang tampan. Apa minuman mu terasa lebih nikmat dari sebelumnya, hmm?" ujar gadis itu menantang.
Kemudian membuka dress yang dia pakai hingga melorot ke lantai, kedua mata sang dokter membulat sempurna. Dirinya perlahan merasakan miliknya mulai mengeras, di balik celana kain yang dia gunakan. Apa yang sudah gadis itu lakukan pada minuman di atas mejanya tadi.
Dasar wanita sialan, makinya dalam hati. Gadis semuda ini bisa berpikir selicik itu pada orang lain, pantas saja jika kekasih nya tidak ingin bertanggung jawab padanya. Pasti mengerikan jika sampai menikahi wanita seperti ini.
__ADS_1