
Tak lama pintu terbuka, 4 orang wanita pesanan Steven masuk dengan gaya yang lemah gemulai, menggoda jiwa pars petualang lahan basah tersebut.
"Kau? yang baju biru, noh. Puasin teman ku yang satu itu." Tunjuk Steven pada gadis yang dia perkirakan baru berusia 18 atau 19 tahun.
Dengan gaya malu-malu tapi mau, wanita itu duduk di samping Jovan.
"Masnya mau langsung ngamar atau di sini dulu" bisik nya dengan nada sensual, sungguh tidak mencerminkan usianya yang terlihat masih sangat muda.
Tangan sudah bertengger cantik di paha Jovan. Entah kenapa Jovan jadi sedikit risih. Padahal sebelumnya, dia adalah pria yang suka dijelajahi jari-jari lentik.
"Di sini dulu, aku baru tiba." Balas Jovan memindahkan tangan nakal wanita itu kepangkuan nya sendiri. Jovan tersenyum canggung. Sungguh gadis menyebalkan, disaat seperti ini pun bayangan nya berseliweran dimana-mana.
Sudah satu jam Jovan belum juga beranjak dari tempat duduknya, si wanita mulai gelisah. Sementara kedua sahabat laknatnya sudah bermain peluh, sejak tadi di kamar masing-masing. Tinggal dirinya yang harus menyaksikan pergumulan tak tau tempat, satu sahabat terkutuk nya itu. Seno si sok jaim, kini tengah bermain tangan dengan wanita yang tadi dia cuekin.
Diri nya normal, tentu saja terpengaruh dengan suara desah laknat wanita itu. Ekor matanya melirik ke samping, wanita itu pun terlihat tak nyaman. Beberapa kali menggeser duduknya dengan gelisah.
"Mas?" bisik nya pelan seakan takut ada yang menguping pembicaraan mereka.
"Hmm?" jawaban menyebal Jovan membuat si wanita merengut kesal.
"Ngamar yuk, aku sudah basah ini. Tuh, lihat. apa kita akan terus menyaksikan teman mu bercinta. Aku di bayar untuk memuaskan mas" ujar wanita itu menatap Jovan dengan wajah berkabut, Jovan tak menampik, dirinya pun sudah tegang sejak tadi. Hanya saja, bayangan Joi berkelebat dikepalanya. Konsentrasi buyar.
"Ya sudah, ayo ke kamar" putus Jovan menyerah. Lihat saja nanti, akan dia lenyap kan bayangan Joi dengan mudah.
Wanita itu tersenyum sumringah, lalu menggandeng tangan Jovan dengan manja. Sesampai di kamar wanita itu langsung menyerang Jovan yang baru saja berbalik mengunci pintu. Jovan yang tak siap hanya mematung lalu kemudian mengikuti naluri nya, saat si wanita mulai membuka gesper nya.
Jovan mendorong pelan Sintya, ya wanita itu bernama Sintya. Jovan duduk di sofa dengan penutup tubuh bagian bawah yang sudah terlepas sempurna.
Wanita itu paham dan melakukan tugas nya, pakaian nya sudah terlepas semua. Sintya berjongkok di kedua paha Jovan, dan mulai bermain dengan menara yang menjulang tinggi dan besar itu.
Jovan mengerang nikmat, namun yang dia bayangkan saat ini adalah Joi. Yang sedang bermain-main di bawah sana.
"Ouchhh Joi, kau hebat baby... Aku suka,. lanjutkan sayang..." si wanita sejenak terdiam, Jovan pun sadar, dia salah menyebut nama. Namun apa peduli nya, toh wanita itu bukan kekasih nya.
"Lanjutkan pekerjaan mu..." titah Jovan dengan wajah penuh gairah, lalu kembali menekan kepala Sintya ke arah king kobranya.
Hampir 10 menit, Jovan merasa miliknya berdenyut. Pria itu menekan kuat kepala Sintya sambil mengeram, lahar panas nya memenuhi seluruh rongga mulut wanita itu hingga tersedak.
Setelah puas, Jovan menarik kepala Sintya dari miliknya. Lalu berdiri menuju kamar mandi, tanpa peduli pada wanita yang hampir mati tersedak cairan miliknya.
__ADS_1
"Dasar psikopat, bisa-bisa nya dia menekan kepala ku sekuat itu. Apa dia tidak sadar kalau miliknya itu sebesar pisang Ambon." Sintya menggerutu lalu meneguk habis air mineral di botol sedang dikamar itu.
Dengan pose menantang, wanita itu berbaring di atas ranjang menunggu Jovan. Namun pria itu tak kunjung keluar, Sintya kesal lalu menyusul.
Ternyata Jovan sedang berendam dan tertidur. Pantas saja batinnya kesal.
Sintya masuk ke dalam nya bergabung bersama Jovan, pria itu tersentak lalu membuka matanya.
"Ku kira kau sudah pergi seperti yang lainnya" ujar Jovan acuh lalu kembali memejamkan kedua matanya.
"Bagaimana bisa aku pergi, kita bahkan belum bermain" ujar lalu mengelus milik Jovan yang tertidur lemas.
"Jauhkan tanganmu" perintah Jovan tegas , tanpa membuka matanya.
"Lalu untuk apa aku di bayar?" kesal Sintya lalu keluar dengan tubuh polos nya. Jovan tak peduli, selama ini dia tidak pernah benar-benar bercinta dengan para wanita itu. Mereka hanya akan bermain dengan miliknya, dan setelah puas. Jovan akan menyuruh mereka pergi dari kamar nya, tentu saja setelah memberikan sejumlah uang.
Hampir setengah jam Jovan berendam, pria itu kemudian keluar dari kamar mandi. Namun betapa terkejutnya Jovan, saat melihat Sintya malah tidur nyenyak dengan lingerie tipis diatas ranjang nya.
Jovan segera menggunakan pakaian nya, setelah beres pria itu memilih keluar kamar dan pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bisa diem tidak? berisik! nanti aku keselek" Ujar Joi ngegas.
"Ck! kebiasaan, kalau sedang kesal, selalu aku yang jadi pelampiasan" gerutu Dimas mengomel.
"Mas, satenya kayanya kurang deh porsinya? ayam lagi mahal ya?" Dimas menendang kaki sahabat laknatnya itu, kemudian menatap mas penjual sate cengengesan.
"Bikin malu aja, makan aja kenapa sih. Ribet amat!" bisik Dimas pelan, namun matanya melirik ke sana kemari.
"Maaf mbak, ini saya tambahkan lagi. Mbaknya lapar banget ya" kekeh si penjual ramah, dan menaruh 5 tusuk sate ke piring Joi.
"Eh? padahal aku becanda aja tadi." cengir Joi tanpa dosa, " tapi kalau mas nya maksa, ya aku makan aja deh. Mubazir, rejeki tidak boleh di tolak. Takut sembelit" sungguh ucapan terimakasih yang menjengkelkan, para pengunjung lain menatap Joi kesal.
Namun gadis itu seolah tak tau apa-apa, layaknya bayi yang baru lahir, bersih tanpa noda dosa.
"Makan cepetan, ngoceh mulu tu mulut. Abis ini langsung pulang, aku mau video call sama ayang mbeb" membuat telinga Joi gatal, kudis kurap mendengar nya. Geli, pengen garuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jovan berkendara pelan, sudah pukul 10 lewat, jalanan sedikit lengang. Dia ingin bersantai, Jovan membuka jendela mobilnya untuk menikmati angin malam yang sama sekali tidak sehat.
Namun saat melewati taman kota, matanya menangkap sosok yang sangat dia kenal. Joi, si biang kerok perusak kinerja otaknya. Jovan memutar mobilnya, gadis itu benar benar menguji kesabaran nya. Bukankah tadi Joi bilang akan pulang, lalu kenapa jam segini masih berkeliaran seperti anak ayam ketinggalan induk nya.
Setelah memarkir kan mobil nya di tepi jalan. Jovan menghampiri kedua anak didiknya yang sedang bersenda gurau.
"Khemm..!" Dimas menoleh, dia pikir pengamen, nyatanya si guru killer. Hampir saja Dimas menyapa namun Jovan mengode. Remaja tanggung itu pun tidak membantah lagi.
"Khemm..!" Jovan berdehem sekali lagi, namun Joi masih belum bergeming.
Sementara Dimas mulai gelisah, resah dan gundah. Dia khawatir Joi akan membuat masalah untuk keduanya.
Kaki Dimas terus menendang-nendang kaki Joi yang masih menjilati ruas jarinya tanpa jaim.
"Apaan sih, Dim? orang lagi makan juga, pengamen nya tolong kasih recehan dulu, tangan aku kotor nih. Di tas aku ada sedikit recehan. Ambil aja semua, aku mau cuci tangan dulu" Ujar Joi berdiri tanpa melihat siapa yang tengah berdiri di belakang nya sejak tadi.
Jovan duduk di deretan bangku kayu Joi, Pria itu menatap kesal pada Dimas. Remaja itu jadi bingung sendiri. Memangnya apa salahnya, batin ngomel.
Joi Kembali ke mejanya dan terkejut, saat melihat guru resenya sedang bertengger seperti merpati di kursi yang sama dengan nya.
"Kok? bapak bisa ada di sini? Ngikutin aku ya, kurang kerjaan amat sih jadi orang." Kalimat Joi membuat jantung Dimas bekerja keras, pria itu mendadak pusing dan ingin pingsan.
"Kau ini" desis Jovan malu. "aku kebetulan lewat dan lapar, malah ketemu denganmu. Kenapa kau selalu ada di mana-mana? menyebalkan." Tukas Jovan tak mau kalah, hilang sudah image guru killer nya, saat sudah dipertemukan dengan muridnya yang satu ini.
"Habis ini pulang ikut aku, tidak ada penolakan. Dan kau pulang sekarang, sudah selesai makan kan?" tanya Jovan mengintimidasi Dimas. Tentu saja Dimas lebih memilih menyelamatkan dirinya kali ini.
"Udah pak, ini sudah mau pulang. Titip Joi ya pak, ini belum bayar, kalau bisa sekalian aja." Cengir Dimas langsung kabur menuju motornya, sementara Joi cengo. Otaknya sedikit lemot akibat makan terlalu kenyang.
"Loh? Dimas? Dim? Tungguin ih.." Namun Dimas sudah tancap gas dan berlalu pergi.
"Kamu duduk diam" rupanya tangan Joi dari tadi dipegangi oleh Jovan, pantas saja gadis itu tidak bisa kemana-mana tadi.
"Bapak ih, saya itu udah pamit dan ijin nginep di rumah Dimas. Kalau pulang jam begini, alamat ibu kena serangan jantung." Joi mengomel kesal.
"Kalau gitu nginap tempat saya saja, sama aja kan?" ujar Jovan santai.
"Tidak ya, aku tidak mau. Nanti bapak *****-grepein aku lagi, bapak kan pedofil" ujar Joi sedikit menaikkan nada suara nya tanpa sadar. Hingga tatapan orang-orang mulai mengarah pada mereka.
Jovan salah tingkah dan malu, sunggu Joi benar-benar anak ini. "Mulut, mulut..." desis Jovan kesal.
__ADS_1
Namun Joi malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia harus kabur dari guru cabul tersebut.