Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXXIX


__ADS_3

Suasana pagi di villa tampak sedikit rusuh, suara saling menyahut tanpa tau sedang berbicara dengan siapa. Semalam, Javier, Keenan, dan Al beserta istri dan anak-anak mereka baru saja sampai.


Membuat villa yang tak begitu besar itu terasa penuh sesak dan juga ramai, sudah persis pasar malam. Suara tangisan ketiga batita, Ednan, Edeline dan Bintang saling bersahutan layaknya paduan suara. Masing-masing bayi itu bersaing mengeluarkan suara hingga oktaf tertinggi.


bagi yang punya balita, dipersilahkan menghuni kamar. Dan para pasangan paruh bawa itu terpaksa harus mengalah, dengan tidur berdesak-desakan di ruang keluarga hingga ruang tamu. Menggunakan ambal, lumayanlah untuk menghalau kan rasa dingin dari ubin.


"Ya ampun, harusnya Jason tunda dulu nikahnya, kawin aja dulu gak apa-apa kalo emang udah kebelet. Ini harusnya bangun satu atau dua villa disamping, atau rehab rumahnya Mina kasih 5 lantai. Lupa apa dia kalo kita ini keluarga besar, kalo udah ngumpul gini, kalah-kalahin warga desa jumlahnya." Sejak semalam wanita itu tak henti-hentinya mengomel.


Bukan soal harus tidur berdesakan di atas ambal yang bulu-bulu halus nya bikin kulitnya merinding. Namun karena mengingat jika mereka berkumpul, maka anak-anak harus punya ruang yang luas untuk bermain. Lebih tepatnya untuk mereka berlarian.


"Mimi ngomel trus sih, tar makeup nya leleh baru tau, aku mau kawin lo hari ini. Masa anaknya diomelin trus. Dasar Ibu gak punya perasaan. Curiga aku tuh, anak nemu di pinggir kali." Jason balik mengomel dengan menggerutu pada sang ibu.


"Ya, mimi nemu nya dipinggir kali. Momennya pas pup, trus denger ada suara tangisan bayi, pas nengok kebawah. Eh, ada kamu, Jason anak mama yang tampan ini." Balas Wanita itu tersenyum menyeringai ala venom.


Membuat Jason mendengus tak senang, enak aja nemu di ******, gak keren amat.


"Udah-udah, akadnya jam 9. Ini udah jam 8 lewat, gak keburu kalo nungguin kalian debat gak jelas." Revan mengintrupsi perdebatan ibu dan anak itu agar tidak panjang lebar.

__ADS_1


"Gan, lo udah siap. Dara, Marissa sama anak-anak udah pada nunggu di mobil tuh, pake sopir aja. Itu gunanya mereka kita bawa kesini." Setelah mengecek penampilan dan bawaan masing-masing, rombongan keluarga pihak mempelai pria itu pun meluncur Menuju masjid desa. Tempat di adakan proses akad nikah tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sini mimi liat penampilan kamu dulu, astaga, ini dasi kamu miring, ini kerah juga kenapa jadi gak manut gini sih. Oke, sekarang udah beres. Kamu jangan gugup, jangan sampe salah, usahakan ngucap nya sekali jangan Sampai di ulang. Kalo sampe salah, kamu mimi sunat lagi biar tobat. Udah sana, ngapain masih disini." Nabila mendorong pelan sang anak menuju ke arah meja akad. Tidak sadar kah wanita itu, bahwa dirinya yang sudah menahan Jason, untuk mendengar ocehan nya yang malah membuat pria itu semakin gugup tak karuan.


Setelah prosesi akad selesai, kedua mempelai diarahkan ke mobil untuk menuju lapangan bola Tempat diadakan nya resepsi. Sebuah panggung besar dibuat diujung lapangan tersebut, dengan pelaminan yang didekorasi semewah dan seindah mungkin. Membuat warga desa memandang takjub. Benar-benar definisi orang kaya yang sesungguhnya. Begitulah pikir mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam semakin larut, namun semangat para warga tidak ada padam-padam nya. Untungnya prasmanan yang di persiapkan sengaja mereka lebihkan, oleh para ibu-ibu sosialita tersebut.


"Tadi pergi ambil makan, tuh dimeja prasmanan, laper trus dia. Makanannya beda, rempah rendang nya bikin nagih kata didimu." Ujar Reegan terkekeh pelan, Kavin pun ikut terkekeh lucu.


Bisa dia lihat, didinya disana sedang sibuk mengambil apa saja yang dia inginkan. Jangan lupa piringnya, yang sudah seperti muatan truk psawit.


"Astagaa, didi. Itu laper apa doyan." Daniel yang baru ikut gabung pun, dibuat geleng-geleng kepala dengan ulah didi mereka itu.

__ADS_1


"Leper katanya, doyan juga. Mulai siang ada aja yang dia masukkan ke dalam mulutnya. Pulang tar baru panik, liat timbangan berat ke kanan."


"Terus kotak-kotak kurang satu karena ketimbun lemak, langsung panik ajak Jason nge gym." Sambung Daniel tergelak sendiri, diikuti oleh Reegan dan Kavin.


"Trus bilang, ini kalo mimi kamu liat. Bisa-bisa Didi dianggurin sebulan, sampe roti sobek didi balik seperti semula." Lalu mereka pun terbahak, mengingat momen dimana Revan selalu sepanik itu, jika berat badannya naik, terutama bila roti sobeknya mulai tertimbun lemak.


Namun sayangnya, pria pecinta rendang, gulai, opor dan segala macam jenis makanan berlemak itu, tidak akan bisa menahan godaan. Jika sudah berhadapan langsung dengan makanan tersebut.


"Kalian pasti nertawain didi kan, tau didi tuh kalo lagi di omongin. Tadi didi keselek lengkuas yang didi sangka daging. Jahat bener." Revan datang dengan wajah memerah akibat tertelan potongan lengkuas, yang meski tak besar. Namun cukup membuat pria itu kapok, asal mangap gak pake ngunyah dengan benar.


Ketiganya langsung menyambung tawa yang tadi sempat redup. Wajah Revan semakin tak bersahabat pada ketiga pria beda generasi tersebut. Delikan tajam Revan berikan sebagai perwakilan moodnya yang tak baik.


"Pada ngapain sih, bahagia bener kaya nya. Didi mukanya ampe merah gitu, abis ketawa parah ya kalian." Ucapan Alfan mendapatkan lemparan gelas plastik sekali pakai oleh Revan.


"Issh, didi. Ini masih ada airnya loh, basah kan aku." Alfan mengusap lengan bajunya yang basah. Lalu melirik tak suka pada didi nya tersebut. "Ini kalo mimi tau, didi malam-malam minum sirup dingin gini. Alamat tidur meluk guling tar malam." Ucapan Alfan seketika membuat Revan panik.


"Eh, anak kecil. Apa-apa ngadu, gak malu sama Tiara." Balas Revan sewot sekaligus was-was.

__ADS_1


"Abis didi iseng sih, datang-datang juga langsung di lemparin gelas air minum. Eh, gelas ato apa sih. Orang di sini ternyata lebih keren dari pada orang kota. Abis minum, gelas pada ditarokin plastik sampah. Keren kan? Kalah-kalahin kita ya, sekaya-kayanya kita, masih mikir mau minum gelasnya kemudian langsung berakhir di tong sampah." Alfan berdecak kagum, memuji warga desa yang dia anggap keren, hanya karena membuang gelas yang baru sekali pakai tersebut.


Keempat orang yang menyimak perkataan penuh kekaguman Alfan, menatap miris pada pria itu. Antara ingin tertawa tapi takut dosa atau menangis kejer karena terlanjur empati pada nya. Sungguh kasihan, pikir mereka.


__ADS_2