
Sesampai nya di apartemen, Jovan masih betah menggenggam pergelangan tangan Joi. Gadis itu hampir kabur dari nya tadi, saat dirinya lengah.
"Ayo masuk Joi" Titah Jovan kesal.
"Bapak kenapa maksa sih, saya ini gadis baik-baik loh ya!" teriak Joi kesal. Keluar sudah taring gadis feminim itu. Jovan terpaku mendengar teriakkan Joi, lalu bergegas mendorong gadis itu masuk ke dalam apartemen. Bisa gawat kalau ada yang liat, bisa di sangka dia pedofil benaran.
"Bapak jangan dorong-dorong dong, sakit nih" Joi memegang bahunya yang ternyata tersangka gawang pintu tadi.
"Maaf, sini aku liat" Jovan mengulurkan tangannya untuk memeriksa lengan Joi, namun Joi malah menepis tangan Jovan dengan kasar.
"Tidak usah sok perhatian deh pak, mending buka pintu nya, saya mau ke rumah Dimas" kekeh Joi masih berdiri di depan pintu sambil mengelus lengannya yang nyut-nyutan.
"Keras kepala" desis Jovan lalu mengangkat tubuh Joi seperti karung goni. Joi histeris di buatnya.
"Bapak mau ngapain, jangab macam-macam yaa! Bapak belum tau siapa saya, lepasin brengsek!" Joi terus mengumpat sampai akhirnya Jovan menurunkan nya. Namun dengan cara di banting di atas kasur king size nya. Joi mengumpat kesal lalu beranjak, namun Jovan dengan sigap menindih tubuh Joi dan menatap nya buas.
"Kau ini tidak bisa di ajak bicara baik-baik rupanya, memangnya apa hebatnya si Dimas itu hah?!" teriak Jovan marah, hatinya panas, sejak diperjalanan tadi, Joi terus merengek ingin di antar ke rumah remaja itu.
Joi terkesiap mendengar bentakan Jovan, dirinya mulai dilanda ketakutan setengah mati.
"Pak jangan gini, antar aku ke rumah Dimas, please.." Joi kembali memohon dengan kata yang salah, Dimas lagi Dimas lagi. Jovan benar-benar muak mendengar nya.
"Apa hebatnya dia yang bahkan miliknya saja mungkin masih dalam masa pertumbuhan. Sebesar apa sih, sampai kau seingin itu kesana?" arah pembicaraan Jovan sudah ngawur dan alamat salah paham maksimal.
"Maksud bapak apa sih? kok jadi ngawur gini, bapak mabok? lepasin ih" Joi terus berontak hingga akhirnya pertahanan Jovan runtuh.
__ADS_1
Jovan mencium bibir Joi dengan kasar Joi semakin berontak dan mulai menangis.
"Tidak perlu menangis, aku bahkan lebih perkasa dan berpengalaman dari bocah ingusan itu" Jovan menatap Joi dengan bergairah, lalu kembali mencumbui gadis itu brutal.
Tak lupa tangannya sudah berkeliaran kesana-kemari, hingga akhirnya berakhir di rawa lembab milik Joi, jovan menyeringai dibalik ciuman nya yang kini menyusuri leher jejang Joi.
Satu jari nya mulai memaksa masuk, namun karena sempit Jovan menarik nya kembali dan bermain di puncak dada Joi, yang bajunya sudah terangkat ke atas dan br*anya juga ikut di naikkan oleh Jovan. Joi semakin terisak, kekuatan nya kalah dari Jovan yang sedang sangat bernafsu padanya.
Mendengar Joi sesegukan, Jovan sejenak menghentikan aksi nya.
"Jangan nangis, aku akan bermain lembut, kau akan puas dengan ku dan tidak akan merengek lagi untuk bertemu anak ingusan itu." Jovan mengusap air mata Joi yang semakin deras mengalir, mendengar kata-kata vulgar dan tak bermoral Jovan.
Jovan kembali melanjutkan aksinya, kali ini pria itu benar-benar membuat tubuh Joi naked sempurna. Matanya terbelalak melihat ukuran dada gadis itu, kini dia yakin, jika gadis itu sudah sering bermain hingga bisa membentuk dada yang sesempurna ini. Membayangkan Dimas bermain didada Joi, amarah nya kembali naik.
"Pak please, henti kan ..bapak salah paham .. Dimas itu..."
Jovan menarik rambut Joi sedikit kasar hingga gadis itu kesakitan, "coba kau lihat, milikku pasti lebih besar dari punya bocah itu, kau akan puas baby..." ucap Jovan dengan suara parau, pria itu terus berusaha memasukkan miliknya namun terasa sulit.
"Lihat, pasti miliknya sangat kecil, sudah sering bermain saja masih sesempit ini..." Jovan memaksa hingga akhirnya pertahanan Joi lebur, darah segar keluar dari sana Joi menangis keras. Sementara Jovan mematung sempurna, Joi masih virgin? Astaga! dirinya telah memperkaos murid nya sendiri akibat cemburu. Namun sudah tanggung, bukan? Akhirnya Jovan memilih melanjutkan permainan namun dengan sangat lembut. Seolah sedang merawat porselen.
Berkali-kali kata maaf Jovan kumandangkan di telinga gadis malang itu namun Joi bergeming. Joi bahkan hampir pingsan karena terlalu banyak menangis juga dalam keadaan tertekan. Belum lagi rasa perih di bawah sana. Setelah hampir setengah jam, Jovan mengerang panjang, pria itu sengaja memasukkan cairan miliknya ke dalam. Agar punya alasan untuk bertanggung jawab pada Joi, dia yakin gadis itu pasti tidak ingin dirinya bertanggungjawab. Jika begini, dia bisa mengancamnya, bagaiamana jika Joi hamil. Licik memang, namun Jovan sudah kepalang tanggung jatuh sejatuh jatuhnya pada pesona remaja itu.
"Makasih sayang, maaf. aku akan tanggung jawab setelah ini, aku janji" Jovan menarik tubuh polos Joi yang lemah ke dalam dekapan nya. Joi tidak berontak, tenaganya lemah untuk berontak lagi. Jovan merasa sedih melihat Joi yang tak ada respon. Dia takut gadis itu depresi.
"Tidur lah, besok kita bahas ini. Aku menyayangimu Joi, aku jatuh cinta padamu. Percayalah, aku akan bertanggung jawab" Jovan mengecup dalam kening Joi, lalu ikut tertidur.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Joi mengerjab kedua matanya, melihat ke samping tidak ada siapapun. Joi perlahan bangun, sambil meringis menahan nyeri, Joi berjalan tertatih ke kamar mandi, lalu mengguyur tubuhnya dengan sower. Gadis itu kembali menangis, orang tuanya pasti akan sangat kecewa padanya, bahkan dia berbohong untuk menginap di rumah Dimas. Nyatanya dirinya semalam tengah digagahi oleh guru nya sendiri.
Jovan masuk dengan nampan di tangannya, saat melirik tempat tidur yang kosong, Jovan tidak menemukan Joi. Pria itu mulai panik, pikiran nya memikirkan hal buruk. Joi bunuh diri. Dengan sedikit hentakan, Jovan meletakkan nampan diatas nakas dan buru-buru ke kamar mandi.
Saat kamar mandi terbuka, Jovan dapat melihat bayangan Joi dibalik dinding pembatas kaca. Ruoanya Joi sedang mandi dalam keadaan duduk. Jovan masuk untuk mengecek, dirinya terkejut melihat Joi yang menggigil kedinginan dibawah kucuran air. Jovan segera mematikan sower dan mengambil handuk lalu mengangkat tubuh Joi.
Jovan membaringkan Joi di ranjang perlahan. Lalau mengambilnya satu handuk bersih untuk mengelap tubuh Joi yang basah. Dengan telaten, Jovan membersihkan sisa air tanpa terlewati. Bahkan Jovan harus ekstra menahan debar sialan saat membersihkan lipatan paha Joi.
Setelah selesai memasang kan Joi baju miliknya, dan mengoleskan salep luka pada inti Joi. Jovan mengompres Joi yang ternyata demam.
"Ayo, makan dulu. Habis ini makan obat" bujuk jovan sabar, Joi melengos lalu melorot kan tubuh nya yang tadi bersandar. Jovan menghela nafas panjang, dia menyesali perbuatannya. Namun dia tidak menyesali perasaan nya, meski caranya salah, dia akan memperbaiki nya. Bagaimana pun caranya.
Jovan meletakkan sendok, lalu naik ke sisi ranjang, Joi membelakangi nya. Jovan mengulurkan tangannya, dan memeluk Joi. Pria itu terisak pelan di ceruk leher Joi. Sesekali Jovan mencium rambut Joi.
"Maaf kan aku, aku cemburu pada Dimas. Kau selalu menyebut namanya, hati ku panas. Aku tau kita tidak punya hubungan apapun, hingga membuat ku tidak berhak untuk cemburu dan melarang mu bertemu dengan pria manapun." Jovan menjeda ucapannya, lalu memutar tubuh Joi menghadap nya. Hatinya semakin sakit melihat air mata Joi yang keluar diam-diam.
"Maaf," ucap Jovan kesekian kalinya, suaranya serak hampir tak terdengar. "Jangan diam gini, akunya serba salah. Marah, teriak, maki aku, pukul aku. Asal jangan pergi, aku tidak sanggup lagi. Kita sudah sedekat ini, aku mau selama nya begini." Jovam mencium kening Joi dalam, lalu memeluk nya erat. Bahu Jovan berguncang, entah kenapa dirinya begitu cengeng, harus nya Joi lah yang menangis seperti itu. Namun nyatanya, hatinya tak baik-baik saja melihat Joi dengan tatapan kosong seperti ini.
Entah karena lelah menangis, keduanya kembali tertidur hingga tengah hari. Jovan yang lebih dulu bangun, menatap manik tertutup itu dengan perasaan bersalah. Berkali-kali pria itu mencium pucuk kepala Joi juga keningnya dengan sayang.
"Aku harap kau tidak menolak ku untuk bertanggung jawab padamu, aku mencintaimu Joi. Maaf, jika cara ku salah. Aku memang brengsek, tapi aku secinta ini padamu. Aku juga frustasi sendiri melihat mu dekat dengan teman pria disekolah. Aku memendam cemburu setiap hari, dan rasanya itu tidak enak. I love you Joice nya Jovano." Jovan kembali mencium kening Joi lalu beranjak bangun perlahan.
Jovan kembali membawa nampan keluar untuk mengganti nya dengan yang baru, perut nya pun keroncong. Namun Joi belum makan, mana bisa dia makan duluan. Jovan kembali berkutat di dapur, dia ingin membuat daging iga bakar madu untuk Joi, tadi dia menelepon murid yang dia cemburui, siapa lagi kalau bukan Dimas. Untuk menanyakan makanan kesukaan Joi, sialnya, remaja itu malah sedang berkencan. Dapat dia dengar suara seorang gadis remaja yang berbisik pelan pada Dimas.
__ADS_1
"Dim.. siapa yang nelpon, lanjut tidak, aku buka semua apa bawahnya aja"
Jovan merutuki lelakuan bejat murid nya yang 11-12 dengannya.