Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXVII


__ADS_3

Klek


" Hay, Gan. Aku bawain kamu makan siang nih. Kita makan yuk, aku udah laper banget." Tanpa permisi, wanita itu masuk, dengan pede nya menunjukan sebuah paper bag berisi kotak makan pada Reegan.


"Kamu jauh-jauh sekolah sampe keluar negeri itu buat apa? Etika kamu itu mines, aku gak suka!" Sarkas Reegan kesal, memangnya ini rumah nya apa, main masuk tidak pakai tata Krama.


"Kamu kok gitu sih, Gan. Cuma perkara gak ngetok pintu aja loh, kamu sampe bawa-bawa pendidikan sama etika aku segala." Balas Sasa tak terima.


"Kamu kalau cuma mau pamer masakan yang bahkan bukan kamu yang masak, mending kamu pergi. Aku sibuk!" Ujar Reegan datar. Kembali fokus pada berkas yang ada di depannya.


"Aku tuh niatnya baik loh, Gan. Kamu gitu amat, kamu lupa kalau kita bakal tunangan satu bulan lagi. Aku berhak datang kesini kapanpun aku mau." Sasa masih kukuh pada pendiriannya.


"Yang mau tunangan itu kamu, aku gak ya. Aku gak suka barang yang sudah sering di obrak abrik sama orang lain dan sama banyak pria!" Sarkas Reegan lagi tanpa perasaan.


"Reegan! Kamu boleh hina aku, tapi kamu gak bisa nolak semua keinginan kakek. Kita akan tetap menikah, kamu suka atau pun tidak.!" Seru wanita itu tidak terima, dirinya selalu dihina oleh Reegan secara terang-terangan.


Sasa berbalik, setelah mencampakkan paper bag yang dia bawa ke lantai. Keluar ruangan Reegan lalu membanting pintu itu dengan keras.


Sudah satu bulan berlalu, masih belum ada celah untuk nya masuk kedalam kehidupan Reegan. Pria itu semakin dingin, sulit untuk didekati dan juga mulutnya semakin kejam.

__ADS_1


"Aduh, kasian nya itu pintu. Tidak ada dosa tidak ada salah, malah kena banting." Celetuk Nindy, dengan tatapan mata fokus ke layar laptop nya.


"Dengar kan saya baik-baik, saat saya sudah menjadi nyonya muda Prayoga. Kamu adalah orang pertama, yang akan saya singkirkan dari perusahaan ini." Ujar Sasa sambil menunjuk ke arah Nindy, namun yang di tunjuk malah tidak tau-tau.


"Kok kaya ada laler ya, ini kaya ada suara mendengung gitu di telinga." Ucap Nindy santai, sembari memperagakan orang yang sedang menepuk dan mengusir nyamuk.


"Awas aja kamu! Kamu akan tau akibat nya, sudah berani berurusan dengan saya!" Sasa tidak terima, dipermalukan oleh sekretaris calon tunangannya itu.


"Huzz huuzzz... Ini alamatnya perlu dibeliin racun serangga kayanya nih! Bandel banget, udah diusir berkali-kali, kok ya masih bebal. Apa disekolah nya gak ada belajar etika apa gitu, orang gak mau diganggu kok masih berisik aja." Puk puk.. Nindy masih kura-kura makan tomat pura-pura gak liat, wanita itu bahkan mengambil penggaris di lacinya, untuk berpura-pura memukul nyamuk.


Membuat kepala Sasa, hampir mengeluarkan asap tebal, dengan kelakuan gila sekretaris tersebut. Bos dan sekretaris sama saja, sama-sama gila pikir Sasa. Dia segera berlalu dari sana, sebelum sindrom kegilaan juga menyerang dirinya.


Klek..


"Nggak tuan, saya cuma mau ngusir laler. Berisik banget tadi, kuping saya sampe dengung gitu. Eh, malah curhat. Tuan butuh sesuatu?" Ucap Nindy salah tingkah.


"Saya mau makan siang, kamu ikut. Seperti biasa, kita ini pasangan kekasih. Kamu kalo makan gak usah pake nambah, saya malu liatnya. Kamu bisa take away, gak perlu makan kaya orang rakus." Dan seperti biasa, pria itu selalu berkata yang membuat selera makan Nindy jadi menurun drastis.


"Ya tuan, nanti tuan aja yang pesan kan saya makan. Biar keliatan romantis gitu, saya belum pernah diromantisin soalnya." Ujar Nindy dengan gaya dibuat malu-malu tapi suka.

__ADS_1


"Gak masalah, bonus kamu bulan ini gak usah minta sama Abdi. Buruan, jangan buang waktu saya." Ucap pria itu dengan arogan.


Namun Nindy tiba-tiba dilanda kepanikan, dia berlari kecil menyusul bos nya yang tak berperasaan itu, masuk ke dalam elevator.


"Itu tadi gimana maksudnya ya tuan, kok saya agak kurang paham gitu. Itu bonus saya bulan ini mau tuan kasih langsung, begitu kan?" Nindy tidak rela, jika bonus pura-pura jadi pacar sang bos raib, jadi dia harus rela pasang badan, saat para wanita binal mendekati bosnya.


"Kamu minta saya pesan kan makan, artinya kamu juga harus bayar saya balik. Saya aja bayar kamu buat pura pura jadi pacar saya, makan kamu yang banyak itu juga saya yang bayar. Masa kamu mau make jasa saya pesankan makan, kok gratis. Kan gak adil. Saya rugi banyak kalau gitu." Ucap Reegan santai sambil memainkan ponselnya.


"Ehhmmm.." Nindy berdehem untuk menekan emosi didadanya. "Kalau begitu tuan tidak perlu repot-repot pesan kan saya makanan nanti, saya bisa pesan sendiri. Jadi bagaimana dengan bonus saya, masih sesuai kesepakatan, kan?" Sungguh Reegan ingin terbahak-bahak Sekarang, namun dia harus menjaga image nya.


"Hmm, oke. Berarti tidak ada drama-dramaan makan, kan kita? Kalau begitu, bonus kamu aman." Ucap Reegan bertepatan dengan terbuka nya pintu lift. Pria itu melangkah tanpa peduli Nindy yang dongkol setengah lapar dibelakang nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hikz... Kakek.. Reegan makin hari makin gak punya hati, masa aku pergi antar makan siangnya. Malah dia usir trus kotak bekal dia banting ke lantai, aku juga gak suka sama sekretaris nya itu, dia selalu menempel pada Reegan setiap hari. Kakek suruh Reegan pecat perempuan itu, kek." Begitulah drama ikan terbang di mansion Reegan, pria tua itu benar-benar sudah menguasai segalanya. Sasa pun tinggal disana, sementara sang ibu di ungsikan ke Jerman. Dengan alasan pengobatan depresi yang dialaminya.


"Ya sudah, kamu jangan nangis gitu. Kamu sudah tinggal satu atap Sama Reegan, tinggal kamu saja yang pintar-pintar merayu Reegan." Hibur sang kakek yang tak lain adalah tuan Prayoga.


"Susah kek, nanti aku malah diusir lagi sama dia kaya waktu itu. Kakek bantu Sasa dong, papa juga gak bisa bantu aku. Kemaren papa malah di usir sama Reegan dari kantor, kan papa malu kek." Aduan Sasa selalu berisi hal yang kurang lebih intinya sama, mendekat kan dirinya dan Reegan.

__ADS_1


"Nanti malam kakek akan bicara pada Reegan, kamu dandan yang cantik, biar Reegan terpesona sama kamu. Kamu istrahat aja dikamar, biar mata kamu gak sembab nanti malam." Ucap kakek Prayoga penuh perhatian.


"Ya udah kek, Sasa mau istirahat dulu ya." Wanita itu kemudian berlalu menuju kamarnya, dengan hati riang gembira.


__ADS_2