
"Gimana tadi? mom sama dad tidak galak kan? wajah daddy memang sangar, tapi hatinya kaya Barbie" kekekh Jovan tak sadar diri.
"Ck, kaya bapak tidak saja. Siapa yang nangis-nangis cuma gara-gara aku tidak angkat telpon" ledek Joi membuat pipi Jovan memerah.
Konyol memang, namum dirinya yang baru resmi jadian dengan Joi meski melalui cara yang ekstrim. Tiba-tiba kehilangan kabar dari gadis pujaan nya, siapa yang tidak panik. Bisa saja Joi sudah melupakan nya dan sedang berkencan dengan pria lain. Mengingat waktu itu adalah malam minggu.
Keputusan terakhir nya adalah menelpon Kirel dan menggadai kan harga dirinya. Jovan berbicara dengan suara serak, dan sedikit terisak saat menanyakan keberadaan Joi, yang tak kunjung mengangkat panggilan nya. Tawa Kirel pecah sampai terbahak-bahak. Sungguh calon kakak ipar laknat, bukan?
"Kan baru jadian, aku takut kau tiba-tiba berubah pikiran. Makanya ponsel itu kemana-mana di bawa, aku gampang panik sekarang. Bisa-bisa aku mati terkena serangan jantung kalau begini terus menerus." ujar Jovan menciumi punggung tangan Joi.
"Emang secinta itu ya, sama aku?" tanya Joi tiba-tiba, Jovan menghentikan mobilnya mendadak. Untung saja sudah sedikit lengang dan bukan didaerah rawan macet.
Jovan memutar tubuh menghadap ke arah Joi, tatapan matanya sendu dan tak terbaca.
"Aku secinta itu padamu, yang. Aku tidak pernah Begini sebelumnya, hanya padamu saja. Aku begitu yakin ingin memiliki mu seutuhnya, untuk pertama kalinya aku merasakan yang namanya cemburu, kesal dan marah tak jelas." Mata Jovan sudah berkaca-kaca, alamat bakal nangis bombay lagi ini. Joi mulai mengantisipasi.
"Oke, aku ngerti. Makasih udah milih aku jadi tambatan hati bapak. Tapi ngomong-ngomong, kita ini sedang di jalan. Baper-baperannya bisa pending dulu tidak?" Twiww. ambyarr. Joi benar benar perusak suasana.
Jovan Kembali menjalankan mobilnya, namun tidak ke rumah Dimas. Enak saja batinnya, mana mungkin dia membiarkan Joi tidur berdua dengan Dimas walau di kamar yang berbeda.
"kok ke sini, aku tidak punya baju ganti loh, buku aku juga disana semua" protes Joi saat mobil Jovan sudah memasuki parkiran apartemen.
"Mana mungkin aku membiarkan mu tidur dirumah si mesum Dimas, itu. Big no! Mulai sekarang, kau akan tinggal bersama ku. Aku sudah mengatakan nya pada orang tuamu, dan mereka tidak keberatan." Memang benar tidak keberatan, namun banyak peraturan yang dia dapatkan. Tapi bukan Jovan namanya, jika tidak bisa bermain modus.
"Ih, Kenapa ambil keputusan sepihak sih. Aku tidak enak dengan Dimas nih jadinya, kan mau nginep nya di sana." Omel Joi kesal.
"Udah, pakaian mu sudah diantar Dimas kemari tadi sore. Ada di atas, aku kasih kode apartemen sama dia" jelas Jovan enteng.
"Kalau begini ceritanya, bisa-bisa aku hamil benaran nih" gumam Joi yang berjalan disamping Jovan menuju elevator.
__ADS_1
"Bagus kan, jadi tidak ribet mikirin kuliah lagi" Jovan tersenyum sejuta makna.
"Idih, tidak bisa Orlando. Aku tetap pengen jadi pengacara pokonya, tidak ada tawar menawar. No debat! titik!" Jovan hanya bisa mendesah pasrah. Joi masih terlalu muda untuk diajak berkomitmen, dia menyadari nya. Namun hatinya berontak tak rela.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus mendebarkan, bagi anak-anak kelas X dan kelas XI telah tiba. Joi sudah mempersiapkan dirinya sedemikian rupa, bersama Jovan, dia mulai tekun mempelajari mata pelajaran fisika yang paling dia benci. Sebulan ini Joi tinggal bersama Jovan atas restu orang tua nya. Bagaimana pun Jovan ikut andil, dalam menjaga Joi saat jauh dari kedua orangtuanya selain Dimas.
"Tidak usah tegang yang, kalau sekiranya agak sulit, lewati dulu. Kerjakan yang paling mudah saja dulu, jangan start dari yang susah. Nanti otak mu malah bleng" nasihat Jovan pada Joi, sudah seperti seorang ibu yang menasehati anaknya saja. Joi hanya mengangguk saja, otaknya malah sudah bleng duluan karena mendengar ocehan kekasih nya.
"Semangat yang, aku selalu mendoakan mu" Jovan mencium kening Joi untuk menyalurkan semangat.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Eh? kira-kira nilai ku bagus tidak ya?" ujar Erin yang ikut nimbrung duduk dikursi kantin. Sudah 2 hari selesai ikut ujian semester kenaikan kelas. Mereka masih di wajibkan turun, karena ada beberapa yang harus ikut remidi.
"Loh? di papan pengumuman kan ada beb. Bagi yang nilainya tidak mencapai standard, ikut remidial kan?" ujar Dimas menatap sang kekasih.
Dimas hanya cengengesan tak jelas, "maaf beb, aku benar benar lupa. Abis pulang sekolah cape banget, otak terkuras sampe ke akar-akarnya. Mana kita lama tidak making love, jadi lesu aku nya." Bela Dimas meraih tangan sang kekasih lalu mencium nya.
"Iyuuhh... mesranya tolong liat tempat Marimas, dan kata-kata anda terlalu vulgar, merusak pendengaran suci saya." Ujar Joi sarkastik.
"Wuuahhhh ternyata, anda melupakan jasa-jasa saya rupanya. Siapa yang sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, yang rela nungguin pintu selama anda ah uh oh di dalam bersama bapak guru. Kasian telinga ku, ikut panas mendengar suara laknat anda berdua, Paula Braco" Balas Dimas tak kalah sarkas.
Bugh
"Auww anji......enji maksud nya" Dimas kicep melihat siapa yang menaboknya. Dasar guru laknat maki Dimas dalam hati, sambil mengusap-usap kepalanya.
"Anak kecil dilarang berbicara ranah 21+" ujar Jovan datar.
__ADS_1
"Ini punyamu yang?"
"Pengajar dan murid tidak diperkenankan menjalin affair" cetus Dimas memancing masalah. Jovan mendelik sebal. Sudah bukan rahasia lagi, jika hubungan nya dengan Joi sudah terendus pihak sekolah. Namun karena Jovan adalah pemilik sekolah tersebut, maka semuanya aman terkendali.
"Mau? aku tiba-tiba pengen aja, tapi enaknya cuma nyium aromanya. Tidak pengen makan, mau, makan gih, aku suapin yaa." Jovan speechless melihat sikap Joi yang seminggu belakangan ini begitu berbeda. Gadis kecil nya itu begitu menyukai dapur, sehingga Jovan harus selalu siap sedia isi kulkasnya.
"Boleh yang, suapin aku. Aku juga tiba-tiba pengen banget makan mie goreng. Kita sehati sejiwa rupanya" ujar Jovan mengundang decihan Dimas.
"Tidak seraga sekalian pak?"
"Diem tidak, alamat mondok dikelas dua lagi ini kayanya." Ancam Jovan sebagai jurus andalannya, jika ingin menekan remaja itu.
"Andalan banget, tidak ada ancaman lain apa" Gerutu Dimas tak terima selalu diancam dengan ancaman yang sama.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Suara teriakan histeris terdengar riuh didepan papan pengumuman sekolah. Anak-anak bersorak gembira karena mereka dinyatakan move ke kelas XII.
"Akhirnya, aku senang banget liat raportku mulai sekarang" celetuk Dimas memecahkan suasana haru biru.
"Kenapa?" tanya Iren dan Joi bersamaan dahi keduanya mengerut dalam.
"Nih, nilai fisika aku. Agak manusiawi untuk dilihat" cengir nya tanpa dosa.
"Kirain apa" ujar Iren kesal, pasalnya dia kelas IPS, jadi tidak akan paham, betapa sulit nya, hanya untuk mendapatkan nilai 7 mata pelajaran tersebut.
"Nilai fisika mu berapa?" Dimas meraih raport Joi tanpa permisi.
"Woww nona! lihatlah, benar-benar definisi kekasih idaman" mata Dimas melotot, melihat angka 9 tertera di baris mata pelajaran fisika pada raport Joi.
__ADS_1
"Enak aja. Aku belajar ini sampai nangis-nangis Bombay tau tidak. Stress berat adek bang, berasa semua yang aku baca itu, rumuusss semua. Stress tidak kalau begitu" oceh Joi tak terima dikira nilainya hasil kemurahan hati sang kekasih, nyatanya, dia harus mati-matian belajar rumus-rumus tersebut hingga berurai air mata.