
Angga memarkirkan mobil dengan asal, dia ingin cepat mengetahui apakah benar jika wanita itu sedang hamil atau tidak. Dia bergegas memasuki UGD rumah sakit tersebut, sebelum dia masuk kedalam dia terlebih dahulu menanyakan nya ke loket yang ada di depan UGD tersebut.
"Permisi, mbak. Apa ada pasien atas nama Lusi Andara? Pasien pendarahan." Tanya Angga pada dua orang wanita yang ada di loket tersebut.
"Sebentar pak, saya cek dulu." Ujar wanita itu sambil mencari data yang ada di komputer nya.
"Ada pak, silahkan. Pasien belum di pindahkan karna belum ada yang mengurus administrasi nya. Lewat sebelah sana, pak. Istri nya ada di dalam." Ucap wanita itu lagi, yang di kiranya Angga adalah suami dari pasien yang ada di dalam.
Angga mendengus pelan mendengar ucapan wanita itu, jika wanita yang di maksud itu, adalah Sarah dia pasti akan sangat senang mendengar nya. Sayangnya bukan, wanita itu adalah orang yang baru semalam dia hempas kan dari hidupnya. Berani-beraninya wanita itu bermain api di belakangnya.
__ADS_1
Itulah alasan kenapa dia tidak ingin kehilangan Sarah, wanita setia yang meski sudah di perlakukan sedemikian rupa, menyakitkan. Namun tidak pernah sekalipun menghianati nya. Meski awalnya, dia menjadikan wanita itu hanya sebagai pelarian, dari rencana perjodohan ibu nya. Namun kini dia semakin menyadari kehadiran Sarah dalam hidupnya, telah memberinya banyak warna. Dia hanya tidak ingin mengakui perasaannya, namun sekarang dia ingin Sarah tau, bahwa dia sangat mencintai wanita itu.
Klek.. "Permisi saya keluarga dari pasien Lusi Andara." Ucap Angga pada perawat yang sedang berada di ruangan tersebut.
"Sebelah sini pak." Perawat itu lalu membuka tirai yang menutup brankar milik Lusi. Terlihat wanita itu nampak begitu pucat, mata nya sedikit terbuka karna silau cahaya di ruangan itu.
"Mas?".. Ucap wanita itu lemah saat Angga berada di dekat nya. Terlihat ada luka lebam di wajahnya dan bekas cakaran kuku. Angga yakin, wanita itu pasti habis di labrak, oleh istri pria tua yang kemaren malam di lihat oleh nya di hotel itu.
"Harus nya, kalau kamu tau kamu lagi hamil anak aku. Kamu nggak akan melakukan hal serendah itu, apa kamu nggak cukup dapat apa yang kamu mau dari aku selama ini. Bahkan Sarah saja cuma aku nafkahi 15juta perbulan, kamu bisa menghabiskan uangku setengah miliar dalam sebulan. Dasar perempuan tamak, sekarang kena akibat nya kan." Oceh pria itu dengan rahang mengeras, dia menahan emosinya jangan sampai dia menambah luka pada tubuh wanita ****** itu.
__ADS_1
"Ini juga karna kamu mas, kamu nggak bisa tegas. Harus nya kamu nikahin aku, bukannya hanya menikmati tubuhku saja. Aku bisa ngasih kamu anak, nggak seperti wanita mandul itu." Ujar Lusi tak mau kalah.
"Jangan berani ngatain Sarah dengan mulut kotor kamu itu, aku datang hanya ingin memastikan, anak siapa yang kamu kandung itu. Jadi jangan GR kamu." Ucap Angga dengan suara mendesis menahan emosi, andai saja tidak di rumah sakit, bisa dipastikan, dia akan menambah luka lebam di wajah wanita itu.
"Asal kamu tau, aku tidak akan menceraikan Sarah, ada atau tidak nya anak diantara kami. Aku baru sadar sekarang, kamu tidak lebih dari seorang ******, wajar saja aku sering datang padamu untuk dipuaskan. Bukankah sudah seharusnya begitu, memuaskan pelanggan adalah keahlian mu dan jangan lupa, berapa banyak uang ku kamu kuras selama satu tahun ini." Angga menatap tajam, wanita yang terbaring lemah didepannya, namun masih memiliki nyali untuk menghina istri nya.
"Lalu apartemen itu, mobil kamu, belum lagi semua hal yang kamu minta, di luar batas kewajaran seorang ****** yang bermimpi menjadi seorang nyonya." Kata-kata sadis itu, meluncur bebas tanpa hambatan dari mulut Angga.
"Tega kamu, mas. Setelah semua yang aku berikan sama kamu." Ucap wanita mengiba, dia tidak ingin sampai Angga meninggalkan.
__ADS_1
"Memangnya apa yang sudah kamu kasih sama aku. Bukannya kamu yang selama ini morotin aku. Jangan lupa, kamu aku tiduri sudah tidak perawan, entah aku pria ke berapa mu. Jangan ngaco kalo ngomong." Lagi-lagi pria itu begitu lancar, bermain dengan kata-kata yang menyakitkan untuk di dengar oleh lawan bicaranya.