
"Non Sarah selama disini, seperti nya suka sekali duduk disini?" Tanya bi Ninik pada Sarah, yang sedang duduk menghadap hamparan sawah, yang berada tak jauh di bawah villa yang dia tinggali.
Sudah 2 bulan ini Sarah berada di desa itu, setelah sebelumnya tinggal di villa milik Angga. Kejadian menakut itu masih segar diingatan Sarah, bagaiman dirinya berhasil ditemukan, oleh orang-orang suruhan Prayoga dan juga Reegan.
Dia masih ingat dengan jelas, apa yang Reegan katakan pada dokter yang mereka percaya kan, untuk menggugurkan kandungannya.
Flashback
Dor dor dor...
"Non Sarah bangun non, kita diserang. Ini cardigan nya sudah bibi siapin, ayo sambil jalan aja pakainya." Ucap wanita paruh baya itu terlihat sangat panik
"Bik ini ada apa? Kenapa buru-buru sekali?" Sarah masih belum tersadar sepenuhnya, dia terbangun karna bi Ninik menggoncang keras bahunya.
"Kita diserang non, itu non dengar suara-suara itu. Kita lewat belakang ada Rojak sudah nunggu, ayo buruan, pelan-pelan. Angkat kakinya non." Bi ninik tanpa sadar sudah memerintah majikannya, namun mereka memang harus bergerak cepat.
Bi Ninik membantu Sarah, untuk keluar lewat salah satu jendela yang sudah pecah terkena tembakan.
"Non, awas kaca." Bisik wanita paruh baya itu.
"Ya, ini kita kemana lagi?" Mereka susah sampai ditempat yang diperintahkan oleh Rojak, namun pria bertato itu tidak ada disana.
Bi Ninik mulai panik, teringat pesan Rojak padanya, bila dia tidak ada disana artinya dia tidak dalam keadaan baik, maka bi Ninik harus bisa bergerak sendiri untuk menyelamatkan nona muda mereka.
"Ayah gimana bik?" Sarah sampai lupa bertanya soal ayahnya.
__ADS_1
"Tuan Adnan tadi sudah lewat depan keluar duluan dengan Andro dan bahtiar. Tadi bibi di suruh bawa non sama si Rojak." Jelas bi Ninik lancar jaya, padahal dirinya saat ini sedang panik luar biasa, terakhir yang dia lihat tuan nya itu tertembak di bagian perutnya, namun tidak mungkin dia mengatakan itu pada Sarah sekarang.
Dorr dorr doorr...
"Bii.." Pekik Sarah kaget sekaligus takut.
"Non, jangan teriak. Kita tunggu si Rojak disini dulu, non nunduk di semak-semak ini, bibi akan masuk ke dalam. Mungkin akan ada orang-orang kita yang bisa membawa non keluar dari sini, telpon dan listrik sudah diputuskan oleh orang-orang Prayoga. Ponsel bibi tertinggal dikamar. ponsel non Sarah juga ya, nanti bibi ambil. Duduk diam, perhatikan wajah orang-orang yang datang, jika ragu jangan keluar. Bibi masuk ya." Wanita paruh baya itu lalu masuk, melalui jendela yang tadi mereka lewati.
Sarah benar-benar ketakutan sekarang, suasana malam yang dingin dan gelap disekitar villa, membuatnya merinding.
Kreekk..
"Ck lo gimana sih, pake mijak kaleng segala." Suara asing itu semakin menambah ketakutan Sarah.
"Gak sengaja gua, tadi si pembantu itu datang dari arah jendela rusak ini, berarti wanita yang kita cari juga pasti gak jauh dari sini." Timpal teman satunya.
"Kesamping sono yuk, disini gelap banget, serem gua." Ujar pria itu lagi.
"Halah, preman takut setan. Yang ada setan langsung tobat liat tampang buluk lo." Keduanya tertawa, seolah apa yang dikatakan oleh teman nya ,adalah sesuatu yang lucu.
Sarah baru bisa bernapas lega, namun teringat percakapan kedua orang tadi, Sarah yakin bi Ninik pasti sudah tertangkap. Kini dia harus bisa mengandalkan dirinya sendiri, ayahnya pun dia tidak tau bagaimana kondisi nya. Semoga saja sang ayah berhasil lolos dari tempat ini doa Sarah.
Sarah mengendap-endap menyusuri pinggir semak-semak itu menuju halaman samping. Dari kaca besar itu, dapat dia lihat ayahnya yang terluka, Rojak, Andro, bi Ninik dan semua orang-orang yang bertugas menjaganya, telah tertangkap.
Sarah mengentikan langkahnya, dia ragu, antara harus tetap kabur atau menyerahkan diri. Bukankah mereka menginginkan dirinya, maka dia akan serahkan secara suka rela. Asal ayahnya bisa diselamatkan.
__ADS_1
Sarah mengambil batu sebesar genggaman tangan nya, lalu melempar pada kaca jendela itu hingga pecah. Membuat atensi semua orang, yang ada didalam sana teralih pada nya.
Dengan segenap hati dia memberanikan diri, untuk masuk kedalam rumah tersebut. Ayahnya sangat syok, dengan apa yang dilakukan oleh putri nya itu.
"Pergilah nak, mereka tidak akan melepaskan kan kita." Sisa-sisa tenaganya sang ayah merangkak menuju arah Sarah, namun yang dia dapatkan malah sebuah tendangan menyakit kan.
"Hentikan!" Sarah berteriak histeris melihat perut dan mulut sang ayah, yang sudah banyak mengeluarkan darah.
"Hentikan, aku mohon. Bawa aku pergi, lepaskan mereka. Atau bisa ku pastikan, video pembunuhan yang dilakukan olen tuan Prayoga, akan tersebar luas dalam dua jam ke depan, jika kalian tidak melepaskan ayah ku." Ucap Sarah penuh keyakinan, ditengah rasa takut yang menerpanya.
Pak Adnan sangat kaget mendengar nya, bagaimana bisa Sarah mengetahui tentang video itu. Yang bahkan dirinya saja, tidak tau dimana semua barang bukti itu berada.
"Atas dasar apa kamu berbicara seperti itu, kami bukan preman kampung, yang bisa kamu gertak dengan ancaman murahan seperti itu." Balas seorang pria yang berdiri tepat didepan Sarah, dari penampilan nya, sudah bisa Sarah pastikan, dia bukan preman ecek-ecek. Bisa jadi seorang pembunuh bayaran, sekelas mafia.
"Apa yang aku katakan itu benar adanya, jika anda tidak percaya itu hak anda tuan. Seorang temanku menyimpan nya, jika dalam waktu dua jam dia tidak mendapatkan kabar tentang keadaan ku. Maka nasib tuan mu, selesai!" Sarah sudah terlanjur berada diposisi yang tidak bisa berlari lagi, dia sudah lelah. Akan dia hadapi sendiri, bukankah masalah ini berakar dari sang ayah, yang mengetahui semua rahasia keji para manusia jahanam itu.
"Katakan padaku satu hal saja tentang isi barang bukti itu, maka akan aku pertimbangan nasib orang-orang ini termasuk ayahmu." Benar dugaan Sarah, pria itu bukan orang yang bisa dibodohi dengan mudah.
"Pembunuhan tiga orang penting di negara ini, 15 tahun yang lalu, 07 April 2007. Desa Pelagit, Villa Andora." Entah ingatan itu benar atau tidak, setidaknya dia sudah berusaha.
Pria itu nampak berpikir, lalu menghubungi seseorang dengan bahasa asing, dan entah bagaimana caranya, Sarah bisa memahami bahasa tersebut. Dia bahkan tidak pernah mempelajari nya.
"Baik, ayahmu akan dan orang-orang yang masih bernafas ini, akan ku bebaskan seperti yang kukatakan tadi, Sekarang ikut dengan kami, orang ku akan mengurus mereka semua." Ujar pria dengan nada memerintah, membuat jiwa pemberontak Sarah tidak terima.
"Aku akan Pastikan sendiri, ayah ku diberi pertolongan sebelum aku pergi. Pertama pindahkan ayahku ketempat yang nyaman untuknya, kedua, buka semua ikatan mereka, ketiga, berikan kunci mobil dan pastikan mobil itu dalam keadaan baik, terakhir, beri pria itu senjata mu, cukup dengan 2 peluru saja. Maka Aku akan pergi bersama mu dengan suka rela." Balas Sarah dengan suara yang tidak kalah datar.
__ADS_1
"Berani-beraninya kau...!!"