Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XIX


__ADS_3

Suasana di meja itu menjadi begitu canggung, belum ada seorang pun yang memulai untuk membuka suara.


Nasehat seorang, Reegan. Mampu membuat mereka semua bungkam. Pria yang begitu jarang terlibat obrolan tak berarti itu, begitu di segani oleh para sahabatnya. Karena setiap kali kata-kata yang keluar dari mulut nya, selalu memiliki seribu makna yang wajib untuk mereka renungi.


"Ehmmm..." Bintang berdehem pelan, dia orang yang paling tidak suka jika berada di tengah suasana canggung.


"Eh, kalian pada inget nggak...."


"Nggak!!" Seru ketiga sahabat itu memotong kalimat, Bintang.


"Ck, rese lo pada." Bintang bercak kesal.


"Gue lanjut nggak ni, ceritanya?"..


"Nggak usah, udah sore. Mau pulang, gue janji mau ke rumah cewek gue tar malem. Pengen gue ajak jajan martabak telor sama sate madura." Ucap Revan pada sahabatnya.

__ADS_1


"Ck, pelit amat lo. Usah mau married juga, pacaran jangan terlalu ngirit. Di tinggal Nabila kabur, baru lo nyahok." Celetuk bintang.


"Gua bukannya pelit...."


"Gue cuma realistis." Potong Bintang lagi, sambil terkekeh.


"Lo belum tau aja, Nabila gimana. Ulang tahun nya kemaren aja, gue beliin Ferrari GTC4Lusso T. Gue malah di omelin seharian, udah puas ngomelin gue. Eh mobil nya malah di suruh jual lagi, luamayan buat nambah tabungan masa depan kalo udah punya anak, gitu kata nya." Revan bercerita sembil tersenyum geli, dengan sifat sederhana yang di miliki oleh kekasih nya itu. Sungguh dia pria yang beruntung, pikir nya.


Derit kursi bergeser mengalih kan perhatian mereka, ternyata Reegan yang berdiri dari kursi nya lalu menatap para sahabat nya. "Gue balik duluan, ini yang bayarin hari ini, Bastian. Masih kaya dulu, sesuai urutan nama. Pertemuan berikut nya, Bintang, abis itu gue dan terakhir lo, Van" Ujar Reegan panjang lebar.


Seakan paham arti tatapan datar, Reegan. Kedua pria itu langsung saling menatap.


"Gue minta maaf." Ucap kedua nya serempak. Lalu sama-sama terdiam.


"Gue minta maaf, kalau kata-kata gue buat lo nggak nyaman. Gue nggak bermaksud buat ikut campur urusan percintaan lo, gua hanya nggak suka kalau sahabat gue dimanfaatin oleh orang lain. Nggak peduli itu pacar atau bahkan istri." Revan menjeda ucapannya lalu menghela napas pelan.

__ADS_1


"Gue sayang sama lo, kalian semua. Jadi gue merasa, perlu mengingat kan ketika salah satu dari kita keluar dari jalur. Mencintai seseorang sewajarnya, bukan berarti lo main-main. Hanya untuk mengingatkan, jangan menghabiskan semua cinta yang lo punya sampe nggak ada celah lagi untuk berpikir realistis."


Bastian terdiam,berusaha mencerna semua yang Revan katakan. Dia sadar betul, jika selama ini,.Mona tidak pernah mengatakan cinta kepadanya, atau hanya sekedar membalas ucapan cinta yang sering dia katakan. Wanita itu hanya menjawab "ya gue udah tau, diem bosen gue denger itu mulu", selalu seperti itu. Namun Bastian tidak pernah mengambil hati dengan ucapan itu, bagi nya cukup Mona ada di samping nya, itu bukan masalah. Di berpikir, Mona bukan lah tipe wanita yang suka mengumbar perasaan yang di rasakan, berbeda dengan dirinya, itu yang dia pikirkan selama ini.


"Gue juga minta maaf, Van. Gue tau maksud lo baik, hanya saja menerima fakta kalo Mona hanya manfaatin gue. Itu jauh dari ekspektasi gue, gue berharap Mona bisa menjadi wanita terakhir gue, untuk itu gue rela ngelakuin apa aja buat dia, asal kan kita bisa tetap bersama." Bastian hanya tidak suka bergonta ganti pasangan, bagi nya cukup Mona setia pada nya, dia tidak menuntut yang apa pun lagi. Mungkin setelah mereka menikah, Mona bisa sedikit berubah, begitu lah yang selalu di harapkan selama ini.


"Soal mobil itu, kalo lo emang merasa berlebihan, gue akan batalin. Mungkin lo benar, gue harus belajar tegas pada Mona, pada hubungan kami. Untuk itu, gue mohon bantuan kalian buat nolongin gue, sesuai kesepakatan kita tadi. Sekali lagi gue minta maaf sama lo Van, gue udah bentak lo, gue nggak maksud begitu. Gue hanya refleks, ucapan spontan karna ngerasa lo keterlaluan menilai cewek gue." Bastian menatap Revan dengan tatapan penuh penyesalan dan rasa bersalah.


"Berpelukaann" Suara si biang kerok, Bintang tujuh masuk angin, tiba-tiba membuyarkan suasana haru yang tengah berlangsung.


" Ck, dasar perusak suasana." Ucap Revan seraya menghapus sudut matanya.


Bukan Bintang namanya jika tak membuat kekacauan. "Sini, peluk adek, abang-abang sayang." Bintang masih dengan kedua tangan yang di rentangkan.


ketiga sahabat itu saling menatap, lalu beranjak dari tempat duduk masing-masing, untuk menghampiri si bungsu mereka itu dan saling memeluk. Begitulah mereka, jika salah satu diantara mereka terlibat masalah dengan orang lain, mereka semua nya akan turun tangan, begitupun jika mereka berselisih paham satu sama lain. Masalah harus selesai saat itu juga. Persahabatan yang mereka jalin sejak di taman kanak-kanak itu, tidak boleh sampai retak hanya karna salah paham apalagi karena seorang perempuan.

__ADS_1


Disaat seperti inilah, Peran Reegan sangat di butuh kan jika sudah berada di kondisi yang tidak kondusif itu, karna hanya dengan satu dua kalimat nya, mampu membuat semua personil ayam sambal itu kicep.


__ADS_2