Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
(Kiddos of Jovan-Joi)


__ADS_3

"Hai bro! Sorry, sedikit telat" ujar Zero cengengesan, lalu menggeser kursi di hadapan nya.


"Ck! kebiasaan!" gerutu Jovan sebal. "Aku sudah nunggu hampir setengah jam, apa kau pikir waktu ku tidak berharga?" Oceh Jovan menatap Zero dengan tatapan jengkel.


"Cih! selalu saja sombong. Lalu kau pikir waktu ku tidak berharga, begitu? Enak saja! Aku terlambat karena harus memastikan, jika istri cantikku berada dalam radar aman, baru batinku tenang." Jovan mencibir, memangnya dia pikir istri nya saja yang harus selalu di awasi.


"Aku sudah pesan makanan, kau pesan saja sendiri" ketus Jovan lalu menyendok makanannya tanpa peduli wajah berlipat Zero.


"Kau ini! benar-benar ipar laknat. Harusnya kau memesankan ku juga tadi, perhitungan sekali." Zero mengangkat tangannya untuk memanggil waitress.


Kedua pria itu tengah sibuk membahas masalah pekerjaan masing-masing, namun terganggu oleh kehadiran seorang wanita.


"Zero? astagaa! ini kau?" Zero menatap sekilas dengan tatapan malas, lalu kembali melanjutkan makannya tanpa menjawab apapun.


"Aku duduk di sini ya?" tanpa tau malu Wanita itu duduk di kursi kosong dimeja tersebut, Jovan mulai merasa terganggu.


Pria itu menghentikan makannya lalu menoleh ke arah wanita tak tau malu itu. "Apa hanya kursi di sini aja yang kosong? kau bisa duduk di mana saja asal tidak di sini, nona!" tegas Jovan sedikit menaikkan volume suara nya tanpa peduli tatapan aneh orang-orang di sana.


Wanita itu terkesiap namun tidak dengan Zero, dia tau seberapa akut kebucinan pria di hadapannya itu. Sehingga tidak akan membiarkan satu ekor lalat pun hinggap di dekat nya.


"A..a.ku hanya ingin duduk di sini bersama temanku saja, jika kau tidak suka kau bisa pindah ke meja lain!" tantangnya dengan suara bergetar takut namun juga tidak rela jika harga diri nya direndahkan di depan umum.


Zero hampir saja tersedak makanan nya, lalu menatap tajam pada wanita yang mengaku sebagai teman nya itu.


"Kau ini cari mati apa bagaimana? siapa yang kau sebut temanmu, hah?!" ucap Zero tak terima. Bisa tamat riwayatnya jika mulut tajam Jovan sampai mengadu pada sang istri.


"Ro? kita memang teman, kan? kau takut dengan nya?" sinis si wanita tanpa tau siapa Jovan sebenarnya.

__ADS_1


"Aku tidak takut dengannya, untuk apa aku takut. Pertama aku berteman dengan kakakmu, bukan kau! Kedua pria di depanku ini adalah adik iparku, dan aku tidak takut padanya. Hanya saja, aku tidak suka kau duduk disini sama seperti nya. Kami ini ikatan para suami yang takut pada istri. Apa kau paham sekarang!?" Ujar Zero menggebu-gebu tanpa merasa malu sedikit pun. Jovan pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Kedua pria bucin itu tampak begitu kompak, dalam menghalau setiap lalat yang akan mengacaukan ketentraman rumah tangga mereka.


"Kau dengar, nona? kami ini para pria beristri, dan kami sangat mencintai istri kami. Jadi jangan berharap ada celah untuk wanita-wanita seperti mu, untuk masuk dalam keharmonisan rumah tangga kami. Pergilah jika kau masih ingat malu" Tukas Jovan tanpa menoleh sedikit pun, intonasi suara nya sengaja di perbesar. Kedua pria bucin akut itu kembali melanjutkan makan yang sempat tertunda, akibat serangan lalat gatal.


Wanita itu mengeram kesal lalu berbalik pergi dari sana membawa hati yang merasa terhina. Dalam hati nya, dia merancang akan membalas perbuatan kedua pria tersebut, yang telah mempermalukan dirinya di depan umum.


"Astaga kenyangnya.." Zero sampai bersendawa ria tanpa peduli pengunjung lain, yang menatap jengah melihat kelakuan nya.


"Bisa tidak kau jangan bersendawa begitu? menyebalkan!" ketus Jovan yang rupanya masih terbawa emosi akibat kejadian tadi.


Zero berdecak melihat reaksi sahabat nya itu, "kau ini, aku hanya sedang berusaha mengapresiasi rasa nikmat dari makanan yang aku makan. Artinya, aku kenyang maksimal, dan makanan nya tandas tak bersisa. Mereka pasti senang, melihat pengunjung restoran seperti ku, yang tau cara menghargai kerja keras orang yang sudah memasak nya." Bela Zero berkelit seperti biasanya.


Jovan berdecih mendengar alasan klasik yang selalu menjadi alasan paten Zero, sang kakak ipar. Kakak ipar? bahkan usia Zero lebih muda dari nya dua tahun. Namun pria itu selalu bangga memperkenalkan diri nya, sebagai orang yang lebih tua dari Jovan. Jovan pun tak masalah, dia selalu senang melihat keharmonisan keluarga mereka. Meskipun tidak lah mudah untuk mencapai hingga ke titik ini. Banyak rintangan dan ujian yang harus mereka lewati.


"Sudah?" Pertanyaan Jovan membuat perhatian Zero teralihkan dari benda pipih di tangannya.


"Oh? sudah sudah, ayo. Ini yang bayar aku?" tanyanya menunjukkan dirinya sebelum beranjak dari kursinya. Selalu seperti itu, setiap mereka makan selalu ada pertanyaan rutin.


"Oke! Aku duluan, mau ada meeting, setelah meeting aku mau langsung pulang. Kangen istri cantikku" ujar Zero mesem-mesem tidak jelas. Istri nya di rumah saja masih membuat jiwa pencemburu Zero ketar ketir, apa kabar jika istri nya juga bekerja seperti Joi. Bisa-bisa pria itu akan lebih sibuk mengekori istri nya kemana-mana ketimbang duduk dibalik meja kerjanya sendiri.


Jovan hanya menggeleng, mau mengomentari? dia ingat dirinya yang sebelas dua belas, maka diapun hanya bisa diam tanpa menanggapi apapun.


"Langsung ke kantor, jangan mampir cari penyakit" peringatan Jovan membuat mata elang Zero mendelik tak suka.


"Aku tidak begitu ya, yang kemarin hanya salah paham. Dan sudah selesai. Udah ah, aku pergi duluan." Seperginya Zero, Jovan menuju kasir untuk membayar sekaligus mengambil pesanan take away untuk sang istri tercinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Tok tok tok


Klek


Jovan menyembulkan kepalanya dari balik pintu, seperti seorang pencuri yang tengah mengamati situasi.


"Sibuk yang? eh? ada tamu. Aku masuk tidak nih?" ujar Jovan basa basi, ada tamu atau tidak diapun akan tetap masuk.


"Masuk di, ini udah kelar juga. Pak Endrew, perkenalkan, ini suamiku. Sayang, ini pak Endrew yang aku ceritakan kemarin." Ujar Joi menjelaskan dengan santai.


"Wah! aku tidak menyangka jika ibu Joi sampai repot-repot membahas tentang ku di sela senggang nya di rumah. Aku merasa sangat tersanjung" sambung Endrew penuh makna. Kemudian menyalami Jovan yang sudah menampilkan wajah tak bersahabat nya.


"Istri ku memang sebaik itu, pak Endrew. Aku tidak heran. Setiap kali membahas kasus baru, istri cantikku ini selalu mendiskusikan nya dengan ku. Suami istri yang baik memang harus saling bahu membahu, bukan? Benar begitu pak Endrew?" Ujar Jovan tersenyum senang melihat raut wajah Endrew yang berubah masam.


'Kena kau! siapa suruh berani mendekati istri ku dengan cara licik ini. Kau pikir kau ini hebat? istri ku hanya mengagumi kejantanan ku saja asal kau tau' Jovan mendumel dalam hatinya saat melihat mata elang Endrew yang menatap istrinya dengan tatapan penuh damba.


"Kalau begitu saya pamit dulu ibu Joi, lain kali kita akan membahas masalah ini lagi. Mungkin sambil makan siang bersama supaya lebih santai, saya yakin pak Jovan pasti akan mengerti. Benar begitu kan, pak Jovan?" Ujar Endrew tersenyum licik. Dia berusaha memprovokasi pikiran Jovan agar terlihat lemah didepan istri nya. Tidak tau saja Endrew, jika Jovan memang selalu lemah pada istri nya.


"Tentu saja, lain kali akan aku temani. Istri ku ini selalu tidak suka jika menemui klien di luar tanpa aku temani. Benar kan, yang?" Joi tersenyum melihat kedua pria di depannya saling melempar bom.


"Benar tuan Endrew, aku tidak terbiasa bertemu klien di luar tanpa ditemani suami tercinta ku ini." Joi menekan kata suami tercinta agar Endrew segera memahami situasi dan enyah dari sana secepat mungkin.


Raut wajah Endrew semakin masam, niat hati ingin membuat bucin gila itu cemburu dan berujung bertengkar dengan istri nya. Malah dirinya sendiri yang terjebak situasi tak mengenakkan. Dimana Jovan malah mencium kening sang istri tepat di hadapan Endrew.


Sebelum kepalanya keluar asap, Endrew memilih segera hengkang dari sana.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Senang berkenalan dengan anda, tuan Jovan. Permisi" Endrew bergumam tak jelas saat sudah berada di luar ruangan Joi. Membuat sekretaris Joi yang memiliki jiwa kepo maksimal memasang telinga tajam nya dengan baik.

__ADS_1


"Hei! kau kenapa sampai termiring-miring begitu? kurang kerjaan sekali!" ketus Endrew kesal melihat tingkah sang sekretaris yang menyebalkan.


"Kenapa dia yang marah-marah? aku kan cuma penasaran, makanya kalau ngomong jangan kumur-kumur, aku kan jadi tidak jelas mendengar nya." Omel Luvi sambil menghentakkan pena nya di atas meja.


__ADS_2