
"Gak gitu mi, aku gak akan bongkar makam siapa pun. Aku hanya ingin mami pulang dan ketemu sama papi, apa mami gak kangen sama papi? Sama Asha? sama yang lain juga? Mereka semua kangen mami, kecuali Asha. Ingatan nya masih belum kembali. Tapi Daniel yakin, kalo udah ketemu sama mami, pasti dia akan sangat senang. Bisa bertemu dengan wanita yang menyayangi nya melebihi menyayangi anak kandung sendiri." Daniel sudah tidak sabar, dia akan mengatakan perlahan namum dapat di pahami oleh ibunya dengan cepat.
"Maksud mu itu gimana sih, nak. Ya jelas mami kangen sama mereka semua, sama papi apalagi. Jangan kamu anggap mami yang tidak pernah mengunjungi makam papi kamu, mami udah melupakan papi. Gak, Daniel gak." Sinta malah semakin terisak, dan kini bahkan sampai sesegukan. Daniel jadi merasa bersalah karena nya.
"Maaf mi, bukan itu maksud Daniel. Daniel hanya ingin bilang, jika papi, Kira yang Daniel panggil Asha, dan juga yang lain. Masih hidup, mereka baru bangun dari koma 6 bulan yang lalu, daddy Bastian yang lebih dulu sadar 7 bulan yang lalu. Aku harap mami bisa mendengar apa yang baru saja Daniel sampai kan." Daniel menghela nafas lega, dia hanya perlu menunggu reaksi sang ibu saja sekarang.
"Ka mu sehat, nak? Kenapa kamu jadi ngelantur gini sih ngomong nya. Inilah kenapa mami gak setuju kamu balik ke sana, kamu pasti sedang depresi berat sekarang karena terlalu merindukan papi dan Kira." Kini hilang sudah rasa bersalah nya pada sang ibu, berganti dengan rasa geram akibat wanita itu malah mengira dirinya tengah depresi berat.
"Mi, di rumah ada siapa aja. Kasih hp mami, aku mau ngomong. Nanti bisa-bisa aku beneran depresi karena kelakuan mami." Daniel berucap sedikit kesal, namun tak jua marah. Bagaimana bisa marah, orang dia sayang benget ini.
"Ada, tar itu kakak kamu baru pulang joging. Kamu memang harus berbicara dengan kakakmu nak, berbagi lah bila ada masalah jangan di pendam sendiri. Gak baik. Nih kamu ngomong sama kak Dean ya." Daniel hanya mendengus kesal, masih saja di kira depresi oleh sang ibu.
Setelah menunggu hampir satu menit, akhirnya Dean yang berbicara di ujung telpon tersebut.
"Hallo Dan, kamu apa kabar?" Dean berbasa-basi dengan menanyakan kabar sang adik.
"Baik kak, kakak gimana? Dena sama Deryl gimana, sehat?"
"Baik, mereka semu baik. Kakak ipar mu juga baik, cuma suka merengek minta pulang." Dean terkekeh mengingat sang istri, yang sudah acap kali meminta mereka kembali meski hanya sekedar berlibur saja.
__ADS_1
"Ya pulang lah kak. Kasian kak Dewi, pasti kangen orang tuanya. Begitupun sebaliknya. Lagian aku mau menikah bulan depan, pulanglah, bantu aku mempersiapkan segalanya di sini. Masa aku nikah cuma ada papi yang mendampingi, ayah Reegan pasti tersinggung dan sedih." Ujar Daniel mencoba menego sang kakak.
"Ternyata benar kata mami, kamu udah mulai depresi karena kelamaan di sana. Pulanglah Dan, di sini rumah kamu sekarang. Jangan buat mami makin sedih dengan sikap keras kepala kamu ini. Hanya mami yang kita punya, jangan menambah beban luka di hatinya lagi." Ternyata sang ibu sudah mengatakan tentang apa yang dia katakan tadi pada kakaknya. Terbukti dari nasihat sang kakak yang malah membuat Daniel depresi benaran jika begini.
"Kak, aku serius. Aku mau nikah sama anak ayah Reegan. Kira, yang sekarang jadi Asha. Kalian semua harus pulang, aku gak mau tau." Ujar Daniel semakin frustasi.
"Daniel, kamu jangan gila. Bagaimana bisa kamu bilang akan menikah dengan orang yang sudah tidak ada, hah. Otak kamu itu sudah rusak apa gimana." Seru Dean dengan suara tinggi. Dia kesal bukan main dengan kegilaan sang adik.
"Aku serius kak, ak....."
"Hallo nak, ini papi. Kamu apa kabar, hmmm?"
"Nak? Dean? Kamu dengar papi gak?" Kembali Bintang mengulang pertanyaan yang berbeda.
"Pa pi... Benarkah.. bagaimana bisa.." Dean sampai tersungkur di lantai dengan air mata yang luruh begitu saja. Pria itu tergugu dalam tangisnya, bahunya bergetar hebat.
"Sayang kamu kenapa hmmm? Apa Daniel marah karena kita tidak mau pulang. Sini biar mami yang ngomong sama dia." terdengar suara wanita yang sangat Bintang rindukan di ujung telpon sana.
"Halo Dan, kenapa harus memarahi kakakmu begitu. Lihat sekarang, kakakmu sampai sesedih ini. Mami akan pulang kalau kamu mau tidak perlu berbicara kasar dengan menyakiti hati saudara mu sendiri." Sinta terisak pelan, dia menyayangi semua anaknya. Melihat mereka bertengkar, membuat nya sedih dan merasa bersalah.
__ADS_1
"Maaf, kalau aku sudah buat Dean sedih. Aku gak bermaksud begitu, aku hanya mengapa nya saja, aku ingin tau kabar anak sulung ku itu. Maaf." Bintang merasa bersalah telah membuat sang istri salah paham pada putra bungsunya.
"Pa ppi... I..ni be..nar su.ara papi?" Reaksi yang sama pun Sinta tunjukan di hadapan putra dan menantunya. Tangis wanita itu semakin keras. Benar kah itu suaminya, benarkah suaminya masih hidup.
"Ya, mi. Ini papi. Papi kangen kalian bertiga, pulang lah. Daniel akan menikah dengan Asha, putri kecil kesayangan kita, yang kita panggil Kira dulu. Setelah mami pulang akan papi ceritakan semuanya." Bintang Kembali bersuara di seberang telepon.
"pa..pi." Klik. Sinta mematikan sambungan telponnya. Lalu beralih ke panggilan video.
Tutt. Klik, tersambung
"Papiii." Sinta histeris melihat wajah yang sangat dia rindukan itu, begitu juga Dean. mereka seolah berebut untuk bisa melihat wajah Bintang dengan jelas.
"Papi kangen kalian, pulanglah." Bintang Kembali mengulang perkataan nya.
"Ya pi, ya. Mami bakal pulang, sekarang juga. Dewi kamu suruh pelayan mengemasi barang-barang mami, mami mau pulang hari ini juga. Cepat ya." Melihat sang istri yang begitu bersemangat, membuat hati Bintang menghangat. Dia sudah ketar ketir kan reaksi istri nya jika tau dirinya masih hidup.
"Papi lebih kurusan, apa papi gak bisa rawat diri selama gak ada mami. Liat itu, pipi papi tirus, tar mami pulang masakin papi makanan yang enak-enak dan sehat. Papi sabar ya, janggut papi nanti di cukur itu. Mami suka geli kalo papi sun jenggot nya ganggu. bla bla bla... " Wanita itu kembali ke tahap awalnya, cerewet dan penuh perhatian.
Sepanjang perjalanan, tidak sedikit pun Sinta mengalami mual, pusing apalagi muntah. Wanita itu senantiasa tersenyum tiada henti. Membuat Dean dan Doni yang sejak awal perjalanan tadi, mencemaskan kondisi ibu mereka yang gampang keringat dingin jika melakukan perjalanan. Kini bernapas lega, kini mereka bisa beristirahat Dengan tenang, tanpa harus bergantian menemani sang ibu membasuh wajah dan mulut akibat muntah. Bukannya tak suka atau jijik, namun rasa kasihan lebih mendominasi. Melihat wanita kesayangan mereka kelelahan dan berujung sakit berhari-hari, efek asam lambung yang melunjak.
__ADS_1