Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
(Kiddos of Jovan-Joi)


__ADS_3

Suara deruman motor Rick mengalihkan perhatian Jovan, pria itu tengah menemani sang istri menyiram tanaman.


"Dari mana bang?" tanya Joi lembut sambil menatap penampilan anak bujang nya.


"Abis antar teman, mi. Mimi tidak bosan, di intilin mulu kaya gini?" Rick melirik jengah ke arah sang ayah.


"Kecil-kecil, jangan punya cita-cita jadi provokator ya?" ujar Jovan memberikan peringatan tegas, mata nya menatap tajam pada sang anak yang kini tengah memeluk istrinya.


"Udah, ih. Masuk sana, mandi kalau belum, nanti makan malam adik-adik tolong di pawangi dulu ya, bang." Titah Joi selembut mungkin, dia tau putranya itu paling sebal, jika sudah menyangkut adiknya yang seramai pemain bola tersebut.


"Ya mi. Mimi cantik, cium abang dulu." Mata jovan melotot sempurna mendengar kalimat pujian anaknya, belum lagi sang anak yang mencium pipi istri dengan sayang. Selang sudah di arahkan pada putranya, namun melihat pelototan sang istri, Jovan urung meski harus menahan kesal dan cemburu.


"Dah didi.. Mimi wangi banget, kaya cake vanilla..pipinya lembut bingits!"Seru Rick berlari kecil menuju teras, sesampai nya disana, Rick berbalik dan menjulurkan lidahnya pada sang ayah. Membuat tanduk Jovan memanjang hingga puluhan meter.


"Anakmu loh itu, di. Cemburu didi akut parah, sumpah." Ujar Joi berdecak heran.


"Ck! tetap saja dia sudah dewasa, didi cemburu sama semua orang yang berjenis kelamin pria. Tidak peduli itu anak atau saudara, didi tutup mata. Tidak rela dan tidak suka. No komplen! Titik!" Joi menggeleng kepala nya miris. Suaminya itu benar-benar parah. Namun sayang nya, Joi sangat mencintai pria bucin gila tersebut.


"Ya sudah, ayo masuk. Kita cek personil kita di dalam. Bikin kekacauan apa lagi mereka kali ini." kekeh Joi merangkul mesra lengan kekar suaminya. Jika sudah begitu, maka semua rasa kesal Jovan akan lenyap seketika.


"Ini loh punya kakak" kukuh Lea tak mau kalah.

__ADS_1


"Punyaku kak, ini loh ada bekas spidolnya sengaja aku tandai. Noh, liat nih!" ujar Bern tak kalah ngotot.


Jovan sudah mulai menarik nafas dalam-dalam, pria itu hampir ke lupa cara menghembuskan nya kembali. Kelakuan anaknya yang begitu warna warni, membuat seisi kepala nya mulai terasa nano-nano.


Joi melepaskan gamitan nya dari lengan sang suami, kemudian menghampiri kedua anaknya yang sedang adu argumen. Joi yakin, sebentar lagi, keduanya akan adu otot. Mengingat kelakuan waww anak gadisnya itu, Joi harus segera bertindak.


"Coba sini, mimi lihat? kayanya bagus banget, sampe di rebut kan begitu." Tukas Joi menengadah kan telapak tangannya, ke tengah kedua calon petarung tersebut dengan senyum manisnya. Mau tak mau keduanya harus merelakan stip_x tersebut berakhir entah dimana lagi kali ini.


Kebiasaan Joi jika anak-anak nya mulai di luar kendali, dan memperebutkan barang-barang yang seharusnya tinggal di beli saja. Maka barang tersebut akan dia sita, dengan begitu maka masalah selesai. Keadilan bagi seluruh anak-anak Joi dan Jovan. Begitu lah bunyi pancakeadilan yang di buat oleh ibu pengacara tersebut. Joi tidak pernah ambil pusing dengan polah tingkah anak-anak nya. Hanya saja membiarkan mereka bergulat di hadapannya? big no! Joi selalu punya cara-cara unik, untuk mengikat hubungan persaudaraan anak-anak nya agar selalu utuh dan saling menyayangi.


"Sekarang, benda mati yang membuat anak-anak mimi adu vocal ini, akan mimi amankan. Mimi tidak suka ada satupun dari barang-barang kalian, yang bisa mengakibatkan rumah kita yang penuh cinta, dan damai sejahtera ini, sebagai arena debat dan adu urat." Joi menatap kedua anaknya bergantian, dengan tatapan yang selalu membuat para kurcaci rusuh di rumah itu takluk.


Jovan merangkul posesif pinggang sang istri, ketika melihat Bern mulai berbalik arah setelah memeluk saudarinya. Bern mencibir melihat kelakuan Jovan yang selalu cemburu tak tau tempat dan aturan tersebut.


"Jika aku jadi mimi, aku akan mencari pria yang sehat akal dan hatinya. Sama anak saja cemburu, huhh.. Untung ayah kandung, kalau ayah adopsi, sudah aku kembalikan ke panti jompo." Gerutu Bern, remaja 14 tahun tersebut mendumel tak karuan dengan hati kesal maksimal. Jika sang ayah sedang di rumah, maka kebebasan mereka untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian pada sang ibu. Tertangguh kan oleh sikap posesif akut ayah mereka tersebut.


Sementara mata Jovan melotot tak percaya, mendengar ucapan kejam sang anak.


"Didi belum tua ya, siapa yang mau kau antar ke panti jompo, heh?" suara Jovan mulai naik dua oktaf, pria itu sangat sensitif jika menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan usia. Ketakutan nya akan menjadi berlebihan, mengingat sang istri yang semakin glowing seperti porselen. Jiwa Jovan mulai meronta-ronta tak terima.


Bern ngeloyor pergi tanpa menjawab sang ayah, remaja itu memilih menulikan kedua telinganya dan membisukan satu mulut nya. Jika menjawab sang ayah, habis tahun pun, pria itu tetap tidak akan mau kalah.

__ADS_1


"Udah udah, didi temani mimi mandi yuk. Pengen di pijit plus-plus, nih." Ujar Joi menengahi perdebatan tak faedah tersebut. Suara sensual sang istri membuat urat tegang Jovan seketika melunak. Ketegangan nya berganti area di sudut tersembunyi, Jovan dengan semangat membara menggendong sang istri ke lantai atas. Kemudian menatap anak-anak nya dengan tatapan bangga. Seolah mengatakan, jika dirinya masihlah perkasa.


Keempat anak Jovan yang kebetulan sedang bertengger cantik di sofa dekat tangga, balas menatap sang ayah dengan tatapan mencibir.


"Didi makin hari penyakit tuanya semakin parah. Kasihan mimi, pasti jiwa raganya tertekan punya suami seperti didi." Celetuk Cora meringis miris menatap ke arah tangga. Remaja itu tengah meratapi nasib malang sang ibu, yang memiliki suami dengan tingkat keposesifan di luar nalar.


"Biar tua dan menyebalkan, pria bucin gila itu tetap ayah kita, terima saja dengan lapang dada dan ikhlas hati." Sela Rick yang baru keluar dari kamar nya. Rick memilih kamar di lantai bawah, bukannya apa-apa, jiwa jomblonya seakan dipermainkan oleh takdir jika masih menetap di lantai atas. Kemesraan orang tua nya yang tak tau waktu dan tempat, sering membuat jiwa jomblonya tertekan lahir batin.


Meskipun kamar kedua orang tuanya sudah dilengkapi peredam suara, namun jika penyakit bucin ayahnya kumat. Kadang pintu sering lupa di tutup dengan sempurna. Disaat itu lah, telinga suci Rick ternodai. Peran Rick bertambah, yaitu menutup sempurna pintu kamar kedua orang tuanya.


"Yahh! mau bagaimana lagi.." sambung Bram menimpali dengan pasrah. Si pecicilan itu memang lebih netral, jarang sekali bahkan hampir tak pernah terdengar adu mulut dengan sang ayah. Karena Bram selalu punya cara untuk mengatasi sikap posesif ayahnya tersebut. Jika menunjukkan kasih sayang dan perhatian di depan sang ayah akan menimbulkan masalah. Maka kalau di belakang, akan lebih aman. Begitulah pikiran nya. Jika kebetulan ayahnya tidak di rumah, maka Bram akan berpuas-puas hati untuk bermanja ria dengan sang ibu.


Anak-anak Joi tersebut selalu bangga, memamerkan kedekatan mereka dengan sang ibu di medsos masing-masing. Memiliki ibu yang paras dan penampilan nya seperti anak kuliahan, merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Kalau ada yang nanya kok yang di bahas tentang mereka-mereka aja? ya jelaslah, tsaaayyy! Kan memang ekstra part nya khusus cerita tentang Jovan dan anak-anak nya, Delia Zero menjadi pemanisnya dalam cerita ini.


Jadi, begitu lah para Readers ku terkasih.


Jangan lupa ketik-ketik di kolom komentar yaa, jempol nya juga kalau tidak terlalu memberatkan 🤭🤭😘😘😘🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2