
"Pokonya Killa gak mau ada yang numpang dirumah kita, Killa gak mau. Usir dia yah, usir. Killa gak suka, gaak!" Kepala Reegan sudah berdenyut nyeri, anak itu memang sangat susah diatur. Padahal tadi sudah dijelaskan baik-baik, kenapa Killa begitu susah memahami, atau sengaja tidak ingin mengerti seperti biasanya.
"Gak bisa Killa, Kira itu anak ayah dan bunda juga, mana bisa ayah usir. Kamu harus mau berbagi, kalau tidak terserah kamu. Ayah pusing." Pria itu beranjak lalu menggendong tubuh kecil anaknya, Kira. Kembali ke kamar dan menguncinya dari dalam.
Killa trus berteriak dengan suara serak dan parau, karena kebanyakan menangis dan menjerit tak karuan. Tidak ada satupun lagi yang mau mendiamkan amukan nya, seperti yang sudah-sudah. Keyra, Puput dan seorang perawat yang mencoba membujuknya malah terkena amukannya. Bahkan kening sang perawat sampai benjol terkena hantaman ponsel. Sungguh anak yang mengerikan batin perawat tersebut. Untungnya dia digaji cukup tinggi untuk merawat calon psikopat itu.
"Udah dek, ayo kita masuk kamar. Nanti kamu malah disakitin sama dia, biar aja gak usah dipikirin." Keenan menuntun sang adik menuju kamarnya, yang berdampingan dengan kamar orangtuanya. Kamar Keyra sengaja dibuat dibawah, mempermudahkan gadis itu tanpa harus turun naik tangga.
"Gak apa-apa beneran kak, kalo ditinggal? Mbak susternya ada?" Keyra si hati selembut kapas itu berucap ragu, dia tidak tega tapi harus.
"Ada non, saya yang akan awasi. Nona istirahat saja tidak apa-apa." Ujar sang perawat ramah, walau denyut di keningnya terasa nano-nano.
"Teteh aja panggil nya Sus, jangan nona. Berlebihan banget. Teteh Keyra aja, semua yang kerja di sini manggilnya gitu." Balas Keyra tak kalah ramah seraya tersenyum manis.
Perawat itu melongo, kenapa berbeda sekali. Selama merawat Killa di rumah sakit, gadis kecil itu sering membentak dan memerintah nya sesuka hati. Bahkan panggilan nona adalah atas permintaan anak itu sendiri.
"Eh, ya teh. Gitu ya manggilnya." Ujar perawat itu malah salah tingkah. Tadinya dia pikir remaja itu akan kurang lebih dari sang adik. Dia jadi malu sendiri pada prasangka nya.
"Ya teteh aja. Kami pamit ya sus, itu Killa nya nanti tolong dikasih minum dulu, kebanyakan nangis dari tadi. Takut tenggorokan nya sakit. Makasih sebelumnya ya sus. Permisi. Yuk kak." Keenan menuntun pelan sang adik menuju kamarnya. Semua itu tak luput dari perhatian si perawat.
Dia patut bersyukur, saat baru seminggu bekerja sebagai perawat. Dirinya malah direkomendasikan untuk menjadi perawat pribadi, dari anak pemilik rumah sakit tempat nya bekerja. Namun siapa sangka, anak yang dijaga dan rawat itu, kelakuannya sungguh mengesankan. Dari menit pertama dia mulai merawat anak itu, ketika baru sehari bangun dari koma, sikapnya tidak mencerminkan orang yang pernah sakit parah.
Anak itu membentak nya hanya karena memasang selimut, dengan gambar terbalik. Besok paginya, lebih tepat, subuh waktu masih menunjukkan pukul 05: kurang lebih, Killa menyiram air minumnya pada perawat malang itu. Perawat nya dianggap malas karena tidak cepat bangun. Jam 5 subuh memangnya mau ngapain, kalau minta tolong maka bangunkan dengan perlahan. Tidak perlu langsung menceburkan nya ke dalam sumur sesubuh itu.
__ADS_1
Dia sudah hampir menyerah, rencananya sudah mantap. Tidak dibayar tidak apa-apa, yang penting hidup dan harga diri nya terselamatkan. Berlama-lama merawat anak itu, bisa membuat nya mati muda, harga dirinya pun tak bersisa. Setiap menit anak itu mengatainya bodoh, tidak berguna, tidak punya otak dan masih banyak lagi kata-kata ajaib, yang keluar dari mulut berbisa gadis kecil itu.
Rencananya sesampainya di rumah keluarga tersebut, dia akan pamit undur diri dari pekerjaan nya. Apalagi saat keningnya yang tak berdosa itu, dibuat benjol tanpa salah apapun. Namun sekarang dia menjadi sedikit ragu, ternyata prasangka nya pada keluarga itu melesat. Dia pikir, semua orang kaya akan memperlakukan orang seperti nya, dengan semena-mena.
"Hei, perawat bodoh! Antar aku naik ke kamar, aku mau istrahat." Lagi-lagi, dan lagi. Anak itu memanggil nya dengan begitu santun, membuat Arumi, sang perawat ingin sekali memperban mulut tak berakhlak gadis kecil itu.
"Ya nona, mari saya gendong." Ujar sang perawat dalam mode sabar dengan limit berbatas.
"Gak, aku gak mau di gendong. Angkat sama kursi rodanya sekalian, gak mau tau. Titik!." Oke bagaimana caranya dia akan mengangkat gadis itu serta kursi rodanya.
"Biar aku aja, sus." Suara bariton itu membuat Arumi tersentak kaget.
"Eh, jangan tuan muda, ini tugas saya." Ujar nya tak enak, sekaligus takut. Wajah datar Keenan, membuat nya berpikir 2022kali untuk meminta bantuan.
Tadinya Reegan ingin Killa dan Kira akrab, makanya ketika anak itu pulang dari rumah sakit. Reegan sengaja menyiapkan ranjang dobel dikamar Kira, sekaligus untuk memudahkan Killa jika ingin keluar kamar. Gadis itu tidak perlu turun naik tangga.
Namun si keras kepala itu, memang susah untuk di atur baik-baik. Hingga Reegan menyerah, dia bahkan menyuruh sang istri masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, saat Killa mulai bertingkah anarkis. Dia tau kelemahan istri nya, maka dari itu, dia harus mencegah rasa iba itu muncul di hati bersih sang istri. Paling tidak untuk sekarang, sebab kelakuan anak itu sudah diluar batas kewajaran anak seusianya.
"Maaf. Jadi saya harus panggil apa ya, biar lebih gampang kalau ada yang perlu saya tanyakan." Ujar Arumi takut-takut. Wajah datar Keenan membuatnya ingin segera berkemas pulang.
"Keenan aja, cukup." Arumi malah semakin bingung, bukan kah itu tidak sopan. Bagaimana pun, Keenan itu anak majikan nya. Dia memang seorang perawat, namun perannya sekarang tidak lebih dari seorang pengasuh.
"Kalau mas Keenan, boleh. Biar lebih sopan aja, bukan maksud apa-apa." Ujar gadis itu lagi sembari mengekori Keenan dari belakang, menuju kamar nona muda di rumah itu. Sambil menenteng tas pakaian miliknya yang tidak besar juga tidak kecil.
__ADS_1
"Hmmm.." Sesingkat itu.
Membuat Arumi bingung harus menanggapi apa lagi.
"Makasih, mas Keenan. Ini boleh saya taruh dipojok situ, tidak." Arumi mengangkat tas kusam miliknya.
"Gak boleh, Killa gak mau ada yang ngotorin kamar Killa. Dia tidur di luar aja. Aku capek mau tidur, suruh perawat bodoh ini keluar." Killa menarik selimut nya hingga batas leher.
"Killa, kamu jangan keterlaluan!" Seru Keenan tak suka. Namu yang ditegur malah pura-pura tidur.
"Eh, gak apa-apa mas Keenan. Ini saya tidur di sofa diluar kamar aja, saya tidur dimana bisa, sudah biasa tidur di ubin beralaskan tikar. Malah nyenyak, dingin soalnya." Loh, kok dia jadi curhat sih. Dasar mulut lemes.
"Mmm.. ini saya taruh dimana ya mas, disamping lemari besar deket sofa diluar boleh. Disamping nya aja, bukan dilemarinya." Secepat kilat Arumi meralat ucapannya, takut menimbulkan kesalahpahaman.
"Taruh dikamar saya aja. Ada lemari kosong. Nanti kalau mau mandi juga disana, kasih tau aja nanti saya keluar dari kamar." Ujarnya dengan wajah datar.
"Eh, tapi..."
"Jangan mendebat, kamu mau tas kamu itu dikira gak dipakai sama tukang bersih-bersih rumah. Trus dibuang ketempat sampah." Baiklah, dia mengalah. Sekali-kali menumpang mandi dikamar orang kaya, pasti sensasi nya beda. Kalau di rumahnya biasa mandi 5 menit harus kelar karena bergantian, siapa tau di sini dia bisa mandi setengah jam lebih lama.
"Baik, mas Keenan. Jadi ini...."
"Ikut saya." Arumi mengekori Keenan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Taruh di sana, itu lemari nakas. Tapi sepertinya muat, tas kamu sekalian kamu lipat taruh di dalam." Selesai memberi arahan pada Arumi, Keenan keluar dari kamarnya. Dia ingin memberikan Arumi privasi, untuk menata pakaiannya.