Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXV


__ADS_3

"Reegan, apa yang terjadi dengan Sarah? Katakan?" Suara bariton itu membuat tangis Reegan terhenti. Reegan menatap netra sang ayah, dengan tatapan sendu yang terlihat sangat menyedihkan.


"Sarah baik, dia sudah sadar, ayah masuklah. Temani Sarah didalam, aku ingin melihat si kembar dulu." Reegan berlalu dari hadapan sang ayah.


"Karma memang tidak selalu menunggu di neraka, nak. Sekarang tebus lah kesalahan mu, nikmati rasa sakit dan belajar lah untuk membalut lukamu sendiri. Sama seperti yang Sarah lakukan, selama beberapa bulan ini." Setelah mengucapkan kata-kata mutiara penuh makna tersebut, pak Adnan berbalik meninggalkan Reegan, yang masih mematung mendengar ucapan sang ayah.


Rasanya sangat sakit, ketika mendengar kalimat tersebut terucap dari mulut sang ayah. Yang selama ini sangat dia benci itu. Namun sekarang, sangat ingin dia peluk dengan penuh kerinduan. Tapi jarak itu sudah terlampau jauh, untuk bisa dia depa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarah sudah tidak sabar untuk segera menimang kedua bayi nya.


"Silahkan disusui ya bu, bisa dua-duanya sekaligus, tapi untuk sekarang, satu-satu dulu. Mari saya bantu." Perawatan itu memberikan salah satu bayi itu pada Sarah untuk disusui. "Pak, mari sini." Membuatnya mata Sarah melotot sempurna.


"Eh, itu sus. Saya di sini saja." Balas Reegan kikuk.


"Tidak apa-apa, bapak harus tau apa yang dibutuhkan oleh ibu menyusui, dan ibu yang sedang dalam masa nifas." Ujar perawat itu lagi, kemudian menyuruh Reegan mengangkat bayi, yang masih berada didalam boks bayi tersebut, untuk diberikan kan pada Sarah.


"Gantian lagi bu ya, pak angkat bayinya kesini, saya akan pindahkan dedek yang ini. Sudah kenyang ya dek, gantian ya." Ujar perawat itu pada bayi merah itu.


"Nih, Sar. Yang sebelah sini lagi kan? Tanya pria itu tak enak. Lalu meletakkan bayi itu perlahan ditangan Sarah.


"Bapaknya sudah lincah sekali, ibu beruntung. Banyak para bapak baru, biasanya akan takut memegang bayi mereka. Tapi bapaknya tidak sama sekali, waktu masih diruang bayi, ketika dedek nya menangis bapaknya dengan sigap mengendong. Dan dedek langsung diam."


"Tapi jangan hanya sigap merawat bayinya ya pak, ibunya juga. Masa nifas itu sulit bagi ibu baru bersalin. Ibu makan yang banyak, apa saja yang bisa menunjang asi, yang penting sehat. Jangan takut gemuk ya, itu wajar, bisa diet kalau dedeknya udah 6 bulan keatas, Sekarang jangan dulu. Dedeknya masih butuh banyak nutrisi, apalagi ada dua." Nasihat panjang lebar itu dicerna baik-baik oleh Reegan maupun Sarah.


"Baik sus, makasih banyak." Ujar Sarah ramah, sambil terus menyusui bayinya. Sesekali Reegan melirik, bayi yang sedang menyusu itu, dengan perasaan kagum. Sehebat itu dua benda bulat kesukaannya itu, bisa memberikan kehidupan pada dua bayi sekaligus.

__ADS_1


"Saya permisi bu, ini bayinya sudah bobo. Nanti bapak bisa pindahkan bayi yang satunya, kalau sudah selesai." Setelah memberi selesai memberi ultimatum pada Reegan, perawat itupun keluar.


"Kamu istirahat aja, nanti kalau sudah aku baringkan disamping aku aja, biar kamu gak kerepotan mindah bolak-balik." Ujar wanita itu tetap fokus menatap bayinya yang sedang menyusui.


"Aku gak cape, Sar. Jangan tarok samping, aku takut nanti jatuh. Kalau sudah selesai biar aku pindahin, ini boxnya aku taruh dekat ranjang kamu." Reegan mendorong pelan box bayi itu tepat disisi ranjang Sarah.


"kamu sambil makan ya, aku suapin. Isi tenaga dulu, nanti kalau mereka bangun pasti langsung minta ASI lagi." Reegan mengambil wadah makan Sarah, lalu mulai menyuapi wanita itu.


"Biar nanti aja, aku bisa sendiri." Sarah menolak tanpa melihat ke arah Reegan.


"Makan sekarang aja, nanti dingin gak enak lagi. Sudah, buka mulut kamu. Kalau nanti-nanti takutnya mereka pada bangun, kamu belum sempat makan."Reegan sedikit Memaksa, dia tau Sarah menolaknya secara tidak langsung. Namun dia akan berusaha, untuk meluluhkan hati wanita itu, yang sudah terlanjur membeku padanya.


"Aa lagi, kamu harus makan banyak. Lihat itu, seperti nya mereka kuat sekali nyusu nya." Ujar Reegan sambil menatap bayinya, yang sedari tadi tidak ingin melepaskan puncak dada Sarah.


"Kamu sudah makan?" Tanya Sarah disela-sela makannya.


"Buah mau, ada aku beli buah naga tadi sama apel juga. Ada sari kacang hijau, katanya bagus buat ibu menyusui. Nanti dirumah dibuatkan yang ori, bukan kemasan, sementara ini dulu."


"Aku kenyang banget, nanti aja, takutnya malah aku mual." Kali ini Sarah menatap manik pria itu, dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.


"Jangan natap aku gitu, jangan kasian liat aku. Aku baik, selama kamu dan anak-anak baik dan sehat." Reegan mengerti arti tatapan Sarah padanya, tatapan penuh belas kasihan.


Sarah baru benar-benar memperhatikan pria itu, tampak sangat kurus, dengan penampilan yang tidak terurus. Rambutnya sedikit lebih panjang, untung saja pria itu tidak ada bibit brewokan. Jika tidak, mungkin sekarang wajah tirus nya sudah dipenuhi oleh bulu-bulu halus.


"Kamu kenapa sampe kurusan kaya gini?" Ucap Sarah dengan mata berkaca-kaca, semarah apapun dia pada pria didepannya ini, namun untuk membenci nya, Sarah tidak sanggup.


Walau sekarang kata maaf itu masih belum bisa dia berikan pada Reegan, namun melihat keadaan pria itu yang sangat menyedihkan. Membuat hati kecilnya iba. Pria itu tampaknya sangat tersiksa, hidup dalam penyesalan yang tak berujung itu.

__ADS_1


"Hei, jangan nangis. Aku gak apa-apa, ini karna aku kurang istirahat aja, kerjaan kantor kemarin lagi numpuk-numpuknya. Sekarang gak lagi, udah santai, tinggal benarin makan aja lagi." Ujar pria itu tersenyum lembut. Diusapnya cairan bening disudut mata Sarah, dia tidak ingin melihat wanita itu menangisi keadaan nya.


Klek...


"Sorry, ganggu gak nih. Apa gue balik aja lagi?" Pengunjung pasien tak berakhlak itu tiba-tiba datang, merusak momen haru-biru kedua orang tua baru itu.


"Ck, ganggu aja lo." Gerutu Reegan kesal.


"Tau kan lo, gimana rasanya kalo lagi asyik-asyiknya godain istri tiba-tiba ada yang datang ganggu." Sindir Angga telak.


"Bawa apa lo, gue laper." Pria itu mengalihkan topik pembicaraan.


"Ck, ngeles aja lo kaya bajai." Ucap Angga kesal. Kemudian meletakkan kotak susun, yang berisi aneka makanan buatan sang istri diatas nakas.


"Bisa gak sih, kalian kalo ketemu gak pada ribut, kaya ibu-ibu berebut kreditan panci aja." Omel wanita pencinta daster dan kreditan tersebut, berjalan menuju ranjang Sarah.


"Maaf baru bisa jenguk, keadaan kamu gimana. Dedeknya udah kamu Susui belum? Aduh gemasnya, ini kok banyak muka bulenya sih. Nanti tante jodohin sama anak tante ya, cantik kok anak tante, tua 4 bulan aja, gak apa-apa ya." Cerocos wanita itu tanpa jeda.


"Ck, anak gue jangan dijodoh-jodohin. Tar gak suka, kecewakan anak lo. Anak gue cakep begini kok." Ujar pria itu sewot seraya mengelus pipi sang anak dengan sayang.


"Jadi maksud kamu anak aku jelek, begitu?" Balas wanita itu tak kalah sewot. "Lupa kamu, berapa bulan ini numpang makan tidur dirumah aku, gak tau Terimakasih bapakmu itu nak. Tau gitu tante kasih racun tikus aja kemarin." Adu nya lagi pada bayi merah itu.


Dada Sarah terasa sesak, bukan karena sakit hati mendengar ucapan Lusi. Namun mengetahui fakta, jika Reegan sering menumpang makan juga tidur, dirumah mantan rivalnya itu. Sekacau itukah hidupnya, berada di dalam penyesalan.


Pantas saja Reegan sampai sekurus itu, dia pasti tidak makan dengan benar. Dia hanya tidak ingin sendirian, untuk itu dia sering menumpang pada Angga, mantan suaminya.


"Eh, gak gitu Sar. Aku bercanda aja tadi, gak serius. Tapi kalo kamu mau serius juag gak apa-apa. Aku punya Banyak stok racun tikus dirumah." Ucap Lusi salah tingkah namun tetap diakhiri dengan candaan, untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


__ADS_2