Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Aku tidak akan menceraikan mu


__ADS_3

Daniel berpindah duduk di sofa Tiara, mengelus bahu wanita itu. Dia tidak tau cara menenangkan nya selain itu.


"Maafkan aku Tiara, jika sikap ku menyinggungmu. Tapi harus kau sadari, anak ini adalah anakmu dan Bryan, begitu yang orang tau. Aku tidak berhak padanya, maafkan aku." jelas Daniel meluruskan kesalahpahaman yang seharusnya tidak perlu itu.


Namun sesaat Daniel menegang saat Tiara tiba-tiba memeluknya erat.


"Tiara? apa yang kau lakukan, lepaskan. Aku tidak ingin terkena masalah karena ini," Daniel mendorong pelan bahu Tiara, namun wanita itu semakin memeluk nya erat.


"Apa kau tidak merasakan nya Daniel, aku begitu ingin selalu didekat mu semenjak aku hamil. Ini bukan kehendak ku, tapi bayi ini yang menginginkan mu. Aku tersiksa dengan perasaan yang salah ini, bukan mau ku. Apa aku menggugurkan nya saja, agar perasaan ingin di dekatmu ini bisa lenyap." Daniel terkesiap mendengar penuturan Tiara.


"Jangan gila Tiara! kalian sudah susah payah mendapatkan nya, aku pun telah mengorbankan nurani ku, dengan memberikan benihku pada mu." Tiba-tiba saja hati Daniel tak rela mendengar ucapan Tiara yang ingin melenyapkan anaknya.


"Kalau begitu, ijinkan aku didekat mu jika aku kerasa ingin. Aku tidak bisa membendung nya, aku lelah menangis jika tiba-tiba perasaan ini muncul. Aku takut bayiku akan terganggu dan gugur, jika aku terlalu stress." Mohon Tiara mendongak menatap Daniel, netra keduanya bertemu.


Ada perasaan aneh menelusup di hati Daniel. Namun segera dia tepis. Daniel membuang pandangan ke samping.


"Baiklah, namun hanya jika aku tak sibuk, aku tak berjanji akan selalu ada jika kau butuh kan." Lalu Daniel kembali mendorong tubuh Tiara dari dadanya.


"Maafkan aku, semenjak hamil aku jadi sangat sensitif." Tiara mengusap sisa air mata nya, dibalik punggung tangannya dia tersenyum penuh kemenangan.


Sejak saat itu Tiara begitu intens menemui Daniel, sebelum pria itu kembali ke Indonesia. Tiara pun merasa kehilangan, hingga terbersit ide dipikirannya. Jika Bryan tak ingin menceraikan nya maka satu-satunya cara, adalah melenyapkan pria itu.


Satu minggu kepergian Daniel, Tiara benar-benar merasa hatinya kosong. Apalagi semenjak pergi, Daniel sangat susah di hubungi.


"Tiara, kau ini apa-apaan. Bukankah selama ini kehamilan ini yang kita harapkan, sekarang kita hanya tinggal menunggu nya beberapa bulan lagi. Kenapa kau malah ingin berpisah dariku?" Bryan sungguh frustasi, mengahadapi sikap labil dan emosional sang istri semenjak mengandung.

__ADS_1


Dia pikir itu wajar, karena hormon kehamilan nya yang meningkat drastis. Dokter pun mengatakan itu adalah hal wajar, termasuk libido wanita hamil, bisa sangat menurun atau meningkat.


5 bulan ini, hanya beberapa kali Tiara melayani Bryan di tempat tidur, itupun hasil mengimajinasikan Daniel. Jika tidak, maka dia akan terlihat seperti mayat hidup yang di tiduri secara tak berperikemanusiaan.


Namun hati Sabar setingkat dewa Bryan patut diacungi jempol, tidak sekalipun pria itu melampiaskan nya di luar. Cintanya begitu besar untuk Tiara, bahkan orang tuanya pun, berani dia tentang.


Hari-hari Tiara dijalani dengan tidak bersemangat, makan minum pun harus dipaksa. Jika dia tidak mengingat jika bayinya bisa mengikat Daniel, maka dia tidak akan peduli pada bayi itu.


Suatu hari Tiara tanpa sengaja, melihat story wa Daniel. Tergambar jelas kebahagiaan diwajah pria itu, dan foto seorang perempuan yang menjadi foto profil nya. Hatinya diliputi kecemburuan, apalagi saat mendapat kan undangan pernikahan Daniel, yang dikirim pada suaminya.


Hingga kejadian naas itu terjadi.


"Tiara, apa kau sudah gila hah! lihat lah hampir saja kita bertabrakan dengan truk." Bryan masih berusaha menetralkan detak jantung nya, pria itu memarkirkan mobilnya mendadak dan asal di bahu jalan.


"Ya, aku gila!" teriak Tiara histeris. "Aku gila karena jatuh cinta pada Daniel, aku mencintainya dari pertama kami bertemu. Dan sekarang, pria itu akan menikahi wanita lain, sementara aku mengandung anaknya. Bagaimana aku tidak gila!" Seru Tiara dengan tubuh berguncang hebat.


Bryan melongo mendengar apa yang Tiara ucapkan, hatinya mencelos sakit. Istri nya jatuh cinta pada sahabat nya, yang juga merupakan ayah kandung dari calon anaknya. Hatinya terasa tercabik-cabik, dia tidak menyalahkan Daniel, juga tidak pada istri nya. Cinta hadir tanpa di minta, namun akan menjadi sebuah kesalahan, jika kita menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita raih. Itu obsesi namanya bukan cinta.


"Kau benar-benar gila, Tiara. Apa kurangnya aku padamu, aku memperjuangkan mu ditengah penolakan keras keluarga besarku. Apa ini balasanmu atas cinta ku yang tulus?" Bryan menangis sambil tertawa miris.


Wanita yang mati-matian dia perjuangan kan, menghianati nya dengan menyukai sahabat nya sendiri.


"Kau tau kekurangan mu, Bryan!" balas Tiara tanpa perasaan, hati Bryan kembali mencelos.


Ya dia memang memiliki kekurangan, yang sama sekali tidak dia inginkan. Namun kenapa baru sekarang Tiara mempermasalahkan nya, setelah mereka akan menjadi orang tua.

__ADS_1


"Ceraikan aku, Bryan. Bebaskan aku dari pernikahan tanpa cinta ini.""


Bryan lagi-lagi terkekeh miris, air mata nya tak berhenti mengalir. Dia merasa bodoh karena menangisi wanita yang sudah tidak mencintai nya lagi, wanita yang tidak bisa melihat pengorbanan dan perjuangan nya.


Apa Tiara pikir, mudah baginya menerima jika istri nya mengandung anak pria lain. Butuh keikhlasan untuk bisa menerimanya, namun sayangnya, Tiara sudah terlalu buta terhadap obsesi nya.


"Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara. Tidak setelah perjuangan ku selama ini." Ujar Bryan tegas, dia mengusap air matanya kasar, lalu kembali menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan yang entah kemana, mereka beristirahat di sebuah rest area. Tiara memberikan satu botol minuman pada Bryan, pria itu menyambut nya sambil tersenyum. Dia harap, Tiara berubah pikiran. Begitu lah pikirnya.


Setelah beristirahat sejenak, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Kini tujuan mereka adalah villa milik Bryan, yang dia beli khusus untuk menyambut kelahiran bayinya.


Namun baru beberapa menit perjalanan, matanya terasa sangat ngantuk. Bryan menghentikan mobilnya di bahu jalan.


"Kenapa berhenti di sini?" ujar Tiara heran.


"Entahlah, mungkin karena lelah berkendara jauh. Aku tiba-tiba sangat ngantuk, kita beristirahat sebentar ya." Ujar Bryan menego. Matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi, dia khawatir jika melanjutkan perjalanan. Maka akan membahayakan mereka.


"Baiklah, atau aku saja yang menyetir, disini gelap sekali, mana hutannya lebat sekali. Aku takut ada orang jahat," rengek Tiara terlihat takut.


Bryan mati-matian menahan ngantuknya hanya bisa mengangguk, dia juga khawatir akan nasib istri nya.


Tiara berpindah posisi begitu juga Bryan, di sisa kesadarannya Bryan pindah ke sisi penumpang. Sementara istrinya kesisi kemudi.


Setelah hampir 1 jam perjalanan, Bryan benar benar terlelap. Sesekali Tiara menoleh untuk memastikan keadaan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2