Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XXXI


__ADS_3

Sarah baru saja selesai membereskan barang-barang nya di lemari, sebenar jika dia tidak banyak melamun, pekerjaan sudah selesai sejak tadi. Mengingat barang yang dia bawa tidak lah banyak.


"Neng Saraah... Neeeng, ini lampu terasnya kenapa nggak di nyalain." Seruan itu membuat lamunan Sarah buyar, lalu bergegas keluar kamar menuju pintu depan. Sarah baru sadar, kalau lampu ruang tamu juga belum dia nyalakan.


Sarah membuka pintu depan, terlihat wanita hamil itu duduk di kursi kayu teras rumah nya, sambil memangku sebuah piring yang di tutup kertas nasi.


"Maaf teh, lama ya. Masuk yuk." Ucap Sarah tak enak, dia baru saja menyalakan semua lampu dirumah nya, termasuk dua lampu yang ada di kebun belakang rumah.


"Nggak usah, neng, itu si lulu lagi nonton sendirian dirumah, si akang belum pulang. Ini teteh bikinkan ubi rebus sama sambal terasi. Neng Sarah masih suka nggak, makan ginian." Tanya wanita hamil itu sedikit tidak enak, bagaimanapun Sarah sudah hidup lebih baik, pasti tidak pernah makan begituan lagi pikirnya.


"Masih lah, teh. Suka banget malah. Makasih banyak, euumm enak nih aroma sambel nya. maaf jadi ngerepotin gini." Ucap Sarah menerima piring berisi ubi rebus tersebut.


"Sama-sama, nggak ngerepotin. Ya udah teteh balik dulu, ya." Pamit teh Winar pada Sarah.

__ADS_1


"Iya, teh. Sekali lagi makasih." Seru Sarah pada wanita hamil, yang sudah melesat masuk ke pekarangan rumah nya di samping rumah Sarah. Wanita hamil itu hanya mengangguk seraya mengangkat jempol nya, sebagai jawaban.


Sarah masuk membawa piring tersebut menuju dapur, lalu menaruh nya di atas meja di bawah tudung saji. Sarah bergegas masuk ke kamar, dia sampai lupa mandi tadi sore. Di lirik nya jam yang ada di atas nakas samping tempat tidur nya, menunjukkan pukul 19:49. Artinya sudah satu setengah jam dia berada dirumah ayah nya. Dia segera beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia tidak ingin sang ayah mengkhawatirkan diri nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Besok mama sama pak Danar aja ya, Gan. Kamu kemalaman gini jemput mama, kalau sama pak Danar jam gini udah di rumah, udah duduk makan malam juga." Nego bu Maya pada anak nya, dia seharian uring-uringan di toko. Pasalnya Sarah tidak ada membalas satupun pesan nya, dia ingin sekali menelpon, tapi mengingat bahwa hari ini ayah Sarah pasang ring, dia tidak ingin mengganggu waktu wanita muda itu. Yang pasti sedang sibuk mengurusi ayahnya.


"Kenapa, ma? Cuma telat jemput aja kan ma, nggak ada masalah lain kan?".. Ucap Reegan lembut namun tetap dengan wajah datarnya.


"Besok mama dirumah aja ya, nggak usah ke toko. Biar nggak bete nunggu aku jemput, bisa?" Tawar Reegan memberi pilihan pada sang ibu, dia yakin pasti ibunya akan menolak mentah-mentah saran nya itu.


"Nggak lah, besok mama ke toko, ikut kamu. Kamu apaan sih, pake ngancem-ngancem mama kaya gitu. Gerutu bu Maya kesal.

__ADS_1


Sementara Reegan mengalihkan pandangan nya keluar jendela, agar sang ibu tidak melihat senyum penuh kemenangan dibibir nya. Namun matanya malah menangkap sesosok bayangan yang seperti nya dia kenali, sedang berdiri di seberang jalan yang mereka lewati.


"Pak Amat, di depan nanti mutar ya, saya mau beli sesuatu diseberang sana." Ujar nya sambil menunjuk menggunakan arah dagu nya.


"Kamu kalo nunjuk yang bener, pak Amat salah mutar, repot kan." Omel sang ibu, yang gemas melihat sikap datar anak nya itu.


Pak Amat mulai memutar pelan kemudi mobil, lalu mengarah pada tempat yang di tunjuk oleh sang majikan. Setelah menghentikan mobil, pria paruh baya itu kemabali bertanya.


"Depan sana ya, tuan?".. Tanya sang sopir memastikan, pasalnya Reegan menunjuk arah yang dikelilingi oleh para pedagang kaki lima.


"Iya, pak. Tolong turun, belikan saya apa yang di jual di gerobak itu. Yang ada wanita pake jaket coklat dan celana panjang biru tua itu." Tunjuk Reegan ke arah Sarah yang sedang berdiri, mengantri di rombong penjual sate.


"Kamu mau makan sate, Gan?".. Tanya sang memastikan, setau nya Reegan paling tidak suka makan makanan yang menurutnya tidak sehat itu, karena terpapar oleh debu jalanan.

__ADS_1


"Hmmm.." Jawab Reegan, diri nya masih fokus memperhatikan Sarah yang terlihat sibuk memainkan ponselnya.


"Ck, jawaban kamu itu nggak jelas, ayo pak saya juga ikut." Setelah sang ibu dan sopir nya keluar, Reegan mengeluarkan ponsel dari saku nya, lalu mengetikkan sebuah pesan. Setelah itu dia membuka aplikasi kamera di ponselnya, yang selama ini tidak pernah dia buka sama sekali. Kemudian memotret Sarah beberapa kali, setelah mendapatkan foto yang dia anggap bagus, Reegan menyudahi kegiatan gila nya tersebut. Lalu kembali menatap ke arah Sarah, namun dia malah melihat pemandangan yang mencengangkan. Hampir saja kedua bola mata Reegan meloncat keluar dengan apa yang dia lihat.


__ADS_2