Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXVI


__ADS_3

"Eh, gak gitu Sar. Aku bercanda aja tadi, gak serius. Tapi kalo kamu mau serius juga gak apa-apa. Aku punya Banyak stok racun tikus dirumah." Ucap Lusi salah tingkah namun tetap diakhiri dengan candaan, untuk mencairkan suasana.


"Gak apa-apa, Lusi. Makasih udah mau menerima Reegan dirumah dan menjaganya." Ucap wanita itu tulus.


"Duduk sini." Sarah menepuk sisi ranjang nya. Menyuruh pria itu untuk duduk didekat nya.


"Bisa tolong pegangin, atau masukan kedalam box aja." Ujar Sarah pada Lusi, seraya menyerahkan bayi nya.


"Eh, biar aku aja. Sini, biar aku yang taruh." Ucap pria itu sedikit keberatan.


"Gak kamu disini aja." Ujar wanita itu tak ingin dibantah. Membuat pria itu langsung kicep.


"Kamu makan dulu gih, mumpung mereka masih tidur. Aku suapin, mau. Ngurus aku sama anak-anak pasti kamu cape, butuh banyak tenaga juga?" Tawar Sarah lembut, malah membuat pria menangis sesenggukan, seraya memeluk Sarah.


Biarlah Sarah menganggap nya cengeng, nyatanya dia selalu menangis, selama menjaga wanita itu dirumah sakit. Dan sekarang, dia ingin menumpahkan semua tangis penyesalan nya, di pelukan wanita yang sudah dia sakiti jiwa maupun ragnya itu.


"Loh, kok malah nangis. Kamu mau makan sendiri juga gak apa-apa. Aku kan cuma nawarin." Ucap Sarah tak enak, mungkin kata-katanya terkesan meremehkan pria itu.


"Ck, drama ikan lele lo. Gak dirumah gue, dimana-mana pasti lo mewek mulu. Cemen." Cibir Angga kesal. Terlalu sering melihat Reegan menangis, membuatnya bosan. Belum lagi jatah tisu yang harus nya cukup untuk seminggu, habis hanya dengan sekali pria itu menangis bawang. Gak tau apa, kalau dia dijatah oleh sang istri hanya cukup untuk beli bahan bakar doang.


"Isshh, diam mas. Kamu ini, gak peka banget. Sini duduk, nih liatin calon mantu, ganteng banget ya mas." Ujar Lusi sambil menoel-noel lembut pipi dan hidung mancung si bayi.


"Ck, anak kita juga ganteng, meskipun bibit lokal. Gak perlu berlebihan gitu, nanti ngelunjak kaya bapaknya." Ujar pria itu melirik sinis pada Reegan, yang tengah menyeka air matanya.

__ADS_1


"Iri bilang, anak gue emang ganteng. Bibitnya gak kaleng-kaleng, impor." Balas Reegan bangga.


"Aku ambil kotak makannya dulu ya." Ujarnya pada Sarah, seraya beranjak dari duduknya, mengambil kotak bekal yang dibawa oleh Angga.


"Aku makan sendiri aja, kamu aku suapin sekalian ya. Makan bubur gitu mana kenyang, paling bentar udah laper lagi." Ucapnya sambil memasukkan tumis jagung muda, dicampur sawi dan juga wortel yang diberi kuah sedikit.


"Tar ayamnya aku suwir dulu, biar gak cape ngunyah." Dengan telaten Reegan menyuir ayam goreng tersebut, Sarah hanya menatap nya dengan hati yang campur aduk. "Udah, kamu duluan." Ucapnya lalu menyuap Sarah.


"Kamu suka, sayur dimasak gini? Nanti aku buatkan kalo kamu suka, tapi sup ikan gabus juga bagus. Aku liat di g**gle, itu bagus buat wanita abis melahirkan, ditambah daun cabe yang masih muda biar ASI nya banyak." Tanpa Reegan sadari sejak tadi, dirinya belum makan sesuappun.


"Kamu gak makan juga, gak mau bekas aku, sendok nya ganti, tuh ada dimeja. Cuci dulu, tadi bekas ngaduk susu aku." Ujar Sarah tak enak, dia merasa bersalah, harus nya pria itu yang makan, kenapa malah hampir habis dia yang makan.


"Eh, gak. Aku keasyikan nyuap kamu, sampe lupa masukin ke mulut aku. Nih aku makan juga, aku tambah dulu." Reegan tidak ingin Sarah salah paham padanya. Dia benar-benar terlalu asyik menyuapi wanita itu, sampai dirinya sendiri dia lupakan.


Membuat Angga dihadiahi delikan tajam dari sang istri. Memang apa salahnya, dia kan hanya bertanya, kalau tidak mau jawab ya sudah. Kenapa mesti melirik nya seperti sedang ketahuan selingkuh.


Sementara Reegan hanya melengos, kura-kura dalam sangkar, pura-pura tidak dengar. Dia tau arah pembicaraan pria itu, dia sedang tidak ingin meladeni nya berdebat sekarang. Moodnya sedang baik, dia tidak ingin merusak nya.


"Lagi?" Tawarnya pada Sarah.


"Enggak, udah kenyang banget. Kamu aja, aku mau minum aja."


"Nih, banyakin minum juga. Tadi urine kamu kuning pekat." Ujar pria itu tanpa merasa jijik sedikitpun.

__ADS_1


Saat dia tau, jika Sarah mengalami kelumpuhan karena cedera saraf tulang belakang, akibat benturan keras yang dilakukan oleh Satria atas perintah nya. Pria itu merasa semakin bersalah, dia memutuskan untuk merawat Sarah Tanpa bantuan siapapun. Perawat yang ingin membantunya membersihkan saat Sarah BAB pun, dia tidak mengijinkan nya. Bahkan pria itu dengan telaten membersihkan darah nifas Sarah, serta merawat luka lecet diarea tulang ekor wanita itu dengan mengoleskan salep dan memakaikannya Pampers.


Sarah sebenarnya risih dan malu, karna Reegan melihat bahkan mengurus dirinya, dalam keadaan yang kotor dan jorok. Namun pria keras kepala itu tidak mau dibantah, dia tidak suka jika Sarah diurus oleh orang lain, meski pun itu perempuan. Dia ingin menjadi berguna, untuk Sarah dan anak-anaknya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mencicil sedikit demi sedikit, dosa-dosanya.


Setelah selesai makan, pria itu mencuci kembali peralatan makan nya, kemudian mengeringkan menggunakan tisu.


"Aku ada beliin pompa ASI diapotik depan tadi, belum aku cuci botol bawaannya. Botol susu adek sama kakak udah aku cuci, ada dikeranjang aku keringkan. Susu formula nya mau dilanjut aja gak, buat bantu-bantu aja, biar kamu bisa banyak istrahat. Nanti aku beli lagi di minimarket dibawah." Sungguh jika orang lain melihatnya, pasti menyangka mereka adalah pasangan suami-istri yang sangat harmonis.


"Masih ada berapa kaleng susu formula nya yang sisa, kalo masih banyak gak usah aja. Takutnya nanti malah gak mau ASI, kalo udah terbiasa minum susu formula." Ucap Sarah khawatir, dia ingin kedua anaknya mendapatkan nutrisi hanya dari ASI nya saja.


"Gak apa-apa kalau mau kasih susu pendamping ASI, Sar. Susu merek S*6 promil seperti yang diminum sama Cia dan Al, itu bagus buat perkembangan otak bayi dan tumbuh kembang lainnya." Jelas Lusi pada ibu baru itu, agar tidak perlu khawatir jika ingin memberikan susu pendamping ASI.


"Itu masih yang aku beli kemarin kan susunya, Gan? Coba, mana aku liat." Wanita itu membuka lemari nakas disamping ranjang Sarah. "Nah, ya ini. Kalo kamu beli lagi, yang merek ini aja ya, Gan. Bagus banget, soalnya anak-anak dirumah juga make, makanya aku berani rekom." Lanjut wanita itu lagi dengan penuh semangat, seolah dirinya sedang demo merek susu tersebut. Maklumlah, dia kan ketua pelopor perkreditan, semua jenis peralatan masak diperumahan mereka. Jiwa sales nya dapet banget.


Angga mencibir sang istri, yang jika urusan promosi, sangat bersemangat, bahkan melebihi kepiawaian sales peralatan dapur, yang menjadi langganan kreditan istrinya itu.


"Itu kamu kenapa bibirnya gitu, mas? Kamar tamu alamat gak kepake ini, kalo Reegan sudah punya tempat pulang begini." Ujar wanita itu dengan nada sengit.


"Eh, gak ya. Ini aku kaya kebas gini bibir aku, kamu sih tadi gak mau aku cium dulu waktu dimobil." Ujar pria itu panik, ngeles selicin belut ala Angga pun dilancarkan. Demi keamanan dirinya dan adik kecilnya, begitu pikirnya. "Mana bisa aku tidur jauh dari kamu, tar kamu gak bisa tidur kalo lolipop kamu aku bawa tidur dikamar tamu." Ujar Angga menoel dagu sang istri yang sedang dalam mode ngambek. Bisa kelar masa depan nya tar malam kalo gini ceritanya.


"Alah, ngeles aja kamu itu, mas. Bilang aja kamu yang bisa jauh dari aku, anak-anak belum tidur aja, udah kamu suruh pindahin ke box. Mana mau ngalah kamu itu kalo urusan nyusu." Omel wanita itu ketus. Punya suami yang bahkan sama anak sendiri saja berebutan, alasannya, tar kalo kekenyangan anak-anak malah gumoh, kasian. Ini sebenarnya bapaknya yang kasian, takut gak kebagian.


Sarah dan Reegan hanya geleng-geleng kepala, melihat perdebatan frontal unfaedah pasangan suami-istri tersebut.

__ADS_1


__ADS_2