
Di sebuah kamar apartemen, dua orang tengah bertengkar hebat. Bagaimana tidak, si wanita tetap kukuh ingin menggugurkan janinnya, Sementara si laki-laki tidak mengijinkan nya. Tidak peduli jika itu anaknya atau bukan.
"Jika sampai kau nekat melakukan nya, akan aku pasti kan hidupmu ikut berakhir bersama bayi itu, La! Jangan anggap main-main peringatan ku ini," ujar Justin dengan batas kesabaran akhir yang dia miliki. Pria itu nampak sangat putus asa.
Justin menyugar rambutnya frustasi, baru saja mereka mereguh nirwana bersama, dan sekarang malah berdebat untuk hal yang paling dia benci.
"Belum tentu ini anakmu, Justin! lagi pula aku tidak ingin merusak tubuh ku, dengan mengandung dan melahirkan anak sialan ini." Balas Asara tak kalah frustasi.
"Lahirkan dia, aku yang akan merawat nya. Aku yakin itu adalah anakku, aku merasa aneh akhir-akhir ini, temanku bilang bisa saja aku mengalami yang yang di sebut dengan ngidam. Banyak pria yang mengalami nya, dan aku yakin aku adalah salah satu nya." Ucap Justin penuh keyakinan, pria itu menatap sendu pada Asara yang langsung melengos ke sembarang arah.
Justin beranjak dari duduknya lalu menghampiri Asara, "jangan di gugurkan, ya" mohon Justin mengiba. "Aku yang akan merawat nya, selama kau hamil, aku akan menjaga mu dan anak kita dengan baik. Katakan padaku apa yang kau inginkan kan, aku akan berusaha untuk mengabulkannya. Tapi jangan sakiti dia," sungguh Justin rela merendahkan harga dirinya berkali-kali, pada wanita keras kepala itu.
Direngkuhnya tubuh Asara yang sudah mulai berisi, pria itu memeluknya dengan sayang. Dia memang pria brengsek, berkali-kali bermain wanita, namun itu untuk melampiaskan rasa cemburu dan kesalnya pada Asara. Sejak awal perasaan itu tumbuh, dia sangat ingin wanita itu mengehentikan semua kegilaan nya. Perlahan-lahan membawa Asara masuk lebih jauh dalam kehidupan nya. Namun sifat keras juga ambisi nya, membuat wanita itu seolah buta akan semua perhatian dan cinta nya.
"Anak ini akan menghalangi semua mimpi ku, dan jika Arza sampai menyadari kehamilan ku. Aku jamin, dia sendiri yang akan melenyapkan bayi ini." Isak Asara tak kalah putus asa, disisi lain dia masih berharap ada celah, bisa menggunakan kehamilan nya untuk menjebak Daniel. Namun semakin ke sini, pria itu semakin sulit didekati. Hingga dia berniat untuk melenyapkan saja janin tak berguna itu, hanya menyusahkan pikir nya.
Justin mengurai sedikit pelukan nya, lalu menatap wanita yang sangat di cintai nya itu. "Tinggal lah di sini selama kau hamil, katakan kau kembali ke Sydney untuk suatu urusan yang tidak dapat di tangguhkan. Atau menghilang saja untuk beberapa bulan kedepan, aku akan menjamin kehidupan mu." Ujar Justin mencoba bernegosiasi, dia berharap dengan tinggal bersamanya, hati wanita itu bisa sedikit terketuk.
"Dia akan mencari ku kemana pun aku pergi, Justin. Jangan gila! Bukan hanya aku yang akan dia bunuh, tapi kau juga." Justin bukannya mereka takut atau khawatir, pria itu malah tersenyum senang. Entah itu hanya ucapan reflek, atau memang ungkapan kecemasan Asara padanya.
"Jangan khawatir padaku, sayang. Aku akan baik-baik saja, aku bukan Justin yang lemah seperti dulu. Aku punya perusahaan yang meski tak sebesar milik Daniel, namun itu cukup untuk membungkam pria brengsek itu." Justin kembali mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Asara.
"Aku tidak mencemaskan mu, terlalu percaya diri sekali!" ketus Asara mengelak. Dia malu karena tanpa sadar sudah mencemaskan Pria itu.
__ADS_1
Justin terkekeh pelan, "ya, kau memang tidak pernah mencemaskan ku, hanya aku saja yang selalu mencemaskan mu. Tidak apa-apa," ujar Justin mengalah, cukup wanita itu mengurung kan niatnya dia tidak akan menuntut apapun lagi.
"Ayo kita pergi berbelanja, kebutuhan mu dan calon anak kita." Lanjut Justin bersemangat.
"Aku tidak ingin gemuk, jangan membelikan aku susu, aku ingin tetap menjaga tubuhku." Ucap Asara tak ingin dibantah.
Justin mendesah kecewa, namun tidak bisa berbuat apa-apa. "Baiklah. Bagaimana dengan memeriksa kan kandungan mu, aku ingin melihat perkembangan anak kita didalam sini. Bukankah tadi kita bermain cukup lama, aku khawatir guncangan yang kita lakukan berakibat padanya." Mohon Justin dengan wajah cemas, andai dia tahu wanita itu bukan gemuk biasa seperti ysng dikatakan Asara. Dia tidak akan melakukan penyatuan dengan kasar seperti tadi.
Dia merasa di bohongi, namun juga takut untuk protes. Yang berujung wanita itu akan berubah pikiran.
"Dia baik-baik saja, bukankah sebelumnya juga sudah sering kau melakukan nya dengan kasar. Dia bahkan tidak apa-apa didalam sana, anak ini benar-benar merepotkan." Gerutu Asara tak senang.
Justin hanya bisa menghela nafas panjang, sabar batinnya.
"Tun?" Atun terjengkit kaget dengan kehadiran Kavin yang tiba-tiba berdiri, di balik jemuran yang sedang dia jemur.
"Astaga mas Kavin, kaget Atun." Ujar gadis belia tersebut mengusap dadanya pelan, ingin marah namun tak kuasa. " Ada apa mas Kavin ke belakang sini? mau Atun buatkan mi rebus lagi?" tanya gadis itu dengan wajah serius, membuat Kavin ingin sekali menggigit pipi bakpao nya.
"Muka mu itu biasa aja Tun, aku gemes liatnya." Ujar Kavin gemes sendiri, lalu mencubit pipi tembem milik Atun.
Pipi gadis itu seketika merah padam, antara sakit dan menahan malu atas perlakuan majikannya tersebut.
"Mas Kavin jangan gini, nanti di liat ibu sama bapak, Atun gak enak. Mas tunggu di dalam aja, abis jemuran, Atun buatkan mie rebus telor nya." Ujar Atun salah tingkah sendiri.
__ADS_1
"Gak ah, aku tunggu di sini aja. Aku bantu ya," tawar Kavin langsung meraih pakaian yang sedang Atun pegang. Membuat gadis itu kaget tak percaya, dengan apa yang di lakukan oleh majikannya.
"Aduh! jangan mas, ya ampun jangan kaya gini, si mbok bisa marah sama Atun." Ujar Atun panik lalu melirik kiri kanan untuk melihat situasi. Bisa tamat karir impian gadis kampung seperti nya kalau begini caranya.
"Udah sih, kenapa sampai sepanik itu, Atun sayang. Biarkan mas mu ini bantuin," lanjut Kavin enteng.
"Loh Tun?" suara mbok Darmi membuat keduanya terkejut. Mbok Darmi datang dengan satu keranjang penuh pakaian yang akan di jemur, wanita itu terkejut dengan pemandangan di depannya.
"Mas Kavin? ini biar Atun sama mbok aja yang jemur," ujar wanita paruh baya itu tak enak hati. Lalu meraih pakaian di tangan tuan mudanya.
"Loh mbok, gak apa-apa, ini memang aku yang mau bantuin kok." Kavin meraih kembali pakaian ditangan mbok Darmi. "Udah, mending mbok bantuin bi Surti masak buat sarapan aja deh. Aku bisa kok sama Atun, ya kan Tun?" Kavin menatap Atun meminta dukungan, Atun malah semakin salah tingkah di hadapan mbok Darmi.
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, terang aja. Dia pagi buta sudah mandi sebelum bertempur dengan pekerjaan nya.
"Tapi nanti ibu lihat, bagaiamana? mbok gak enak." Terang mbok Darmi masih ragu-ragu. Dia tau jika tuan mudanya itu jatuh hati pada keponakan nya, Atun. Maka sebisa mungkin dia menjauh kan Atun dari pekerjaan di dalam rumah utama, kecuali di dapur tentunya. Bukan apa-apa, dia merasa tak pantas saja. Mereka hanya lah pembantu, terlebih Atun yang hanya lulusan SMP. Dari segi apapun, sangatlah tidak sepadan.
"Jangan mas, mbok gak enak kalo gini. Ini biar mbok aja yang Lanjut kan, mau suruh si Atun masakkan mie rebus, kan? Ya udah, Tun, ini biar mbok lanjutin. Masakin mas Kavin sarapannya aja di dapur, abis itu langsung urus lipatan kemarin ya." Lanjut mbok Darmi panjang lebar, Atun tau, jika mbok nya sengaja membuat nya sibuk. Dengan lipatan pakaian yang bahkan sudah dia kerjakan kemrin sore. Namun dia juga sadar diri akan status nya.
"Baik mbok, mari mas" ajak Atun pada Kavin.
"Aku berasa jadi kaya minuman kemasan sachet deh, Tun." Seloroh Kavin sambil mengekori Atun dari belakang.
Atun hanya diam saja tak berani lagi menyahut, dapat dia lihat dari ekor matanya. Jika mbok Darmi masih menatap ke arahnya penuh peringatan.
__ADS_1
"Astaga! Tun, jalanmu itu seperti kereta listrik, wusshh..!" Kavin sampai ngos-ngosan karena berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Atun. Jarak dari tempat jemuran lumayan jauh dari dapur, dekat dengan paviliun ART mereka.