
"Sayang, itu semua tidak seperti yang kamu dengar. Mama memang berniat menjodohkan aku, agar aku bisa punya anak. Tapi aku nggak mau, aku hanya tidak tau bagaimana cara menolak keinginan mama. Untuk itu aku butuh kamu sayang, ayo kita perbaiki pernikahan kita, kita bisa adopsi anak, tidak harus yang lahir dari rahim kamu atau dari benih aku." Angga menjeda ucapan nya kemudian menghela napas panjang.
"Aku tau aku sudah sangat menyakiti kamu, aku berselingkuh dengan Lusi, itu benar. Aku nggak akan menyangkal nya, aku ini pria jahat, aku tidak memberi nafkah yang layak pada istriku itu juga benar, aku jahat pada ayah mertuaku itu juga benar. Semua hal buruk yang pernah aku lakukan semua benar, aku salah, aku bodoh. Maafkan suami bodoh mu ini, sayang. Aku mohon."
Sarah hanya bisa mematung, dia berusaha mencerna apa yang dia dengar dari mulut ibu mertua nya. Jadi Angga akan menikah lagi, lalu untuk apa dia memohon sampai menjatuhkan harga diri nya sendiri.
"Maaf mas, keputusan aku sudah bulat, bukan kah kamu juga akan menikah. Kamu lihat sendiri kan, bagaiamana perlakuan mama kamu sama aku mas." Ucap Sarah seraya meraih koper miliknya.
"Nggak Sar, nggak! Aku nggak mau nikah lagi, Sar. Ya Tuhan, kenapa jadi gini sih!".. Seru Angga frustasi, dia menarik koper milik Sarah.
"Balikin, mas koper aku. Jangan ngerendahin harga diri kamu kaya gini, keputusan aku nggak akan berubah." Sarah masih kekeh pada pendirian nya.
tililit tililit tililit... Ponsel Angga berbunyi di saat yang sungguh tidak tepat, Angga reflek melepas genggaman nya pada koper Sarah kemudian meraih ponsel di saku celana nya. Dilihat ID pemanggil itu, membuat wajah nya semakin kusut. Lusi lah yang menelponnya, tidak ingin menambah masalah dia pun mengabaikan panggilan itu begitu saja.
__ADS_1
"Sarah?" Seru Angga yang baru sadar, Sarah sudah tidak ada di depan nya. Angga bergegas menuju pintu keluar, namun mobil taksi yang di tumpangi Sarah sudah pergi dari depan gerbang rumahnya.
Saat akan mengambil kunci mobil nya di dalam rumah, ponselnya kembali berbunyi, namun dia kembali mengabaikannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Angga mengemudi mobilnya seperti orang kesetanan, belum lagi dia sama sekali tidak mengingat alamat rumah sang mertua. Dia hanya pernah ke sana sekali saat melamar Sarah, setelah itu tidak pernah lagi, dia tidak betah dirumah itu lama-lama. Gerah dan sempit, membuat dia susah bernapas. Walaupun rumah Sarah tidak bisa di bilang kecil-kecil amat, karna ada 3 kamar di rumah itu dan ruang keluarga yang lumayan luas, apalagi rumah Sarah yang tidak terlalu banyak barang didalamnya.
"Hallo, Lusi bukannya aku sudah bilang hubungan diantara kita sudah selesai, jangan ganggu aku lagi, lanjutkan saja hubunganmu dengan si tua renta itu. Aku sungguh tidak peduli." Angga bebicara tanpa memberi kesempatan bagi orang di seberang telpon untuk membuka suara. Klik. Angga mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Tililit tililit tililit... Angga benar-benar dibuat kesal dengan panggilan itu.
"Apalagi Lu..." Ucapan nya terpotong oleh suara seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Hallo pak, maaf mengganggu waktu nya, nomor anda ada di daftar panggilan terakhir yang dihubungi oleh nomor hp ini. Sekedar informasi, bahwa pemilik ponsel ini sekarang sedang berada di UGD RS mitra keluarga. Mbak nya di antar ke rumah sakit, oleh orang yang mengaku menemukan mbak nya di pinggir jalan dalam keadaan pendarahan. Sekarang sedang di tangani dan masih belum sadar, silahkan jika bapak adalah keluarganya untuk datang ke rumah sakit segera. Lalu panggilan pun terputus.
Angga mematung, mendengar penjelasan panjang lebar dari orang yang menelpon nya. Ada apa lagi dengan perempuan itu pikirnya, kenapa juga harus dia yang di hubungi. Namun sejenak dia terdiam, jika Lusi pendarahan, ada kemungkinan bila wanita itu sedang hamil. Dia harus kesana untuk memastikan nya. Kemudian Angga memutarkan kemudi mobilnya, menuju rumah sakit tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Taksi yang Sarah tumpangi, baru sampai di depan rumah ayah nya. Di bergegas keluar dari mobil, untuk mengambil barang bawaannya di bagasi di bantu oleh sang sopir.
"Makasih pak, ini biar saya bawa sendiri." Ucap Sarah pada sang sopir, yang terlihat akan membantu membawakan koper nya.
"Baik, mbak. Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi" Balas nya tersenyum ramah. Lalu kembali masuk kedalam taksinya, dan meninggalkan Sarah yang masih mematung, menghadap kearah rumah ayahnya.
"Iya Tuhan, semoga ini keputusan yang benar." Ucap Sarah bergumam kecil, hingga nyaris tak terdengar. Lalu mulai melangkah memasuki pekarangan rumah, yang mulai sekarang akan menjadi tempatnya untuk pulang.
__ADS_1