
"Pada mau ngapain sih ngajak ayah sama didi ke sini? Mana gelap serem didi, ayo balik. Kalian gak kemasukan roh psikopat kan? Yang tau-tau orang tua nya di bunuh tanpa sebab." Revan mengoceh sepanjang jalan, Daniel, Alfan dan Kavin mengajak mereka berdua berkendara tanpa mau menjelaskan kemana tujuan mereka.
Tiba-tiba saja dia jadi ngeri sendiri, efek terlalu banyak menelan bulat-bulat berita di sosmed.
"Ck, berisik bener sih. Didi sekali lagi ngoceh, aku tinggal ya, di pinggir jalan ini, biar di adopsi sama macan." Daniel merasa kupingnya sedang di kerumuni banyak nyamuk, akibat ocehan didi nya yang tak bisa diam sejak mereka baru berangkat tadi.
Revan langsung kicep, dasar psikopat gak punya perasaan. Bukannya di adopsi, di kunyah hidup-hidup mah iya.
Setelah 25 menit perjalanan mereka sampai di villa yang cukup besar. Ada dua lagi villa di samping kiri kanan villa besar tersebut. Pasti orang yang sangat kaya pikir mereka, pasalnya membawa bahan material ke ujung desa saja sudah penuh perjuangan. Apalagi jika membawanya hingga ke puncak villa ini, apa mereka membawanya dengan menggunakan pesawat terbang, batin Revan.
"Ini villa siapa, villa apa rumah tinggal sih. Kaya rumah tinggal sih ini, tamannya luas banget ada bangunan lain juga, kayanya Punyaan yang punya villa ini juga." Revan mulai berkomentar tentang villa yang mereka datangi dengan pendapat nya sendiri.
"Ini rumah siapa, Dan? Udah mau tengah malam gini siapa yang kau kita kunjungi, tar malah kita disangka maling atau rampok. Balik yuk, becanda nya jangan kelewatan, ayah sama didi udah tua mau di ajak main kejar-kejaran akibat di sangka maling." Revan pun sependapat, dia dan Reegan sudah akan kembali masuk ke dalam mobil sebelum sebuah suara menghentikan keduanya.
"Ck, dasar penakut. Gitu aja udah mau kabur, ternyata kedua sahabat kita ini, sudah tua. Lihat ubannya, ck ck ck." Suara itu sangat mereka kenali, menjengkelkan namun juga sangat dirindukan.
Revan dan Reegan berbalik pelan, kemudian mematung di tempat. Hantu kah, halusinasi kah, atau ajal keduanya sudah dekat. Sehingga bisa berkomunikasi langsung dengan para arwah.
Dari arah samping Reegan Terdengar langkah kaki yang tak biasa, Reegan lantas menoleh, dan matanya hampir meloncat keluar. Bastian di sana berdiri bersama Bintang, menatap penuh kerinduan pada mereka.
Reegan melangkah cepat, dia takut bayangan itu akan menghilang sebelum sempat dia gapai.
__ADS_1
"Astaga, ini benar-benar nyata. Van, seperti nya ajal kita sudah dekat, hubungi istri mu dan yang lain sebelum kita sempat berpamitan. Coba kemarilah, sentuh ini, ini terasa sangat nyata." Mata Reegan berkaca-kaca, lalu memeluk tubuh Bastian yang dia sangka arwah penjemput nyawa mereka berdua.
Revan tanpa sadar meneman nomor panggilan cepat diponselnya. Tanpa bicara walau panggilan sudah terhubung, pria itu melangkah menyusul Reegan.
Disentuh nya pipi Bintang, dengan air mata yang sudah mengalir deras. Lalu memeluk nya erat, sangat erat.
"Seperti nya memang waktu kita sudah tiba, Gan. Lihat aku juga bisa menyentuh bahkan memeluk tubuh Bintang. Semoga saja Nabila dan yang lainnya bisa melanjutkan hidup tanpa kita." Pria itu kembali tergugu di pelukan Bintang.
Plakk plakk
"Dasar gila, kalian berdua pikir kami ini arwah gentayangan, begitu? Enak saja." Satria tak terima di kira roh penjemput maut.
"Lihat Van, Mereka bahkan ngajak kita ngobrol. Setan jaman sekarang keren-keren. Bisa nabok juga." Daniel dan yang lain bingung harus memberikan reaksi apa. Tingkah kedua pria paruh baya itu benar benar bikin gatal tangan pengen nimpuk.
"Ya, kamu bener Gan. Untung tadi aku udah puas puasin makan rendang, jadi gak nyesel amat kalo mati sekarang." Lalu Revan memutar tubuh nya Menatap ke arah Satria, kemudian memeluk pria sangat itu dengan penuh kerinduan.
"Kalian gak berubah ya, masih kaya tiga setengah tahu lalu. Apa karna mati nya di umur segitu, jadinya ya kaya gitu-gitu aja selama jadi arwah." Tidak tahan dengan ucapan meracau kedua pria itu, Satria Menghadiahi tulang kering Revan dengan tendangan mautnya.
"aww aww, gila. Jadi setan aja masih segalak ini. Pasti malaikat lama nih nyidang kalian waktu melewati gerbang kematian. Bingung, mau masukin kemana." Ucapan ngelantur Revan semakin menjadi-jadi, pria itu mengusap tulang kering nya yang terasa kebas.
"Gan, liat nih. Keren gak villa setannya aja terasa senyata ini. Bener-bener alam lelembut sejati." Setelah beres dengan kaki kebas nya kini kedua pria itu kembali menatap satu persatu sahabat setan mereka dengan air mata yang kembali luruh.
__ADS_1
"Yah, didi. Ayo masuk, dingin nih. Becanda mulu kerjaan nya." Daniel dan yang lain berjalan meninggalkan Reegan dan Revan yang masih melongo tak percaya. Melihat anak-anak itu masuk ke dalam villa setan tersebut tanpa rasa takut.
Setelah puas berkutat dengan pikiran masing-masing, akhirnya mereka berdua pun menyusul masuk. Dan lebih terkejut nya lagi mereka, melihat Varel, Levita dan Bram yang sudah di nyatakan meninggal tiga setengah tahun lalu. Sedang ngopi santai di sebuah sofa segi empat yang lumayan besar.
"Gan, ini memang mata aku yang udah kurang sehat apa kamu liat apa yang aku liat." Revan mendadak ngeri, melihat para arwah itu seolah menyambut mereka, dengan berbagai cemilan di meja sofa yang terbuat dari kayu jati tersebut.
"Aku liatnya para arwah yang lagi ngopi sama makan goreng pisang itu, kamu lihat tidak?"
"Sama, artinya memang panggilan semesta kita udah mendekat. Tapi anak-anak kenapa bisa duduk santai di sana, gak takut apa karena gak liat apa gimana sih."
Brumm
Brak brak suara pintu mobil yang di tutup keras terdengar sampai kedalam villa tersebut. Membuat semua orang saling berpandangan, siapa lagi yang datang selain dua makhluk menyebalkan di depan mereka ini.
"Didiiii... Reegaaan... Kalian diamana? Jangan tinggalin kami dong, ajak sekalian kenapa sih. Kami mana bisa hidup kalo gak ada kalian berdua." Suara serak dan cempreng Nabila menggema di malam buta di halaman villa yang mereka masuki.
Revan bergegas keluar, tak ingin membuat sang istri semakin histeris di villa hantu tersebut.
"Mi, mii sini. Jangan teriak-teriak, ini kenapa kalian betiga pada nyusul sih, bahaya. Roh Bintang, Satria sama Bastian lagi di dalam. Lagi ngopi sama ngemil, Mereka mau jemput didi sama Reegan. Kalian mendingan balik gih, didi minta maaf kalau selama ini punya banyak salah sama mimi, didi sayang mimi sama anak-anak. Mimi jangan kawin lagi ya, didi gak rela soalnya. Nan......"
Plakkk
__ADS_1