
Sudah sebulan sejak Sarah keluar dari rumah sakit, Sarah tinggal di rumah yang Reegan beli di perumahan yang sama dengan Angga dan Lusi. Reegan pun tinggal disana bersama mereka, rumah lama Reegan dijual, uangnya dia pakai untuk membeli rumah baru tersebut dan sebagai pegangan.
Kondisi keuangan Reegan memang belum benar-benar stabil, 4 bulan pasca kasus sang kakek, perusahaan yang Reegan pimpin berangsur-angsur membaik. Para sahabatnya pun tidak lepas tangan, meski mereka sempat geram dengan perlakuan Reegan pada Sarah dan calon anak mereka. Bahkan pria itu dihadiahi, entah berapa banyak bogeman dan pukulan dari para sahabatnya itu, dan berakhir dirumah sakit selama dua Minggu.
Reegan bersyukur, dikelilingi oleh orang-orang yang baik padanya. Bahkan pria yang pernah menjadi rivalnya itupun, turun tangan membantu perusahaan nya, juga membiayai semua biaya perawatan Sarah selama dirumah sakit. Dia akan tetap menggantinya walaupun pria itu menolak, akan dia cicil semampunya. Dia tau biaya yang sudah Angga keluarkan, tidaklah sedikit.
Dulu baginya, uang 137juta itu bukanlah jumlah yang besar. Namun sekarang, 1juta saja baginya sudah sangat terasa. Namun untuk Sarah dan buah hatinya, dia tidak akan memperhitungkan berapapun pengeluaran nya. Dia akan bekerja bagai kuda tak kenal lelah, agar anak-anak dan wanita yang dicintainya itu tidak kekurangan apapun.
"Kamu mandi dulu ya, anak-anak biar sama Puput, mumpung masih tidur anteng gitu." Ujar Reegan seraya mengangkat wanita itu ke kamar mandi. Kegiatan itu sudah dia lakukan sejak mereka masih dirumah sakit.
Dengan telaten Reegan membersihkan tubuh Sarah di dalam bathtub, jika ditanya apa gairahnya tidak terpancing, jawabannya, jelas terpancing. Hanya saja Reegan selalu berusaha untuk menahannya. Toh dia masih bisa bersolo karir, dia hanya perlu menyetok sabun cair yang banyak, maka urusan selesai.
"Pake daster yang ini apa yang ini? Ini kancingan nya agak panjang, gak susah kalo pas kamu buru-buru." Inilah gunanya punya teman yang sudah menikah, bahkan urusan pakaian wanita bisa saling berbagi tips. Reegan direkomendasikan daster oleh Angga, bahkan pria itu memberikan selusin daster, dengan berbagai motif dan model padanya. Tentu saja benda keramat para wanita itu, dibeli oleh Lusi, istrinya.
__ADS_1
"Yang bunga-bunga biru itu aja. Kamu siap-siap gih ini aku pake sendiri aja, bisa kok." Sarah meraih daster motif bunga-bunga itu dari tangan Reegan, hanya baju saja dia masih bisa.
"Ya sudah aku mau pake dasi dulu ya." Ujar pria itu beranjak menuju walk in closet, tidak sebesar miliknya dirumah lamanya, namun dia merasa itu lebih dari cukup.
"Put, gaji kalian udah di bayar sama bapak belum?" Tanya Sarah pada Puput, yang kini beralih profesi menjadi baby sitter si kembar. Orang yang bekerja dirumah baru Reegan hanya beberapa orang saja, selain keuangan nya yang belum membaik, orang-orang lama, adalah orang yang bekerja atas perintah sang kakek. Sekarang hanya 4 orang saja yang bekerja dirumah dua lantai itu, penjaga rumah, tukang kebun merangkap membersihkan rumah, juga tukang masak dan cuci.
Sang ayah, kadang bersama mereka namun lebih banyak dirumahnya yang dulu, dia masih suka dengan profesi sebagai petani sayur. Sedangkan ibu nya Reegan masih di jerman. Walau wanita itu selalu merengek pada Reegan, agar diijinkan kembali ke Indonesia, Untuk menemani Sarah dan melihat cucu-cucu nya secara langsung. Namun Reegan masih melarangnya, selain sang ibu belum mengetahui soal keuangan nya, dia juga tidak ingin ibunya merasa sedih melihat keadaannya yang sedang sedikit sulit sekarang.
Dan ini lah pilihannya, memilih membuka toko kelontong, hingga akhirnya bisa menjadi minimarket yang sudah memiliki dua cabang dikota ini sekarang. Andai Reegan bisa setegas sang paman, mungkin dia tidak akan kehilangan satu putri nya. Penyesalan memang selalu diakhir, jika diawal itu perencanaan namanya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya, hari ini aku agak sedikit sibuk ya. Mau ketemuan sama investor yang mau kerjasama sama proyek baru aku. Doain ya, semoga bisa berjalan sesuai rencana dan harapan." Ucap pria seraya mencium kening Sarah dengan sayang, lalu beralih pada kedua anaknya.
Jika dulu dia tidak perlu sampai segitunya, hanya untuk mencari dana sebuah proyek. Para investor yang datang sendiri padanya, namun kini keadaan berbalik. Dia harus ekstra dalam melobi investor nya, agar tertarik dengan proposal proyeknya dan mau bekerjasama dengan perusahaan nya. Untung dia punya sekretaris dan asisten, yang selalu cekatan dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
__ADS_1
"Ya, hati-hati. Itu, gajinya Puput sama yang lain biar aku aja yang bayar bulan ini ya, bulan depan dan seterusnya kamu lagi. Gak apa-apa ya, kamu juga karena lupa kan, banyak kerjaan, sibuk aku liat akhir-akhir ini." Ujar Sarah tersenyum lembut, begitulah caranya, agar Reegan tidak merasa kecil dihadapan nya.
"Ya kamu benar, aku sampe lupa. Ya pake uang kamu dulu, nanti aku ganti ya. Tetap harus diganti itu, uang kamu tetap punya kamu. Kalo keuangan kita sudah membaik, semua kebutuhan kamu sama kakak adek aku penuhi semua. Termasuk kebutuhan rumah dan para pekerja, kamu jadi gak perlu mikirin ini itu." Ucap pria itu merasa bersalah, Sarah harus ikut andil dalam pengeluaran rumah.
"Ya, ganti yang banyak ya. Biar aku bisa beli daster sama kreditan panci pada ibu Lusi." Lalu keduanya tertawa.
Lusi mendeklarasikan dirinya sebagai KPP (Ketua Pelopor Perkreditan) di komplek tersebut. Barang siapa yang membutuhkan barang kebutuhan rumah tangga termasuk pakaian keramat para wanita, yang meski sudah sobek, tetap menjadi andalan, DASTER. Silahkan menghubunginya. Dia yang akan menyetok barang tersebut, lalu menjualnya dengan metode cicilan. Bahkan dia membuat sebuah arisan, yang membuat sang suami geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Aku berangkat dulu ya, Kakak sama adek jangan dipangku terus ya, kasih Puput aja kalo rewel, takut kamu cape. Aku sayang kalian." Pria itu kembali mencium kening Sarah, untuk mencurahkan kasih sayang nya.
Sarah menatap kepergian Reegan dengan tatapan sendu, dia bukan tidak tau, pria itu hampir jarang tidur nyenyak di malam hari. Disela-sela pekerjaan yang dia kerjakan dirumah, dia juga mengurus kedua anaknya jika keduanya terbangun tengah malam.
Keputusan nya untuk ikut bersama pria itu, bukanlah keputusan yang langsung dia buat tanpa berpikir panjang. Sarah hanya manusia biasa, hidup baginya adalah proses pertumbuhan yang tidak pernah sudah dan cukup. Dia belajar memaafkan bukan berarti dia melupakan, namun hidup dalam dendam dan memelihara sakit hati berkepanjangan, bukanlah sikap yang baik. Lalu apa bedanya, dia dan orang yang sudah menyakiti nya.
__ADS_1