Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Daniel-Asha S2


__ADS_3

"Suka gak? Ini makanan favorit kamu dulu, loh." Ujar Daniel bersemangat.


"Suka, rasanya pas di lidah aku. Emang suka banget ya dulu, enak sih ini." Balas Asha sambil terus memasukkan suapan demi suapan ke mulutnya.


Daniel tersenyum senang, walau ingatan sang kekasih masih belum kembali, namun seleranya tidak ada yang berubah.


"Kalo suka nanti nambah lagi" ujar Daniel senang.


"Banyak kok ini porsi nya, aku makan yang sudah kita pesan aja deh." Asha berucap sambil menunjuk makanan yang sudah mereka pesan di atas meja.


Daniel hanya mengangguk saja, apa saja yang Asha ingin makan tidak masalah. Dia bukan pria yang ribet dengan urusan berat badan pasangan nya, selama wanita di hadapannya ini sehat dan bahagia, itu sudah cukup baginya.


Sesekali Daniel turut menyuapi Asha dengan makanan miliknya. Keromantisan itu membuat seseorang di meja lain yang tak jauh dari sana, membara, kedua tangan nya mengepal kuat. Hatinya bergemuruh menahan cemburu dan amarah.


Hingga akhirnya, terlintas sebuah ide jahat di kepalanya. Dengan seringai serigala, gadis itu beranjak dari kursinya kemudian menuju ke arah meja dimana Daniel dan Asha berada.


"Hai Dan? Kamu makan di sini juga, kebetulan banget. Ini tuh restoran favorit keluarga aku, kita memang jodoh kali ya. Di kampus juga satu kelas yang sama." Celoteh wanita itu dengan pede.


"Ini pasti adik kamu kan? Hai, aku Asara. Calon pacar kakak kamu, kita udah deket mulai di Sydney hingga ke sini pun sama-sama. Jodoh emang gak kemana ya." Lanjut nya lagi terkikik manja lalu mengambil tempat duduk di samping Daniel.

__ADS_1


Daniel sudah mulai geram dengan tingkah tak tau malu wanita itu, andai saja tidak ada Asha di sana. Akan di beri wanita itu pelajaran etika dengan caranya sendiri.


"Kamu bisa pindah gak? Aku lagi mau makan, gak pengen di ganggu." Ketus Daniel menatap tajam wanita tak punya malu itu.


"Cuma numpang duduk doang mah, pasti malu sama adik kamu ini kan? Gak masalah sih, dia aja gak protes kok. Gak apa-apa kan, aku duduk di sini bareng kalian?" tanya nya pada Asha, yang sejak tadi hanya diam saja.


"Boleh" ujar Asha datar. " Silahkan aja kalo kamu memang gak punya urat malu. Makanannya juga boleh kamu makan, tenang saja. Aku yang akan mentraktirmu, aku tau makanan di sini pasti mahal-mahal." Lanjut Asha dengan tenang namun terkesan dingin.


Asara dan Daniel sontak terkejut dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Asha. Wanita kalem dan lemah lembut itu, ternyata bisa mengeluarkan statement yang cukup membuat orang tercengang. Asara sampai melongo dengan wajah bodoh dan malu, mulutnya sedikit terbuka dengan mata melotot tak percaya. Apa gadis di hadapan nya ini tau siapa dirinya, tapi tidak mungkin, Daniel saja tidak mengenalinya.


Dan lagi, informasi yang dia peroleh, jika wanita ini sedang mengalami amnesia.


Asha hanya menatap datar wanita di hadapannya, tak ada ekspresi. Daniel semakin cemas, kalimat Asara bisa saja membuat sang kekasih salah paham. Dia bahkan tidak pernah menyapa wanita itu, selama mereka kuliah dan di satu kelas yang sama.


"Kau memang mengganggu. Jadi bisakah kau menyingkir dari samping calon suami ku, jujur aku tidak suka melihat nya. Tapi tidak masalah jika kau memang memiliki bakat seorang pelakor, duduk saja di sana dengan tenang dan nyaman. Tidak perlu mencemaskan ku" Kata-kata Asha merupakan sindiran halus untuk sang kekasih.


Daniel yang peka langsung beranjak dari kursinya dan mendorong kasar Asara dari kursinya.


"Auwww" Asara meringis saat bokong nya mencium lantai. Antar menahan sakit juga rasa malu. "Kasar banget sih, Dan. Aku cuma numpang duduk loh. Pacar mu saja tidak keberatan" ujar nya tak tau malu.

__ADS_1


"Tapi aku yang keberatan!" Tegas Daniel dengan suara lantang, hingga mereka benar benar menjadi pusat perhatian orang-orang sekarang. Membuat Asara semakin malu dibuatnya. Gadis itu berdiri kembali, kemudian meraih tasnya dan bergegas pergi dari restoran itu, tanpa sempat membayar tagihannya.


"Mbaak, tagihannya belum" seru seorang waitress pada Asara, yang nampak berjalan terburu-buru menuju pintu keluar. Semakin bertambah lah rasa malunya. Ingin rasanya dia menghilang saja dari sana saking malunya.


"Ya aku tau, kau tidak perlu berteriak seperti itu. Aku bukan pencuri!" Seru Asara membalas waitress tersebut. Lalu bergegas membayar tagihan nya setelah selesai gadis itu segera berlalu dari sana.


Sesampai nya di dalam mobil, Asara memukuli kemudinya berkali kali untuk melampiaskan rasa kesal, marah juga malu yang dia alami hari ini. Niat hati ingin memanasi Keyra malah dirinya yang terbakar. Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Asara melajukan mobilnya meninggalkan restoran.


Asha masih belum membuka suara sejak kejadian tadi, gadis itu nampak datar dan tenang. Tak ada emosi berlebihan yang dia tunjuk kan, tidak ada komentar apapun tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Daniel terlihat gelisah, ingin memulai pembicaraan namun melihat tatapan dingin Asha, membuat nya kembali ciut.


Kekasihnya itu benar benar terlihat berbeda, tidak ada Asha yang lembut juga murah senyum. Daniel merasa khawatir akan nasibnya kini. Dengan segenap keberanian yang berhasil di kumpulkan, Daniel mencoba untuk memulai percakapan.


"Sayang, itu tadi hanya salah paham. Kami memang satu kelas Ketika kuliah dulu, hanya saja, kami tidak sedekat itu. Bahkan aku tidak pernah menyapa nya sekalipun, dia memang selalu mencari perhatian ku. Ada saja yang dia lakukan agar aku menatap nya meski dengan tatapan jengkel dan marah. Maafkan aku sayang, jika aku terlihat tidak tegas. Aku hanya tidak ingin membuat mu merasa tak nyaman dengan reaksi ku, jika aku berbuat kasar pada seorang perempuan." Jelas Daniel panjang lebar. Dia tidak ingin Asha salah paham dengan sikap diamnya tadi.


"Aku gak mau kamu mikir, jika aku ini laki-laki yang kasar. Dan berujung malah kamu jadi takut sama aku." Daniel menjeda ucapannya, menatap sang kekasih dengan tatapan sulit. "Tapi aku senang akan reaksi mu tadi, jadi jika besok-besok ada wanita seperti itu lagi. Aku sudah tidak canggung harus berbuat apa, kekasih ku saja bisa setegas itu, kenapa aku bisa kalah darinya. Aku kagum padamu, sayang. I Love you" ujar Daniel mencium lembut tangan kekasihnya.


Dan itu berhasil membuat pipi Asha bersemu merah. Daniel senang, akhirnya kesalahan pahaman diantara mereka terpecahkan dengan segera. Dia tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu, memendam segala sesuatu dan berujung pada penyesalan yang menyakitkan.


"Aku hanya kesal juga.... cemburu" ujar Asha pelan hampir tak terdengar.

__ADS_1


Daniel semakin senang mendengar nya "aku senang kalo kamu cemburuin aku, artinya kamu sayang, cinta. Aku juga gitu, bedanya aku langsung bisa nunjukin kalo aku cemburu. Aku gak suka milikku di ganggu orang lain, meski hanya di tatap, aku gak rela." Balas Daniel serius. Terlihat betapa besar cinta pria itu pada sang kekasih, sorot matanya selalu penuh cinta dan kelembutan jika berhadapan dengan Asha dan keluarga nya. Berbeda jika sedang bersama orang lain, hanya tatapan dingin dan datar yang terlihat.


__ADS_2