
"Yaangg peluk sini," pinta Jovan merentangkan kedua tangannya. Joi berhamburan memeluk sang kekasih tanpa peduli tatapan para siswa lain. Jovan sengaja tidak masuk ke gerbang sekolah, hari ini dia ingin mengajak sang kekasih merayakan kelulusan nya di puncak. Bersamaan merayakan ulang tahun Joi, yang terlewati karena gadis itu sibuk belajar untuk persiapan ujian.
"Gimana nilai mu, memuaskan tidak?" tanya Jovan setelah Joi turun dari gendongan nya.
"Memuaskan banget, tidak menyesal aku harus bangun subuh setiap hari buat belajar." Cengir Joi bangga, sembari memamerkan raport nya.
Jovan mencium kening Joi dengan sayang. "Tidak rugi aku puasa dua minggu kalau gini" ujar Jovan memperhatikan nilai yang tertera di raport Joi, dia sengaja tidak mengisi raport kekasih nya agar tidak di sangka adanya kecurangan. Jovan meminta tolong pada bu Wina, untuk mengisi raport Joi meski sebenarnya pihak sekolah sangat mempercayainya, bahwa Jovan bisa bersikap profesional. Namun Jovan kukuh menolak.
"Jadi kita mau kemana ini?" Joi masih penasaran akan di ajak ke mana, pasalnya semalam, lamat-lamat dia mendengar Jovan menelpon seseorang. Membicarakan soal dekorasi, entah dekorasi buat apa. Joi di landa penasaran tingkat dewa.
"Ada deh, ini taruh di tas dulu" Jovan menyerah kan kembali raport Joi.
"Isshhh.. aku penasaran tau" oceh Joi kesal.
"Kalau di kasih tau bukan kejutan lagi yang, sabar ya, dedek gimana? tadi tidak makan pedas-pedas kan?" tanya Jovan khawatir. Dua hari yang lalu Joi pingsan di dapur, untung saja Jovan segera datang. Hampir saja Jovan terkena serangan jantung dadakan, saat melihat tubuh Joi yang tergeletak di dapur dengan spatula persis didekat tangannya. Gadis itu rupa nya sedang memasak, untung nya wajan tidak ikut jatuh. Entah bagaiamana nasib Joi, jika wajan minyak goreng itu ikut tumpah.
"Baik kayanya, belum ada gerak-gerak sih, jadi tidak tau" cengir Joi polos. Jovan mengusap perut Joi sayang. Sungguh dia sangat bahagia, kebahagiaan yang sempurna untuk dirinya yang mantan brengsek.
"Jangan bandel kalau di bilangin, takut dedek Kenapa-napa. Aku bisa gila kalau terjadi apa-apa sama kalian. Kemarin saja aku sudah hampir mati rasanya" Jovan mencium punggung tangan Joi hingga meninggal kan jejak kemerahan.
"Didi ih, kebiasaan deh" Joi menarik tangan nya lalu mengelap menggunakan minyak telon. Joi suka pada minyak telon sejak 1 minggu, sebelum dirinya tau kalau dia sedang hamil. Bisa dipastikan, itu adalah bawaan bayi nya.
"Astaga yang, aku kasih stempel kepemilikan aja loh. Sampe di lap minyak telon gitu" protes Jovan merengut.
"Bukan tempat nya didi, sebel ih. Ini tidak bisa hilang loh" omel Joi sebal, tidak lupa bibir nya ikut maju 5 cm. Andai tidak ingat Joi sedang hamil muda, sudah Jovan bungkam bibir mungil menggoda imannya itu.
"Sabar" batin Jovan komat kamit.
"Setelah dua bulan nanti, aku mau main sampe puas pokok nya." Oceh Jovan tiba-tiba. Joi mengerutkan dahinya heran.
"Didi ngomong apa sih? kok tidak ujung pangkalnya gitu" tanya Joi bingung.
"Bikin dedek yang, berhubungan dedeknya udah jadi. Berarti tinggal proses penyuburan dan penjengukan nya aja lagi" Jelas Jovan tanpa beban. Joi melempar kan tatapan mautnya pada Jovan. Bukannya Joi tidak senang dengan kehamilan nya yang mendadak, mengingat jika Jovan rajin menabur benih nya siang malam. Namun dia masih syok, tiba-tiba akan menyandang gelar ibu di usianya yang baru 17 tahun.
__ADS_1
Seolah paham arti tatapan maut Joi, Jovan segera bertindak "Tenang aja yang, didi akan jadi suami dan didi siaga buat kalian. Jangan raguin didi ya?" Jovan mengusap kepala calon ibu dari bayinya. Walaupun sebenarnya, hati Jovan pun ketar ketir. Mengingat usia Joi yang masih sangat muda, dia takut gadis itu akan mengalami stress dan terbebani oleh kehadiran calon anak mereka.
"Yang,?"
"Hmm?" Joi menjawab dengan malas, pasalnya, dia sudah ngantuk berat.
"Kita nikah besok yuk?" mata Joi langsung melek sempurna.
"Kok tiba-tiba?" tanya Joi heran, bukannya sudah disepakati kalau bulan depan.
"Aku pengen kita cepat punya ikatan resmi dan sah. Trus aku nyandang gelar suami, aku udah tidak sabar yang." Ujar Jovan gemes sendiri dengan ucapan nya.
"Terserah didi aja deh, mimi ngikut" Hati Jovan serasa melayang tinggi. Panggilan didi dan mimi berlaku sejak seminggu mereka tinggal bersama. Tentu saja Jovan yang meminta nya.
"Makasih Mimi sayang, didi jadi makin cinta nih. Nanti kita bahas lagi sama orang rumah," Senyum Jovan seakan enggan surut dari bibir nya. Kebahagiaan yang tidak pernah dia duga, dulu dia pria yang paling benci pada komitmen. Menikah dan punya anak baginya adalah gangguan. Namun bertemu gadis remaja bernama Joice Justin Wardhani, pandangan Jovan akan hidup berkeluarga. Seakan merubah pola pikir juga hidup nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mata aku kenapa pake di tutupin segala sih, aku kesandung nanti bagaiamana?" Joi mengomeli Jovan sejak di dalam mobil. Gadis itu protes karena harus menutup matanya menggunakan kain.
"Sudah siap,? aku buka sekarang ya.." Jovan membuka belitan kain hitam di mata Joi. Sejenak Joi mengucek matanya yang buram, lalu berteriak histeris melihat dekorasi yang begitu indah.
"Aaaaa... makasih didi.. ini indah banget, sweet seventeen paling berkesan sejagat raya ini mah.." Joi menghadiahi sang kekasih dengan banyak ciuman di wajah Jovan.
"Iyyuuuuhh.." si pengacau Dimas datang dari arah belakang Joi, merusak momen bahagia tersebut.
"Loh, kok?" tanya Joi heran, dia pikir hanya mereka berdua saja. Namun siapa sangka, Jovan mengundang seluruh keluarga mereka juga sahabat laknatnya, Dimas.
"Aku yang undang, yang. Mimi tidak keberatan, kan?" tanya Jovan menatap wajah Joi yang sedikit cemberut.
"Keberatan kalau ada dia," tunjuk Joi ke arah Dimas, membuat Dimas mendengus jengkel.
"Aku sama Iren udah cape dari kemarin nyiapin kejutan ini, tau tidak? dasar bumil tidak tau terimakasih!" ketus Dimas tak terima, kehadiran nya seolah tak di harapkan.
__ADS_1
"Udah, udah. Mantu mommy pasti capek ya, berkendara jauh-jauh gini. Duduk sini dulu, ibu mu masih di belakang." Amelia menarik tangan Joi hingga terlepas dari genggaman Jovan.
Mata Jovan melebar kesal, "mom, mimi mau di bawa kemana, aku mau ajak duduk di situ" Jovan Kembali menarik tangan Joi hingga terlepas dari gandengan Amelia. Amelia mendelik sebal.
"Dasar anak maling udang, mom kutuk jadi tampan baru tau." Kesal Amelia lalu duduk di sofa yang tadi dia maksud, agar Joi duduk disana bersamanya dan Kira. Namun anak tak berakhlak nya itu malah tidak mau mengalah.
"Joi? nak Jovan, baru nyampe?" Kira menghampiri anak juga calon menantu nya, keduanya langsung mencium tangan Kira.
"Baru bu, tadi sempat mampir istrahat sebentar. Kasihan bumil aku nih, udah misuh-misuh mau muntah tapi tidak bisa keluar." Jovan menarik kepala Joi ke dadanya dan mengelus sayang rambut gadis kecilnya.
Kira tersenyum hangat melihat perhatian Jovan pada putrinya, hatinya menghangat. Kira hanya berdoa, agar kebahagiaan putri nya, tidak perlu melewati rintangan berliku seperti yang dulu dia alamai.
"Cucu ibu gimana,?sehat?" tanya kira Kembali.
"Sehat bu, waktu di rumah sakit kemarin juga sempat di USG. Baru 4 mingguan kata dokternya." Jelas Jovan dengan wajah berbinar.
"Joi nurut-nurut sama Jovan, ikuti saran dokter, ingat, kehamilan pertama itu rentan. Jangan sampai menyesal kemudian" nasihat Kira tidak hanya menyentuh bagi ke-dua pasangan calon orang tua baru itu, namun juga menyentil hati kecil Daniel yang baru ikut bergabung disana.
"Kau sudah prepare soal rumah, Van? masa mau punya anak masih tinggal di apartemen." Ujar sang ayah yang datang bersamaan dengan calon besan nya.
"Udah dong dad, walau gaji aku tidak sebesar waktu jadi CEO dulu. Tapi puti Tuhan, masih cukup lah buat bangun rumah impian nya Mimi." Pamer Jovan bangga. Memang gajih nya mungkin hanya seperlima dari gajihnya sebagai CEO. Namun itu sudah cukup baginya, dia akan tetap menekuni profesi nya sebagai guru hingga Joi lulus.
Saat ini Jovan menjadi orang yang sangat menghargai setiap lembar uang yang dia hasilkan. Setiap akan membeli sesuatu, dia akan memikirkan ulang, jika memang tidak terlalu perlu, maka akan dia tunda. Kecuali untuk kebutuhan Joi, maka Jovan akan royal seroyal-royalnya.
"Dimana? di kota juga?" tanya kira tiba-tiba, entahlah, karena semua anaknya selalu tinggal bersama. Dan Joi yang merupakan anak bungsu, membuat hati Kira sedikit gelisah.
"Ya bu, maaf. Jovan cuma kasian kalau Joi kejauhan, bolak-balik saat sedang hamil besar nanti. Tapi kami akan nginap dirumah ibu setiap minggu, kami janji. Ya kan, mi?" Jovan merasa tidak enak hati.
"Ya bu, kami akan menginap di rumah mom sama dad malam sabtu, malam minggu di rumah ibu sama papa." Terang Joi berusaha menenangkan hati gundah sang ibu. Joi yang semenjak hamil, sangat berbeda, menjadi semakin dewasa.
"Nah, begitu lebih baik." Sambung Edwin mencairkan suasana. Kemudian mereka melanjutkan acara ulang tahun Joi yang sempat tertunda beberapa hari, juga merayakan kenaikan kelas Joi, Dimas dan Iren.
∆Makasih udah menjadi pembaca setia nya "Di ujung lelahku" partisipasi kalian merupakan support system terbaik buat aku. Sehat selalu buat para Readers ku tercinta😇😇🙏🙏🥰🥰
__ADS_1
∆Masih ada beberapa bab lagi, author mau nyicil dikit-dikit, biar gak cepat sampai di penghujung kisah. Rasanya masih belum rela, berpisah dengan beberapa tokoh yang paling bikin baper. Semoga kalian tidak bosan dengan cerita receh ini, luv yuuh kalian semua💋💋💋💝💝💝