
"Rumah bapak besar banget, gaya Eropa aku selalu suka. Sayangnya papa sama ibu pencinta nuansa klasik minimalis." Puji Joi terlihat begitu mengagumi rumah orang tua Jovan yang bergaya Eropa tersebut.
"Nanti aku bikinin kita rumah seperti yang kau ingin kan, yang. Yang lebih besar dari rumah orang tua ku juga orang tuamu. Aku mau punya banyak anak, trus tinggal bareng sama kita." Ucap Jovan berbinar penuh harapan. Meski baru sekali berkunjung ke rumah calon mertua nya, Jovan begitu mengagumi, bagaimana cara Daniel dan Kira mendidik anak-anak nya. Juga membuat ke 7 anaknya akur tinggal dalam rumah yang sama.
Jovan terinspirasi oleh hal itu, dan berharap bisa menjalani pernikahan yang bahagia bersama Joi kelak. Dengan banyak anak yang bermain di dalam rumah mereka.
"Ayo masuk" ajak Jovan melihat Joi yang masih betah berdiri di teras rumahnya.
"Aku kok jadi deg-degan, salah kostum juga nih. Malu, balik yuk" Joi memutar langkahnya namun dengan sigap Jovan menarik pergelangan tangan Joi.
"Udah gini aja, jadi kesannya tidak ada yang di tutup-tutupi. Ayo!" Jovan menggandeng tangan Joi yang sedikit berkeringat. Gadis urakan dan tomboi itu sedang dilanda kegugupan luar biasa.
"Mom, dad!" sapa Jovan saat melihat kedua orangtuanya yang sedang duduk di sofa.
"Vano.. mommy kangen banget nak, kemari, peluk mommy mu ini" Amelia sudah akan beranjak dari duduknya namun deheman sang suami membuat wanita itu urung. Dengan wajah berlipat, Amelia duduk kembali. Namun matanya tertuju pada anak sekolah yang sedang di gandeng oleh putra nya. Membuat jiwa kekepoan emak-emak nya mendadak meronta-ronta.
"Hai dad, aku pulang sesuai janjiku. Aku mau mengenalkan calon istri ku pada kalian" ucapan Jovan membuat Edwin dan Amelia tersedak ludah masing-masing.
"Apa kau sudah tidak waras, mau jadi pedofil, hah?!" teriak Edwin kesal " nak? apa kau butuh dana untuk biayai sekolah mu, aku dan istriku akan dengan senangnya hati membantu mu." Ucapan sang ayah membuat darah Jovan mendidih.
"Daddy kalau bicara di pikir dulu, bisa tidak?" sentak Jovan tak Terima. "Joi sudah punya segala-galanya, lagi pula walau pun aku cuma guru, aku punya gajih. Buat biaya sekolah dan jajan Joi juga masih cukup!" Jovan mengeratkan genggaman tangan nya tanpa sadar. Selalu perseteruan jika dia sudah berhadapan dengan sang ayah.
"Sudah sudah!" Amelia membuka suara untuk melerai perdebatan kedua pria kesayangan nya itu. "Joi ya? ayo duduk dulu nak, pasti cape ya, baru habis pulang sekolah kan?" Ujar Amelia ramah.
"Ya, tante. Baru pulang sekolah langsung kesini" balas Joi apa adanya. Kemudian kedua duduk berdampingan.
"Ini pacar Jovan mom, Namanya Joice, memang dia masih sangat muda, tapi Jovan cinta, Jovan sayang banget. Ini pertama kalinya Jovan jatuh cinta, Jovan harap mom dan dad akan merestui Jovan ke depannya." Jelas Jovan menatap sendu pada kedua orangtuanya.
Hati Joi menghangat melihat ketulusan cinta Jovan padanya, walaupun mereka memulai nya dengan cara yang salah. Dia harap ke depan nya, cinta Jovan bukan hanya isapan jempol semata.
Dapat Amelia lihat ketulusan dan besarnya cinta sang anak pada gadis belia tersebut. Namun Amelia khawatir, usia Joi yang terlihat sangat muda, gadis itu akan dengan mudah berpaling dari putranya.
"Joice ya, nama yang bagus." Puji Amelia tulus. Joi tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Makasih tante" jawab Joi pelan.
"Usia mu berapa nak?" tanya Amelia tersenyum lembut.
"16 tahun tante" mata Amelia dan Edwin melotot hampir keluar. Buru-buru Jovan mengintrupsi.
"Bulan depan 17 tahun kok" Jelas Jovan panik sendiri, alamat dicincang hidup-hidup oleh sang ibu kalau begini.
"Jovan?" suara lembut ibunya membuat bulu kuduk Jovan berdiri.
"Ya mom" balas Jovan lemah.
"Joi, istrahat di kamar tamu dulu aja, pasti cape banget abis pulang sekolah. Ya kan sayang?" perkataan Amelia membuat Joi serba salah. Jovan masih menggenggam tangan nya erat.
"Pak lepasin ini, malu ih" bisik Joi namun masih terdengar jelas oleh kedua paruh baya tersebut.
"Sayang Joi, sayang!" suara Jovan yang tiba-tiba ngegas membuat gelas kopi Edwin hampir oleng akibat tak sengaja tersenggol tangan.
"Panggil sayang dulu, baru aku ijinkan pergi. Atau aku cium nih," ancam Jovan membuat Joi ingin menenggelamkan dirinya, dalam busa empuk yang sedang dia duduki sekarang.
"Vano, biarkan Joi istrahat. Nanti bibi antarkan baju Aurel ke kamar tamu, kau istrahat saja nak. Jangan dengarkan pedofil ini." Sarkas sanga ayah membuat Jovan berdecak sebal.
"Cuma selisih 8 tahun ini" balas Jovan sewot.
"Namanya sudah tua" sengit sang ayah tak mau kalah.
"Udah, apaan sih, tidak malu ada calon mantu pada ribut mulu" hampir saja Jovan protes saat sang ibu menarik tangan Joi dari genggaman nya. Namun mendengar kalimat ajaib sang ibu, Jovan menurut.
"Makasih mom, kom memang yang terbaik" ujar Jovan tersenyum senang.
"Tunggu aja giliran mu" bisik sang ibu membuat Jovan merinding.
Seperginya Joi dan sang ibu, ayahnya mulai pasang tanduk.
__ADS_1
Bukk
"Auwww! daddy!" seru Jovan tak terima, kepala berharga nya dilempari kotak tisu yang tak lembut.
"Makanya otak mu itu di upgrade, biar tidak jadi pedofil. Dia baru 16 tahun Jovanooo! Astaga jantungku!" ujar sang ayah frustasi, sambil memegang perutnya
"Jantung itu di dada sebelah kiri pak profesor, bukan di perut. Katanya dosen" sungut Jovan jengah dengan sifat dramatis sang ayah.
"Kenapa harus sama anak kecil Jojooo!" Edwin benar-benar di buat gila dengan kelakuan sang anak.
"Joi sebentar lagi 17 tahun dad, lagi pula Joi sudah bisa di ajak buat anak kecil" ujar Jovan enteng.
Bughh
Lagi-lagi kepala Jovan harus menahan sakit akibat di aniaya oleh orang tuanya, kali ini bogeman kepalan tangan sang ibu yang mendarat sempurna di kepalanya.
"Mom!" protes Jovan meringis menahan sakit.
"Kau bilang apa tadi, sudah bisa di ajak bikin anak kecil. Jangan bilang kalian sudah melakukan hal sejauh itu, tadi mommy tidak sengaja melihat merah-merah didada Joi waktu ganti baju. Jawab mommy predator!" teriak sang ibu dengan mata melotot tajam.
Jovan menelan ludahnya berkali-kali "maaf," cicit Jovan seperti anak kecil.
"Astagaa! lihat dad, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Ratap Amelia mendudukkan dirinya dengan pasrah.
"Kok aku sih mom, kan dulu mommy juga mau waktu daddy ajak enak-enak" protes Edwin tak terima dirinya disalahkan. Mata Jovan melotot sempurna, jadi sifat mesumnya ternyata menurun dari sang ayah rupanya.
"Mulut mu dad," Amelia melempar bantal sofa pada suaminya yang tergeletak.
"Pantas saja aku mesum, ternyata orang tua ku begini kelakuan nya dulu" ujar Jovan geleng-geleng, seolah prihatin akan nasib mesumnya.
Mata sang ibu mendelik mendengar ucapan frontal sang anak.
"Maaf mom" cengir Jovan mengangkat dua jarinya.
__ADS_1