
Klek, Angga membuka pelan pintu apartemen sang kekasih gelap.
"Mas, baru nyampe. Duduk sini, itu kenapa muka nya di tekuk gitu." Lusi bertanya pada pujaan hati nya itu, pasal nya wajah Angga tidak secerah tadi pagi saat pria itu pulang dari apartemen nya. Tadi dia sengaja tidak masuk kantor, karna semalaman dia hampir tidak tidur. Demi memuaskan Angga di ranjang, dan demi suara notifikasi M-banking di ponsel nya.
"Mas lagi kesal sama Sarah, bisa-bisa nya dia nggak pulang dari kemaren." Ucap Angga kesal.
"Iya udahlah mas, biarin aja. Kan masih ada aku, apa mas masih nggak puas sama servis nya Lusi, hemm?".. Ucap Lusi manja, sembari mengelus pelan paha Angga. Membuat pria itu memejamkan kedua matanya, meresapi elusan yang mampu membangkitkan gairah nya.
Angga langsung mengangkat Lusi ke atas pangkuannya, lalu menarik kain tipis yang sejak tadi membuat diri nya gelisah. Angga meremas kasar dada Lusi, dia meluapkan kekesalannya pada sang istri, pada kekasih gelap nya itu. Dan next, kalian berimajinasi aja sendiri yaa guys. Heheheee😘😘✌️✌️
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Makasih ya, kang." Ucap Sarah setelah menerima hasil penjualan hasil kebun ayahnya, dari kang Sadin.
,
__ADS_1
"Sama-sama, neng. Akang juga ucapin makasih banyak, titip salam sama pak Ramdhan. Insyaallah besok akang ke rumah sakit. Ini akang mau lanjut ke rumah pak RT dulu, mau bantuin pasang tarub. Besok acara nikahan nya neng Salma, sama anak juragan kambing kampung sebelah. Pak Ramdhan juga sudah dapat undangan nya kemaren sebelum beliau sakit." Ujar kang Sadin panjang lebar.
"Baik kang, mudah-mudahan besok bisa datang, Salma juga teman main nya Sarah waktu kecil. Nggak enak kalo nggak datang, sekalian mewakili ayah. Pasti beliau nggak enak sama pak RT." Ucap Sarah pada kang Sadin. Meski dia tidak terlalu akrab dengan Salma, namun gadis itu tidak pernah punya masalah dengan nya atau mengejek nya seperti yang lain. Hanya karena diri nya jarang mengganti sepatu dan tas nya jika belum rusak parah.
"Permisi neng, akang pergi dulu." Ujar kang Sadin lagi sambil menjalankan motor supra x andalan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarah kembali melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda, dia mengambil ponsel nya lalu memotret beberapa kali. Setelah di rasa cukup, Sarah memilih beberapa foto, yang menurut nya bagus dan cukup jelas memperlihat kan detail dari sketsa lukisan nya. Lalu mencari kontak seseorang, setelah menemukannya, Sarah lalu mengirim 3 buah foto pada kontak yang dia beri nama, "Pria Arogan" tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Drrtt drrtt drrtt...
Reegan meraih ponsel nya yang berada di atas meja karja nya, lalu melihat pesan yang terkirim dari nomor yang di save dengan nama "pelukis rese". Dia masih kesal jika teringat, isi surat perjanjian yang tidak sedikitpun menguntungkan dirinya itu.
__ADS_1
Reegan segera membuka pesan itu, saat selesai mengunduh pesan gambar, Reegan sungguh di buat terkesima oleh hasil sketsa dari lukisan tersebut. Meski baru kerangka nya saja, namun itu cukup menjelas kan, jika pelukis nya adalah orang yang cukup berbakat di bidang nya.
Reegan mulai mengetik pesan, sekedar berucap terimakasih karna sudah mengirimkan gambar sketsa itu. "Thanks" Lalu menekan tombol send, cukup satu kata itu saja, bukannya dia tidak kreatif. Dia tidak ingin terlihat, jika diri nya mengagumi keahlian Sarah tersebut. Gengsi itu diperlukan sewaktu-waktu, itu pikir nya, terutama untuk sekarang. Reegan tidak ingin wanita itu nanti besar kepala, jika dia langsung memuji begitu saja hasil karya nya.
Reegan menyandarkan kepala nya di sandaran kursi kebesaran nya. Otak nya sudah terlalu lelah untuk di ajak berpikir lagi. Dia teringat ibu nya, yang belakangan ini lebih sering ke toko roti milik nya dan juga sering terlihat sibuk dengan poselnya. Dia hanya tidak ingin, jika sang ibu terus mencari informasi tentang keberadaan ayahnya. Pria yang sangat dia benci itu.
Tok tokk tokkk...
"Permisi tuan, anda belum akan pulang?".. Ucap sang asisten, dia sengaja menunggu Reegan meski tadi sudah disuruh untuk pulang duluan. Dia hanya tidak tega, melihat sang atasan yang tampak sangat tertekan belakangan ini.
"Kamu kenapa masih di sini?".. Ucap Reegan heran, bukannya tadi dia sudah menyuruh nya pulang terlebih dahulu.
"Iya, tuan. Kebetulan saya juga tidak ada yang menunggu di rumah." Ucap sang asisten cengengesan.
"Baiklah, ayo kita pulang". Putus Reegan akhir nya. Membuat sang asisten tersenyum lega.
__ADS_1