
"Kira suka tidak belajar sama miss. Dora?" Kira baru habis belajar bersama guru privat nya. Reegan ingin anaknya mengejar ketertinggalannya, untuk persiapan masuk sekolah pertengahan tahun ini.
"Suka yah, miss Dora nya baik. Tadi di kasih belajar pake bahasa Inggris nya juga. Katanya nanti bisa jalan-jalan keluar negeri. Betul tidak yah?" Tanya anak itu antusias. Jangan keluar negeri, keluar kota saja tidak pernah.
"Ya benar, walau pun Kira belum lancar bahasa Inggris nya, tetap ayah sama bunda ajak jalan keluar negeri. Kira mau kemana, mau liat Disneyland tidak? Nanti kalo kakak-kakak sudah pada libur sekolah, kita ke Paris, hongkong dan California. Kira pasti suka." Reegan tak kalah antusias. Saatnya dia menyenangkan anak kandungnya sendiri.
"Suka, tapi Kira tidak tau itu apa. Suka aja kalau mau di ajak jalan-jalan." Ucap anak itu nyengir polos.
"Itu wahana bermain yang ada diluar negeri, nanti kita semua kesana. Kira pasti akan sangat senang." Kecuali Killa, jika anak itu masih keras kepala dan selalu membuat ulah. Maka dirinya akan sangat tega, meninggalkan nya dirumah bersama para pekerja dan pengasuh barunya, Arumi.
"Horee.. Makasih yah. Sayang ayah." Kira mencium sayang pipi sang ayah. Membuat Reegan Sangat bahagia.
"Yah, Tante yang di depan ruangan ayah itu baik banget sama Kira. Tadi Kira di buatkan susu coklat hangat sama dikasih biskuit juga." Yang Kira maksud adalah Nindy.
"Oh, ya tante nya baik. Kira suka tidak main sama Tante Nindy tadi, itu anaknya yang kemarin kasih kado sama Kira. Yang anak perempuan pake gaun hijau itu." Reegan mengingatkan sang anak.
"Ya yah, Kira ingat. Kadonya boneka panda yang Kira pajang dilemari dikamar."
"Ya, itu orangnya. Nanti kira main sama kak Nina juga ya kalo datang main kerumah." Anak Nindy dan Abdi tersebut bernama Nina(Nindy-Abdi).
__ADS_1
"Oke yah, Kira senang punya banyak teman."
"Ya sudah, Kira tunggu ayah di kamar belakang ya, ayah mau meeting dulu." Kira dia bawa karena Killa selalu meneriaki anaknya tersebut. Reegan takut dirinya khilaf, dan bermain tangan.
Kira akhirnya les private dikantor Reegan. Kira pun tidak masalah, bahkan dirinya antusias saat tau akan di ajak bekerja. Di otak kecilnya, terlintas pekerjaan apa yang bisa dia bantu. Terbiasa bekerja mulai pagi buta sampai larut malam, membuat Kira sedikit bosan. Apalagi jika semua kakaknya pergi bersekolah, hanya dirinya dan sang ibu, kadang sang oma juga ikut menemani. Namun dia tidak ingin serakah, dia selalu beralasan ingin tidur siang, agar ibu dan oma nya punya waktu bermain bersama Killa.
Sejatinya, dalam kamus hidup Kira, gadis kecil itu tidak mengenal kata tidur siang. Kedua matanya terbiasa melek siang malam, karena dipaksa oleh keadaan. Dia hanya akan bermain didalam kamar bersama mainan nya yang sudah seperti toko mainan, saking banyaknya. Dan itu semua di berikan sebagai hadiah untuk dirinya tanpa dia minta.
"Baik yah, kira di sini aja yah. Takut sendirian di dalam. Gak apa-apa kan yah, Kira main di sini aja. Kira gak ganggu barang-barang ayah kok, janji." Ah, hati Reegan selalu meleleh melihat tingkah anaknya yang menggemaskan itu.
"Ya, dimana aja Kira main, gak masalah. Asal jangan keluar ruangan ayah ya, takut Kira nya nyasar. Ayah keluar dulu ya." Reegan mencium pipi sang anak sebelum dirinya keluar dari ruangan untuk meeting.
"Killa mau kamar yang ini buat Killa, tapi yang diatas tetap kamar Killa juga. Dia biar tidur di mana aja, terserah. Killa gak mau berbagi kamar sama anak gak tau diri itu." Ya ampun, kepala Sarah sudah pusing menghadapi kelakuan anak di hadapan nya ini.
"Killa gak boleh gitu nak, ini kan kamarnya Kira. Bukannya Killa dulu gak mau kamar ini, katanya gak mau kamar bekas trus kecil." Walau sejati nya kamar itu tidaklah kecil, hanya saja anak itu tidak ada puas nya. Dia menempati kamar utama dilantai atas yang awalnya adalah kamar Keenan.
Meski sempat adu mulut, akhirnya Keenan mengalah. Dari situlah jarak mereka semakin terbentang jauh, Keenan semakin tidak suka terhadap adiknya itu. Yang menurut nya terlalu semena-mena dan susah diatur.
"Gak mau tau, kamar ini harus jadi punya Killa. Barang-barang rongsokan ini keluarin semua. Mbooookk mbooookk, sini buruan. Lelet banget dasar sudah tua." Kesal anak itu semakin menjadi.
__ADS_1
"Ya non kecil , ada apa non?" Mbok Darmi tergopoh-gopoh dengan serbet masih digenggaman tangan nya.
"Ini barang rongsokan anak yang numpang ini di keluarin semua, aku mau pake kamar ini. Alas kasur nya juga ganti sekalian, nanti aku alergi kena bekas anak gembel itu." Perintah nya seenak jidat.
"Killa, sudah cukup. Bunda udah gak tahan sama kelakuan kamu yang kaya gini, ini kamar Kira akan selamanya tetap seperti itu. Kalau kamu tidak suka, bunda akan kembali kan kamu sama ibu kandung kamu. Kamu bisa atur mau tidur dimana yang kamu suka, kalau sudah di rumahmu sendiri." Habis sudah stok kesabaran Sarah, dirinya sudah cukup sakit hati dan fisik karena anak itu. Jangan sampai anak kandungnya pun mengalami hal yang sama.
"Killa gak mau, ayah bunda tetap orang tua Killa bukan anak pungut itu. Bukaan! Mbok buang semua barang-barang ini, Killa gak suka." Killa memutar kursi rodanya menuju lemari pajangan barang milik Kira, dilempar nya lemari itu menggunakan vas bunga. Hingga kaca lemari dan vas itu pecah berhamburan, airnya pun merembes di antara pecahan kaca tersebut.
Sarah melongo tidak percaya, Terdengar derap langkah kaki memasuki kamar tersebut. Ternyata kedua mertua Sarah, mereka berdua juga terkejut mendengar suara benda pecah sangat keras. Tak lama bi Surti, Puput dan Mamat juga ikut menyusul masuk ke kamar Kira. Dengan keterkejutan yang sama, Killa masih mengamuk, menghambur nakas juga meja hias yang ada disampingnya.
Sementara Arumi tidak bisa berbuat apa-apa, Sarah sudah mengode nya agar tidak didekati. Terlihat lengan gadis itu juga dipasangi plester luka, bisa dipastikan siapa pelakunya.
"Killa cukup. Kamu ini anak manusia apa bukan sih. Kelakuan kamu udah kaya anak demit begini. Bawa dia keluar, naik ke kamarnya, sekalian dikunci. Biar kapok." Ibu mertua Sarah itu murka, selama ini dia sudah menahan nya. Sekarang tidak lagi, anak itu harus di beri pelajaran keras.
"Mat, kamu bantu Arumi bawa dia ke kamarnya, kunci dia di sana, biar dia mengamuk dengan barang-barang nya sendiri. Kunci kamar mandi juga, nanti dia buat drama-dramaan nyalakan keran air lagi." Perintah mutlak itu segera di laksanakan oleh Mamat.
"Gak mau, turunin kira, turunin. Dasar tukang kebun gila, bodoh. Turunin gak, Killa loncat nih." Anak itu trus meronta-ronta saat Mamat dan Arumi menggotong kursi rodanya nya naik kelantai atas.
Sungguh, Killa adalah definisi anak setan yang sesungguhnya. Meski bukan salahnya terlahir dengan kelakuan buruk tersebut, namun tidak ada salahnya juga. Jika anak itu mau mengendalikan dirinya, bukan malah ikut mematikan nuraninya sebagai anak-anak dan juga anak manusia. Semoga tidak ada Killa Killa lain, di dunia nyata kita ya, para Readers yang budiman dan budigilr😄😄
__ADS_1