Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXIX


__ADS_3

"Tar malam jadi ikut temenin gue, kan? gak lama kok. Gue udah janji buat ketemuan sama Bilmar soalnya, dia ada di villa gak jauh dari sini." Ujar Gadis itu dengan ekspresi malu-malu.


"Trus, ijin sama ayah sama papa Satria nya gimana? Aku gak berani, apa lagi sama bunda." Balas Kira ragu, dia tau sang ibu pasti tidak suka, jika dirinya ikut bersama Killa.


"Kalo ayah sama papa mah gampang. Kecuali bunda sih." Ujarnya sedikit meragu. "Tapi kalo ayah sudah ijinin, biasanya bunda gak bantah juga kan?" Ujar gadis itu lagi dengan begitu bersemangat.


" Liat nanti aja, aku mau mandi dulu." Kira berjalan menuju kamar mandi, sementara gadis itu masih memikirkan cara, agar semua rencana jahatnya berjalan sesuai rencana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bunda masak apa? Kak Kalla jadi nyusul tidak, bun?" Kira bertanya perihal kakaknya yang masih belum kunjung tiba juga di villa.


"Bunda buat sop iga, mama Dara bikin iga bakarnya." Jawab sang ibu. "Kalo kak kalla belum bisa bunda hubungi dari tadi siang. Paling nyampenya malem. Kamu udah mandi belum? Udah sore." Jelas sang bunda lagi seraya bertanya.


"Udah bun, aku mau ke taman belakang dulu, nyamperin ayah." Pamit Kira seraya mencium kilas pipi sang ibu. Sudah sebulan ini, kebiasaan Kira tersebut kadang membuat perasaan Sarah tidak nyaman. Belum lagi Kira sering meminta dirinya dan sang suami, menemani nya hingga dia tertidur. Namun Sarah selalu menepis pikirnya anehnya Tersebut.


Sebelum benar-benar menghampiri sang ayah, Kira berhenti sejenak. Ditatapnya wajah pria, yang meski sudah berumur setengah abad, namum tetap memancarkan pesona dan kegagahan yang tak terelakkan. Tiba-tiba ada rasa sedih menyeruak di dadanya, seolah wajah itu tidak akan bisa dia lihat lagi. Entahlah, seakan dirinya akan pergi jauh ke suatu tempat dan tidak akan pernah kembali. Atau mungkin hanya perasaan sedih, karena luka yang di toreh kan oleh sang mantan kekasih.


"Yah?"

__ADS_1


"Eh, nak. Sini sayang. Killa mana, masih tidur?" Reegan membalas sapaan sang anak sekaligus bertanya soal anak angkatnya.


"Killa lagi mandi yah." Jelas Kira pada ayahnya. " Sila sama Selo mana yah? Di dalam gak ada."


"Ikut Didi Revan ke kota sebentar, baru aja berangkat. Susu adek Abil kelupaan bawa, sama Mom Nabila. Jadi sekalian ajak adek Selo sama Sila." Jelas sang ayah.


"Alamat pulang malam kalo gitu, kan lumayan jauh yah. Apalagi Selo ikut, banyak maunya itu nanti, bakal lama lagi." Kekeh Kira. Dia tau kelakuan adik sepupu nya itu, menjadi anak bungsu papa Satria membuatnya sedikit manja. Dan suka merengek jika menginginkan sesuatu. Dia yakin, pasti didi Revan nya tidak akan tega tidak mengabulkan.


"Ya, kaya nya bakal gitu. Kalo barbeque nya di huat besok malam aja, gak apa-apa nak? Takut gak keburu, masa didi Revan gak ikutan. Gimana?"


"Aku sih oke aja yah, gak jadi masalah sih. Oya, Killa mau ajak aku ke villa temennya gak jauh dari sini. Ada pesta kelulusan juga di sana, ala-ala nya anak muda gitu. Boleh tidak yah?" Entah kenapa, kali ini Kira berharap ayahnya menjawab tidak. Itulah kenapa dia lebih dulu menyampaikan nya, karena jika Killa yang berbicara, statement nya selalu tak terbantahkan.


"Ikut dong yah, tadi kan udah sepakat gitu waktu di kamar. Ya kan, Ra?" Killa tiba-tiba datang menyela pembicaraan ayah dan anak itu. Membuat Reegan sejenak Menatap wajah putri nya.


"Jauh, tidak tempat nya. Kalo jauh kalian gak usah pergi aja, ayah khawatir." Reegan rasa itu adalah jawaban yang paling tepat, untuk menyelamatkan perasaan kedua putrinya. Dia tidak ingin jawaban nya membuat Killa tidak nyaman.


"Gak yah, dari sini cuma setengah jam. Gak jauh, aku bawa mobil sendiri aja, jadi kalo pas waktu mau pulang gak nunggu-nunggu lagi." Jelas gadis itu bersemangat. Wajah bulat nya memancarkan harapan pada Reegan. Membuat pria itu tak tega.


"Ya sudah, tapi jam 10 udah harus pulang. Atau papa Satria yang bakal jemput kalian ke sana. Villa nya yang mana, siapa yang punya?" Akhirnya Reegan mengalah seperti biasa. Itulah kelemahan pria itu, selalu tidak tega menyakiti perasaan anak-anak nya. Tanpa dia tau, ijin perginya, akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

__ADS_1


"asyiiik, makasih yah. Punyaan orang tuanya temen sekelas aku yah, punya Bilmar. Papa kenal, sering kerumah juga, kerjain tugas bareng. Kalo gitu Killa naik dulu ke kamar. Oya, papa mana yah? yang lain juga gak pada keliatan." Entah kenapa dia jadi cemas, melihat tidak semua anggota keluarga para sahabat itu berada disana. Membuatnya was-was.


"Didi Revan ke kota sebentar sama mom Nabila, beli susu adek Abil. Selo sama Sila ikut. Kalo yang lain pada di kamar kayanya." Jelas sang ayah lagi.


"Owh, ya udah. Tapi balik kan yah? Eh, maksud aku takut nya gak keburu, didi malah nginep di kota gitu., Udah mau gelap soalnya, jalan kesini kan lumayan serem. Hutan melulu sepanjang jalan." Jelas Killa panjang lebar, meralat ucapannya yang janggal.


"Balik lah pasti, cuma tau sendiri kalo Selo ikut. Mau nya banyak tu anak. Tapi pasti balik." Jawab sang ayah yakin.


"Oh, oke. Aku ke kamar dulu yah, Ra." Gadis itu berlalu dari sana menuju kamarnya, dengan serum menyeringai. Sesampai di kamar dia terlihat sedang sibuk menghubungi seseorang. Entah apa yang dia bicarakan, hanya dia dan orang itu saja yang tau.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Loh, Kira mau kemana nak? Ini baju kamu kenapa begini?" Ujar sang ibu dengan nada tidak suka. "Ini bukan baju kamu kan, bunda tau semua model pakaian kamu nak, kamu juga pasti risih pake baju ginian. Ganti gih, bunda gak suka." Perintah mutlak sang ibu tak bisa di bantah oleh Kira, walau dia sendiri tidak suka dengan baju itu, terlalu pendek dengan belahan dada yang terlalu terbuka.


"Itu baju aku bun, lagian kita mau ke pesta bukan upacara sekolah. Sekali-kali gak apa-apa lah kalo Kira pake baju kaya gini. Ya kan ma?" Killa mulai terlihat berani membantah dan sekaligus meminta dukungan dari sang ibu.


"Ganti pokonya bunda gak suka, atau kalian gak boleh pergi sama sekali." Sarah tetap ngotot pada pendiriannya.


"Ganti aja, La. Kira juga kaya gak nyaman gitu makenya. Udah, Kira ganti aja nak. Cari yang nyaman kamu pake aja." Ujar Dara menengahi. Sarah sudah terlihat sangat marah, nada suara nya tidak seramah saat mereka mengobrol tadi. Dia tidak ingin putri nya semakin menyulut emosi wanita itu.

__ADS_1


"Ish, bunda memang gak pernah asyik kalo di ajak kompromi." Ujar gadis itu menghentak kan kaki nya di lantai lalu menarik Kira menuju kamar nya.


__ADS_2