Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXX


__ADS_3

"Diminum dong, Ra. Gak enak sama tuan rumahnya. Lagian alkohol nya gak tinggi juga." Ujar Killa dengan nada sedikit kesal, gadis itu trus memaksa sejak tadi.


"Aku gak suka, La. Aromanya aneh, aku nyium aromanya aja udah mual apalagi kalo minum. Kalo Muntah malah gak enak lagi." Kira berusaha memberikan pengertian pada saudarinya itu.


"Ya udah, siniin." Killa meneguk hanis minuman Kira hingga tak bersisa. "Tuh kan, gak bikin langsung mabok juga. Lo gak asyik, sama kaya bunda." Ujar gadis itu terang-terangan. Membuat Kira melongo mendengar ucapannya.


"Kok kamu ngomong gitu sih soal bunda, bunda tu cuma khawatir doang sama kita anak-anaknya." Bela Kira, Dia tak suka jika ibunya dibawa-bawa.


"Bukan gue, tapi lo. Cuma lo doang yang anak bunda, gue bukan. Gue cuma anak ayah doang, lo sama bunda yang udah ngerampok apa yang gue punya. Dan lo sama bunda harus membayar nya sekarang." Balas gadis itu dengan nada bengis. Tadinya, dia ingin Kira dalam keadaan sedikit mabuk untuk memuluskan rencana nya. Namun sekarang tidak lagi, akan lebih baik jika gadis itu dalam keadaan sadar sepenuhnya. Agar Kira bisa merasakan sakit yang selama ini dia pendam sendiri.


"Justin!" Serunya pada seorang pria yang sangat Kira kenal. "Sekarang lo urus dia, dan jangan coba-coba make hati lo. Inget, dia udah buat lo malu di depan teman-teman lo." Setelah memberikan perintah pada pria itu, Killa berlalu begitu saja, meninggalkan Kira yang masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.


"Laa, Kila. Jangan tinggalin aku, minggir gak. Awas, Justin. Aku teriak ya." Tubuh Kira bergetar ketakutan, bahkan air matanya sudah memenuhi pipinya. Namun pria itu malah memanggul nya seperti karung beras, menuju sebuah kamar di ujung lorong Villa tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di villa keluarga Sudibyo Sarah masih gelisah, entah mengapa dirinya merasa ada yang tidak beres. Hatinya tidak tenang, bayangan putrinya pamit padanya tadi dengan senyum yang begitu teduh, membuat perasaan Sarah semakin tidak tenang. Seakan itu adalah senyum terakhir bisa dia lihat.


"Belum tidur bun?" Reegan Menatap wanita, yang sudah menemani Hidup nya selama 23 tahun itu, dengan perasaan campur aduk. Wanita 47 tahun itu masih terlihat begitu cantik di usia nya yang sudah tidak muda lagi. " Masih mikirin Kira sama Killa, hmm?" Tanya pria itu lagi dengan lembut, dia tau kecemasan sang istri, namun menolak Killa juga dia sungkan pada Satria. Serba salah sebenarnya.


"Kira aja, yah. Aku cemas sama Kira, sejak tadi ponsel nya gak bisa di hubungi. Bunda merasa gelisah memikirkan nya. Coba ayah telpon Killa, tanya anak itu, kapan mereka akan pulang. Ini sudah jam 10 malam, harusnya mereka sudah pulang sekarang." Cecar wanita itu dengan raut wajah semakin cemas, ada kepanikan terlihat jelas di kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Ya, bentar ayah telpon. Bunda tenang dulu, duduk sini." Reegan mengarah kan sang istri menuju sisi ranjang, lalau mendudukkan wanita itu di sana.


"Ini ayah telpon dulu." Jelas pria itu, yang akhirnya tertular kecemasan yang sama.

__ADS_1


tuuttt tuuuttt tuuuttt...


Sudah lebih dari dua kali, namun belum ada Jawaban. Setelah ketiga kalinya masih tetap tak diangkat. Reegan benar-benar merasakan kepanikan sekarang, namun berusaha untuk tetap terlihat tenang didepan sang istri.


"Gimana yah? Killa gak angkat apa hak aktif?" Cecar wanita itu lagi, dengan wajah yang semakin panik.


Reegan hanya menggeleng pelan, setelah berusaha sekali lagi untuk menghubungi gadis itu, namun tetap tidak di angkat. Akhirnya Reegan memutus kan, untuk mendatangi kamar Satria walau dia merasa tidak enak. Pasalnya Sudah pukul 10 lewat.


Tok tokk tokkk...


Klekk


"Hmm? Kenapa lo, wajahnya panik gitu?" Pria itu berbicara setengah berbisik. Satria seperti nya masih belum tidur, namun terlihat jelas jika Dara sudah terlelap di ranjang mereka.


"Killa sama Kira gak bisa di hubungi, lo tau, Villa nya keluarga Bilmar. Killa bilang sering main kerumah bikin tugas bareng." Pria itu menjelaskan maksud tujuan nya, mengetuk pintu kamar sahabatnya tersebut.


"Tapi tadi sore waktu ijin keluar ngajak Kira, Killa dengan jelas bilang, kalau dia diundang ke acara perpisahan yang diadakan di villa keluarga Bilmar. Lo mikir gak, dari mana gue bisa tau nama Bilmar, sedangkan nama teman sekelas Kira aja gue gak tau." Cecar Reegan tak sabar, dia mulai merasa ada yang tidak beres dengan anak asuh sahabat nya itu.


"Lo bener, tar gue ambil ponsel dulu." Satria bergegas mengambil ponsel dan kunci mobilnya di atas nakas dengan pelan, dia takut akan membangun kan sang istri dan membuat wanita itu ikut panik.


"Ayo, kita pergi nyari di villa-villa yang gak jauh dari sini. Katanya berapa jauh jaraknya dari villa kita?" Satria bertanya seraya menuruni tangga dan memakai jaket kulit nya. Terlihat pria itu mengeluarkan pistol dari saku jaketnya, lalu memeriksa isi nya. Setelah di rasa aman, pria itu kembali menyelipkan di gesper bagian belakang.


"Lo bawa begituan buat apa? Kita cuma pergi nyari anak-anak doang?" Tanya Reegan heran.


"Gue punya firasat gak baik soal ini, bangunin yang lain, lo ke kamar Bintang gue ke kamar Revan sama Bastian." Ujar pria itu memerintah dengan nada yang tak biasa.

__ADS_1


"Ck, jadi gue mesti naik lagi ke atas kalo gitu?" Balas Reegan kesal, kemudian bergegas naik menuju kamar Bintang.


Tok tokk tokkk


Klek


"Lo? ada apa?" Ujar Bintang berbisik, pria itu nampak sudah bermimpi indah sejak tadi.


"Keluar dulu, bawa jaket lo sama ponsel juga." Reegan balas berbisik.


Bintang hanya menurut tanpa bertanya lagi. "Kenapa sih? Tampang lo Kaya lagi urgent gitu." Tanya Bintang setelah mereka berdua mulai menuruni anak tangga.


"Killa sama Kira gak bisa di hubungi, dan Killa berbohong sama gue waktu ijin keluar tadi sore. Dia bilang, mau ke pesta yang di adain teman sekelas nya yang bernama Bilmar. Yang sudah sering ikut belajar bareng dirumah, nyatanya, Satria bilang Killa gak pernah bawa teman selain Kira kerumah mereka." Jelas Reegan panjang lebar.


Bintang menghentikan langkahnya, lalu menatap ke arah Reegan dengan perasaan mulai tak enak.


"Sudah pada siap? Yuk! Gue takut gak keburu. Anak itu ternyata selicik ibunya." Ujar Satria geram. mereka menuju garasi lalu mengeluarkan mobil. Entah kemana mereka harus mencari, tapi akan mereka sisir semua villa yang berada di dekat sana.


"Ini giman sih? Gue berasa kaya masih ngigo gini. Emang Killa sama Kira kenapa, Sat?" Bastian yang kesadarannya masih belum pulih sempurna, sedikit bingung dengan situasi tegang di dalam mobil tersebut.


"Killa bohong sama gue soal temennya, dan sekarang gue gak tau mereka ada di mana?" Jelas Reegan mengusap wajah nya kasar, terlihat sekali, jika pria itu sedang Sangat menyesali keputusan nya.


"Kok Killa bisa gitu, bukannya tu anak selama ini udah baik banget sikapnya. Gak pernah aneh-aneh juga." Bastian masih belum bisa percaya, gadis yang selama ini dibesarkan oleh sahabat nya itu, bisa bertindak keluar jalur.


"Bisa jadi, kedalaman hati orang siapa yang mampu menyelami. Bisa aja Killa bersikap baik selama ini hanya sebagai kamuflase. Kalian pada ingat gak, sudah berapa kali, Sarah mengadukan kelakuan Killa, namun kita gak ada satupun yang percaya." Revan berujar panjang lebar menjelaskan tentang pendapat nya.

__ADS_1


"Anak itu memang bertingkah sedikit aneh belakangan ini, gue pikir karena dia mulai dekat dengan Daniel. Jadi sering tiba-tiba matiin ponsel nya, ketika gak sengaja gue pergok sedang bertelepon dengan seseorang. Gue pikir dia gak enak sama gue, bagaimana pun dulu Daniel deket sama Kira." Ujar Satria menimpali perkataan sahabat nya.


__ADS_2