Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Kesempatan mana yang kau maksud


__ADS_3

Tiga hari pasca sadar Daniel di perbolehkan pulang, namun Daniel memilih pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak ingin bertemu dengan Tiara, juga Misha anaknya. Daniel takut hatinya kembali luluh.


"Yakin mau pulang ke rumah mami, Dan? Misha gimana?" tanya Sinta untuk yang ke sekian kalinya. Wanita itu berharap Daniel membawa serta cucunya ke rumah mereka.


"Yakin mi, udah berapa kali Daniel bilang." Ujar Daniel malas. Dia pun merindukan putrinya, namun apa daya, Misha bukanlah hak nya.


"Trus Misha, beneran bakal di kasih ke orang lain. Mami kok kaya gak tega, gimana pun Misha itu cucu kandung mami. Mami gak rela, Dan." Ujar Sinta terisak pelan. Daniel menghela nafas lelah. Susah membuat sang ibu mengerti, jika Misha memang seharusnya bersama Bryan bukan dirinya.


"Udah mi, kita gak usah bahas Misha lagi mulai sekarang. Aku mau fokus memperbaiki hubungan ku dengan Kira, aku yakin, Kira masih sangat mencintai ku. Aku akan berjuang apapun untuk mendapatkan maaf dan kesempatan kedua." Mohon Daniel pada ibu nya dengan wajah memelas.


"Kesempatan mana yang kau maksud, kesempatan untuk menyakiti lahir batin adikku, begitu!" Dean yang baru datang dengan plastik obat di tangannya,menyela ucapan sang adik dengan wajah tak bersahabat.


"Dean!" seru sang ayah tak terima, adiknya baru saja pulih sudah di cecar dengan kata-kata menohok.


"Biar pi, aku memang salah. Sudah sepantasnya diperlakukan seperti ini," bela Daniel tak ingin memperkeruh keadaan.


"Memang sudah sepantasnya begitu, bagus kalau kau sadar diri." Lanjut Dean masih dengan nada ketus.


"Kak, sudah. Jangan seperti itu pada adikmu, bersimpati lah pada Daniel, nak." Mohon ibunya dengan wajah sendu.


Dean melengos ke sembarang arah, Dewi menggenggam lembut tangan sang suami, untuk meredam emosi Dean, agar tak kembali tersulut.


Dion yang baru masuk ikut terdiam, saat merasakan suasana tak biasa di dalam ruangan adiknya.


"Ini udah pada siap belum?" akhirnya Dion memecah kan keheningan yang tidak mengenakkan itu.


"Udah, ini tas adikmu sudah mami kemas tadi. Tolong di bawa, yang itu juga" tunjuk Sinta pada satu plastik ukuran sedang, yang berisi beberapa sisa makanan ringan yang di bawa oleh para kerabat mereka.


"Kak Dean ikut mobil aku juga, apa gimana?" Dion bukannya tak tau jika sang kakak tak akan ikut dengan nya. Kakaknya itu sedang menghindari Daniel, sehingga terkesan menjaga jarak beberapa hari ini.

__ADS_1


"Aku sama Dewi naik taksi aja, kami gak datang bawa mobil. Jadi tau diri. Kami duluan," kata-kata judes sang kakak membuat mata Daniel berkaca-kaca. Sementara Sinta dan Bintang hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, untuk meredam rasa sakit akibat sentilan si sulung.


"Ya udah, yuk!" Dion mencoba mengalihkan perhatian keluarga nya, yang masih betah menatap punggung sang kakak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiara kesal bukan main, saat tau jika Daniel lebih memilih pulang ke rumah orang tua nya. Dia bahkan tidak tau, dimana alamat orang tua Daniel. Belum lagi Misha yang rewel, membuat kepala pusing.


"Bisa diam gak, hah! berisik banget, dasar anak gak berguna. Lihat ayahmu itu bahkan tidak mau pulang kesini. Dasar anak pembawa sial!" Maki Tiara kesal pada bayi nya yang batu berumur 3,4 Minggu itu.


"Ririii!"


"Ya nyonya," Riri tergopoh-gopoh dari arah luar, "nona kecil kenapa nyonya?" tanya wanita muda itu takut-takut, lalu menggendong Misha yang nangis kejer disamping ibunya. Namun malah dibiarkan begitu saja hingga suara nya nyaris hilang.


Setelah Misha tenang, Riri pamit untuk membawa Misha turun ke bawah, yang hanya di balas anggukan acuh dari Tiara.


Wanita itu sedang memikirkan kemana barang-barang Kira yang banyak itu akan di buang. Dia merasa iri, melihat begitu banyak barang-barang mahal milik Kira, Begitu juga perhiasan wanita itu.


Tiara turun dari lantai atas dengan menggunakan dress milik Kira, bahkan semua yang dia pakai, mulai sepatu, tas juga perhiasan. Semua nya adalah milik Kira. Dengan tak tau malu wanita itu memamerkan barang mewahnya pada Riri.


"Bagus gak? Dari pada aku bakar, mending aku gunakan. Lagian buat apa juga wanita itu begitu boros menghabiskan uang ayah anakku. Dasar wanita mandul tak tau malu," umpat Tiara kesal. Sementara Riri melengos mendengar perkataan tak tau diri Tiara. Bukannya wanita itu tak tau, jika Taira datang ke sana hanya membawa pakaian di badannya saja. Semua yang dia pakai selama disana, adalah milik nyonya rumah yang asli.


"Ri? kau dengar tidak?" tanya nya dengan suara sedikit tinggi.


"Dengar nyonya, anda cocok menggunakan apa saja. Saya sampai tidak bisa berkomentar apa-apa, saking kagumnya." Riri tersenyum palsu, namun sungguh meyakinkan


'kagum? yang benar saja! cocok? bolehlah, cocok menggunakan barang bekas maksud saya!" Riri tersenyum sinis dalam hati nya.


"Kau tau saja cara menyanjung yang benar. Gaji mu bulan ini aku tambah dengan bonus berlipat, tunggu saja sampai Daniel menyerahkan segala kekayaan nya padaku dan Misha. Hidupmu yang susah akan membaik selama bekerja bersama ku." Ujar Tiara jumawa.

__ADS_1


Hampir saja Riri meledakkan tawanya, tawa kasihan. Wanita ini benar benar sakit jiwa, pikir nya. Bagaimana ada orang yang begitu percaya diri, dalam keadaan yang jelas dirinya tak di inginkan.


"Terimakasih nyonya, anda sangat murah hati. Semoga Tuhan membalas semua perbuatan anda dengan setimpal," balas Riri penuh pujian.


Sesaat mata Tiara melotot mendengar kata-kata janggal Riri. Balasan setimpal atas perbuatannya? apa maksud gadis itu, batinnya sedikit dongkol. Seolah sedang menyumpahi dirinya saja.


"Maksud perkataan mu itu apa?" Tiara bertanya dengan nada sewot.


"Heh?" Riri pura-pura terkejut, seolah tak tau apa maksud pertanyaan Tiara.


"Itu, balasan apa tadi kau bilang" jelas Tiara berusaha mengingat kan Riri.


"Oh" Riri membentuk bulat bibirnya, membuat Tiara merasa dipermainkan.


"Itu, bukankah aku bilang nyonya orang yang sangat murah hati, dan aku berdoa agar kemurahan hati nyonya dibalas oleh Tuhan dengan setimpal. Bukankah itu doa yang bagus?" jelas Riri dengan wajah polos.


Tiara terlihat memikirkan kata-kata Riri, benar juga batinnya. Tuhan pasti akan membalas kebaikan nya, hanya saja dia tidak suka jika Riri menggunakan kata balasan setimpal atas perbuatannya. Itu sangat menggangu pikiran nya.


"Baiklah, itu doa yang bagus. Aku majikan mu sekarang, jadi mulai lah berlaku hormat padaku. Apa kau mengerti?" ujar Tiara menuntut.


"Baik nyonya, bukankah sudah seharusnya begitu. Aku akan senantiasa hormat pada majikan ku, dan menuruti apa pun perintah nya." Balas Riri tersenyum misterius.


"Kau benar. Aku akan keluar, mungkin kembali agak malam, jadi kau urus bayi ini jika ingin makan pesanlah apa yang kau suka. Ini untukmu, kau belum ku gajih. kau pasti kesulitan membeli makanan di luar, aku tau orang susah seperti mu pasti tidak punya uang untuk membeli makanan. Belilah yang mahal dan sehat, kau tidak boleh sakit. Anak itu tidak ada yang mengurus nya," Tiara mengeluarkan 3 lembar pecahan 100rb dan meletakkannya diatas meja.


Riri menatap nanar uang pemberian Tiara, memberi 300rb saja ceramah nya berpasal-pasal. Namun Riri tetap tersenyum penuh syukur yang dia perlihatkan pada Tiara.


"terimakasih nyonya, anda baik sekali." Ingin sekali Riri muntah karena ucapannya sendiri.


"Aku tau." ujar Tiara bangga. "Aku pergi dulu, jangan menghubungi ku jika tidak perlu. Kecuali calon suami ku pulang, segera hubungi aku. Paham?"

__ADS_1


"Sangat paham nyonya," balas Riri tersenyum paksa.


__ADS_2