Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Dasar pedofil (Joice)


__ADS_3

"Jadi hubungan kalian sudah sejauh apa, Bukannya kau baru mengajar selama 3 bulan. Bagaimana bisa secepat itu jatuh cinta, mana sama anak bocah lagi" Amelia menepuk jidatnya.


"Resminya baru beberapa hari sih, abis buka segel lebih tepatnya" jelas Jovan santai, tidak ada yang coba pria itu tutup tutupi.


"Astagaa!" Amelia memijat pelipisnya, Wanita itu stress berat.


"Kasian Joi, sudah dapat seken, kau malah dapat segelan" ucap Edwin miris.


"Enak aja seken. Aku masih perjaka yaa" balas Jovan ngegas.


"Trus, itu keluar masuk hotel ngapain. Main boneka Barbie?" sarkas Edwin.


"Cuma making out doang, tidak sampai main." Jawab Jovan enteng.


Edwin melotot sempurna, "situ masih normal, boy?" matanya menelisik putranya dengan tatapan aneh.


"Dad, jangan menatap ku seperti itu. Aku normal, lihat saja bulan depan, kalian akan dapat kabar bahagia dari aku." Ujar Jovan senyum-senyum sendiri.


"Kabar apa? ngomong yang jelas" desak sang ibu tak sabar.


"Dapat calon cucu baru" ucap Jovan tanpa beban.


"Astaga! dosa apa aku di masa lalu, sampai putraku merusak anak gadis orang begini." Kembali Amelia meratapi nasibnya.


"Mom, tidak seburuk itu. Aku yang melakukan nya dengan paksa, kasarnya, aku memperkosa Joi di apartemen ku beberapa hari yang lalu karena aku cemburu melihat nya dekat denga pria lain." Jovan mengakui perbuatannya.


"Astaga dad! dengar apa yang putra mu katakan. Vano memperkosa gadis malang itu, ya Tuhaaann..!" Amelia meraih kotak tisu yang baru diletakkan kembali oleh Jovan. Kemudian melempar nya dengan kekuatan maksimal.


"Auww auwww.. sakit mom! lihat, berdarah kan!?" seru Jovan menunjukkan lengan nya yang dia gunakan untuk menangkis lemparan tadi.


"Belum apa-apa, itu mu akan mom potong-potong kasih Kevin. Ya ampun, Mom bakal malu banget mau ketemu orang tua Joi kalau gini kisahnya. Malu Jovano Rines, malu!" Seru Amelia memijit kedua pelipisnya.


"Jovan khilaf mom, dad. Jovan sudah suka dari awal masuk ngajar, tapi Joi nya tidak pernah mau menoleh sama Jovan seperti kebanyakan perempuan lainnya. Jovan kesal, cemburu, marah." Jovan menunduk sambil meremas kedua tangan nya. Dia merasa bersalah, melihat reaksi sang ibu yang terlihat sangat syok dan tertekan akibat ulahnya.


"Kenapa harus dia Vano? lihatlah, Joi masih sangat muda, sudah kau rusak masa depan nya." Amelia tak habis pikir, selama ini Jovan bisa dengan bebasnya keluar masuk hotel dan tidak melakukan hal sejauh itu. Kenapa dengan Joi malah bisa melakukan lebih.


"Jovan suka sama Joi sejak hari pertama mengajar mom, Jovan takut Joi menjalin hubungan dengan orang lain. Makanya Jovan nekat melakukan nya, tapi hubungan kami mulai membaik mom, dad. Joi sudah mau memaafkan Jovan dan menerima Jovan. Jovan berharap Joi hamil, agar tidak memikirkan untuk kuliah. Jovan takut Joi berpaling, Jovan cinta banget sama Joi mom. Tolong restuin Jovan ya mom, dad. Jika seandainya Joi hamil, Jovan akan menikahi nya walaupun belum lulus sekolah. Joi bisa ikut ujian online" Amelia dan Edwin terpekur ditempat masing-masing. Untuk pertama kalinya, mereka melihat putranya seputus asa ini. Memohon pada mereka perkara hati, walau caranya mengikat Joi salah. Namun keduanya akui, Jovan labil mereka sudah berubah. Pria itu menunjuk rasa tanggung jawabnya dengan berani membawa Joi kerumah.


"Mommy akan merestui mu nak, hanya saja bagaimana dengan Joi? orang tua nya??" tanya Amelia memastikan. Juga menenangkan sang anak yang masih terisak sambil berlutut di lantai.

__ADS_1


Jovan mendongak seraya mengusap air matanya."Aku sudah ke sana sehari setelah kejadian itu, aku jujur tanpa aku tutupi. Walau di bogem berkali-kali sama kakak-kakaknya, Jovan tak masalah. Itu sudah sewajarnya, Joi anak bungsu pasti semua harapan tertumpu padanya. Tapi aku malah menodai putri kesayangan mereka dengan cara tak terhormat." Jelas Jovan sendu.


Kini Edwin benar-benar yakin, jika putra nya, si Casanova kelas angsa liar. Sudah menemukan arah jalan pulang yang benar.


"Baiklah, kami akan mendatangi orang tua Joi, tidak benar jika kau kesana melamar anak gadis orang dengan cara tidak layak." Putus Amelia walau diselingi omelan.


"Hari Sabtu ini mom, pas aku libur ngajar" ujar Jovan bersemangat.


"Ck! dasar pedofil" oceh Edwin, namun tak ditanggapi oleh Jovan. Hatinya terlalu bahagia sekarang untuk meladeni sang ayah berdebat.


"Aku mau istrahat juga mom, dad." Jovan melenggang pergi dari hadapan orang tuanya menuju kamar tamu.


"Hei ! kau mau kemana itu?" seru sang ibu, namun Jovan dengan sigap berlari menuju pintu kamar yang di tempati oleh Joi. Setelah masuk Jovan mengunci nya segera, Amelia yang kalah cepat hanya bisa menendang pelan daun pintu sambil mengomel.


"Lihat anakmu tuh dad, kelakaunnya bikin mommy cepat tua" gerutu Amelia pada suaminya.


"Udah lah mom, yang penting sekarang Jovan sudah tidak main-main lagi. Daddy lihat anak itu semakin hari semakin membaik kelakaunnya. Selama menjadi guru, hanya sekali saja Jovan mampir ke club, setelah itu tidak pernah lagi." Nasihat Edwin bijak.


"Terserah daddy lah, mom cuma kasian sama Joi. Anak itu masih sangat muda. Kalau sampai punya anak di usianya sekarang, kan kasian." Amelia terlihat merenung.


Edwin tak menanggapi lagi, dia ingat dirinya yang dulu. Menjadi dosen sang istri yang notabene selisih 9 tahun darinya. Dan diantara para wanita yang pernah dikencani nya, hatinya jatuh sejatuh jatuhnya pada Amelia, sehingga memodusi sang istri dengan Berbagai tugas tambahan yang tidak masuk akal.


Jovan naik ke atas ranjang menatap wajah cantik Joi yang terlelap sangat nyenyak.


"Cantik banget sih, makan apa hmm? skin care nya langsung di telen bulat-bulat apa gimana, kok bisa kaya Barbie gini." Jovan mengoceh sambil mengusap lembut pipi kekasih nya.


Mata Jovan berkaca-kaca "Aku sayang banget, cinta. Sampe ke urat nadi rasanya. Jangan berubah ya, aku tau kau belum sepenuhnya menerima ku dalam hatimu. Tapi jangan sedikitpun berpikir untuk meninggalkan ku. Aku akan rajin perawatan nanti, biar kau tidak malu, kalau aku terlihat tua. Aku akan berusaha terlihat tampan dan perkasa untuk mu" Ocehan absurd Jovan membuat Joi terkikik.


"Yang? kau mengerjai ku yaa.." Jovan menciumi wajah Joi dengan gemas. "Dasar nakal, kenapa pura-pura tidur, hmm?" Jovan merapikan rambut Joi yang menempel di wajah nya.


"Cengeng" ledek Joi terkikik geli. Disekolah, Jovan terkenal killer namun siapa sangka, saat bersama nya. Jovan bisa semanja dan secengeng ini.


"Biarin" balas Jovan masa bodo "kenapa pura-pura tidur hmm?" Jovan kembali bertanya.


"Aku baru saja terbangun saat mendengar ocehan pria bucin yang sedikit gila" celoteh Joi tertawa renyah.


"Isshhh... aku sedang mengungkapkan isi hatiku, yang. Aku mencintaimu, sangat. Aku ketakutan kalau-kalau kau tiba-tiba berubah padaku nanti." Ujar Jovan jujur. Dia tidak pernah malu mengungkapkan perasaan pada Joi, bahkan tidak malu menangis, hanya karena Joi tidak mengangkat panggilan nya malam Minggu kemarin. Ternyata gadis itu sibuk barbeque an dirumahnya. Hampir saja Jovan menyambangi kediaman gadis itu, jika saja dia tidak menelpon Kirel terlebih dahulu. Meski menahan malu karena diledek bucin oleh kakak sulung kekasih nya.


"Siapa juga yang mau sama barang seken" celetuk Joi enteng. Jovan melebar kan matanya.

__ADS_1


"Jadi kalau ada yang mau, kau akan meninggalkan ku, begitu?" cecar Jovan ngegas.


"Ih apaan sih, bapak. Hobby banget teriak" Joi mengusap kupingnya.


"Jawab saja Joi, kalau ada yang mau dengan mu walau kau sudah tidak bersegel lagi, kau akan meninggalkan ku, yaa?" Jovan mengulangi pertanyaannya dengan lebih mendetail.


"Ishh, ya tidak lah. Orang sudah mulai sayang ini kok" Joi langsung menyembunyikan wajahnya didada Jovan. Hati Jovan berdesir hangat.


"Makasih yang, jadi makin cinta aku tuh. Bikin dedek lagi yuk" selalu ujung-ujungnya ke sana, Jovan tak bisa dipuji sedikit langsung ngelunjak


"Jadi nyesel udah ngaku tadi" Gerutu Joi kesal.


Jovan terkekeh kecil lalu melahap bibir Joi yang terlihat manyun.


"Udah ih.. tadi kan udah.. aku cape.." keluh Joi saat Jovan mulai rakus melahap dadanya.


"Aku pengen lagi yang, aku sudah candu pada tubuh mu ini. Aku yang akan bekerja, kau nikmati saja oke" Jovan memberikan penawaran dengan wajah memelas.


Tanpa menunggu persetujuan Joi, Jovan Kembali melahap puncak dada Joi yang sudah sedikit keluar. Tangannya bergerak ke bawah perlahan, menurunkan celana kain yang dikenakan Joi.


Dar dar darr


Suara gedoran pintu membuat kegiatan Jovan terhenti, Joi buru-buru mengenakan bajunya juga memperbaiki celana nya.


"Udah yang?" tanya Jovan yang juga baru saja memperbaiki pakaian nya.


"Udah, aku mau ke kamar mandi sekalian. Tar baru di bukain pintu nya" bergegas Menuju kamar mandi.


Klek


Jovan menatap datar pada sang adik "kurang kerjaan apa gimana? iseng banget ganggu aktivitas orang" ketus Jovan kesal.


"Wah, anda berkeringat pak guru, apa AC di dalam rusak. Utuh utuhh... pasti mau olahraga nih si pak guru mesum" ledek Aurel pada sang kakak. "Calon kakak ipar aku mana? mau kenalan dulu nih" Aurel menerobos masuk tanpa peduli wajah sangar Jovan.


Klek


Aurel melotot melihat siapa yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Dia?" tanya Aurel sarkastis.

__ADS_1


__ADS_2