Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Nambah cucu(Joice)


__ADS_3

"Kenapa? kenal?" balas Jovan datar lalu menghampiri Joi dan merangkulnya dengan sayang.


"Astaga Joi! malang bener nasibmu" ratap Aurel dramatis.


"Apaan sih, keluar sana, Joi mau lanjut tidur siang" usir Jovan pada adiknya, walau hatinya masih penasaran bagaimana bisa Aurel mengenal Joi.


Joi terlihat tak enak hati "eh? tidak tidak, aku sudah tidur kok tadi. Kakak di sini, saudara nya pak Jovan ya?" tanya Joi polos. Sontak tawa Aurel pecah melihat wajah pias Jovan karena di panggil pak oleh kekasih nya.


"Yang"? protes Jovan kesal.


"Udah, udah. Joi bisa masak tidak? kita buat makan malam yuk, sama mommy." Ajak Aurel ramah.


"Eh, tidak boleh, Joi mana bisa masak. Nanti dia malah yang ke masak, jangan, aku tidak mengijinkan nya di dapur." Tolak Jovan tegas, membuat Joi ingin sekali menghilangkan diri nya dari sana saking malunya.


"Bisa kok kak, walau tidak ahli-ahli banget" ujar Joi pelan.


"Tuh kan, Joi aja tidak keberatan. Yuk Joi, ikut kakak ke dapur"


"Kebalik Aurel, Joi itu kakak ipar mu" sanggah Jovan sebal. Perkara umur Joi yang muda, keluarga nya seolah dirinya predator anak saja.


"Masih muda dia kak" ujar Aurel acuh lalu menarik pelan lengan Joi keluar. Jovan pun mengekori dari belakang.


"Wah! udah akrab aja nih Joi sama Aurel." ujar Amelia heran sekaligus senang.


"Aku kenal mom, ini tuh Joi yang waktu itu aku ceritakan. Yang nolongin anaknya Aurel waktu di mall tempo hari" Aurel mengingat kan sang ibu.


"Oya, Astaga! mom sampai lupa kalau namanya Joi juga. Jodoh anak mommy memang ini seperti nya" seloroh Amelia terkekeh pelan.


"Kok seperti nya sih mom" protes Jovan yang tau-tau sudah duduk di kursi dapur.


"Loh,? nagapain ikut ke dapur segala, ini area perempuan. Pergi sana!" usir Amelia mendorong pelan bahu Jovan.


"No! aku tetap di sini, mau ngawasin Joi. Takut nanti dia nyemplung dalam penggorengan" lagi-lagi Joi ingin mengecilkan badannya semungil semut, Jovan benar-benar menjatuhkan harga diri nya sampai ke dasar lautan.


"Tenang lah, kan ada mommy sama Aurel. Dulu Aurel juga tidak bisa masak sebelum menikah, lihat sekarang, hobbynya masak sama makan, tapi cita-cita nya mulia sekali, pengen langsing. Ya tidak sayang?" goda sang ibu pada putri bungsunya.


"Ishh mommy, udah di lambung setinggi langit eh tiba-tiba di jatohin lagi tanpa perasaan" omel Aurel yang memang terlihat berisi semenjak melahirkan anak keduanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang, aku mencintaimu beserta lemak-lemak mu juga." Seloroh Natan menghampiri sang istri lalu mencium pucuk kepala istri nya. Keduanya masih sangat muda ketika menikah. Lulus SMA langsung menikah karena Aurel sudah terlanjur masuk angin 2 bulan.


Pipi Aurel merona malu " cih pamer" cetus Jovan lalu mencium kening Joi yang tengah sibuk memotong wortel.


"Ishh malu sama tante," Bisik Joi.


"Mommy Joi, panggil mommy saja biar tidak canggung." titah Amelia tersenyum lembut.


"Ya mom" jawab Joi sedikit canggung.


"Jadi kapan kakak akan menikah? aku sudah tidak sabar mau makan rendang daging prasmanan sama acar." celoteh Natan menelan ludahnya berkali-kali.


Semua mata menatap nya horor, Natan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pria itu salah tingkah sendiri.


"Aurel isi lagi mom, 5 minggu" ujar natan cengengesan. Pasalnya anak keduanya baru berumur 4 bulan, dan anak pertamanya baru 2 tahun.


"Astagaa! jantung mommy" seru Amelia histeris memegang dada kanannya.


Jovan memutar matanya malas "jantung di kiri mom" ujar Jovan jengah dengan kelakuan ibu dan ayahnya yang sama saja.


"Siapa yang isi?" Edwin datang membawa keranjang berisi buah rambutan pemberian tetangga mereka.


"Wah! nambah cucu lagi nih,daddy" ujar Edwin sumringah, dibalik wajah sangar nya. Edwin sangat mencintai keluarga nya, meski dulu dia mantan bajingan. Namun bertemu dengan sang istri, Edwin berubah segala-galanya.


"Aa yang" titah Jovan menyuapi Joi yang malah salah tingkah diperlakukan seromantis itu dihadapan keluarga kekasih nya.


"Aku makan sendiri aja, gampang mah" tolak Joi halus.


"Ck! malu segala, buka mulut mu" paksa Jovan memasukkan daging rambutan yang sudah dia pisahkan dari bijinya. Pipi Joi memerah menahan malu.


"Santai aja kakak ipar, anggap saja kami ini hanya angin sore. Wusshh.. Semilir, numpang lewat" seloroh Natan ikut nimbrung didepan keranjang buah. "Mau mi? papi bukain banyak tarok di piring kalau mau." tawar Natan pada istri yang masih sibuk membalik gorengan ayam.


"Mau, tarokin cabe biji ya sama roy*co, gerus dikit biar agak alus." Titah Aurel tanpa menoleh.


"Asyiaap mami soyooong kuh" Joi hanya bisa memperhatikan apa saja yang dia lihat dan dengar di keluarga itu. Tidak jauh berbeda dengan keluarga nya, dimana perhatian dan cinta kasih, bukanlah sesuatu yang tabu dan canggung untuk ditunjukkan satu sama lain.


"Yang?" lamunan Joi buyar oleh suara sang kekasih. Joi menata Jovan dengan tatapan yang, entahlah. Dia hanya berharap mereka bisa merajut cinta seperti ibu dan ayahnya. Menua bersama bersama anak dan cucu mereka kelak.

__ADS_1


"Kok ngeliatin aku gitu banget? lagi mikirin apa, hmmm?" Jovan membersihkan tangannya yang sedikit berair karena terkena buah rambutan.


Pria itu merapikan rambut Joi kebelakang.


Joi hanya menggeleng pelan, dia bingung mau ngapain lagi. Pekerjaan sudah selesai. Joi sedikit menyesal kenapa tidak pernah suka dengan dapur selama ini.


"Dek, ada ikat rambut tidak? minta satu buat Joi" Joi gelabakan saking tak enak hati, dia datang malah merepotkan, banyak maunya.


"Tidak usah kak, aku gelung aja, bisa kok" cegah Joi melihat Aurel hendak beranjak.


"Udah Joi, tidak apa-apa, itu ada di laci yang paling ujung Rel, mom ada taruh disana kemarin." Tunjuk Amelia ke lemari nakas paling ujung dekat kulkas.


"Mau yang jepitan apa yang ikat rambut biasa Joi?" tanya Aurel memberikan pilihan.


"Yang ikat rambut itu aja, sini" bukan Joi yang menjawab tapi Jovan.


Aurel berdecih sebal "yang make siapa yang milih siapa" gerutu Aurel sewot.


"Siniin, lama banget" Jovan meraih ikat rambut dari tangan adiknya "aku ikatin ya" Joi ingin menolak namun Amelia mengode agar Joi tidak menolaknya. Akhirnya Joi hanya pasrah, entah bagaimana Jovan merakit rambut tebalnya di belakang sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa tidak menginap saja nak, ini sudah malam loh. Besok bisa berangkat sekolah dari sini, ada daddy yang antar sekalian ke kampus." Ujar Amelia keberatan jika Joi pulang dirinya sudah mulai akrab dengan gadis itu. Joi yang humble, membuat mereka cepat akrab.


"Joi ada tugas mom, tadi bukunya tidak di bawa. Lain kali kami bakal ke sini lagi, nginap, yang kan yang" Jovan menatap sang kekasih dengan harapan, mendapatkan jawaban yang mendukung statement nya.


"Ya mom, maaf. Lain kali aku bakal kesini lagi, minta di ajarin mommy masak." Ujar Joi nyengir.


"Boleh lah, nanti nginep jadi dua hari ya. Mulai Jumat sampe Minggu" tuntut Amelia.


"Asyiaap mom, eh oke mom" Joi buru-buru menutup mulut, yang lanteh nya kaya balita belajar bicara.


Amelia terkekeh pelan "oke deh calon mantu mom yang cantik" keduanya berpelukan.


"Jovan sama Joi pulang dulu, mom, dad" pamit Jovan pada kedua orangtuanya.


"Joi nya langsung diantar pulang, Jovano Rines!" titah sang ayah tegas dan penuh peringatan.

__ADS_1


"Siap pak dosen" Jovan membuka kan pintu mobil untuk Joi.


__ADS_2