
"Kira sudah memaafkan mu, kepergian suaminya baru dua bulan yang lalu, kini di tambah kepergian bunda, tentu hatinya tidak baik-baik saja." Keenan mengerti arti tatapan Daniel pada adiknya.
"Jika hatimu masih mencintainya, raih lah dengan cara yang benar. Lebih baik jadi pria baik setelah pernah menjadi pecundang, dari pada menjadi pecundang setelah menjadi pria baik-baik." Keenan menepuk bahu Daniel, lalu menghampiri sang ayah yang masih termenung didepan peti mati sang ibu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Kira, namun wanita itu masih berusaha keras menahan nya. Sepulangnya dari makam, rasa mulas di perut nya semakin menjadi.
Daniel menghampiri Kira setelah bermain dengan anak-anak nya, walau masih sebatas paman. Tidak masalah baginya, semua butuh proses. Tadi dia juga sempat mengobrol dengan mantan ayah mertua nya, memberikan pria itu kekuatan dan meminta maaf. Yang selama ini tidak sempat dia lakukan.
"Apa semakin sakit, ayo aku antar ke rumah sakit. jangan keras kepala," Daniel terlihat begitu cemas, wajahnya sama pucat nya dengan Kira. Teringat pesan Justin malam sebelum dia pergi keesokan paginya.
'Temani istri ku saat dia akan melahirkan. Proses persalinan itu luarbiasa, kau akan mengerti jika kau menyaksikan sendiri, bagaimana wanita yang kau cintai berjuang melawan rasa sakit dan maut disaat bersamaan."
Kata-kata itu melekat kuat di ingatan nya, pesan Justin pun tak pernah dia hapus hingga hari ini.
"Bagaimana dengan ayah? yang lain sedang berduka, lalu aku harus menambah dengan kecemasan. Aku masih bisa bertahan, dulu pun aku melahirkan di rumah dan lihat, aku baik-baik saja." Balas Kira masih keras kepala.
Keenan yang melihat gelagat perdebatan antara Daniel dan Kira segera menghampiri. "Apa yang kau lakukan pada adikku, Daniel. Jangan menekan nya," ujar Keenan salah paham.
"Kira mulas sejak tadi siang, tapi menolak ku ajak ke rumah sakit" balas Daniel cepat. Dia tidak ingin hubungan yang baru mulai membaik itu, kembali meregang karena kesalahpahaman.
Keenan membulat kan matanya, "Kenapa kau menahan nya, ayo kakak antar ke rumah sakit sekarang." Keenan nampak panik, lalu memanggil semua adik-adiknya.
"Kak, aku tidak apa-apa. Ayah sedang sedih, kita harus menemani nya" kukuh Kira menolak.
__ADS_1
"Dek, ayo ke rumah sakit. Jangan keras kepala lagi, kasihan ayah, dia akan sedih tau kau menolak ke rumah sakit karena nya" Keyra pun ikut membujuk.
"Ada apa dengan adik kalian?" pertanyaan Reegan mengalihkan pandangan mereka.
"Kira seperti nya akan melahirkan yah, tapi menolak ke rumah sakit" adu Kalla pada sang ayah.
"Benar nak, astaga. Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga," Reegan seketika ikut panik.
Mau tak mau Kira akhirnya menurut, Meninggal kan anak-anak di rumah ayahnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Daniel terlihat gelisah, entah kenapa.
"Aku mana bisa tenang, di dalam sana Kira sedang berjuang melahirkan anak-anak nya. Aku cemas, aku takut," Daniel mengusap wajahnya kasar. Teringat perkataan Justin beberapa bulan lalu, jika Kira pernah sampai pingsan ketika melahirkan anak-anak nya. Jantung Daniel tak mungkin bisa bekerja dengan tenang sekarang.
"Aku masuk ya, please!" Daniel memohon dengan mata berkaca-kaca. Keenan jadi serba salah.
"Aku tanya Kira dulu, takut dia gak enak di temani orang yang bukan suaminya." Putus Keenan lalu masuk ke dalam ruangan bersalin, dimana Keyra sedang menemani sang adik disana.
"Dek, Daniel gelisah di luar. Dari tadi kaya setrikaan, mondar mandir gak karuan. Mau, di temani Daniel? dia mencemaskan mu dek," Keenan Menatap wajah menahan sakit sang adik.
Kira hanya mengangguk pelan tanpa menjawab, mulas di perut nya sangat luar biasa.
Daniel masuk menggantikan Keyra lalu duduk, dan langsung menggenggam tangan Kira dan menciumnya sambil terisak.
__ADS_1
"Kuat kuat yaa, aku ada di sini menemani mu. Jangan memikirkan apapun," Daniel berbisik pelan didekat telinga Kira. Lalu beralih ke perut Kira, " hai twin, ini papa Daniel, ibu kalian sedang menahan sakit untuk membawa kalian ke dunia ini. Tolong Bekerja sama ya, kasihan ibu, lahirlah dengan mudah. Papa menunggu kalian lahir selain ibu dan kakak-kakak kalian, papa ingin menjadi yang pertama menggendong kalian berdua. Papa sayang kalian, papa tunggu, cepatlah lahir." Daniel mencium perut Kira dengan penuh perasaan, hati Kira berdesir mendengar perkataan tulus Daniel.
Satu jam menahan sakit kontraksi akhirnya Kira berada di detik-detik menegangkan.
"Ayo bu sedikit lagi, kepalanya sudah terlihat sedikit.." instruksi seorang dokter wanita menyemangati Kira.
Kira mengejan hingga beberapa kali dan di bantu dengan episiotomi(gunting jalan lahir), Daniel meringis ngeri. Bagian inipun pernah dikatakan oleh Justin. Namun melihat nya sendiri, rasanya berbeda. Daniel berjanji, jika di di beri kesempatan untuk bisa kembali bersama Kira. Maka wanita itu tidak akan dia ijinkan untuk kembali mengandung. Cukup sudah dia melihat perjuangan menyakitkan Kira hari ini, dia tidak sanggup lagi.
Suara tangis pertama bayi perempuan Kira menggema di dalam ruangan itu, Daniel menetes kan air mata haru. Berkali-kali tanpa sadar, Pria itu mencium wajah Kira untuk mengungkap perasaan bahagia nya.
Lalu tak lama tangis bayi kedua ikut menyusul, yang sama-sama berjenis kelamin perempuan.
"Terimakasih sudah berkunjung untuk melahirkan mereka, kau hebat, kau wanita luar biasa." lagi-lagi Daniel mencium wajah Kira dengan berurai air mata.
Kira yang nampak lemah karena kelelahan hanya bisa meneteskan air matanya. Dia harap Justin dapat melihat kedua anaknya yang telah lahir ke dunia dengan selamat, sehat dan sempurna. Persis yang selalu dia doakan ssmasa hidupnya.
"Hei, sayang. Jangan memejamkan matamu, dokter! lihat Kenapa dia tidak merespon ku.." Daniel di landa kepanikan luar biasa, sambil terus berusaha membangun kan Kira.
"Tidak apa-apa pak, istri anda hanya kelelahan, dan itu wajar. Melahirkan dua bayi sekaligus, banyak menguras energi. Tidak ada pendarahan, ibu nya hebat sekali, biarkan beristirahat sebelum kita pindah kan ke ruang rawat." Jelas sang dokter panjang lebar.
Namun sana sekali tak membuat hati Daniel tenang, pria itu terus berbisik pelan di telinga Kira. Sesaat mata Daniel melotot, saat melihat jarum yang seperti kail dan benang. Dia paham, pasti ini bagian yang di lakukan untuk menjahit kembali inti Kira. Hatinya kembali ngilu dan sesak.
"Dok? bisakah di beri bius saja, tadi istri ku sudah begitu lelah menahan kesakitan, aku tidak ingin dia merasa kan nya lagi." Pinta Daniel memelas dengan mata berkaca-kaca, dokter pun akhirnya menyetujuinya.
Dalam diamnya, kira merasa tersentuh, Daniel sama sekali tak berubah. Malah semakin dewasa dan mampu berpikir cepat, dalam situasi seperti ini. Rupanya, pengalaman hidup telah membuat nya belajar banyak, dari kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1