Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Akhir perjalanan


__ADS_3

"Joi! woi! ayo main sepeda.." teriakan salah seorang temannya, membuat konsentrasi belajar Joi buyar. Di lirik nya ke arah pintu kamar, lalu bergegas mengunci nya. Setelah itu gadis tomboi itu menyahut dengan cara yang sama, yaitu berteriak.


"Yaa, tungguin di luar gerbang. Agak jauhan dikit, di depan rumah mbah kung aja..!" Balas nya dengan suara nyaring.


Kira yang kebetulan melewati pintu kamar putrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apa susahnya anak itu keluar kamar, dan menemui temannya di depan tanpa harus berteriak begitu.


"Jooiii... Kalau kau ingin main, keluar lah dari pintu yang seharusnya nya. Suruh temanmu tunggu di depan saja, nanti Mbah kung bocorin ban sepeda kalian baru kapok." Seru Kira dari luar kamar.


Walau Ujang sudah tiada, namun panggilan itu tetap selalu ada. Tidak peduli jika yang tinggal di rumah sebelah itu adalah anak dan cucunya. Namun setiap akan main di sana, mereka pasti bilang. Rumah mbah kung.


Klek


Joi menyembul kan kepalanya melalui celah pintu, yang pertama di lihat nya adalah kaki sang ibu. Perlahan pandangan nya naik ke atas, Joi sudah menyiapkan senyum termanis yang dia punya.


"Ibu.. kenapa bu, hehehe.." Joi cengengesan melihat wajah datar ibunya.


"Tuh, Dimas nya ajak ke rumah. Jangan kebiasaan ajak main tapi nunggu nya di pertigaan." Omel sang ibu melipat tangannya di dada.


Joi kembali nyengir, " tidak di pertigaan juga bu, ibu ih. Suka Hiperbola, cuma nunggu di rumah mbah kung di sebelah ini." Bela gadis itu menunjukkan telunjuk kecil nya ke arah rumah sebelah.


"Udah, ini mau main tidak?" desak Kira galak, namun begitu, Joi tau jika sang ibu sangat menyayangi nya. Hanya saja karena dia paling kecil, Kira suka was-was jika bermain jauh dari rumah.


"Jadi dong bu, Joi pamit kalau gitu. Ibu baik-baik ya di rumah, jagain cucu." Setelah mengucapkan kata-kata meledek sang ibu, Joi berlari menuju pintu keluar. Daniel yang mengintip sambil menggendong Lula, hanya tersenyum melihat tingkah dua wanita beda generasi itu.


"Mamo.. lihat Lula ngantuk nih." Suara Daniel mengalihkan perhatian Kira, yang masih menatap ke arah pintu meski putri nya sudah tidak kelihatan.


"Luna mana?" tanya Kira karena tumben cucunya itu tak ikut dalam gendongan sang kakek.


"Masih tidur di kamar, ini aja nih yang rewel" ujar Daniel sambil mencium gemas pipi cucunya.


"Bukannya tadi sudah tidur, duluan malah dari Luna." ucap Kira heran.


"Ya, tapi kepagian. Dia tidur habis ngemil tadi, tidak sempat sikat gigi juga, padahal makannya coklat. Khawatir aja kalau sampai giginya berlubang," jelas Daniel memperhatikan wajah ngantuk namun menolak tidur, alhasil Daniel harus menggendong nya.

__ADS_1


"Sama mamo mau? kita liat ikan di belakang yuk, Lula kasih makan, kasian, ikannya belum makan siang tadi." Bujuk Kira hanya di balaa gelengan oleh Lula.


"Apa aroma mamo ini tidak sewangi papo yah, Lula? kok kalian berdua betah banget sih sama papo dari pada sama mamo." Kira terlihat merajuk pada cucunya. Daniel terkekeh pelan, lalu merapikan anak rambut istri nya.


"Ini kenapa ikat rambut nya begini, emang abis ngapain tadi hmm?" tanya Daniel lembut. Pria itu selalu mampu, membagi kasih sayang nya sama rata pada seluruh keluarga nya. Daniel benar-benar pria yang berbeda, dia seperti terlahir menjadi Daniel yang baru semenjak kembali bersama Kira.


"Abis dari gudang, mau nyariin baju-baju yang tak terpakai tapi masih bagus. Itu, ibu-ibu di kelurahan kemaren minta. Buat anak-anak kalau ada, sudah ibu pilih, sekalian baju dewasa juga. Nanti ibu beliin yang baru buat nambah." Jelas Kira runtut.


Daniel mengangguk-angguk kan kepalanya, "ya minta tolong aja sama anak-anak, buat beli di kota sepulang mereka bekerja. Kalau beli di sini warga udah pada pernah ngeliat, oh ini yang di pajang di toko si A si B, jatohnya malah mereka merasa tidak enak hati. Ketahuan banget kalau baru di beli." Nasihat Daniel lembut, dia tidak inging menyinggung hati lembut istri nya.


"Ya, ibu gak kepikiran ke sana. Nanti ibu telpon dulu anak-anak." Balas Kira membenarkan maksud baik suaminya.


"Safira atau Jeslyn aja sayang, Maira jangan. Lagi hamil besar soalnya." Daniel selalu seperti itu, perhatian nya pada keluarga tidak diragukan lagi.


"Ya ini ibu kirim pesan aja, Jeslyn bilang dia ada operasi katanya tadi sebelum berangkat. Safira juga masih jam praktek," selesai mengirim pesan pada anak menantu nya, Kira dan Daniel menuju taman belakang.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Baik bi, sehat. Lagi sibuk ngurusin cucu sama anak rasa cucu" seloroh Kirel oada sang paman.


Keenan pun ikut terkekeh pelan, "perusahaan gimana? lancar?" Kirel mengambil tanggung jawab perusahaan sejak mulai kuliah, yang dulu Daniel bangun saat menikah dengan Tiara. Sementara perusahaan yang di akuisisi oleh Tiara ternyata di ambil alih oleh Revan,. Revan tau perusahaan itu begitu berarti buat Bintang, namun demi kebaikan bersama, Bintang merelakan nya.


Revan berdiskusi bersama teman-temannya, hingga akhirnya perusahaan dia akuisisi, namun di kembali kan lagi pada pemiliknya. Dan kini perusahaan itu di kelola oleh Jevier. Sementara Jesen, lebih memilih melanjutkan mengelola perusahaan mendiang ayahnya, Justin. Bryan menyerahkan padanya saat Jesen baru lulus SMA. Dan mereka pun tau jika Ryana, adalah kakak kandung mereka, hanya berbeda ibu.


"Minggu depan abi sekeluarga nginep di rumah, lama tidak ngumpul. Hampir sebulan rasanya," Keenan mencoba mengingat-ingat. Diusianya yang ke 56 tahun, ketajaman ingatannya sedikit berkurang.


"Boleh, ibu juga bilang kangen banget. Tinggal dia saja yang perempuan, sering nangis diam-diam di kamar sambil mandangin foto keluarga. Aku tidak kuat melihat nya, ibu selalu takut di tinggal pergi. Itu yang aku tangkap," jelas Kirel dengan mata berkaca-kaca.


Sama halnya dengan Keenan, dia tau rasanya di tinggal kan oleh pasangan. Arumi menyerah pada takdir di usia 57 tahun. Wanita yang lebih tua 4 tahun dari Keenan itu, Meninggal kan 5 orang anak dan 6 orang cucu serta suami tercinta.


Kini di rumah besar itu, hanya ada Dirinya dan anak-anak serta cucu-cucunya. Seperti Kira yang tak ingin jauh dari anak-anaknya, Keenan pun sama. Rumah besar Reegan yang mereka tempati terasa ramai oleh kehadiran anak dan cucunya.


Sementara Kalla dan istrinya menetap di Singapura, Kavin tinggal tidak jauh dari rumah besar, Dia ingin tinggal di dekat kedua kakaknya, sayangnya, Keyra lebih di sayangi, hingga Tuhan memanggil pulang lebih dulu.

__ADS_1


"Kasih tau ibu, jangan terlalu banyak mikirin sesuatu yang belum terjadi. Nikmati saja kebersamaan selama Tuhan masih memberikan waktu. Takdir tidak dapat di elak, jika sudah waktunya, maka semua akan tetap berlaku. Sekeras apapun Kita menghindari nya." Nasihat Keenan pada keponakan nya.


"Ya bi, aku selalu bilang seperti itu. Hati ibu lembut, walau sering terlihat datar, ibu hanya berusaha menutupi kegelisahan hatinya. Joi juga lagi lincah-lincahnya, anak itu semakin tomboi saja. Kemarin pergi ke sungai ikut memancing, naik perahu sama Dimas. Cuma berdua saja, kelakuan nya benar-benar meresahkan. Ibu sering kepikiran, barangkali mikirnya kejauhan. Aku tau, aku juga sudah jadi orang tua, pasti pikiran-pikiran buruk akan selalu menghantui kalau anak bermain jauh dari rumah." Ujar Kirel menatap kosong pada kaca jendela kafe yang berembun. Diluar sedang gerimis.


"Padahal dulu ibu mu itu sangat manja waktu hamil, abi malah ngira, pasti besarnya Joi bakal manja dan feminim. Eh? malah kebalik jauh dari ekspektasi," Kelakar Keenan meredam rasa sesak didadanya. Mengingat Keyranya yang sudah oergi lebih dulu.


Kedua pria beda generasi itu melanjutkan obrolan santai hingga pukul 2 siang. Lalu kemudian memisahkan diri, itu adalah kali terakhir, Kirel bersua dengan sang paman dalam keadaan segar bugar. Janji akan menginap yang sudah disepakati pun, tak pernah terealisasi. Nyatanya, hari ini, mereka tengah berada di sebuah pemakaman keluarga Sudibyo. Sepulangnya Keenan dari cafe siang harinya, pria itu mengeluh sesak nafas. Lalu di larikan ke rumah sakit oleh putranya Eiden, yang kebetulan hari itu tidak bekerja. Pria itu sempat bertemu dengan sang adik, Kira. Sempat terucap beberapa pesan menyayat hati.


Setelah itu matanya tertutup sempurna, Keenan telah menyusul kedua orang tuanya juga sang adik dan istri tercinta. Kalla dan Kavin yang tidak sempat berucap kata perpisahan dengan sang kakak, sangat terpukul. Keduanya sangat menyesal dengan kesibukan mereka masing-masing.


Dan nasihat untuk sang ibu yang disampaikan oleh pamannya, merupakan nasihat terakhir. Nasihat itu pun menjadi pedoman baginya ke depan.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Kita pulang yuk, malam ini kita menginap di rumah besar, sebagian di rumah Kavin dan sisanya dirumah Al." Daniel sengaja tidak menyebutkan nama mendiang kakak iparnya. Dia tidak ingin membuat luka kehilangan sang istri semakin dalam.


"Kenapa semua orang meninggal kan ku.." suara serak Kira bergetar, hampir tak terdengar. Daniel segera meraih sang istri ke dalam pelukannya. Hatinya pun sakit. Namun melawan takdir, dia pun tidak sanggup.


"Sudah, ikhlas kan.. Kasihan kak Keenan, jalan nya akan terasa berat jika terlalu meratapi nya. Kakak sedang mempersiapkan jalan bagi kita semua, agar kelak tidak tersesat saat sudah tiba giliran kita yang harus pulang." Nasihat Daniel menekan sesak didadanya.


"Ayo.. kasian yang lain, mereka tidak akan tega meninggalkan kita di sini. Sebentar lagi gelap, kasian anak-anak di rumah." Kembali Daniel membujuk dengan mengingatkan pada anak-cucu mereka.


Kira mengangguk pelan, mereka semua pulang membawa hati yang lara. Kehilangan, selalu menjadi momen yang menyakiti hati dan jiwa. Saat si pemilik raga telah memisahkan diri dari rohnya, maka akan banyak hati yang terluka, karena ditinggalkan dalam duka yang dalam.


Akhir perjalanan selalu meninggalkan banyak kisah bagi mereka yang di tinggal kan. Terkadang kita baru menyadari, betapa berartinya seseorang, saat dia sudah tiada. Jangan sampai menunggu kehilangan, jangan selalu mengandalkan kata maaf. Karena penyesalan dan pengampunan, tidak pernah bisa merubah kenyataan. Luka itu masih sama, hanya saja dalam bentuk yang berbeda.


∆Akhirnya🤩🤩 Author ingin mengucapkan banyak terimakasih pada kalian semua, atas partisipasi nya. Dukungan kalian membuat othor kembali bersemangat, saat mulai kehabisan ide cerita. Kalian pembaca yang hebat, tanpa kalian, karya ini bukanlah apa-apa🙏🙏🥰🥰


∆Doakan author nya khilaf dan ngasih ekstra part untuk kisah si tomboi, Joice.


∆Mari mampir di karya othor ~Maaf, untuk lukamu~ Silahkan ceki-ceki profil nya othor yaa🤗🤗😘😘


∆Luv yuuuh kalian semua, para Readers ku yang setia. Tuhan memberkati mu dan othor, salam sehat selalu 🙏🙏😇😇💝💝💋💋

__ADS_1


__ADS_2