
"Ayah boleh masuk tidak?" tanya Reegan di ambang pintu.
"Boleh, kenapa ayah selalu bertanya. Kemarilah, yah. Lihat Debya si tukang tidur kita, bahkan tidak mendengar kokokan ayam mbah nya dari sebelah." Kekeh Kira, Ujang memanggil dirinya sebagai mbah kung.
Reegan pun ikut tertawa pelan, "Pergi posyandu sama Daniel?" bulan lalu bersama dirinya, dia hanya ingin memastikan saja.
"Ya yah, Daniel bilang ingin memamerkan anak-anak ku pada ibu-ibu di sana." Jawab Kira terkekeh lucu.
"Anak-anakku juga, bu." Protes Daniel yang baru keluar dari kamar mandi.
Reegan hanya menatap keduanya bergantian tanpa menyela, kali ini dia berharap hidup anaknya akan di liputi kebahagiaan, sebelum dirinya di panggil pulang menyusul sang istri.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Neng Kira? sama siapa ini?" tanya seorang wanita sambil menggendong anaknya dengan penampilan yang begitu menor.
Daniel bergidik ngeri, dia berharap Kira tidak perlu mengenal alat makeup lagi. Wanita itu sudah sangat cantik menurut nya.
"Saya ayah anak-anak ini, bu" jawab Daniel menyela.
"Oh, berarti suaminya dong. Aduh kecewa berat, taunya neng Kira kan janda. Tau nya udah nikah aja, mas nya ada saudara laki-laki yang masih nganggur tidak. Saya janda mas," sahut seorang wanita lain di samping wanita menor tadi.
"Tidak ada, sudah laku semua. Permisi ibu-ibu, istri saya cape berdiri, kepo nya bisa minggirin dikit gak? kita mau lewat nih" potong Daniel cepat. Lalu menarik pelan tangan Kira melewati ibu-ibu rempong tanpa menoleh lagi.
"Jangan di dengar kan ya, omongan ibu-ibu yang tadi." Daniel khawatir Kira akan terbebani pikirannya karena perkataan tak ada akhlak wanita tadi.
__ADS_1
"Ayo duduk geser sini dikit, biar di sini aku taruh tas twin." Daniel memilih kursi paling ujung sebelah dinding, agar tidak dekat dengan orang lain. Lalu menaruh tas bayi di kursi deretan pertama masuk. Sementara dirinya berdiri menggendong Delia yang memang sedikit rewel, daripada pada Debya yang anteng jika sudah kenyang.
"Tidak ikut duduk, kan masih kosong" tanya Kira heran.
"Adek tidak mau di ajak duduk, sudah tidak apa-apa. Kami berdiri saja, dia suka aku timang-timang begini." Daniel tidak jadi memamerkan putri nya. Karena di lihat dari ujung sedotan pun, putri-putrinya sangat sehat dan berisi.
"Neng Kira? aduh maafin teteh ya, tadi pagi rencana mau ke rumah juragan, tapi riweh sama si Ipul sama Ifah." Jelas wanita itu tak enak hati. Dirinya bekerja di rumah Reegan sejak Sarah masih ada. Mereka memanggil keduanya dengan sebutan juragan, karena merupakan pemilik kebun terbesar di kampung tersebut dengan banyak pekerja.
"Tidak apa-apa, teh. Lagi pula kami dapat tukang masak dadakan, jadi kebantu lah sedikit." Seloroh Kira pada wanita yang baru di kenalnya dua bulan ini, namun mereka menjadi teman yang cukup dekat.
Usia Wati baru 27 tahun, tua setahun dari kira dan anaknya sudah dua. Yang sekarang sedang di gendong wanita itu untuk ikut posyandu.
"Jadi aku bantu nya sedikit ya" bisik Daniel di telinga Kira, membuat wanita itu merasa geli.
"Eh? si Ifah sudah di panggil tuh. Teteh duluan yaa," pamit Wati membawa anaknya ke dalam sebuah ruangan khusus untuk vaksin.
"Kuat tidak nanti lihat anak-anak di suntik?" tanya Kira memastikan " Kalau tidak biar aku saja, nanti gantian bawa masuk." Ujar Kira memutuskan.
"Kuatlah, aman aja. Nanti masuknya sama-sama saja, biar sekalian terus langsung pulang" Sanggah Daniel menolak.
"Buru-buru banget ya, padahal akhir pekan." Kira bergumam di akhir kalimat nya. Rupanya, wanita itu salah paham maksud perkataan Daniel yang mengajaknya langsung pulang.
"Maksud aku, kita tidak perlu gantian masuk, supaya bisa sama-sama saja. Aku tidak suka di lihatin ibu-ibu menor itu, risih." Ungkap Daniel meluruskan salah paham Kira.
"Abis dari sini, kita ke toko baju di ujung jalan dekat pertigaan tadi. Aku mau beli dalam*an" ujar Daniel setengah berbisik. Dia tidak malu pada Kira, bagaiamana pun Kira pernah menjadi istri. Dia hanya tidak ingin di dengar oleh wanita, yang terus menatapnya dengan sesekali mencari perhatian.
__ADS_1
Kira tersenyum melihat wajah Daniel yang terus menunduk menatap putri nya. Kemudian berdehem pelan, tanda setuju.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Ini bagus, ini juga lucu, nah yang ini gemesin deh kalau di pake twin...." Daniel terus berceloteh sambil mengambil apa saja yang menurut bagus, lucu dan menggemaskan untuk kedua putrinya. Tidak lupa juga dia membelikan untuk ke empat anaknya di rumah. Alamat di musuhi Jeslyn kalau sampai dia lupa membeli kan gadis kecilnya itu.
Kira hanya menggeleng kepala nya, melihat tangan Daniel yang sudah penuh. Sudah dua kali pria itu mengantarkan belanjaan ke meja kasir, untuk di titipkan sementara dia masih memilih.
Dala*man yang menjadi tujuan utama nya tadi sudah di lupakan begitu saja. Kira berinisiatif untuk memilih beberapa dala*man, dan beberapa pakaian santai untuk Daniel. Jika menunggu pria itu sadar, seperti nya akan sulit. Lihatlah dia sibuk memilih pakaian bayi untuk kedua putrinya.
"Udah?" kesekian kalinya Kira bertanya, Kira hanya duduk di kursi sambil menjaga kedua anaknya di dalam stroller bayi. Beruntung keduanya tertidur lelap, jadi Daniel bebas berbelanja sepuasnya.
"Ini sayang, aku beli seperti nya terlalu sedikit. Menurut mu bagaiamana? tambah lagi tidak, atau cari di toko lain lagi" tanya Daniel dengan raut wajah antusias.
"Udah sudah cukup, astaga. Ini akan membuat lemari pakaian sikembar tidak muat kalau begini banyaknya. Yang lalu saja masih banyak belum terpakai," gerutu Kira mengomel.
Daniel hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Padahal masih kurang banyak menurut nya, dia tidak ingin kedua putri kecilnya pakai baju yang menurut nya sudah tengkes. Yang harus nya dress, Kira sulap jadi atasan di padukan dengan legging.
"Jadi langsung pulang? tidak mau singgah di toko furniture dulu? beli lemari lagi, khusus buat si twin. Jangan di gabung-gabung dengan pakaian lain. Jadi nya tidak ribet kalau mencari pakaian ganti anak-anak." Bujuk Daniel tak menyerah.
Kira mendesah pasrah, di liriknya tumpukan di atas meja kasir lalu beralih ke tangan Daniel yang penuh, bahkan ada yang di sampirnya di bahu. Seperti nya dia memang harus beli lemari pakaian baru.
"Ya sudah, setelah ini berhenti membelikan banyak pakaian twin seperti ini. Mereka tumbuh nya cepat, sayang kalau tidak terpakai lagi." Omel Kira akhirnya menyetujui walaupun dengan sederet omelan.
Daniel tersenyum senang, dia bersyukur meskipun di sebut kampung namun lebih seperti kota kecil menurut nya. Ruko-ruko sudah banyak berjejer, berjualan segala kebutuhan, baik rumah tangga sampai fashion wanita dan anak-anak.
__ADS_1