
Setelah kegiatan panas yang menguras tenaga, Reegan dan Sarah sedang berbaring dengan posisi saling berpelukan. Sarah sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu, namun Reegan justru tidak bisa tidur. Bayangan percintaan mereka tadi masih melekat kuat diingatan pria itu.
Ditatapnya wajah tenang Sarah, dia merasa bersalah karna sudah memaksa wanita itu. Namun dia hanya ingin agar Sarah semakin terikat padanya, dan dia sangat berharap benih yang ditumpahkan di rahim Sarah, segera tumbuh.
Flashback
"Saya sangat serius, om. tidak peduli apapun status Sarah,saya akan menerimanya. Sepulang saya dari Singapura bulan depan, saya akan ajak mama dan papa ke rumah om Ramdhan. Orang tua saya sangat ingin bertemu dengan Sarah."
,........................
"Baik, om saya tidak akan memaksa Sarah, kalau begitu selamat siang om, maaf mengganggu waktu istirahat om." Pria itu mematikan panggilannya.
"Lo liat aja, Sar. Lo nggak akan bisa nolak gue lagi, gue tau cara menaklukkan lo melalui bokap lo yang menyimpan banyak rahasia dari lo. Lo nggak akan mungkin tega, menyakiti orang yang sudah membesarkan lo sedari lo kecil." Hahaha pria itu terbahak-bahak senang, targetnya sebentar lagi akan tercapai.
Tanpa di ketahui, seorang pria mengepalkan tangannya dibalik pintu ruangan itu. Dia tau persis, siapa yang pria itu maksudkan. Sarah, kekasih nya. Wanita yang menjalin hubungan dengannya sejak 3 minggu yang lalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ree,jam berapa udah?".. Suara serak Sarah membuyarkan lamunan Reegan.
__ADS_1
"Eh, kok udah bangun. Tidur lagi gih, baru jam 5. Mama tadi udah pulang, mampir bentar nitipin roti sama cake yang biasa sering kamu beli ke toko. Spesial katanya, buat calon mantu." Ujar pria itu seraya mencium lembut kening Sarah.
"Loh, berarti mama tau kalo aku di kamar kamu dong. Aduh, pasti mama mikirnya kita abis ngapain, kenapa nggak bangunin aku sih. Kalo gini kan aku jadi malu ntar kalo ketemu sama mama." Cecar wanita itu kembali ke mode rempong nya, mengomel.
"Memang kita abis ngapa-ngapain, sayang. Kenapa sih, sama mama juga. Tadi mama bilang banyakin makan Sayur biar anak kita cewek, mama suka banget sama anak cewek." Balas Reegan tersenyum-senyum sendiri. Dia juga berharap hal yang sama seperti sang ibu. Namun tidak masalah baginya, mau cewek ataupun cowok, yang penting sehat.
"Iish, kamu ini. Kalo hamil benaran gimana?"...... Sarah menjeda ucapannya, lalau mencari ponselnya, kemudian dia membuka aplikasi siklus menstruasinya. Kedua matanya membulat sempurna, dia teringat tadi Reegan menyembur benih nya tanpa sisa. Bagaimana jika dia hamil, lalu menatap Reegan kesal.
"Aku lagi subur nih, awas kalo kamu lari dari tanggung jawab. Aku bakar apartemen kamu ini." Ujar wanita itu marah.
"Aku malah ngarepnya kamu segara hamil, jadi baguslah kalo kamu lagi subur. Aku udah bayangin perut rata kamu ini buncit, pasti gemesin." Reegan mengusap-usap perut rata Sarah dengan sayang.
"Jangan Ree, aku nggak mau ayah salah paham sama kamu. Tunggulah sebentar lagi, sampai putusan dibuat. Kamu bisa lamar aku langsung ke ayah." Sarah bukannya tidak mau mengenalkan Reegan pada ayahnya. Namun karna status perceraian nya yang belum tuntas lah, yang membuatnya lebih memilih untuk menutupi dulu hubungan mereka dari sang ayah.
"Iya sudah, asal jangan pas aku lamar kamu nya udah duduk di pelaminan sama orang lain. Akan aku habisi orang itu dengan tanganku sendiri." Ucap Reegan dengan tangan mengepal, ketika mengingat pembicaraan singkat dokter Reza dengan ayah sang kekasih.
"Nggak lah, hati aku udah habis di isi sama kamu, perut aku juga, udah kamu kenyangin pake banyak kecambah tadi." Balas Sarah terkekeh pelan, mengingat percintaan panas nya tadi bersama sang kekasih.
"Nanti aku kenyangin lagi, stok kecambah aku masih banyak. Di jamin kamu akan kenyang selama sembilan bulan." Ujar pria itu sambil mencium setiap inchi wajah Sarah dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarah mengendap-endap, masuk kedalam rumah. Meski belum terlalu malam, tetap saja dia tidak enak dengan sang ayah.
"Kamu baru pulang, nak?" Sarah hampir terjungkal karena kaget.
"Ayah, Sarah sampe kaget tau." Rajuk Sarah pada ayahnya.
"Lagian kamu kenapa pake mengendap-endap gitu. Udah kaya maling takut ketahuan aja. Coba ayah teriak maling tadi, bisa babak belur wajah anak ayah yang cantik ini." Ujar pak Ramdhan terkekeh lucu dengan tingkah anak nya itu.
"Aku kira ayah sudah tidur, makanya pelan banget jalannya. Ayah udah makan belum, nih Sarah ada bawa roti sama cake kesukaan ayah." Sarah segera mengalihkan topik pembicaraan mereka, dia tidak ingin ayahnya bertanya banyak hal yang mengharuskan nya berbohong.
"Udah tadi, ayah makan sama kang Sadin. Tadi kesini abis magrib ambil mesin cuci, oh hampir lupa ayah. Itu tadi ada orang antar mesin cuci sama apalagi banyak banget, masih di dus besar barangnya. Ayah cuma buka dus mesin cuci nya aja, sekalian di tes dulu."
"Bagus yah, suka nggak? Yang di dus itu besok aja kita bongkar nya sama-sama. Ayah bilang mau cerita sesuatu sama Sarah, jadi nggak?" Tanya Sarah menagih janji sang ayah.
"Iya jadi kamu mandi dulu abis itu nanti kesini, ayah cerita. Ada yang ayah mau ambil dulu dikamar sekalian nunggu kamu." Pak Ramdhan beranjak dari kursinya menuju kamar.
Sarah masuk kamar, lalu mengganti bajunya, di bingung jika dia keluar cepat ayahnya pasti bertanya, kenapa dia tidak mandi. Akhirnya Sarah memasuki kamar mandi, membasahi rambutnya lalu mencuci wajah ya agar kelihatan lebih segar.
__ADS_1